Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
32


__ADS_3

Vero menelpon Bondan untuk mengabari bahwa dirinya sudah sampai dan menginap di hotel A di Melbourne. Bondan merespon dengan baik seperti biasanya. Vero meminta pertemuan dipercepat, meskipun dia belum punya ide untuk bisnis yang akan dia tawarkan pada Bondan.


Bondan meminta Vero untuk menemuinya di kantornya. Vero dengan semangat bersiap dan pergi dengan terburu-buru untuk menemuinya.


Dengan meminta bantuan seorang teman, Vero mendapatkan sebuah perencanaan fiktiv yang akan dia ajukan pada Bondan, melalui sebuah email.


Di perjalanan, Vero berusaha membaca inti dari perencanaan dari kiriman temannya itu. Beberapakali mengingat konsep juga angka-angka yang tertera agar dia tak terlihat kikuk di hadapan Bondan.


Namun tetap saja, wajah Rania selalu terbayang. Dia berharap bisa bertemu dengan Rania di kantornya.


~Dia pasti bekerja di sana!~ ucap hatinya.


Sampai di depan gedung kantor milik Atmajaya Group, Vero mengambil nafas dalam dan mencoba sebisa mungkin untuk tidak gugup dan terlihat meyakinkan.


Dengan langkah yang mantap, dia masuk dan meminta resepsionis untuk memberi tahu Bondan bahwa dirinya sudah datang. Matanya terus mencari, berharap Rania lewat atau berada di sana secara tidak sengaja. Tapi tak ada, Rania sama sekali tak terlihat.


Dengan penuh rasa penasaran, dia bertanya pada resepsionis tentang salah satu pegawai yang bernama Rania. Resepsionis itu berpikir sejenak. Dia menggelengkan kepala karena memang tak ada pegawai yang bernama Rania seingatnya.


Namun saat dia hendak duduk kembali, resepsionis itu membulatkan mata mengingat ada nama Rania di departemen kebersihan.


Vero menelan ludah, dia merasa tak suka mendengar Rania menjadi office girl di sana. Dengan penuh rasa kesal namun sedikit menahannya, dia meminta resepsionis itu memanggilnya.


Beberapa saat menunggu, Vero berpikir untuk memeluk adiknya itu dan membawanya pergi kembali ke Jakarta. Dia sudah matang dan siap dengan konsekuensi apapun.


Namun matanya membulat terkejut, saat Rania yang di panggil oleh resepsionis itu adalah seorang wanita berhijab dan bukan Rania, adiknya. Dia tersenyum dan menghela nafas lega.


Vero berterimakasih pada resepsionis itu karena mau menjawab pertanyaannya. Dia juga mengatakan bahwa Rania yang dipanggilnya bukan Rania yang dia cari. Dia juga meminta untuk tak mempermasalahkan pertanyaannya pada Bondan bosnya.


Resepsionis itu mendapat telpon dan bicara sejenak. Dia berkata Bondan meminta Vero untuk langsung masuk ke ruangannya. Vero diantar oleh seorang pegawai menuju ruangan Bondan.


Dia mengetuk dan membuka pintu kaca tebal itu, Bondan yang sedang bicara dengan Anita melalui telpon, berisyarat pada Vero untuk duduk dan menunggu sebentar.


~syukurlah, pegawai kebersihan itu bukan Rania, jika iya, sebelum pergi membawanya aku akan meninju mu terlebih dulu~ ucap hati Vero.


"Ya..ya..aku aku sudah undang semua kolega. Ada lagi Mom?" ucap Bondan pada Anita.


Dia terlihat menuliskan sesuatu yang dia dengar dari Anita. Vero hanya menatapnya.


"Ok, aku akan pulang cepat" ucap Bondan mengakhiri telponnya.


Bondan menaruh telponnya dan tersenyum pada Vero.


"Wellcome to Atmajaya Group" sapa Bondan.

__ADS_1


Vero berdiri dan menyambut pelukan Bondan.


"Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan kemari" ucap Vero.


"Ok, jadi....apa rencana besar mu?" tanya Bondan.


~Rania! Dimana dia? Kenapa kamu memperkerjakannya? Sebagai apa?~ tanya hati Vero saat sejenak menatap Bondan.


"To the point ya Bos, ini bisnis yang aku tawarkan pada mu. Rencananya aku mau membuat sebuah resto dengan view terbaik di Bali. Aku sudah meneliti tempat ini dengan baik, tempat indah dengan bugdet yang cukup minim kita bisa menghasilkan banyak rupiah di sana" jelas Vero sambil memperlihatkan proposalnya di laptop.


Bondan melihat dan membacanya. Namun ponselnya berdering kembali. Dia memejamkan matanya sejenak kesal dengan ibunya yang begitu semangat dengan pertunangan Beni dan Dila.


