
Kantor yang sibuk, Clara menunggu Bondan yang memang telah mengatakan akan terlambat. Dia menunggu untuk pergi ke pabrik. Dengan tak sabar, Clara mencoba menghubungi Bondan terus menerus.
Bondan yang sedang bersama Rania mulai kesal dengan klien Vero yang satu ini. Rania menatap ekspresinya yang begitu kesal.
"Kenapa?" tanya Rania.
"Klien Vero bikin aku pusing. Masa aku harus terus nemenin dia ke pabrik. Kalo mau inspeksi ya pergi saja sendiri. Aku kan bukan asistennya!" keluh Bondan.
Rania ingat dengan Clara, dia bertemu dengannya saat menandatangani kontraknya. Dia mengerti siapa yang Bondan maksud.
"Dia kan bukan orang Indonesia, mungkin butuh teman saja" ucap Rania.
Bondan menatapnya, dia berpikir Rania akan cemburu.
"Kamu cemburu kan?" tanya Bondan.
"Nggak lah!" jawab Rania dengan ringan.
"Cemburu dong, masa kamu nggak takut aku direbut cewek kayak Clara? Seharian loh aku sama dia!" ucap Bondan menakutinya.
Rania tersenyum, dia menatap wajah Bondan yang lucu.
"Iya....aku cemburu, jangan lama-lama dengannya. Jika sudah melakukan pekerjaan mu, cepat kembali padaku" ucap Rania.
Bondan senang mendengar ucapan Rania walapun hanya untuk membuatnya tak merengek ingin dicemburui.
Rania turun di depan halaman kedai yang sudah ramai pengunjung. Tak lupa dia pamit pada Bondan. Tapi tangannya diraih Bondan untuk sejenak dia lihat.
"Sebentar, aku mau lihat wajah kamu lebih lama sebelum pergi kerja" ucap Bondan.
Tangan Rania disapunya beberapa kali menggunakan jemarinya. Rania tersipu malu, salah tingkah ditatap Bondan.
Rania mencium punggung tangan Bondan untuk menghentikan pandangan Bondan. Matanya membulat jantungnya berdegup kencang. Rania mencium tangannya seolah dia sedang pamit pada suaminya. Wajah Bondan memerah karena saking senangnya.
"Hati-hati, jangan mengebut!" ucap Rania.
Bondan hanya tersenyum. Rania keluar dan dia pun pergi dengan penuh rasa senang.
__ADS_1
Dila yang sedang main di keday, melihat momen manis itu. Dia tersenyum dan sangat menginginkan momen itu bisa terjadi padanya. Lalu dia mendekat pada Rania yang masih menatap pacarnya berlalu dari pandangannya.
"Hei!" sapa Dila.
Rania menoleh, dia tak terlalu kaget. Tapi matanya membulat karena senang Dila main ke kedaynya. Rania memeluknya dengan senang.
"Dila, kapan datang?" tanya Rania.
"Dari tadi, aku sarapan di sini. Ibu bilang kamu lagu pergi sarapan sama takdirnya" ucap Dila mengejek.
Rania menepuk lembut lengan saudari kembarnya itu. Dila tersenyum memeluk Rania dari samping kemudian mereka berjalan masuk ke rumah.
###
Clara mengomel pada sekertaris dan pegawai lain karena kesal pada Bondan. Dia mulai kesal karena Bondan tak menuruti keinginannya. Dia bahkan tak menjawab telponnya yang setahun ini selalu langsung dia angkat di manapun dia berada juga kapanpun itu.
Tak berapa lama, Bondan datang dan langsung masuk ke ruangan Vero. Dia bicara dengannya dengan riang. Membicarakan meeting yang akan mereka hadiri siang ini, tanpa memperdulikan Clara yang sudah menghubunginya hingga belasan kali.
Clara dengar dari sekertarisnya, Bondan sudah datang dan sedang bicara dengan Vero. Dia melangkah dengan marahnya menuju ruangan Vero.
Klien yang merupakan putri dari salah satu sultan di Singapura itu memang sangat manja dan temperamental. Dia sering marah karena ketidaksukaannya terhadap hal-hal kecil. Bahkan saat dia sendiri yang tak tahu apa-apa, dia semakin kesal tak mau terlihat bodoh.
