
Dila menjerit memanggil nama Rania. Dia jatuh begitu saja saat Nuri memapahnya setelah keluar dari kamar. Bondan yang sedang berdiri menunggunya, langsung menangkapnya. Semua orang terkejut dan mulai mengerumuni mereka.
Bondan terdiam menatap tubuh wanita yang dicintainya terkulai lemas di pangkuannya. Hidungnya mengeluarkan darah, tubuhnya terasa dingin. Dia tak bisa menahan tangis yang keluar dari matanya.
Nuri memeluk anaknya dan menutup telinganya agar tak panik mendengar Dila histeris. Fajri menelpon ambulans.
Sementara Vero berjalan perlahan mendekati mereka. Dia berlutut menatap Rania yang hidungnya terus di usap Bondan. Vero meraih tangan adik yang sangat dia sayangi itu.
"Bangun sayang, impian mu menikah dengan Bondan akan segera terwujud. Cepat, akadnya akan segera dimulai"
Tangis Vero pecah saat dia mencium tangan Rania yang dingin.
Arumi memegang kursi dan perlahan duduk, dia mengatur nafasnya agar tetap tenang melihat pemandangan itu. Dia ingin menghampiri dan menenangkan suaminya. Namun lututnya jadi lemas dan seolah tak mampu berjalan lagi.
Bu Vera, Bu Yuni dan Pak Nurdin yang sejak tadi memandangi Rania, berusaha menenangkan Dila yang masih menangis histeris.
Tak lama kemudian ambulans datang, dengan perlahan Rania dibawa ke rumah sakit. Mobil Vero, Fajri mengikuti mereka dari belakang. Sementara Bondan dan bu Vera ikut masuk ke mobil ambulans menemani Rania.
###
"Diam, jangan terus berpura-pura. Ini kan yang kamu mau!" ketus Vero pada Dila yang masih menangis.
Dila memejamkan matanya karena kesal dengan ucapan Vero. Tapi rasa khawatir pada Rania menutupi kekesalannya. Dia diam saja tak meladeni Vero.
Sementara Vero terus bicara, Arumi mulai kesal dan memukul lengan Vero dengan keras.
"Awww......!" seru Vero kesakitan.
"Diam atau aku dan Dila turun di jalan!" ancam Arumi.
Vero menghela menyerah, meskipun hatinya masih kesal dan ingin mengatakan semua yang ada dalam benaknya pada Dila.
Beberapa saat mobil itu menjadi hening. Dila mulai bicara memecah keheningan.
"Marcel bilang Rania takkan bisa bertahan sampai melahirkan anak-anaknya"
Arumi menoleh, dia menatap Dila dan merasa lega akhirnya dia mengatakan semuanya meskipun sudah terlambat. Vero menatapnya melalui kaca spion.
"Apa maksud mu?" tanya Vero yang tak mengerti.
__ADS_1
"Setelah kalian keluar, Dokter Marcel memintaku untuk tinggal dan mengatakan semuanya. Dia mengatakan Rania merasa seolah mengandung si kembar adalah tugas terakhirnya. Tapi kondisi tubuhnya tak akan bisa mencapai 9 bulan kehamilan. Maka dari itu aku sarankan untuk menikahkan mereka sekarang. Meskipun di sisi lain, aku merasa telah membenamkan Bondan dalam kehancuran hatinya. Apalagi jika dia ditinggal pergi Rania"
Vero mengalihkan pandangan ke depan. Dia sudah salah menduga atas sikap Dila. Dia juga sedang kesulitan dalam menangani pabrik, sehingga selalu sensitif jika ada sikap orang lain yang di luar keinginannya.
"Mudah-mudahan semua dugaan dokter tidak benar" ucap Arumi.
Ucapan Arumi membuat Dila dan Vero meredam amarah dan emosinya.
Sampai di rumah sakit, Marcel sudah menunggu di ruang gawat darurat. Dila mengabarinya lewat pesan saat di perjalanan. Dia yang masih di rumah, langsung datang ke rumah dan juga menghubungi dokter yang juga menangani kasus Rania.
Rania di bawa ke ruang pemeriksaan dan mendapatkan penanganan dari beberapa dokter. Bu Vero menatap Adit dan memegang tangannya.
"Banyak banget dokternya, apa parah banget ya?" tanya Bu Vera.
Dila menunduk, dia jadi merasa bersalah karena tak memberitahukan keadaan yang sebenarnya.
