
Beni meneteskan air matanya.
"Aku ngga pernah benar-benar mendapatkan sesuatu yang indah. Momi....momi selalu jadi ibu buat Bondan, tapi tak pernah jadi ibu ku. Dila ...dia juga merasa tertekan bersama ku kemudian berpaling pada Bondan. Dan kau Rania....kau menegaskan bahwa aku tak pantas mendapatkan wanita seperti mu"
"Maafkan aku Ben!"
Hanya kata itu yang terucap dari Rania yang sedari tadi menangis.
"Sejak awal kau hanya kasian pada ku. Ini semua hanya rasa iba. Hehe..aku terlalu banyak berharap"
"Benn..." Rania tak suka mendengar ucapannya.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana mungkin aku bisa melihat mu bersama kak Bondan menikah? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan?"
Beni mulai bersikap putus asa seperti dulu. Dia menggenggam tangan Rania dan menggoyang-goyangkan nya dengan kuat.
"Beni....maafkan aku. Maafkan aku!" ucap Rania sambil memeluknya.
Beni menangis dipelukan Rania untuk beberapa saat. Kemudian tak lama, dia tertidur dengan belaian Rania di kepalanya.
###
Yudi mengantar Dila pulang, hari ini Dila sangat diam dan tak ceria seperti biasanya. Dalam benaknya teringat ucapan Vero yang mengatakan bahwa Rania dan dirinya adalah putri kembar keluarga Subagja. Dipisahkan oleh ibu dan ayah mereka demi kebaikan mereka.
Sampai di rumahnya, Dila turun dan berjalan tanpa melepas helmnya. Yudi menarik tangannya dan membantunya melepas helmnya.
"Kamu ini kenapa?" tanya Yudi.
Yudi menatap wajah Dila yang sangat persis Rania, dia jadi ingat dengan moment saat dia melakukan hal yang sama pada Rania. Dia tak melepaskan momen ini untuk mencium bibir Dila. Namun sayangnya Dila mundur dan menolaknya. Yudi merasa canggung, dia hendak ikut dengan Dila masuk ke rumahnya, namun karena Dila terlihat tak mau ditemani dia pun pamit.
"Ya sudah, aku akan pulang!" ucap Yudi.
Dila berhenti di ambang pintu, dia menyadari bahwa telah mengacuhkan Yudi. Dila berbalik dan berusaha tersenyum.
"Bagaimana kalo kita makan mie instan dulu?" ucap Dila.
Yudi menatapnya dengan heran. Tadi Dila sama sekali tak mersponnya. Sekarang dia malah mengajak makan di rumahnya. Yudi melepas helmnya dan mendekat pada Dila.
"Oke!" jawab Yudi.
Dia masuk terlebih dulu kemudian Dila menyusulnya. Dila langsung menaruh tas nya di atas meja dekat ranjang. Kemudian dia memeriksa laci meja dan mencari mie untuk dia masak.
__ADS_1
"Kamu murung banget dari tadi. Apa ada hal besar yang bikin kamu kecewa?" tanya Yudi sambil membantu merapikan karpet dan menyiapkan meja lipat kecil untuk mereka makan.
Dila menatap mie yang dia masak di hadapannya, berpikir bagaimana harus mengatakannya. Bagaimana jika Yudi tahu bahwa Rania ada di Jakarta dan dia adalah saudara kembar pacarnya. Bagaimana jika dia kembali pada Rania.
"Apa yang akan kamu lakuin kalo Rania tiba-tiba muncul di hadapan kita. Kemudian dia berkata bahwa dia masih mencintai mu dan ingin kembali pada mu?" ucap Dila.
Yudi terkejut dengan perkataan Dila, dia sampai tak melepaskan pandangannya dari Dila yang masih diam berdiri di depan kompor nya.
"Apa kamu akan menerima permintaannya?" tanya Dila lagi.
Yudi buru-buru memeluknya dari belakang berharap Dila menghentikan perandaiannya. Dila diam sejenak, matanya terpejam sebentar membayangkan wajah Rania dan Yudi bergantian.
"Apa kamu akan ninggalin aku?" ucap Dila lagi.
Yudi membalik tubuh Dila.