"Maaf ya, sebentar!" ucap Bondan.


Vero tersenyum dan mengangguk.


"Ya Mom!" seru Bondan.


Dia mendengarkan dengan malas dan mencatat kembali.


"Astaga mom please, i am in my work!" ucap Bondan.


Dia terlihat malas mendengar ucapa Anita kemudian mengambil nafas dalam dan kembali mengendalikan ucapannya.


Vero memeriksa laptopnya berusaha terlihat tidak memperhatikannya. Bondan menghela dan menatap Vero yang juga melihatnya.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Hari ini sangat sibuk. Adik ku akan bertunangan sementara aku masih bekerja. Ibuku marah-marah tadi" jelas Bondan.


"Ouh...adik mu bertunangan. Apa karena aku...kau datang ke sini?" ucap Vero..


"Bukan-bukan...hanya saja aku...kurang setuju dengan pertunangan ini" jawab Bondan.


Bondan menghela lagi, matanya menatap kosong ke depannya. Vero jelas melihat perasaan tidak senang melihat respon dan perkataannya.


"Seharusnya ini ngga terjadi" gumam Bondan.


"Apa?" tanya Vero yang tak begitu jelas mendegarnya.


"Tidak. Sebaiknya kau ikut. Undangan ini untuk kerabat dan kolega" ajak Bondan.


Vero menatapnya tanpa jawaban. Tersenyum dan menunduk.


"Aku...hanya calon kolega. Itu juga jika kau setuju dengan proposalku" ucap Vero merendah.

__ADS_1


"Ayolah....aku tau kemampuan mu. Aku percaya dengan proposal mu" ucap Bondan.


Bondan berdiri dan menarik lengan Vero kemudian pergi bersamanya.


Vero merasa bimbang dengan keputusannya ikut ke rumahmya untuk acara keluarga seperti itu. Namun dia juga merasa jauh lebih mudah mencari tahu apa pekerjaan Rania bersama Bondan. Meskipun dia merasa bahwa Bondan terlalu baik untuk dikhianati.


###


Rania memakai gaun dan berdandan dibantu oleh Dina.


"Kenapa kau setuju menikah? Kau tertarik dengan harta yang nantinya akan menjadi milik mu?" ucap Dina tiba-tiba.


Setelah beberapa lama membantunya berdandan tanpa seucap pun dia bicara. Rania tak sangka Dina akan mengatakan itu. Namun mengetahui bahwa dia sangat menyukai Bondan membuatnya paham rasa benci yang dia simpan untuknya.


"Apa yang bisa aku katakan?" jawab Rania.


Dina berhenti meriasnya dan menatap Rania dari arah cermin. Kemudian menyimpan kuas blush on dan menarik tubuh Rania untuk berdiri dan menatapnya.


"Katakan padaku. Kau mau bertunangan dengan Beni tetapi masih menggoda Bondan. Apa tujuan mu?" tanya Dina dengan kesal.


Rania menatap mata Dina yang begitu marah dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Apa jika aku mengatakan ibu dari orang kau sukai itu sangat jahat, kau akan percaya padaku?" ucap Rania.


Dina mengerutkan dahinya dan melepas pegangan tangannya dari bahu Rania.


"Apa dengan menjadi orang lain kau sudah menjadi gila?" tanya Dina.


Rania menertawakan pertanyaan Dina.


"Bu Anita adalah wanita paling baik yang pernah aku temui. Dia bagai seorang dewi penyelamat bagiku. Jangan pernah menjelekkan dia di hadapan ku!" ucap Dina memperingatkannya dengan menunjuk wajah Rania.


"Sama seperti halnya gue, jangan pernah men-judge gue seperti itu lagi. Karena lu ga tahu dalamnya hati manusia itu seperti apa" ucap Rania


Tangannya menangkis telunjuk Dina yang ada di hadapannya. Dia kembali duduk di hadapan cermin dan menggunakan blus on nya. Dina mengedipkan beberapa kali tak menyangka dengan respon Rania yang sangat persis dengan Dila yang egois dan penuh amarah.


"Kau tidak akan membantu lagi kan? Kau bisa pergi lebih dulu ke depan" ucap Rania sambil tersenyum.


Dina mengerutkan dahinya, dia benar-benar merasa aneh dengan sikap Rania yang kini terlihat seolah tak terjadi apa-apa dengan mereka sebelumnya.


Dina kesal dan keluar dengan membanting pintunya. Sementara Rania menaruh kuasnya di meja dengan tangan lemah. Dia memejamkan mata sejenak, merengut seolah sudah tak bisa menahan semuanya.


~bahkan Dina sudah tak percaya padaku, aku harus bagaimana, ayah?~ ucap hati Rania.

__ADS_1


__ADS_2