
Bu Min menepuk lengan Vero karena kesal dia mengejutkannya. Vero tersenyum puas sudah mengerjai asisten rumah tangganya itu. Vero kembali duduk untuk makan. Bu Min lega karena masih bisa menjaga janjinya pada Arumi.
Dila menggunakan kartu kreditnya untuk membayar biaya rumah sakit. Arumi harus di rawat beberapa hari karena fisiknya sangat lemah. Vero yang sedang makan mendapatkan notifikasinya, karena dia masih mengawasi Dila agar bisa menggunakan uang dengan bijak.
Mata Vero membulat, dia langsung menelpon adiknya itu dan menanyakannya.
"Kau dimana?"
"Di rumah..."
"Kartu mu hilang? kenapa ada notifikasi pembayaran di rumah sakit harapan?" Vero menyerobot ucapan Dila.
Dila menelan salivanya, dia kesal dengan sikap Vero.
"Kalau aku di rumah, kenapa pake nelpon, sini ke atas aja, ke kamar ku" ucap Dila.
"Trus kamu dimana? Kenapa jam segini belum pulang?" Vero malah bertanya.
"Di rumah sakit, aku nggak akan kasih tahu kenapa, kalau mau tahu, langsung dateng aja" ucap Dila dengan nada kesal padanya.
Vero menghela keras, dia ingin bersikap tak peduli lagi. Namun bagaimana dia bisa melakukannya, Dila adalah adiknya, dia harus kesana. Vero mengambil jaketnya, dia keluar dari kamar. Matanya melirik ke arah pintu kamar Arumi.
~Apa latahnya Bu Min itu benar? Apa Arumi yang ada di rumah sakit?~
Vero berjalan dengan cepat menuju garasi kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan cepat menuju rumah sakit.
Dia berjalan menuju ruangan yang Dila arahkan dari pesannya. Vero membuka pintunya dan melihat Arumi yang sedang tertidur lemas di ranjang dengan selang infus menancap di punggung tangannya.
Langkah Vero terhenti, pintu kamar VIP itu tertutup perlahan hingga rapat. Vero hanya bisa diam menatap wanita yang selalu menemaninya dalam suka dan duka itu.
Sudah berbulan-bulan dia mengabaikannya. Bahkan menghukum istrinya hanya karena kesalahan kakaknya. Kekesalannya pada Yudi menutup matanya untuk peduli lagi pada Arumi yang kini terlihat kurus.
Seorang suster datang untuk memberikan suntikan vitamin pada infusnya. Suster itu terkejut karena Vero berdiri sangat dekat dengan pintu.
"Maaf Pak, saya terkejut karena anda terlalu dekat dengan pintu" ucap suster itu karena dia menabraknya.
Pandangan Vero teralihkan oleh suntikan yang dibawa suster.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Vero.
"Ini vitamin pelengkap yang tidak ada dalam cairan infus Pak, yang khusus untuk ibu hamil. Kandungan ibu lemah, jadi harus bed rest. Itu yang dikatakan dokter pada nona yang menemani ibu Arumi, sepertinya anda belum datang tadi" jelas suster itu.
~Hamil? Lemah? Bed rest? Astaga, apa yang sudah aku lakukan~ Vero menyesali sikap bodohnya.
"Sudah berapa bulan?" tanya Vero dengan suara lemah.
"4 bulan Pak, sepertinya ibu nggak menyadari kalau ibu sedang hamil" ucap suster itu.
Dia pamit pada Vero dengan sedikit mengangguk. Vero tersenyum padanya dan mengalihkan pandangannya pada Arumi kemudian mendekat. Dia sangat menyesali sikap yang sudah dia perlakukan pada Arumi.
Beberapa jam kemudian, Arumi tersadar, dia melihat wajah Vero yang sedang duduk di dekatnya. Vero masih terjaga dan menatap ponselnya. Dia menerima pesan dari Dila yang pamit pulang setelah dia melihat kakaknya sudah ada di dalam ruang rawat.
Arumi kembali menutup matanya, tak berani menghadapi suaminya. Takut dia akan kembali mengacuhkan dan meninggalkannya sendiri di rumah sakit. Akan lebih baik dia tidur, setidaknya dia ditemani suaminya selama tidur, pikirnya.