"Kau ini kenapa? Kenapa selalu begini? Kau sudah tahu jawaban nya. Aku takkan pernah meninggalkan mu"
Dila menatap Yudi, dia meneteskan air mata nya. Tak ada lagi ucapan yang keluar, Dila hanya menangis dalam pelukan Yudi yang ikut terdiam tak bertanya lagi.
###
Tak berapa lama sebuah pesan masuk di ponsel Vero. Mata Vero membelalak menatap pesan. Dia mencoba menelpon pengirim pesan.
"Apa yang terjadi?" ucap Vero dengan nada khawatir.
"Restoran kebakaran! Ada korban terluka parah" ucapnya.
"Korban?" tanya Vero heran.
Arumi mendengarkan dan merasa heran juga dengan korban.
"Ngga ada orang yang kita suruh untuk nginep di resto kan?" ucap Arumi.
"Iya! Kita harus cepet ke sana"
Vero dan Arumi berangkat menuju restoran. Sampai di sana, dia terkejut dengan keadaan restoran yang masih terbakar di sebagian tempat dan sedang dibantu pemadam untuk memadamkan sisa apinya.
Seorang petugas menghampiri.
"Ada korban, seorang wanita. Luka nya cukup parah. Dia sudah dibawa ke rumah sakit terdekat" ucap Petugas itu.
__ADS_1
Vero dan Arumi tak percaya dengan semua yang terjadi. Seolah tertimpa tangga, kejadian buruk terjadi berturut-turut.
"Sayang! Kamu ke rumah sakit, lihat siapa wanita itu. Aku akan handle di sini dulu. Jangan lupa kasih tau Yudi sama Dila. Aku akan minta Fajri nemenin aku di sini" pinta Vero.
"Ok, aku pergi!" jawab Arumi.
Vero menatap Arumi yang berjalan menuju sebrang jalan untuk memberhentikan taksi hingga dia pergi. Dia pergi membantu setelah memberitahu Fajri untuk datang. Tak lama kemudian Fajri datang dengan ekspresi yang tak kalah kaget. Baru saja mereka ingin merapikan restoran. Kini keadaannya semakin buruk.
###
Di rumah sakit, Arumi langsung diberitahu dimana orang yang menjadi korban ditempatkan. Beberapa perawat dan dokter mengerumuninya. Suara erangannya terdengar, air mata Arumi menetes setelah melihat sebagian wajah yang tak terbakar.
"NURI!" teriak Arumi.
Seorang petugas menahannya untuk tak mendekat dan keluar dari ruangan itu. Arumi menangis di lorong rumah sakit dengan tangan bergetar mencoba menghubungi Vero. Tangannya terlalu gugup hingga sulit untuk fokus memanggil Vero. Dia menjatuhkan ponselnya karena lemas.
Yudi mengambil nya, dia baru datang setelah diberitahu rumah sakit yang akan Arumi datangi. Dila menatap Arumi yang tak berhenti menangis. Yudi mendekat dan memeluknya.
"Kenapa? Ada apa Rum?" tanya Yudi sambil mengusap punggungnya.
"Siapa yang jadi korban? Bukankah kita pergi sudah tidak ada orang?" ucap Dila.
"Nuri!" lirih Arumi di pelukan kakaknya.
Mata Yudi membelalak, sangat terkejut dengan ucapan Arumi. Dia melepaskan pelukannya dan bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Apa?"
"Iya, orang yang ada di dalam itu Nuri kak!" ucap Arumi sambil menangis lagi.
"Gimana bisa dia ada di restoran?" ucap Dila..
Yudi dan Dila saling menatap heran. Arumi masih merasa kasihan karena luka yang dialaminya cukup parah.
"Jangan-jangan dia yang bakar trus dia kejebak sendiri" ucap Dila.
"Ngga! Ngga mungkin!" ucap Yudi.
Dila mengalihkan pandangannya merasa kesal Yudi tak menimbang ucapannya. Yudi menghubungi Vero dan menanyakan kabar restoran. Dia berjalan sedikit menjauh agar suara tangis Arumi tak membuat Vero semakin khawatir.
Dia memberitahukan siapa korban, Vero sangat terkejut, dia dan Fajri langsung menyusul ke rumah sakit setelah mendapat kepastian dari polisi dan petugas tentang penyebab kebakaran.
__ADS_1