"Ibu tenang ya, doain aja kak Rania. Aku juga sangat khawatir. Tapi, sekarang ini yang dibutuhkan kak Nia adalah doa dari kita semua" ucap Adit.
Seorang suster datang menatap semua orang yang masuk ke ruang gawat darurat.
"Maaf bapak ibu, bisa menunggu di luar saja! Yang menunggu walinya saja ya!" pinta suster.
Adit mengajak ibunya keluar, semua orang keluar kecuali Vero dan Bondan.
"Bayi bayi nya harus dikelurkan sekarang juga" ucap Marcel setelah beberapa saat terdiam.
"Operasi sesar?" ucap Bondan sekaligus memastikan.
"Hmmm, iya. Aku butuh persetujuan keluarganya" ucap Marcel.
Vero mengusap wajahnya, dia menghela dengan air mata mengalir.
"Apa jika bayinya lahir, dia akan membaik?" tanya Vero.
"Dengar, aku..."
"Dila bilang, Rania menganggap kehamilannya adalah tugas terakhirnya. Dia bisa bertahan selama dua bulan lagi untuk itu. Usia kandungannya masih 7 bulan, biarkan dia melakukan tugas terakhirnya hingga dua bulan kedepan. Jika anaknya lahir sekarang, dia..."
"Kondisi Rania sudah tidak memungkinkan mengandung mereka lebih lama. Hal itu akan mempengaruhi janin, mereka juga bisa ikut meninggal" jelas Marcel mematahkan keinginan dan keegoisan Vero.
__ADS_1
Vero terduduk lemas, dia hanya ingin Rania hidup lebih lama. Tapi keinginan Rania adalah menyelamatkan bayi bayinya. Vero menangis tersedu.
Bondan menatap ke arah pintu ruang pemeriksaan.
"Boleh aku menemaninya saat operasi?" tanya Bondan.
"Boleh jika kamu tidak drop saat melihat darah"
Marcel meminta Vero untuk menandatangani persetujuan tindakan operasi untuk Rania. Mereka pergi ke ruangannya. Dengan berat hati, Vero akhirnya setuju dengan segala tindakan yang akan dilakukan oleh dokter dengan harapan, bukan hanya bayi-bayi itu yang selamat, tapi juga dengan Rania.
###
Dila membulatkan matanya menatap pesan yang di kirimkan Bondan padanya.
"Ada apa Dil? Apa isi pesannya?" tanya Arumi khawatir.
Dila menatap Arumi, dia menelan salivanya kemudian mengatakan apa pesan dari Bondan.
"Rania akan di sesar, mereka akan menyelamatkan bayinya terlebih dahulu" ucap Dila dengan terbata.
Bu Vera menangis tersedu, dia jadi mengingat semua tingkah Rania sebelum hari ini terjadi.
#
Rania menatap perutnya kemudian mengelusnya perlahan. Vera melihatnya, kemudian mendekat karena penasaran dengan apa yang dipikirkan Rania saat melakukannya. Terlebih beberapa hari itu, Rania selalu bersikap manja seperti anak kecil.
"Kenapa? Mereka menendang? Mereka pasti sangat senang, karena kamu selalu bahagia" ucap Vera.
"Apa mereka bisa hidup tanpaku? Apa mereka bisa bertahan seperti aku? Apa kesehatan mereka takkan terganggu karena aku menahan semua rasa sakit ini?" ucapnya tanpa menatap Vera.
Vera meneteskan air matanya kemudian menutup mulutnya karena tak percaya Rania akan mengatakan semua itu. Kemudian Rania menatap Vera dengan wajah polos.
"Ibu, aku makan. Rasanya lapar sekali menahan rasa sakit di dalam sini" tunjuk Rania pada kepalanya.
Vera tak tahan, dia langsung pergi ke dapur dan menangis tersedu di sana.
#
Kini ketakutannya akan kehilangan Rania semakin besar dan terpampang di depan matanya. Adit terus mengusap punggung ibunya itu, meskipun dirinya sendiri sangat bersedih melihat keadaan kakak yang sangat dia sayangi.
__ADS_1
"Semoga semua bisa berjalan dengan lancar, semuanya bisa kembali berkumpul lagi di rumah. Dari dulu aku nggak suka bau rumah sakit" ucap Pak Nurdin sambil mengusap air matanya sendiri.
Tak ada yang bicara lagi, mereka semua menunggu sambil mendoakan keselamatan Rania dan kedua bayinya.