Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
47


__ADS_3

Rania terdiam terpaku menatap langit saat dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Keluarga Atmajaya terbang menggunakan pesawat pribadi mereka. Bondan duduk berselang dua kursi di sebrangnya sedang menatapnya. Rania masih diam meski Beni begitu banyak bicara dan menggenggam dan menciumi tangannya.


Dina yang duduk di depan Bondan terus memperhatikan matanya yang terus menatap Rania itu. Ingin rasanya dia marah dan berteriak meminta Bondan berhenti menatap Rania. Namun apa yang dia harapkan, semua yang dia impikan takkan pernah tersampaikan. Cinta dan sayangnya takkan pernah sampai pada Bondan yang membentengi hatinya dengan wajah Rania.


Dina mengenakan headphone dan memejamkan matanya dan membuat dirinya sendiri nyaman dan tak memperdulikan Bondan.


Beni menyentuh bahu Rania, dia pun menoleh dan membulatkan matanya.


"Ya?" tanya Rania.


Beni tersenyum menyentuh pipi Rania dan mendekat hendak menciumnya, namun Rania menahan dada Beni.


"Kamu mau apa?" tanya Rania heran.


Beni mengerutkan dahinya.


"Kamu lagi ngga mood ya?" tanya Beni.


Rania melepas tangan Beni yang terus memegangnya.


"Aku mau minum" ucap Rania menghindari.


Beni mencoba mengerti situasi hati Rania yang gusar akan kembali ke Jakarta. Dia pergi ke toilet dan sejenak menenangkan diri karena sedikit kesal dengan penolakan Rania di depan yang lainnya.


Rania tak peduli dan kembali menatap langit dari jendela pesawat. Perasaannya bercampur aduk, ada rasa senang pada dirinya yang menerima semua perasaan memiliki hati Bondan, namun ada rasa bersalah pada Beni yang meskipun tak ada perasaan cinta padanya, Beni sudah terlalu dekat dengannya.


Dia juga merasa bersalah pada Dina yang sudah lama berharap pada Bondan.


~Tidak! Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku harus menciumnya kemarin? Seharusnya aku memikirkan perasaan Beni dan Dina. Setidaknya aku berpikir tentang ini semua yang tak boleh terjadi. Apa yang ada dipikiran ku ini. Astaga! Apa yang terjadi padaku?~


Bondan menatapnya, mengingat momen kemarin di kamarnya. Dia tersenyum dan merasa Rania sudah menerima semua perasaannya. Kini hanya tinggal membuat Beni dan ibunya tahu bahwa dia bukanlah Dila, juga paham dan menerima hubungan mereka. Dia juga harus berusaha membuat Beni melepaskannya. Meski sulit, dia akan terus berusaha agar dia bisa bersama Rania selamanya.


###


Vero dan Arumi keluar dari bioskop dan cepat-cepat pulang. Vero mengebut, dia harus tiba di bandara sebelum Rania datang. Arumi berpegangan erat, dia ikut panik saat Vero mengatakan harus cepat pergi untuk urusan penting.


Sampai di depan rumah Arumi, terlihat Yudi berdiri hendak keluar untuk bertemu dengan Dila. Vero berhenti dan membuka helm. Dia menatap Yudi dengan tajam.


"Kita harus bicara serius nanti!" ucap Vero tegas dengan menunjuk wajah Yudi.


Yudi terheran, dia mengedipkan matanya beberapa kali.


Arumi turun dan bergegas menyerahkan helm padanya. Vero langsung pergi setelah menyimpan helmnya.


"Ada apa dengannya? Kenapa terburu-buru? Lalu kenapa harus nanti? Sekarang pun aku tidak sibuk" tanya Yudi.


"Ngga tau, dia buru-buru banget. Katanya ada hal yang penting" jawab Arumi.


Mata Arumi mengantar kepergian Vero hingga hilang di belokan. Yudi masih menemani adiknya, menunggu hingga dia naik ke rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Yudi.


"Ngga, cuma aneh aja. Hal penting apa yang bikin dia terburu-buru kayak gitu" jawab Arumi.


"Udahlah, Vero emang gitu kan. Kamu sendiri yang bilang, di Bali juga kayak gitu. Tapi dia tetep sama kamu, ngga ke hati yang lain" ucap Yudi menghibur.


"Iya, ngga kayak kamu" ucap Arumi.


Dia pergi sambil memukul lengan kakaknya. Yudi memandangnya dengan penuh kesal karena perkataannya.


Yudi memakai motornya dan pergi menemui Dila. Di perjalan, dia berpikir tentang apa yang diucapkan Arumi. Terpikirkan dengan rasa bersalah pada Rania.


~Aku pernah menemaninya di saat-saat sulit. Dia juga selalu menjadi penghiburku di masa-masa sedih. Tanpa bersentuhan, tanpa mengucapkan banyak kata, dia sudah menunjukkan rasa cintanya. Aku seharusnya menunggunya. Seharusnya aku bisa menahan rasa rindu ini sehingga tak melampiaskannya pada Dila. Dila bukan Rania. Jelas berbeda. Apa yang sudah aku lakukan?~ Yudi bergumul sendiri dalam hatinya.


Tiba di depan kosan Dila, dia melihat senyum merekah dari Dila yang memakai dress berwarna putih dengan motif bunga berwarna merah. Yudi berhenti dan membuka helmnya. Dia membalas senyuman Dila dengan senang.


Dila berlari menghampiri.


"Kau menunggu ku dari tadi?" tanya Yudi.


"Iya, aku semangat banget mau kencan malam minggu sama kamu" ujar Dila.