Bondan berdiri seolah ketahuan istri karena tak pulang-pulang ke rumahnya. Hahaha
"Kau! Aku menunggu mu di ruangan ku sejak pagi, sekarang kau begitu nyamannya bicara dengan Vero!" Clara menunjuk.
Vero tersenyum menertawakan cara bicara atau dialek Clara yang baru belajar bahasa Indonesia. Bondan mengalihkan pandangan dengan kesal.
~itu ruangan ku, bukan ruangan mu~ ucap hati Bondan yang setahun ini tak bisa menempati kursi di ruangannya sendiri.
"Aku yang menyuruhnya untuk langsung kemari, ada meeting siang nanti, aku kan bosnya, jadi...dia langsung menuruti perintahku" ucap Vero mencoba menyelamatkan Bondan dari amarah Clara.
Mata Clara yang membulat, mendelik pada Vero. Dia keluar sambil meracau. Bondan menyusulnya agar dia tak begitu marah. Meskipun sampai sekarang dia tak tahu bagaimana caranya menenangkan amarahnya.
Vero menyemangati Bondan dengan mengucapkan 'fighting' dengan gerakan mulutnya. Bondan tersenyum dan menggaruk kepalanya meski tak gatal.
"Kasihan sekali Bondan, untung saja dia sudah kembali pada Rania. Jika tidak dia akan menjadi gila karena selalu bersama Clara" ucap Vero menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Clara duduk dan melipat kedua tangannya di dadanya. Dia diam menatap ke arah lain ruangan itu meski Bondan sudah ada di hadapannya.
"Katakan, apa aku ini sangat membuat mu muak?" tanya Clara yang hampir menangis.
Bondan terkejut dengan pertanyaan dan ekspresi wajah Clara.
"Apa aku ini wanita yang pantas kamu jauhi?" air mata Clara mulai berjatuhan.
"Haaaah!" Bondan semakin tak paham.
"Kita sudah setahun bersama, aku sudah terbiasa dengan kehadiran mu, aku juga sudah sangat senang kau selalu mengangkat telponku dimanapun, kapanpun. Apa aku terlalu mengekangmu?"
Bondan semakin menatap aneh pada kliennya itu.
"Maaf!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Bondan karena dia merasa bersalah sudah mengabaikan telponnya hingga belasan kali.
Clara menangis tersedu mendengar satu kata yang dia harapkan sedari tadi keluar dari mulutnya saat dia menelponnya.
Bondan semakin merasa kikuk melihat wanita menangis sesegukan di hadapannya. Jika dia adalah Rania, mungkin sudah dia peluk dan memenangkannya. Tapi ini bukan Rania, ini wanita yang sudah membuatnya geram selama setahun ini, jadi dia hanya diam menatapnya.
Clara berdiri dari kursinya, dia mendekat pada Bondan dan ikut duduk di sofa di sisinya. Clara menjatuhkan wajahnya di dada Bondan dan memeluknya.
Sontak Bondan terkejut dan melepaskan pelukan Clara. Tapi Clara sangat kuat memeluknya.
"Jangan lepas, aku cemas sekali karena kamu tidak menjawab panggilan ku, aku kira kamu kenapa-kenapa" bisik Clara.
Bondan melepas pelukan Clara dan berdiri menjauh darinya. Clara menatap wajah Bondan yang terlihat takut padanya.
"Maafkan aku kalau selama ini terlalu mengekang mu, itu karena aku tidak mau jauh dari mu dan....."
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa membalas perasaan mu. Aku sudah punya calon istri" ucap Bondan tegas.
Dia berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan Clara yang terpaku mendengar ucapan Bondan yang menyela ucapannya sekaligus menolak perasaannya.
Clara tak menangis, dia malah tersenyum. Dia merasa sudah menyukai pria yang tepat. Pria yang selalu melelehkan hatinya dengan kata maaf. Dia juga senang mendengar dia sangat setia dan tak tergoda oleh wanita sekaya dan secantik dirinya.
__ADS_1