
Yudi berlari di lorong rumah sakit, langkahnya tergopoh dengan hela nafas yang jelas terdengar keras. Bondan yang duduk di ruang tunggu operasi menatapnya, kemudian berdiri.
Vero juga ikut berdiri, dia hendak mengusir Yudi dari sana. Namun tangan Bondan menahannya.
"Biar saja, dia juga ayah mereka" ucap Bondan.
Vero menghela dengan keras, dia berjalan menjauh dan memunggungi arah kedatangan Yudi. Dia enggan melihat wajah Yudi. Takut tak bisa mengendalikan diri dari rasa ingin menghajarnya.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Yudi dengan dada kembang kempis.
"Dokter harus mengangkat bayi-bayinya. Dia sedang menjalani operasi sesar" jawab Bondan.
Yudi melihat mata Bondan yang sembab, ada darah di tangan jasnya.
"Darah apa yang ada di tangan mu?" tanya Yudi.
Bondan menatap lengannya. Dia teringat wajah Rania saat terbaring lemas di lengannya.
"Darah yang keluar dari hidungnya" jawab Bondan dengan mata terpejam sebentar.
Yudi sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi melihat wajah Bondan, dia mengurungkan niatnya. Dia tak mau Bondan kembali bersedih dan memperlihatkan betapa besar rasa cintanya pada Rania.
Yudi bersandar pada dinding, dia ikut menunggu. Vero masih menatap ke arah pintu masih enggan menatap Yudi. Sementara Bondan kembali duduk dan terus berdoa untuk keselamatan Rania.
###
Menunggu adalah pekerjaan paling menyebalkan. Terutama saat kau dilanda kegundahan dan rasa takut kehilangan.
Rania bukan hanya seorang putri bagi Bu Vera. Selama hidup bersamanya, dia selalu melakukan tugas sebagai putri sulung dengan baik. Membantu Vera meskipun kasih sayang tak pernah dia dapatkan dari ibu asuhnya. Dia mampu menembus kerasnya batu yang ada di hati Vera, dengan semua pengorbanan yang dilakukannya. Vera bisa menerimanya setelah kehilangannya beberapa waktu. Saat dia mengerti arti hadir Rania. Dia bukanlah beban dalam hidupnya, dia adalah anugrah.
Rania juga bukan hanya sekedar kakak perempuan bagi Aditya Ramadhan. Dia adalah panutan baginya, segala pelajaran baik diajarkan padanya sedari kecil. Mengatakan setiap amarah ibunya adalah bentuk kasih sayang yang istimewa baginya. Semua pemikiran positif dan semangat yang dia ajarkan mendarah daging padanya. Adit merasa sangat menyayanginya.
__ADS_1
Dila duduk menatap gedung rumah sakit, Nuri mengajaknya untuk masuk mobil karena hari mulai sangat terik. Dia takut Dila pingsan karena mereka semua memang belum ada yang makan.
"Dil, masuk mobil yuk! Yang lainnya juga nunggu di mobil" ajak Nuri.
"Tapi Rania...!"
"Dengan kamu kayak gini, nggak akan bikin keadaan membaik. Malah akan buruk kalau ditambah kamu pingsan gara-gara kepanasan. Babe Nurdin bawa makanan, semua sudah makan. Tinggal kamu sama Bondan juga Vero. Babe lagi anter makanan buat mereka" jelas Nuri.
Dila berpikir, ucapan Nuri ada benarnya. Jika dia pingsan, semua orang akan ikut panik. Dila memutuskan untuk menuruti dan akhirnya ikut masuk ke mobil dan makan.
Beberapa suap Dila makan, dia mulai menangis lagi. Mengingat suapan makanan yang pernah dia terima dari Rania.
"Kenapa?" tanya Nuri.
"Kenapa aku jadi ingat saat Rania menyuapiku? Kenapa aku merasa akan kehilangan dia untuk selamanya?" ucap Dila sambil menangis.
Nuri memeluknya, dia mengusap punggungnya perlahan.
Rengekkannya terdengar oleh Vera dan Adit. Adit menggenggam tangan Vera yang menangis mendengar ucapan Dila. Vera juga merasa sudah terlambat karena baru menyadari kesalahannya yang selalu membedakan Rania dengan Adit.