Yudi membuka jok motornya dan memberikan helm pada Dila untuk dikenakan. Mereka pergi ke pusat kota dan menikmati masa muda mereka.


###


Rania dan Beni turun dari pesawat. Mereka menggunakan landasan udara umum dan keluar dari pintu lain di bandara itu. Bondan dan Dina juga Anita menyusul di belakang.


~Vero? Aku tahu persis itu dia. Apa yang sedang dia lakukan di sini?~ ucap hati Bondan.


Vero menggerakkan kepalanya memperhatikan Rania dan Beni yang masuk ke dalam mobil. Bondan memperhatikannya, dia mulai curiga dengan perilaku Vero.


"Apa sebenarnya hubungan antara mereka? Meski Rania mengatakan dia hanya Bos lama tapi aku merasa bahwa hubungan mereka lebih dari itu" gumam Bondan.


"Iya pak?" tanya supir mengira Bondan sedang bicara padanya.


"Pria itu, yang memakai motor besar. Apa dia di sana sudah lama?" tanya Bondan.


"Hampir berbarengan sama kita Pak, dia lebih dulu datang seingat saya" jawab supir.


Bondan berpikir dan masih merasa aneh. Dina datang bersama Anita. Bondan mengangkat kedua alisnya.


"Mereka memakai mobil berbeda" ucap Dina.


"Aku tahu" jawab Bondan.


"Mereka mau pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Itu yang mau aku beri tahu" lanjut Dina.


Bondan menatap Dina.

__ADS_1


~kemana?~ tanya hati Bondan.


Mobil yang ditumpangi Bondan melaju menuju rumah Ruby (Nama yang diberikan Ardiana Atmajaya untuk rumah besarnya).


Sementara Beni membawa Rania ke pusat kota untuk melihat sesuatu yang ingin dia tunjukkan.


"Apa tidak bisa besok?" tanya Rania.


"Tidak bisa! Hal ini hanya ada saat malam minggu" ucap Beni.


"Ini tempat yang penah kamu kunjungi sama Dila?" tanya Rania.


Beni tersenyum, merasa bahwa Rania mengungkapkan rasa cemburunya. Dia memegang tangan Rania.


"Ngga...ngga pernah. Dila itu sukanya ke Bar dan Diskotik.? Momi juga ngga pernah melarangnya. Dia mengangguk saja saat Dila memintanya. Sangat berbeda dengan ajaran ayah tiriku. Kami sudah terbiasa diam di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Atau sekedar piknik di tempat dengan pemandangan yang indah" jelas Beni.


~Anita membuat Dila menjadi gadis yang tak terkendali~ ucap hati Rania kesal.


"Jadi jangan cemburu. Dan aku ngga akan pernah ngajak kamu ke tempat yang ngga sesuai dengan keinginan kamu" lanjut Beni.


Rania berusaha tersenyum merespon Beni, meskipun sebenarnya sangat sulit menghilangkan rasa bersalah di depan Beni.


Sampai di sebuah gedung yang sudah tutup. Beni mengajak Rania keluar dari mobil dengan membukakan pintu mobil. Dia meraih tangan Beni dan digenggamnya.


"Gedungnya sudah tutup. Kenapa kemari?" tanya Rania ragu.


"Ayo...percaya sama aku" ucap Beni.


Mereka berjalan ke sisi gedung dan bertemu dengan seorang securiti di sana. Beni berbisik kemudian menyelipkan beberapa lembar uang ke sakunya. Pria itu tersenyum dan mempersilahkan mereka masuk lewat pintu samping.


Rania merasa asing dengan situasi seperti ini, dia sangat tidak suka dengan gelapnya tempat yang mereka lewati. Pria itu menyalakan saklar untuk lift, kemudian membukakan lift untuk mereka. Juga menemani mereka di lift.


Tangan Rania semakin erat menggenggam tangan Beni, karena takut terjadi sesuatu yang buruk, paranoid terhadap situasi gedung yang gelap. Namun saat mereka sampai di lantai atas, securiti diminta Beni untuk menunggu beberapa menit hingga mereka selesai setelah membantu membukakan pintu rooftop dengan kuncinya.


Rania berjalan dengan menunduk memperhatikan langkahnya, namun seiring maju melangkah, cahaya mulai menerangi. Rania mengangkat wajahnya perlahan menatap sekitarnya.


Beni tersenyum merasa berhasil sudah membuat Rania terkesima dengan pemandangan yang indah malam itu. Dia memegang tangan Rania lagi.


Rania mengalihkan pandangannya pada Beni, tak menyangka pemandangan kota dari atas gedung itu sangat indah. Gedung yang paling rendah itu menyajikan pemadangan kerlipan cahaya dari gedung pencakar langit yang ada di sekitarnya. Cahayanya sangat indah, warna warni lampu benar-benar memanjakan mata memandang.


Beni memeluk pinggang Rania dan berbisik di telinganya.


"Indah kan?" tanya Beni.


Rania tersenyum dan mengangguk.


"Sangat" ujar Rania.


Rania melepaskan pelukan Beni dan berjalan menuju sisi gedung. Pemandangan semakin indah karena jalan sedang ramai malam minggu ini. Beni menyusul kemudian membelai rambut Rania hendak mencumbunya. Namun Rania menolaknya.

__ADS_1


"Maaf! Aku tidak bisa" ucap Rania.


Beni terheran, dia terdiam menatap Rania. Kesal berkecamuk dalam hatinya. Semenjak di pesawat Rania menolak ciumannya. Meski memang seperti itu biasanya, namun hari ini Beni merasa ada yang lain yang Rania rasakan.


__ADS_2