Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
130


__ADS_3

Dila yang datang ke kantor sesaat setelah Bondan, melihat pemandangan itu. Tapi dia bersembunyi sehingga Bondan yang keluar setelah menolak Clara, tak melihatnya.


~Aneh, bukannya marah, aku malah senang jika Clara menggoda Bondan~ ucap hatinya.


Dia tak marah pada Clara atau Bondan saat melihatnya. Dia malah senang dan tersenyum menyeringai.


Clara keluar dari ruangan dan melihat Dila. Tapi matanya membulat, kemudian dia berpikir merasa pernah melihatnya.


"Bukannya kamu pemilik catering itu?" tanya Clara.


~mungkin maksud dia, Rania~ Dila berpikir.


"Kamu potong rambut?" tanya Clara.


"Bukan, aku bukan dia. Dia Rania, aku Dila saudari kembarnya" ucap Dila menawarkan jabat tangannya.


Clara menerima jabatan tangannya dan masih mengerutkan dahinya.


"Ada apa? Mau menawarkan kerja sama lain?" ucap Clara dengan ketus.


Dila menyeringai, dia tak suka dengan cara Clara bicara.


"Aku...."


"Dia adik ku, Rania juga. Mereka berdua adikku" ucap Vero yang datang karena Bondan mengeluh.


Dila menatap kakaknya, dia mendekat dan mengaitkan tangan ke lengan kakaknya. Clara menatapnya tanpa ekspresi.


"Ada masalah dengan mall?" tanya Vero.


"Tidak, aku mau minta izin liburan bersama Rania" ucap Dila.


"Kemana? beberapa minggu lagi pernikahan ku. Jangan macam-macam!" Vero memarahinya.


Clara hendak pergi karena merasa tak penting untuk mendengar urusan keluarga mereka. Tapi Vero menahannya.


"Clara aku ingin bicara di ruangan Bondan" ucap Vero.


Dila melepas tangannya dan membiarkan kakaknya masuk. Dia pergi ke ruangan Vero setelah melihat mereka masuk. Dila menatap Bondan yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Bondan melihatnya dan tersenyum.


"Hai Dil!" sapa Bondan datar dan langsung bekerja lagi.


"Hai! Sibuk?" Dila berbasa-basi.


"Lumayan, beberapa pekerjaan harus aku lakukan di sini. Ini sangat merepotkan, rasanya tidak nyaman" keluhnya.


"Dia siapa sih? Kok kakak kelihatan sangat hati-hati bicara dengannya" tanya Dila penasaran.


"Putri semata wayang seorang sultan dari Singapura. Dia mengirimnya untuk mengawasi pembukaan pabrik baru" jelas Bondan yang masih menatap laptopnya.


"Baru, yang mana?" Dila mengingat.

__ADS_1


"Yang di Tangerang" jawab Bondan.


"Loh, yang di Tangerang kan udah setahun" Dila ingat pasti, Rania yang menceritakannya saat selalu saling memberi kabar di Amerika.


Bondan tak merespon.


"Ouh....jadi itu kenapa dia masih ada di sini..." Dila menyimpulkan.


Bondan menatapnya dengan cemas. Cemas Dila mengetahui Clara menyukainya.


"Eeuuhhh....!" Dila baru sadar keceplosan.


Bondan mengalihkan pandangannya agar tak kembali mengingat kejadian tadi. Dia sangat tak nyaman sehingga meminta Vero untuk bicara dan mencari orang lain untuk menemani Clara di bulan terakhir.


###


"Aku tidak mau orang lain, aku maunya Bondan" ucap Clara menggebrak meja.


Vero menghela keras.


"Kau tidak bisa memaksakan kehendak mu" ucap Vero.


"Aku menyukainya, itu alasannya kan?" Clara melipat tangannya di dada.


"Itu salah satunya" jawab Vero mengangguk.


"Haha..apa dia tak punya keberanian datang padaku dan protes seperti mu?" Clara menertawakan Bondan.


Clara menatap Vero. Dia mengingat wajah Rania mendengar dia adalah calon istrinya. Dia tak bisa mengatakan apapun lagi, selain setuju dia menerima orang lain untuk menemaninya sebulan terakhir dia di sini.


"Ok, aku takkan mengganggunya" ucap Clara.


Vero pergi tanpa pamit. Clara tak suka dengan perubahan sikap mereka. Sebelumnya mereka sangat memprioritaskan dirinya di atas yang lain.


