Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
51


__ADS_3

Film habis, semua orang berdiri satu persatu untuk keluar. Arumi mengajak Vero untuk keluar lebih cepat. Rania dan Dina sudah berdiri namun Bondan dan Beni masih terdiam. Bondan kesal karena tak suka dengan alur cerita filmnya. Sementara Beni, dia sangat puas dan merasa sangat suka dengan film yang baru saja dia tonton.


Rania menarik tangan Beni, dia paham setelah melihat Bondan yang masih diam, Bondan tak suka. Rania berusaha membawa Beni keluar terlebih dulu, menghindari pertengkaran atau hal yang tak diinginkan.


Namun Rania bertabrakan dengan Arumi yang kembali hendak mengambil tasnya yang tertinggal di dekat pintu. Arumi membulatkan matanya saat menatap wajah Rania. Sementara Rania meminta maaf dan hendak langsung pergi lagi. Namun Arumi menarik tangannya untuk mencegahnya pergi.


"Tunggu!" seru Arumi.


Rania berusaha untuk melepaskan tangan Arumi yang kuat menahannya.


"Rania!" Arumi makin kuat menahannya.


Beni yang berjalan lebih dulu dan tak tahu Rania berpapasan dengan orang lain, jadi berpaling karena mendengar orang lain memanggil Rania. Dia buru-buru mendekat dan membantu Rania melepas tangan Arumi.


"Hei...kamu siapa? Kenapa narik tangan dia kayak gitu?" tanya Beni sambil panik.


Bondan dan Dina yang baru keluar juga berhenti dan ikut melepas Arumi dari Rania. Kemudian Vero datang dan membantu Arumi yang hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh.


Bondan menatap Vero, Rania memperhatikan semua wajah mereka satu persatu dengan rasa khawatir. Dia juga melihat Arumi yang masih menatapnya.


"Dila! Dia Dila bukan Rania!" ucap Dina.


Rania membulatkan matanya terkejut Dina meralat dugaan Arumi. Kemudian dia memejamkan matanya karena telah terlambat mencegahnya. Mata Arumi semakin membulat karena merasa terkejut dengan pernyataan Dina.


"Dila?"


Vero tak bisa berkata-kata, dia hanya membantu Arumi berdiri dan mengajaknya pergi.


"Tunggu! Aku belum mau pergi! Jelaskan padaku apa maksudnya?" seru Arumi memberontak.


Vero lebih kuat menarik tubuh Arumi yang kekeh ingin tetap di sana.


Rania terdiam, bukan dari Beni, dia merasa sudah tak bisa menyembunyikan rahasia ini dari Arumi.


Bondan merasa takut Beni bertanya-tanya apa yang sudah terjadi. Ucapan Dina secara tidak langsung akan membuat keraguan di pikiran Beni.


Beni sendiri hanya diam melihat ekspresi Rania yang merasa telah terbongkar di hadapan temannya. Dina menggigit bibirnya setelah menatap mata Rania yang terpejam. Dia sadar secara tidak langsung sudah membuat pernyataan bahwa dia adalah Rania.


Tanpa kata-kata mereka saling menatap di sana, Bondan memecahkan suasana.


"Huhfff ada-ada aja ya! Ayo pulang!"


Dina tersenyum canggung dan ikut dengan Bondan, Beni tetap diam menunggu Rania bergerak. Beni memegang tangannya yang dingin karena gugup. Rania menatap tangan Beni dan berusaha bersikap baik-baik saja.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Beni.


Mereka berkumpul di parkiran mobil dekat mobilnya. Di sisi lain terdengar Arumi yang tetap ingin mencari Rania ke dalam.


Vero berusaha mencegahnya tanpa berkata apapun. Merasa aneh dengan sikap Vero, Arumi jadi terdiam dan mengulang keanehan sikap Vero dari semenjak pulang dari Australia.


"Kau sudah tahu!" Arumi menyimpulkan.


Vero menatapnya dan berusaha mengalihkan pembicaraannya.


"Apa maksud mu? Ayo pulang!"


"Ya...kamu udah tau. Dia jelas Rania! Lalu kenapa wanita tadi bilang kalo di itu Dila?" tanya Arumi masih tak percaya.


Vero bingung harus mengatakan apa pada Arumi. Dia sudah tak punya ide untuk mencari cerita lain.


"Iya...kamu udah tau. Jadi kita kesini untuk dia? Kamu nguntit dia?" duga Arumi.


Vero menghela masih diam tak bisa menjelaskan apapun.


