Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
98


__ADS_3

Dila membantu Vero memasukkan barang ke mobil. Tak sengaja Marvin lewat dan melihat mereka lagi, namun karena tadi Vero mengatakan akan mengatakannya lain kali, dia pun berlalu begitu saja. Dila dan Vero pergi dari sana terlebih dahulu dari sana.


Di perjalanan Dila yang menyetir, Vero banyak bicara mengenai Arumi. Dia membuat Dila sedikit bosan. Kemudian hal tak terduga ditanyakan Dila.


"Tadi itu siapa Kak?" tanya Dila.


Vero terdiam, dia berpikir dan mencari jawaban yang pas.


"Siapa?" jawabnya pura-pura lupa.


"Yang Kakak panggil dokter!" ucap Dila.


Vero memejamkan matanya sejenak merasa ketahuan.


"Dokter Marvin, dia dokter di klinik Harvard Square. Aku bertemu dengannya saat keluar tadi" jawab Vero lancar namun kaku.


"Oh!" jawab Dila datar.


"Kenapa?" tanya Vero.


"Nggak, kayaknya, dia ada di group kampus deh. Tapi dia dokter ya?" tanya Dila meyakinkan lagi.


"Iya, mungkin, kadang kan ada orang yang bantu memeriksa tapi dia bukan dokter" jawab Vero.


Obrolan mereka menjadi obrolan biasa tanpa harus menyembunyikan soal Yudi.


"Maksudnya, kok dia masuk group bisnis, kan dokter!" jelas Dila.


"Ouh iya juga ya, apa dia ambil dua fakultas?" Vero menduga.


"Bisa jadi, tapi hanya orang yang sangat-sangat pintar yang bisa mengambil dua fakultas di Harvard sekaligus" ucap Dila.


Dia masih fokus dengan jalanan meski sambil mengobrol.


"Mungkin saja, oh iya, kayaknya dia single deh" ucap Vero mencoba membuat Dila berpikir lagi mengenai laki-laki.


"Kak, kalau maksud kakak aku harus mendekatinya, nggak!" ucap Dila dengan gestur tubuh menolak.


"Kalau dia yang deketin?" tanya Vero.


Dila mengerutkan dahinya sambil menatap Vero kemudian tertawa.


"Ayolah Kak!" Dila mengeluh.


"Bagaimana kalau dia yang pertama mendekati mu? Kamu mau mencobanya kan?" tanya Vero.

__ADS_1


Dila menertawakan ucapan kakaknya.


"Kak, kita baru bertemu dia tadi. Bagaimana bisa aku bilang kalau aku mau mencoba berpacaran dengannya?" Dila protes.


Vero menghela.


"Huhhff, entahlah. Kenapa kakak begitu senang mendekatkan adik-adik kakak dengan pria baik"


Dila melirik dan mengeluh dalam hatinya karena Vero mulai melow.


"Kita sudah sampai, ayo turun!" ajak Dila.


Vero turun dari mobil dan dengan tak sengaja mengenai mobil yang ada baru parkir di sisinya.


"Astaga!" seru Dila yang mendengar suara benda beradu cukup keras.


Vero memegang kepalanya dengan kedua tengannya menyesali apa yang terjadi di hadapannya.


Dila mendekat dan melihat keadaan. Pintu mobil mereka mengenai mobil itu dan membuat baret yang cukup panjang. Dila membulatkan matanya menatap bergantian pada kakaknya dan pada mobil itu.


Kemudian mereka menunggu orang yang keluar dari mobil itu.


"Maafkan aku, ini semua kecelakaan, aku tidak sengaja melakukannya!" ucap Vero.


Vero terkejut karena orang yang keluar adalah Marvin. Dila pun menggigit bibirnya karena tak menduganya.


Dila mengerutkan dahinya sambil tersenyum, Vero mendekat dan juga mencoba tersenyum supaya Marvin tak marah.


"Tapi tidak apa-apa, aku bisa memperbaikinya nanti. Tenang saja." jawab Marvin saat menatap Dila tersenyum canggung.


Vero melihat mata Marvin yang terlihat terpana melihat wajah Dila. Dia tersenyum sambil mengaitkan tangannya ke lengan Marvin.


"Ya, bisa diperbaiki nanti, bagaimana kalau kita minum kopi? apartemen kami ada di atas, kita bisa minum di sana!" ajak Vero.


