Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
92


__ADS_3

Setahun berlalu.


Semua orang bertahan di tempatnya. Rania bertahan dengan membuka kedai nasi bersama ibunya di tempat lama. Dibantu Bu Yuni dan Babe Nurdin, mereka mendapatkan lagi pelanggan Bu Vera yang dulu selalu makan di tempatnya.


Vero dan Arumi berencana menikah tahun depan. Kabar itu sampai pada Yudi dan dia juga ikut senang. Vero masih disibukkan dengan perusahaan dibantu Bondan. Sementara Arumi mengelola Vero's Spaghety dibantu Fajri dan Nuri yang akan menikah hari ini.


Dila berhasil membuat mall mencapai targetnya. Selain banyak pengunjung yang datang, semua toko pun penuh, ramai berbagai produk melakukan promosi di atrium mallnya. Semua orang puas atas kinerjanya sebagai pengelola.


Membicarakan soal pernikahan Nuri, dia sudah siap dengan kebaya pengantin dan riasan cantiknya. Wajahnya sempurna sekarang, meski tak diubah jadi orang lain, dia masih senang dengan wajahnya sendiri.


Rania memeluknya dengan erat, Nuri terharu karena dia mau mendampinginya dalam suka dan duka selama ini. Hingga dia mendapatkan laki-laki yang juga punya sifat yang baik.


"Terimakasih ya Nia! Aku..." Nuri mulai melow.


"Eits, kok nangis? Nanti sembab matanya!" Rania memperingatkan.


Dia mengambil tisu dan mengusapkannya pada Nuri dengan perlahan.


"Udah...! Yang sedih-sedih jangan diingat, sekarang hari bahagia kamu. Kamu harus senyum" ucap Rania sambil menunjukkan senyumannya.


Nuri mengatur nafas dan memeluk lagu Rania.


"Ok, aku udah bisa ngatur nafas aku" ucap Nuri.


Tiba-tiba Ramadhan datang.


"Yuk, ngobrol bae lah!" keluh Ramadhan.


Nuri terkesima melihat Ramadhan yang gagah memakai pakaian team resepsi.


"Aduh Nia! Adik kamu ganteng banget!" kagum Nuri.


"Ehh, udah, Fajri inget Fajri" ucap Rania membuat candaan.


Mereka bertiga tersenyum saat keluar dan mendekat ke meja akad. Kilatan kamera meramaikan langkah Rania dan Nuri. Semua mata tertuju pada pengantin yang sangat cantik.


Kecuali dua mata pria ini, Bondan dan Saga. Mereka tak datang bersamaan, tapi duduk berurutan dengan Bondan duduk di depannya Saga. Mereka menatap Rania yang terlihat manis dengan kebaya membalut tubuhnya.


Akad dimulai, Fajri tegang dan membuat kesalahan hingga dua kali. Penghulu memperingatkannya.


"Hei nak Fajri, kalo kali ketiga salah, nak Fajri harus nikahin perempuan lain dulu baru boleh akad lagi sama neng Nuri" canda Pak penghulu.


Gelak tawa tamu undangan dan teman-teman riuh ramai terdengar. Fajri menganggapnya serius, kali ini dia bertekad dan bersiap-siap.

__ADS_1


Bu Vera dan Bu Yuni tertawa melihat ekspresi wajah Fajri. Bu Vera memeluk pinggang Rania.


"Kapan kamu nyusul Nuri?" tanya Bu Vera.


Rania membulatkan matanya menatap ibunya yang tersenyum.


"Pake kebaya kayak gini aja udah cantik banget, apalagi kebaya pengantin" puji Ibunya.


Rania menunduk, dia hanya tersenyum dan memalingkan wajahnya kembali ke akad Fajri dan Nuri. Namun dalam hatinya, dia masih merasa tak pantas.


Kali ini Fajri berhasil, dia berteriak keras merayakan keberhasilannya setelah kata 'SAH' terucap dari beberapa orang. Nuri menutup wajahnya karena malu akan tingkah Fajri. Semua orang tertawa lepas menyaksikannya.


Sampai pada acara foto-foto, Rania masih sibuk dengan membantu kru menyiapkan segalanya. Dia juga melihat kesana kemari seolah mencari seseorang.


"Ada apa?" tanya Vero yang menghampirinya.


"Aku nggak lihat Dila?" tanya Rania.


"Ouh, dia bilang mau dateng siang. Ada meeting pagi di mall. Lagi sibuk banget dia!" jawab Vero.


"Dia nanyain kamu pake baju apa, ga ngerti deh mau di matching atau nggaknya" tambah Arumi.


Rania tersenyum.


Rania menatap pada Vero untuk menunggu dan jangan dulu pulang. Tangannya ditarik Ramadhan hingga ke pelaminan.


