
Yudi pulang ke kosannya, dia bertemu dengan Maria, ibu Lucy.
"Hi Maria!" sapa Yudi.
"Hi jagoan! Kau baru pulang?" tanya Maria.
"Yup, kau belum tidur, ini sudah sangat larut" ucap Yudi ikut duduk di dekatnya.
"Belum, tiba-tiba aku mengingat ayah dan ibu mu" ucap Maria.
Ayah dan ibu Yudi dan Arumi pernah tinggal bersama Maria saat dia kuliah di Jakarta. Mereka cukup dekat untuk ukuran seorang teman.
"Mereka sangat baik dan loyal pada siapa pun yang menjadi kerabat atau teman. Aku menatap itu dari dirimu" ucap Maria.
Yudi menunduk kemudian mengalihkan pandangannya pada Maria.
"Kau merindukan mereka?" tanya Yudi.
"Ya, sekarang sangat jarang bisa menemui orang-orang baik seperti mereka" ucap Maria.
"Aku juga, aku sangat merindukan mereka" ucap Yudi.
Maria memeluk Yudi dari samping. Yudi mengusap punggung Maria. Yudi masuk ke kamarnya setelah Maria masuk ke rumahnya.
Dia duduk di ranjang setelah membersihkan diri. Baru dia melihat ponselnya dan memeriksanya. Ada satu pesan suara dari Dila. Yudi tersenyum dan mendengarkannya.
'Yudi, maafkan aku. Aku tidak bisa berpisah dari Marvin. Dia sangat membutuhkan kehadiranku di sisinya. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku'
Yudi terdiam mendengar pesan suara dari Dila. Dia menghela dalam dan mengusap kepalanya.
"Bagaimana ini?" gumamnya.
Keesokan harinya, Yudi berangkat kerja seperti biasa. Dia mendapatkan tugas untuk memimpin dan menjadi kepala chef untuk hari ini. Semua orang menatapnya kagum.
Tiga tahun dia memperjuangkan posisi ini. Jika tahun ini dia bisa berhasil, dia akan diberikan tempat di Italia sebagai asisten chef dan punya kesempatan untuk menjadi kepala chef di sana.
Yudi fokus dengan pekerjaannya, setelah dia berkompromi dengan hatinya. Dia juga telah mengirim pesan balasan untuk Dila yang membuatnya menerima semua keadaan ini.
####
__ADS_1
Lama waktu berselang, Dila hampir menyelesaikan pendidikannya di Harvard. Dila duduk termenung di koridor kampus. Dia mengingat pesan Yudi yang begitu membuatnya mampu siap menjalani hubungan dengan Marvin.
'Dila, berbahagialah meski itu tak bisa bersamaku. Aku sudah bisa mengerti cara takdir bekerja. Sejauh manapun, selama apapun kita berpisah, jika takdir mau kita bersama kita pasti bersama. Aku ikhlaskan kali ini kita berpisah lagi. Tapi nanti, jika kita diberi kesempatan untuk kembali bersama, aku berjanji padamu aku takkan pernah menjauh dari mu'
Dila tersenyum sendiri. Dia hanya bisa berharap takdir bisa mengabulkan doa mereka untuk cinta mereka.
Marvin melambaikan tangannya dari kejauhan. Dila menatapnya dan tersenyum kemudian membalas lambaiannya. Hubungan mereka terjalin baik dan sempurna.
"Kapan mereka akan datang? Bukankah lusa wisuda mu?" tanya Marvin saat makan siang bersama.
"Entahlah, aku belum mendapat kabar apapun" ucap Dila sambil menyantap makanannya.
Mereka mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Marvin masih memperlakukan Dila seperti seorang puteri. Dia juga sangat menghargai Dila sebagai seorang wanita. Dila mendapatkan perhatian penuh dan merasa sangat nyaman dengan Marvin. Tapi perasaannya lebih ke seorang teman yang selalu hadir dalam suka dan duka.
###
Rania dan Arumi berjalan saling beriringan, Vero mengikutinya dari belakang dengan membawa dua tas di tangannya. Mereka sudah sampai di bandara. Rencananya mereka akan memberi kejutan pada Dila yang tak tahu kalau Rania akan datang. Yang dia tahu hanya Veri dan Arumi yang akan datang.
"Wah dingin ya di sini!" seru Arumi.
