Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
87


__ADS_3

"Ibu lihat Dila masuk, terus nggak lama keluar, terus suster bilang Rania drop. Gitu!" ucap Bu Vera pada Bondan yang menanyakan keadaannya.


Bondan telah melihat keadaannya, Rania terlihat lemah. Bahkan sedang tidurpun keningnya mengerut seolah mengkhawatirkan sesuatu.


"Dila?"


"Iya. Dia mirip banget sama Rania. Tapi dia lebih lincah jika dekat laki-laki. Kalo Rania lincah kerja dan pendiam di dekat laki-laki" ucap Bu Vera menilai.


Bondan tersenyum, dia mengusap punggung Bu Vera.


"Ibu jangan khawatir, aku pasti akan jaga Rania sampai kapan pun" ucap Bondan.


Bu Vera mengusap tangisnya lagi, dia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi. Banyak kata seandainya yang dia pikirkan, yang membuatnya menyesali semua situasi ini.


Ramadhan datang menjemput Bu Vera.


"Gimana Kak Rania?" tanya Ramadhan.


"Membaik Dhan!" jawab Bu Vera.


"Tadi Babe dapet telpon Kak Rania drop lagi. Dia pasti sedih banget" ucap Ramadhan.


"Udah nggak apa-apa, ayo pulang!" ucap Bu Vera mengerti bahwa Bondan ingin cepat duduk di samping Rania.


"Bentar Bu, Ramadhan mau bisikin sesuatu sama kak Rania" ucap Ramadhan sambil masuk.


Bondan melihatnya, dia memandang Bu Vera sambil tersenyum.


Mereka pergi setelah permintaan Ramadhan terpenuhi. Bondan masuk ke ruangan Rania dan melihat dia terbangun.


"Kamu bangun sayang!" ucap Bondan cemas.


Rania menatap Bondan.


"Tadi ada Ramadhan?" tanya Rania.


"Iya, kesini, katanya mau bisikkin sesuatu sama kamu. Kok langsung bangun? Dia bisikin apa?" tanya Bondan penasaran.


Rania berbaring kembali dan menghadap ke arah Bondan duduk.


"Dia bilang aku jelek karena tidur terus, dia kangen jalan-jalan pake motor sama aku" ucap Rania.


Bondan menatapnya, dia membelai rambut Rania dan mengecup keningnya.


"Cari wanita lain, aku mungkin akan merasa trauma terus menerus" ucap Rania sambil sedikit menangis saat matanya terpejam.


"Kau ini bicara apa? Mana mungkin, aku nggak akan pernah ninggalin kamu" jawab Bondan dengan menganggap ucapan Rania sebagai candaan.


Rania diam, dia tertidur dengan belaian tangan Bondan di kepalanya.


~Apa yang Dila katakan, hingga kamu berpikir keras dan menyerah lagi padaku. Aku nggak mau Rania, aku nggak mau jika harus menyerah dan melepas mu. Aku mohon, bertahanlah di sampingku~ ucap hati Bondan.


###


Dila datang pagi sekali untuk mengantarkan makanan untuk Bondan. Dia senang sekali akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mendekati Bondan saat Rania belum bangun.


Dia melihat Bondan sedang duduk di kursi. Senyumnya lebar saat Bondan melihatnya. Dia segera mendekat dan menunjukkan boks makanan yang dia bawa.


"Nggak usah repot-repot, aku sudah makan" ucap Bondan ketus dan singkat.

__ADS_1


Dila menatap Bondan yang memalingkan wajahnya dengan kesal. Tapi dia menahan diri dari marah.


"Mau bantu Rania siap-siap, sekalian aku bawa makanan buat Kak Bondan" Dila membuat alasan.


Bondan menyeringai.


"Jangan jadikan Rania alasan, bukankah justru dia yang jadi masalah mu sebenarnya?" ucap Bondan.


Langkah Dila terhenti saat hendak menghampiri pintu ruangan Rania.


"Kak, dia korban perkosaan. Jika dia tidak tahu malu dan tetap memilih tetap berada di sisimu, setidaknya jijiklah membayangkan bagaimana dia dipaksa melakukan hal itu" ucap Dila.


Bondan berdiri dan mengangkat tangannya. Dila memejamkan mata bersiap ditampar. Dia sudah sangat kesal dengan sikap Bondan yang menetapkan hatinya untuk Rania. Dia sudah pasrah jika harus mendapatkan tamparan darinya.


Bondan mengurungkan niatnya, dia menjatuhkan tangannya.


"Beruntung kau mempunyai wajah yang mirip dengan Rania, aku tidak mau melukai wajah yang sama itu" ucap Bondan dengan menjauh darinya.


Dila menangis mendengar ucapan Bondan. Dia tak bisa mengatakan hal lain. Dia menaruh boks makanan di kursi dan pergi dengan berlari.


Bondan duduk dan menjauhkan boks makanan itu darinya. Dia sudah paham, apa yang sudah dikatakan Dila pada Rania yang membuatnya sedih.


