
Rania masuk ke ruang rawat Nuri, dia sangat terkejut saat melihat Nuri yang sedang duduk dengan mata menatapnya. Rania langsung mendekat dan menggenggam tangan Nuri. Rasa bahagia terpancar dari wajah Rania karena Nuri sudah sadar dan duduk. Namun dia juga merasa sangat sedih karena Nuri dalam keadaan yang sangat buruk, wajah hingga lehernya diperban. Sebagian tubuh dan tangan kirinya juga mengalami luka bakar cukup serius.
Nuri menatap Rania, air matanya berlinang, Rania melihatnya kemudian buru-buru mengambil tisu untuk mengusapnya agar tak membasahi perbannya. Tangan Nuri menggenggam erat tangannya. Rania merasa bahwa Nuri ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Anda sudah di sini?" sapa Nina, perawat, dari belakang.
Rania menoleh dan mengusap air matanya.
"Kapan dia sadar?" tanyanya.
"Saat saya masuk, dia sudah sadar dan bergumam sesuatu. Kemudian dia berisyarat meminta untuk duduk. Dia juga minta minum, suster tadi datang dengan dokter, tapi saya cari, ibunya ngga ada" jelas Nina.
Rania mengangguk, mungkin pada saat dia menyusul Dila dan Yudi, Nuri sadar.
"Baiklah, temani dia sebentar. Aku akan menelpon kakakku dulu" pinta Rania.
"Ok!"
Rania hendak berdiri, namun tangan Nuri menggenggam tangan Rania dengan erat. Rania menatapnya, matanya bergerak seolah bertanya apa yang Nuri mau.
Nuri bergumam, namun Rania tak mengerti. Kemudian tangan Nuri berisyarat menulis. Rania paham, dia menatap Nina dan meminta pulpen dan kertas.
Rania menunggu selagi Nuri menuliskan sesuatu. Nuri memberikan tulisannya pada Rania. Mata Rania membelalak, Nuri meminta untuk langsung mendatangkan polisi untuk memberikan kesaksiannya. Rania mengalihkan pandangan pada Nuri.
"Jadi....selama ini kamu dengar semua?" tanya Rania.
Nuri mengangguk dengan perlahan, dia kembali menggenggam tangan Rania kemudian menulis lagi.
"Cepat! Kemarin Ryan datang menemui ku disini" ucap Rania membaca tulisan Nuri.
Rania semakin terkejut. Dia langsung berdiri dan menelpon petugas polisi. Matanya sesekali menatap Nuri yang masih juga menatapnya menunggu. Setelah itu, Rania mengirimkan pesan pada Vero untuk datang dan memberitahu bahwa Nuri sudah sadar.
###
Di kantor hukum Wandy, Vero memeluknya.
"Baiklah om, makasih" ucap Vero hendak pamit.
"Sama-sama, oh iya, gimana kelanjutan kasus kebakaran restoran mu itu?" tanya Wandy sambil mengantarnya keluar.
"Sedang dalam proses om, rekaman CCTV sudah ditemukan. Namun pria yang mencekik Nuri masih dalam pencarian. Polisi sedang bekerja keras untuk ini" jelas Vero.
"Syukurlah, jika sudah ada tersangka itu akan lebih mudah. Jangan lupa, kesaksian Nuri juga sangat diperlukan" ucap Wandy.
Kemudian ponsel Vero berbunyi, Wandy menatap Vero yang mengambil dan melihat pesan yang tertera.
__ADS_1
"Akhirnya!" ucap Vero.
"Ada apa?" Wandy penasaran.
"Nuri.....dia sudah sadar. Akhirnya!" ucap Vero bersyukur.
"Syukurlah!" ucap Wandy.
"Aku pergi Om! Rania pasti sangat terkejut dan Nuri juga butuh teman untuk sekarang" pamit Vero.
"Baiklah, hati-hati" ucap Wandy.
Vero pergi, Wandy menatap kepergiannya.
###
Sampai di rumah sakit, Vero yang sebelumnya sudah menjemput Arumi berjalan terburu-buru, namun saat melihat Dila dan Yudi duduk di samping ruang rawat Nuri, langkah Vero melambat. Arumi yang sedang melihat ponselnya menyadari itu dan menatapnya.
"Ada apa?" tanya Arumi.
Vero memberi isyarat menunjuk pada Yudi. Arumi melihat arah telunjuknya kemudian membelalak dan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Dia disini? Astaga!" ucap Arumi.
Yudi melihat kedatangan mereka dan berdiri, Dila melihat Yudi yang berdiri kemudian melihat ke arah Yudi menatap.
Vero mendekat dan memeluknya.
"Dia ngasih tahu kakak ya?" tanya Dila ketus.
"Rania, bukan dia" ucap Vero.
Dila menghela dan berpaling pada Arumi yang melebarkan kedua tangannya untuk memeluk dan langsung disambutnya. Arumi mengusap punggungnya, Dila merasa nyaman.