Vero menghela, dia melihat bola mata Arumi bergerak, seperti orang yang tak tidur. Vero menyadari istrinya sudah bangun dan berpura-pura tidur. Vero menelan salivanya, dia juga canggung. Tak tahu harus mengatakan apa padanya, setelah dia mengetahui istrinya menyimpan kesedihan selama 3 bulan ini.
Vero memutuskan untuk membiarkannya berpura-pura. Dia pun tak bisa mengatakan apapun. Vero menyandarkan kepalanya di tangan Arumi dan mengusapkan sesekali ke wajahnya. Kemudian berusaha untuk tidur.
###
Dila sampai di rumah, dia melihat Bu Min menunggu dengan terkantuk di meja makan. Hidangan masih tersaji, siap untuk disantapnya. Dila mengambil sedikit nasi dan cukup banyak daging yang Bu Min masak.
Suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring membuat Bu Min terbangun. Dia menggosok matanya untuk melihat siapa yang makan, takutnya supir yang iseng yang makan di meja.
"Ah, bu Min kira supir yang iseng!" ucapnya lega.
Dila tersenyum.
"Bu Min tidur aja, biar nanti ini aku yang beresin" ucap Dila dengan mulut penuh makanan.
"Nggak non, biar aja, ibu nungguin non aja. Oh iya gimana bu Arumi?" Bu Min baru teringat.
"Kak Vero nyusul, waktu aku ke kamar mandi, aku kirim aja sms nama kamarnya Arumi. Dia langsung masuk, ya udah aku pulang" jelas Dila.
"Oh...bapak pergi ke rumah sakit juga?" tanya Bu Min yang baru paham.
__ADS_1
"Emang dia nggak bilang pergi kemana?" tanya Dila.
"Huffh, kapan bapak ngomong kalo mau pergi!" keluh Bu Min.
Dila tersenyum.
"Iyaaa, nanti aku bilang kak Vero buat ngomong kalo mau pergi ya!" ucap Dila untuk menyenangkan wanita paruh baya itu.
Bu Min tersenyum puas. Dia juga sangat menghargai usaha Dila agar dirinya dihargai.
"Apa bapak udah nggak acuh lagi sama ibu?" tanya Bu Min ragu.
Dila mengangkat bahunya pertanda tak tahu.
"Yang penting adalah, dia sudah tahu istrinya hamil. Dia harus melakukan semua kewajiban suami siaga di saat seperti ini. Aku sudah titip pesan sama dokter buat marahin dia karena udah mengabaikan istrinya sampai drop kayak gitu. Biar dia tahu rasa!" ucap Dila dengan menunjuk garpu ke arah Bu Min.
Bu Min tersenyum dengan ucapan Dila, namun Dila sendiri terdiam karena perkataannya sendiri. Dia teringat Rania, yang juga sedang hamil, namun memilih tak menikahi Yudi ayah si bayi.
"Kenapa Non?" tanya Bu Min karena ekspresi wajah Dila berubah.
"Rania juga butuh suami siaga kan Bu Min?" ucapnya dengan tatapan kosong ke arah meja.
Bu Min menghela, kemudian meremas kedua tangannya di atas meja.
"Kan ada Bu Vera, Bu Yuni, Pak Nurdin sama Adit, non. Mereka semua udah lebih dari suami siaga buat non Rania" ucap Bu Min.
Dia berusaha membuat Dila tak khawatir, meskipun ucapannya sangat bertentangan dengan isi hatinya.
"Tapi beda lah Bu, suami itu...ya kayak kak Vero. Arumi punya bu Min dan aku buat tempat mengadu. Tapi tetep aja dia lemah tanpa suaminya" lanjut Dila yang kembali melow.
"Duh, Bu Min takut salah ngomong kalo kayak gini!" ucap Bu Min ragu.
"Maksud Bu Min, ngomong apa?" tanya Dila.
"Ya, sentuhan biasanya sangat berpengaruh buat si jabang bayi. Katanya sentuhan tangan ayah kandungnya adalah sentuhan terbaik di perut ibu hamil. Selain untuk membuat si ibu nyaman, si jabang bayi juga bisa lebih pintar dibandingkan tanpa sentuhan. Tapi baru katanya non!" ucap Bu Min dengan senyum.
Dila berpikir keras, dia sudah merasa sangat bersemangat karena akhirnya bisa membuat Vero menemani Arumi di masa pentingnya. Dia jadi terobsesi untuk memberikan Rania kebahagiaan yang sama dengan Arumi.
__ADS_1