"He eummm. Mau masuk musim dingin. Waktu yang tepat buat liburan di Harvard, katanya" ucap Rania.
"Hei dua wanita cantik!" serunya.
Rania dan Arumi menoleh.
"Kalian tak peduli padaku yang membawa tas-tas ini?" tanya Vero sambil menunjukkan tas mereka.
Rania langsung bergerak hendak membantunya, tapi Arumi menahannya.
"Ya, sebentar lagi kita dapat taksi, dasar malas!" ucap Arumi.
"Hei, jangan begitu, kasihan kakakku" ucap Rania.
"Kasihan apa, pas berangkat, tas dia kamu yang bawa sambil pura-pura nelpon seseorang" jawab Arumi kesal.
Rania hanya tersenyum, dia melepas tangan Arumi dan membantu Vero.
"Wah, Rania benar-benar peka" seru Vero yang melirik Arumi.
__ADS_1
"Hentikan! Jangan selalu menggodanya!" ucap Rania sambil memukul lengan Vero.
"Iya, iya!" jawab Vero.
Dia masih repot dengan tas lain, meski Rania membantunya.
"Kalian tidak lupa makanan kesukaan Dila kan?" tanya Vero.
"Apaan memang? Dia hanya suka Carbonara dan Fettucini bukan?" ucap Arumi.
Vero menghela, Arumi tak pernah mengingat makanan kesukaan orang lain selain Vero.
"Ada dia tas ku" jawab Rania.
Vero lega, dia tak membahasnya takut mood Arumi menjadi buruk dan mereka bertengkar nantinya.
Mereka mendapatkan taksi dan pergi ke apartemen Dila. Sementara Dila sedang di rumah karena sudah diantar pulang oleh Marvin yang kembali ke klinik untuk bekerja.
###
Yudi mendapat tawaran pekerjaan sebagai kepala chef di Italia. Pencapaian yang sangat didambakan olehnya. Dia menatap surat tawaran itu dengan senyum. Semua orang memberinya ucapan selamat. Mereka juga merasa akan kerepotan jika Yudi pergi ke Italia.
Sepulang kerja, Yudi berjalan, motornya di jual untuk mendapatkan bekal yang cukup untuk pindah ke Italia. Kini dia pulang dengan berjalan kaki.
Dia menatap dalam ke seluruh pemandangan selama perjalanan pulang. Pemandangan yang akan dia rindukan. Yudi berhenti di depan toko tempat terakhir dia bertemu dengan Dila.
Yudi masuk untuk membeli minuman, dia menatap barisan rokok yang dipajang. Sudah lama dia tak merokok. Dia tersenyum saat mengingat rokok adalah alasannya untuk bisa berhenti dan membantu Dila malam itu.
Yudi menghela nafas dan membayar minumannya. Kemudian tak sengaja dia bertemu kembali dengan Dila yang baru masuk. Dia tak melihat Yudi yang sedang di depan kasir. Dila langsung mencari bahan masakan yang dia cari.
Yudi terpaku menatap Dila yang sudah lama tak dia lihat. Rambutnya sekarang pendek lagi seperti pertama kali dia mengenalnya. Pakaiannya santai, seperti dia sedang tak sibuk dan hanya di rumah saja.
Dila hampir sampai dengan belanjanya. Yudi berbalik dan berjalan keluar. Dia pergi dan meninggalkan mini market itu. Dia memutuskan untuk tak menemuinya.
Dila membayar, kemudian penjaga toko mengatakan bahwa Yudi memperhatikannya. Dila menatapnya, dia jadi tahu dia ada di sana. Tapi Dila berpikir, mungkin Yudi tak ingin menemuinya agar hubungannya dengan Marvin baik-baik saja.
Dila berjalan pulang. Arah mereka berlawanan. Mereka terpisah di jalan di mana mereka pernah bertemu dan hampir kembali bersama.
Dila sampai di apartemennya. Dia melihat pintunya tak tertutup dengan benar. Dia heran dan ketakutan. Menatap pintu rumah Marvin, dia tahu Marvin belum pulang. Dia merogoh sakunya, dia meninggalkan ponselnya di kamarnya. Dila menyesali kecerobohannya.
__ADS_1
Dila mundur perlahan, dia hendak kembali ke bawah untuk meminta bantuan Michael. Saat hendak masuk ke lift, tangan seorang pria menahannya.