"Tapi...kenapa dia memotong rambutnya? Iya....gayanya sama seperti Dila!" Arumi semakin berpikir.


"Kita pulang! Pakai helm nya" pinta Vero.


"Kita pulang ke rumah ku, akan aku jelaskan di sana!" janji Vero.


Arumi menurut dan memakai helmnya. Mereka pergi. Sementara Rania dan yang lainnya masih duduk diam di mobil saling diam. Bondan menyalakan mesinnya dan menancapkan gas menuju rumah Ruby.


Sampai di rumah Ruby, Hedi sudah menyiapkan makan malam. Anita berjalan menuju meja makan dan melihat mereka semua baru datang.


"Kalian baru datang? Bagaimana filmnya?" tanya Anita.


"Seru mom, aku suka. Romantis dan penuh intrik" ucap Beni.


Bondan menatap Beni yang terlihat tak terpengaruh dengan kejadian tadi. Rania berusaha bersikap biasa, meski sangat ingin dia menghubungi kakaknya untuk menanyakan tentang Arumi.


"Aku ngga makan malam! Aku sedikit pusing" ucap Dina.


Anita mengangguk.


"Minum obat Din, nanti Hedi antar ke kamar kamu" ucap Anita.


"Iya tante makasih" ucap Dina sambil pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Selesai makan malam, Beni masuk ke ruang melukis yang sudah pegawai rumah atur saat mereka pindah. Dia konsentrasi melukis.


Rania hendak masuk ke kamar setelah membantu Hedi hingga selesai, namun Bondan menerobos masuk ke kamar Rania dan menariknya untuk juga masuk.


"Ngga...kamu ngga boleh di sini. Sebaiknya kamu keluar" pinta Rania sambil menarik tangannya dan mencoba membuatnya keluar.


Bondan tak berkutik, tubuhnya sama sekali tak beranjak dari ranjang yang dia duduki.


"Beni sama sekali tak curiga?" ucap Bondan.


Rania berhenti menarik tangannya dan terdiam.


~Dia sudah tahu, kau yang tidak tahu itu~ ucap hati Rania.


"Gadis itu pacar Vero kan? Lalu kenapa kamu masih dekat dengannya? Perhatian Vero itu berlebihan, bahkan aku menyimpulkan bahwa dia ke sana sengaja hanya untuk melihat mu" lanjut Bondan.


Rania berbalik, dia menghela.


"Kita tak punya hubungan apa-apa selain kau adalah kakak dari tunangan ku, jadi aku tidak perlu menjelaskan semuanya kan?" ucap Rania dengan nada bicara seperti Dila.


Bondan menganga kemudian tersenyum. Dia berdiri dan mendekat pada Rania yang semakin mundur menjauh darinya hingga berhenti di pintu. Bondan mendekat dan mulai menciumnya.


Sementara di rumah, Vero duduk di depan Arumi yang menatapnya menunggu penjelasan. Vero menghela nafas dan hendak mengatakan semuanya. Namun Arumi kembali menyimpulkan hal yang tak diduga Vero.


"Kamu nguntit Rania karena suka sama dia kan?"


Vero membulatkan matanya, kemudian dia tersenyum dan tak percaya dengan cara berpikir Arumi.


"Kamu bener-bener ngga mau kehilangan aku ya?" tanya Vero.


Arumi mulai berkaca-kaca, dia merasa akan kehilangan Vero karena tahu bagaimana Vero begitu melindungi Rania semenjak mereka bertemu.


"Apa dia sespesial itu? Kamu lihatkan tadi, ada cowok yang jagain dia, malah dua orang. Atau apa kamu emang cemburu karena Rania dapet cowok baru?" Arumi semakin dalam berpikir tentang kecemburuannya.


Vero tersenyum dan memegang tangannya.


"Kamu ini!" ucap Vero sambil mengusap rambutnya.


Arumi memeluk Vero.


"Aku ngga mau kamu sampe pindah ke lain hati. Aku mungkin ngga akan sanggup ngadepin semua itu" ucap Arumi.


"Sayang, aku itu punya kamu. Selamanya!" jawab Vero.

__ADS_1


Lagi-lagi, ucapan sederhana dari Vero membuat Arumi mudah menerima dan berhenti berpikir tentang kecemburuannya. Mereka akhirnya pergi keluar lagi untuk makan malam atas ide Vero yang beralasan sangat lapar. Selain memang dia lapar, dia juga ingin menunda waktu untuk menjelaskan semuanya pada Arumi. Menunggu waktu yang tepat.


__ADS_2