###
Suster datang dan memberitahu Vero bahwa operasi sudah selesai.
"Operasinya sudah selesai Pak, kedua bayi dipindahkan ke ruang bayi dari pintu utara, untuk dimasukkan ke dalam inkubator. Tapi ibu bayi harus dibawa ke ruang ICU. Sebentar lagi dokter akan kemari untuk menjelaskan" ucap suster itu.
Vero menghela dengan keras. Tangisnya kembali keluar karena mendengar Rania harus dibawa ke ruang ICU. Itu menandakan keadaannya tak cukup baik setelah operasi.
Bondan berjalan menuju ruang ICU, ingin segera melihat Rania. Dengan harapan bahwa cintanya akan bertahan dan panjang umur. Hingga dia bisa menjalani hidup yang bahagia bersamanya.
Vero menyusul Bondan, dengan mata yang tak memandang Yudi sedikitpun.
__ADS_1
Yudi menatap kepergian mereka ke arah ruang ICU. Kemudian menatap arah ruang inkubasi bayi. Hatinya juga ingin melihat Rania. Tak bisa dipungkiri dia masih menyayangi Rania dan takut kehilangan. Namun dia harus memilih. Sekarang ada banyak yang melihat Rania. Sementara bayi mereka tak ada. Yudi memutuskan untuk duduk menunggui di dekat ruang bayi.
Vero keluar dari rumah sakit untuk memberitahu yang lain jika ingin melihat Rania di ruang ICU. Orang yang pertama sangat berharap adalah Bu Vera. Vero mengajaknya dan menunjukkannya ke ruang ICU.
Saat bu Vera yang datang, dokter Marcel memberi izin padanya untuk masuk dan melihat keadaannya dari dekat. Vero dan Bondan membulatkan matanya. Mereka sejak tadi tak diberi kesempatan itu.
Marcel buru-bur pergi setelah Bu Vera bisa masuk. Namun Bondan menahannya.
"Apa maksudnya? Kenapa bu Vera bisa masuk dan aku tidak kau beri kesempatan?" tanya Bondan dengan matanya yang merah.
Marcel menundukkan pandangannya.
"Kau juga bisa menemuinya setelah ini, aku rasa yang lain juga harus diberi tahu" ucap Marcel dengan pelan.
"Aku tidak mengerti maksud mu, katakan dengan jelas apa maksud mu Marcel!"
Bondan menarik kerah baju Marcel dan hampir saja meninju wajahnya dengan bogem mentah. Tapi untungnya Dila datang lebih awal hingga hal itu tak terjadi.
"Hentikan Bondan, apa-apaan ini? Ini rumah sakit, Rania sedang di ruang ICU dan kau mau menghajar dokter yang telah menanganinya?"
Suara Dila pelan, tapi tegas untuk bisa membuat Bondan melepas genggamannya.
"Dia memperlakukan Rania seolah ini adalah saat terakhirnya" ucap Bondan dengan menundukkan pandangannya.
"Kau masih mau mengingkari hal itu? Bukankah kau sudah bisa membacanya dari kondisi Rania selama kau bersamanya? Sampai kapan kau akan menolak kenyataan ini? Aku juga merasa sangat sakit Bondan, aku jauh lebih merasa sakit karena selalu salah paham padanya. Aku kehabisan waktu bersamanya karena semua pikiran jelek ku. Tapi jika kita tidak bisa rela dengan keadaannya, Rania akan jauh lebih tersiksa"
Dila mencoba menenangkan Bondan. Juga mencoba membuat Bondan bisa menerima kenyataan yang ada.
Bondan terduduk, Adit dan Nuri melihatnya. Mereka sudah mulai terpengaruh dengan raut wajah sedih Bondan dan mengira Rania sudah tiada.
Namun Dila yang melihat mereka datang, langsung mendekat dan memberitahu mereka untuk masuk satu persatu.
__ADS_1
Semua orang mendapat giliran untuk masuk dan melihat keadaan Rania. Tak satu pun dari mereka yang tak menangis saat keluar dari ruangan ICU itu.