~Apa yang membuat mereka menyingkirkan aku begini? Aku jadi penasaran, bagaimana reaksi mereka jika aku berhasil membuat Bondan jatuh ke pelukan ku sebelum visa ku habis~ Clara menyeringai, dia menantang dirinya sendiri untuk merebut Bondan.


###


"Dia menyetujuinya, kau bisa kerja di sini selama dia belum pulang" ucap Vero saat dia masuk.


Bondan mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu masih di sini?" tanya Vero pada Dila yang membaca korannya.


"Kaak, seminggu saja sebelum kalian menikah. Aku, Arumi, Nuri dan Rania. Berempat" Dila menunjukkan empat jari lentiknya.


Bondan menatapnya karena mendengar nama Rania.


"Tidak, apalagi Arumi juga ikut, itu pantangan bagi pasangan yang akan menikah" jawab Vero yang menolak dengan tangan melambai.


"Mau kemana?" tanya Bondan.

__ADS_1


"Korea, jalan-jalan ke Seoul, Busan, Haenam dan lainnya. Aku gemas pada Nuri dan Fajri yang sudah pernah tinggal di sana" jelas Dila dengan mengeluh.


Bondan menertawakan, dia pernah melihat Rania juga tertarik pada Oppa korea dari drama yang dia lihat.


"Nanti saja setelah aku menikah" jawab Vero.


"Itu ide bagus" tambah Bondan.


Dila mendelik menatap mereka bergantian.


"Jadi maksud kalian, aku harus menyaksikan tiga pasangan berlibur ke Korea dan aku berjalan membuntuti kalian dengan kesendirian ku, begitu" Dila melafalkan dengan tegas setiap katanya.


Bondan tersenyum setelah saling berpandangan dengan Vero.


"Tidak. T I D A K" tambah Dila dengan mengeja.


Vero mendekat dan meraih tangan adiknya yang sedang marah itu.


"Tidak, kau dan Rania saja yang pergi. Aku dan Arumi akan ke Bali saja bulan madunya. Bondan tak bisa kemana pun untuk beberapa bulan ke depan. Dia akan sangat sibuk. Jadi kau bisa menghabiskan waktu dengan kembaran mu" jelas Vero.


Wajah Dila berubah seratus delapan puluh derajat. Dia tersenyum dan memeluk kakanya.


"Terima kasih abangku sayang" ucap Dila di pelukannya.


Bondan melanjutkan pekerjaannya. Dila kembali ke mall dan Vero pergi bersama Arumi fitting pakaian pengantin.


Clara tahu Vero pergi, dia masuk ke ruangannya saat Bondan tengah sibuk.


"Ada apa Siena? Vero menyuruh mu mengatakan apa?" tanya Bondan sambil berbalik.


Namun dia sangat terkejut saat Clara yang datang dan mengunci pintunya. Bondan mendekat dan hendak membuka kembali pintunya. Tapi Clara mencabutnya dari pintu dan melemparnya jauh ke arah kolong meja Vera.


Bondan melangkah hendak mengambil, namun Clara memeluknya dari belakang. Bondan berusaha melepaskannya.


"Aww, sakit. Kamu menyakiti aku Bondan" ucap Clara dengan nada nakal.


Bondan kesal, dia tak peduli jika harus menyakiti Clara yang seorang wanita. Menurutnya Clara sudah sangat keterlaluan. Dia takkan tinggal diam.


"Semalam saja, aku hanya minta semalam dengan mu. Aku takkan mengganggu mu lagi dan ini akan jadi rahasia kita berdua saja" ucap Clara menawarkan perselingkuhan.


Bonda terdiam, Clara melepas pelukannya merasa dia akan menyetujuinya. Tapi Bondan berjalan cepat mencari kuncinya.


Clara menghela, dia mendorong Bondan yang sedang jongkok mencari kunci. Bondan kehilangan keseimbangan, dia terjatuh. Saat hendak bangun, Clara menindihnya tepat di atas perutnya.


Bondan mendorongnya dengan keras. Dia benar-benar marah dengan perbuatan Clara.


"Cukup Clara, aku benar-benar tak bisa membiarkan mu melakukan hal semaumu" ucap Bondan kesal.


"Kamu lupa ya sama malam itu?" ucap Clara.


Mata Bondan membulat, dia tak mengerti dengan ucapan Clara.

__ADS_1


__ADS_2