Mereka jadi mengobrol. Ternyata Marvin juga tinggal di apartemen itu, tepat di depan pintu apartemen Dila. Vero merasa ini semua takdir. Dia bertemu dengan Marvin di rumah sakit, kemudian mereka juga bertemu di mall. Sekarang kecelakaan membuat mereka tahu bahwa Marvin tetangga depan rumah Dila.


Duduk berbincang sambil meminum kopi yang dibawa Vero dari Jakarta. Marvin memuji rasa kopinya, dia suka sambil melirik Dila yang merapikan perabotan yang dia beli.


Tak berapa lama, Marvin pamit. Dia juga harus merapikan belanjaannya. Vero berjanji padanya akan memperbaiki mobilnya setelah dia siap untuk pergi ke bengkel bersamanya.


Setelah Marvin pergi, Vero duduk dan mulai lagi dengan makcomblangnya.


"Fix, dia suka kamu" ucap Vero.


Dila yang lewat dan hendak meletakkan barang di meja menjadi berhenti dan menatapnya aneh. Dila memalingkan wajahnya dan berbalik. Dia bosan dengan sikap kakaknya yang menjodoh-jodohkannya.

__ADS_1


Sore harinya, Marvin tak kunjung datang atau menghubunginya untuk pergi ke bengkel. Vero berinisiatif untuk lebih dahulu mengajaknya.


Namun saat dia hendak mengetuk, ponselnya berbunyi dan dia mendapat telpon dari Marvin.


"Hallo Vero, aku minta maaf, aku tidak bisa berangkat memperbaikinya sekarang, ada pasien gawat darurat. Terjadi kecelakaan beruntun dan aku harus membantu mereka sekarang" ucap Marvin.


"Ouh, baiklah. Aku bisa mengerti, santai saja. Atau kamu bisa memperbaiki mobil mu dengan Dila nanti" jawab Vero.


Marvin tak bisa kembali cepat dan pergi bersama untuk memperbaiki mobilnya. Beberapa pasien kritis dan butuh banyak bantuan di sana.


Vero berbalik dan melihat ke arah Dila. Dia mengangkat kedua bahunya.


"Kenapa?" tanya Dila.


"Nggak bisa pergi, sibuk" ucap Vero sambil mengaitkan tangannya di bahu Dila.


"Jadi kayaknya nanti kamu deh yang nemenin dia. Baru bayarin berapa biaya yang harus dikeluarkan" bisik Vero.


"Huhhfff pasti deh, ngambil kesempatan dalam kesempitan itu namanya Kak!" Dila kesal lagi.


Dia melepaskan tangan kakaknya. Vero tertawa merasa senang.


"Pokoknya, nanti aku transfer agak banyak deh biar nggak malu-maluin" ucap Vero.


"Kenapa Kak Vero ceroboh sampe bikin mobilnya baret lagi ah! kan jadi repot" keluh Dila.


"Hei, jangan mengeluh tentang takdir, kau tidak tahu apa yang diselipkan takdir antara sebuah pertemuan" ucap Vero sambil berkedip-kedip.


Dila membuat wajah jelek kemudian mendelik. Vero berbaring di sofa sambil membuka ponselnya.


Dila ke kamar dan duduk di ranjangnya. Terbesit pikiran tentang keadaan Yudi. Dia berdiri dan menatap kakaknya yang sedang senyum-senyum menatap ponselnya.


"Kak!" seru Dila.


"Hmm!" jawab Vero.


"Kapan kakak pulang?" tanya Dila.


"Besok pagi setelah mengantar mu ke kampus. Kenapa?" Vero balik bertanya.


"Bagaimana kalau hari ini kita hang out sampai malam?" usul Dila.


"Ayo!" seru Vero sambil berdiri dengan semangat.


Dila memakai kardigannya dan keluar dari kamar. Vero juga mengambil kunci di meja. Mereka jalan-jalan menghabiskan waktu yang tinggal beberapa jam Vero di sana.

__ADS_1


Mereka menghabiskan waktu yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya. Momen yang akan jadi kenangan indah antara adik dan kakak itu. Vero selalu memegang tangan Dila dan sesekali mengusap rambutnya. Dia sangat menjaganya, tak lupa dia juga selalu menasihatinya untuk selalu bisa menjaga diri selagi belajar di sana. Harus bisa fokus dan mencapai tujuan akhir dengan baik.


__ADS_2