Rania yang tadi mendekat pada pintu karena hendak memanggil Bondan untuk meminta bantuannya, berdiri terpaku di dekat pintu. Dia menangis lagi.


~Dila benar, aku sudah sangat menjijikkan, harusnya Bondan bisa mendapatkan gadis yang lebih baik~ ucap hatinya sambil menangis.


###


Vero dan Arumi datang setelah Bu Vera selesai membantu Rania berganti pakaian dan sarapan. Bondan tadi pamit untuk mandi dan tidur sebentar.


Rania meminta untuk bicara dengan Vero sebentar. Arumi dan Bu Vera pergi dari ruangan.


"Aku lebih baik, kakak bisa lihat sendiri. Luka ku sudah mulai kering, memarnya juga memudar" ucap Rania memegang tangan kakaknya agar tak khawatir.


"Lalu, kenapa Arumi dan Bu Vera harus pergi? Mereka bisa dengar semua itu bukan?" tanya Vero.


"Aku mau memberikan pernyataan di kantor polisi bukan di sini" ucap Rania.


Mata Vero membulat, dia sangat terkejut dengan permintaan Rania.


"Tapi gimana kalo kamu drop lagi?" Vero tetap khawatir.


"Nggak apa-apa. Aku udah sehat Kak!" ucap Rania meyakinkan.


Vero menatap Rania dari rambut, wajah hingga tangan yang menggenggam tangannya.


"Aku masih khawatir, banyak alasan untuk hal itu. Kau tahu, banyak hal yang aku sesali, tentang menjadikan mu direktur hingga mundur ke belakang, meninggalkan mu untuk menjadi manager di Bali. Semuanya...."


"Takdir" ucap Rania menyela.


Vero menatapnya lagi.


"Aku percaya, semua adalah takdir. Aku kehilangan sesuatu, tapi aku juga mendapatkan banyak hal. Terutama kakak yang sangat menyayangi ku seperti mu" ucap Rania sambil tersenyum manis pada Vero.


Vero memeluk Rania dengan erat, dia membelai juga mengusap punggungnya.


"Dila juga pasti sangat ingin dipeluk seperti ini Kak!" ucap Rania.


"Iya, nanti aku peluk dia juga" ucap Vero.

__ADS_1


"Aku juga mau" ucap Arumi dari pintu.


Mereka tersenyum sambil melepas pelukannya.


"Maaf mengganggu, tapi Dokter bilang setelah pemeriksaan siang ini, sorenya kamu udah boleh pulang" ucap Arumi.


Vero senang, dia memeluk lagi Rania.


"Bu Vera langsung pulang tadi, katanya mau siapin kamar kamu" ucap Arumi perlahan.


Rania menatap Vero yang wajahnya ditekuk karena merasa tak suka dengan sikap Bu Vera.


"Satu lagi, aku belum kasih tahu kakak dan siapapun, kalau bisa jangan beritahu yang lainnya, tapi aku udah minta sama ibu. Aku pulang ke rumah ibu" ucap Rania.


Vero menatap Rania dengan wajah mengeluh.


"Tidak, tidak soal ini. Aku nggak mau" ucap Vero.


"Kak, aku perlu sendiri. Aku..."


"Kau menghindar, itu namanya lari dari semua orang. Aku nggak mau" Vero kekeh.


Dia pergi keluar tanpa mendengarkan Rania. Arumi menyusul dengan memberi kode pada Rania untuk tenang.


"Sayang!" seru Arumi.


Vero menengok dan membulatkan matanya.


"Apa?" ucap Vero.


"Kok gitu sih, kan nggak pindah selamanya!" ucap Arumi mendekat dan mengaitkan tangannya di lengan Vero.


"Nggak aku nggak mau, kalo dia nggak mau tinggal di rumah Ruby, dia bisa tinggal di rumah ku" ucap Vero.


"Trus aku?" tanya Arumi.


"Ayolah!" Vero menghela.


"Kau yang ayolah, buatkan Bu Vera rumah yang nyaman kalo mau Rania merasa nyaman. Simpel kan?" ucap Arumi.


Vero tak mau mendengar lagi.


"Walaupun sebenarnya bukan masalah tempat" ucap Arumi melepas tangannya.


Vero menatap Arumi.


"Rania butuh waktu untuk sembuh, dia benar-benar nggak mau diganggu. Apa kamu nggak sadar kalo dia sedang menghindari seseorang?" Arumi berspekulasi.


Vero berpikir.


"Maksud kamu?" tanya Vero masih tak paham.


"Dia minta untuk tak mengatakan pada siapapun, termasuk Bondan. Aku rasa dia mau menghindari Bondan dulu"


"Kenapa? Bukankah Bondan menerima dia apa adanya?" ucap Vero.


"Ini sulit sayang, perasaan yang dirasakan Rania sangat rumit. Kita nggak bisa menyepelekan ini. Kita hanya bisa memberikan ruang dan waktu untuknya" ucap Arumi.


Vero terdiam, akhirnya dia mau menerima keputusan Rania untuk pulang ke rumah Bu Vera.

__ADS_1


__ADS_2