"Ada apa?" tanya Vero yang melihat Yudi masih menatapnya dengan kesal.
"Tidak sekarang, kita akan bicara nanti setelah polisi keluar" ucap Yudi.
Vero mengangkat kedua alisnya dan melihat ke arah kamar. Yudi duduk dan melipat tangannya di dada.
Vero mendekati pintu dan membukanya sedikit. Rania melihatnya dan melambaikan tangan padanya untuk masuk. Vero masuk perlahan dan mendekat pada Rania. Dia berjabat tangan dengan salah satu petugas polisi Saga, yang sering dia temui.
"Gimana?" bisik Vero.
"Nuri minta dibuka bagian mulutnya, dia mau bicara meskipun sedikit-sedikit" jelas Saga.
__ADS_1
Vero mengangguk kemudian kembali mendekat pada Rania yang menggenggam tangan Nuri yang sedang dibuka perbannya. Air mata Rania terus menetes saat melihat luka bakar di wajah Nuri. Sementara Nuri sangat tegar meski tangannya sedikit gemetar terasa oleh Rania.
Selesai dengan membuka perban, Nuri diberi waktu sebentar untuk menenangkan diri. Namun dia menolak, dia langsung bicara.
"Kau mau istirahat dulu?" tanya Saga.
"Tidak! Aku mau bicara secepatnya!" ucap Nuri dengan suaranya yang parau.
Saga mengangguk dan menyiapkan perekam suara yang diletakkan di pangkuan Nuri.
"Aku lagi nyiapin makanan malam itu" Nuri memulai dengan tangis dimatanya.
Rania mengusapnya.
"Ryan, pacarku, dia lagi nerima telpon. Ngga sengaja aku denger dia bilang mau ke sana jam 9 malam. Ku denger wanita di telponnya bilang, kalau itu masih belum terlalu malam. Tapi Ryan bilang komplek pertokoan itu sepi setelah kejadian restoran Vero dirusak olehnya sebelumnya. Aku terkejut, terus aku mundur karena takut dia denger kalo aku nguping. Tapi....pas aku mau pergi, tangan Ryan udah narik aku ke dalam kamar"
Nuri menangis lagi sambil memegang lengannya, mengingat kasarnya Ryan menariknya.
"Dengan kasar dia ngelempar aku ke kasur, trus dia tanya apa yang aku denger"
Nuri terdiam sejenak, Rania menghapus lagi tangisnya. Kemudian mengusap lengan Nuri.
"Aku bilang aku ngga denger apa-apa tapi aku malah nangis karena ingat sahabat aku, Rania. Seharusnya aku dengerin dia kalo Ryan bukan orang baik dan ninggalin dia. Tapi.... Ryan udah punya rencana buruk buat Vero. Ryan marah, dia hampir mukul aku. Tapi dia malah keluar dan ngunci aku di kamar"
Semua orang menghela nafas, kemudian mendengarkan lagi.
"Aku diam sampai aku sadar kalo ini hampir jam 9 malam, aku nyari cara buat bisa keluar dari kamar. Aku lihat jendela dan lihat ke arah bawah, kalo aku loncat aku pasti cidera dan ngga akan bisa langsung nyusul dia ke sana. Trus aku ingat dan aku cari palu dia kolong kasur, aku pukul gagang pintu sampai rusak dan akhirnya bisa nyusul dia ke restoran. Tapi.....dia udah nyiram restoran dengan bensin. Waktu dia nyalain korek, aku dateng dan ngelempar kaca pake batu berkali-kali biar bisa masuk dan ngambil pemadam di dalem. Tapi api udah mulai besar, trus dia datang dan nyekik aku dengan kuat. Aku pingsan, saat aku sadar, dokter sudah ngebalut wajah aku"
Nuri menceritakan dengan jelas, meski perlahan dan sebentar-sebentar berhenti karena lelah bicara. Rania memberinya minum.
"Udah.... selesai kan? Nuri perlu istirahat. Kalian bisa pergi" ucap Rania tak kuat melihat Nuri menahan rasa sakit.
Saga mengambil alat perekam dan menyimpannya.
"Ok. Makasih Nuri. Semoga kamu lekas pulih" ucap Saga.
Polisi pergi, Yudi, Dila dan Arumi berdiri menunggu Vero keluar.
"Selesai?" tanya Yudi.
"Ya, Nuri pasti kesakitan memaksakan suaranya" ucap Vero.
Rania membuka pintu kemudian keluar perlahan.
"Nuri sama siapa?" tanya Arumi.
__ADS_1
"Sama Nina, dia minta aku keluar. Dia ngga mau aku lihat dia dengan kasihan terus. Aku juga ngga bisa nahan tangis di depannya" jelas Rania.
Dila mengalihkan pandangannya merasa tak suka dengan ucapan Rania.