Mereka berfoto bersama, awalnya pengantin, Rania dan keluarga gang Duren. Setelah itu Saga jadi ikut bergabung. Beberapa orang mundur dan Ramadhan menarik tangan Saga dari sana. Kini tanpa Rania sadari yang tinggal hanya pengantin, dirinya dan Bondan.


Perhatian Rania teralihkan saat Dila datang melambaikan tangan padanya. Dia jadi tak fokus, hal ini dimanfaatkan Ramadhan untuk membuat fotonya dengan Bondan. Dan akhirnya Rania menuruti semua gerakan yang Ramadhan mau.


Foto bersama Bondan diambil beberapa kali. Entah itu bersama pengantin atau saat mereka hanya berdua. Kemudian Bondan ditarik oleh Ramadhan menjaga agar kak Rania tak berubah moodnya.


Ramadhan mengerlingkan matanya pada Bondan yang hanya tersenyum. Sedangkan Rania menyambut Dila yang sangat cantik memakai blazer.


"Aku nunggu dari tadi!" ucap Rania sambil memeluknya.


Dila tersenyum, kemudian dia meraba lekukan pinggang Rania.


"Cantik, kalah pengantinnya!" ucap Dila memuji.


Rania memukul kecil lengan Dila. Mereka menghampiri pengantin dan berfoto. Rania meminta untuk fotografer memotret mereka berdua.


"Kita tidak punya foto besama, hari ini aku mau foto dengan mu yang banyak" ucap Rania.

__ADS_1


Dila menatap Rania.


"Kenapa aku merasa kalo itu seperti ucapan terakhir" canda Dila.


Rania mencubit lengan Dila, terambilah posisi mereka sedang bergurau. Semua orang senang melihat mereka bisa tertawa bersama.


Dila memeluk Rania, orang yang membuatnya kembali menjadi dirinya sendiri. Dila yang ceria dan punya sejuta mimpi.


**


Dia mengingat saat Rania mengundangnya untuk makan siang bersama di rumah ibunya. Dia pikir, dia hanya pergi sebagai ucapan rasa terima kasihnya telah masih menjadi saudari yang baik untuknya dalam keadaan apapun.


Namun saat dia datang, dia diajak memasak bersama dengannya. Dila awalnya canggung, namun Rania terlihat lebih canggung. Dia jelas selalu menghindar dari Dila, takut dirinya terlalu mengakrabkan diri.


Dila paham dengan situasi ini, dia mengerti bahwa Rania ingin membuatnya nyaman bersama. Namun belum tahu pasti apa yang tidak disukai dan disukai Dila. Akhirnya Dila yang memang punya sifat periang, mengawali obrolan dengan keluhannya.


"Aku tidak pernah memasak, kau membuatku memasak dan mengotori tanganku" ucap Dila.


Rania menatapnya dengan merasa bersalah, dia diam dan tak tahu harus menyuruh Dila berhenti memasak atau bagaimana. Namun Dila menatapnya dan mulai tersenyum.


"Kau ini, aku cuma bercanda!" ucap Dila.


Rania menghela dan tersenyum. Dila melanjutkan memotong sayuran, tapi Rania tiba-tiba memeluknya dan menangis tersedu. Lama Rania menangis di pelukan Dila, tak ada kata terucap. Dila pun hanya kembali memeluknya dan mengusap rambut Rania.


Pemandangan itu diabadikan Ramadhan melalui video pendek yang dia simpan di ponselnya. Bu Vera juga selalu melihatnya. Rasa senang, lega dan bahagia bercampur seketika melihat video itu.


Saat waktu makan tiba, mereka melanjutkan canda tawa mereka sambil makan. Kemudian Ramadhan mengeluh.


"Heuh, sayang sekali. Acara seperti ini takkan terjadi setiap hari" ucap Ramadhan.


"Mana mungkin, aku lebih senang tinggal di rumah besar dan makan siang dengan masakan Hedi dibandingkan disini. Aku harus repot-repot masak" timpal Dila.


Ramadhan tercengang mendapatkan keluhan yang bergaya. Rania menertawakan ekspresi Ramadhan.


"Kau tahu, wajah kita ini lebih manis jika tertawa. Aku baru menyadarinya saat aku melihatmu, kau sangat manis saat tersenyum. Itu berarti aku juga sama. Jadi, jangan pernah untuk tidak tersenyum!" ucap Rania dengan penuh makanan di mulutnya.


"Hei, kebiasaan jelek mu mulai lagi, makan sambil bicara. Nanti kamu tersedak!" keluh Bu Vera.


Dila menatap Bu Vera yang memberikan segelas air untuk Rania. Dia memang cemburu, namun kali ini dia langsung menunjukkannya.


"Aku tidak diberi minum? aku juga sama, makan sambil bicara!" ucap Dila seperti anak kecil.


"Hei...hei...hei...aku juga mau, Bu!" ucap Ramadhan ikut mengeluh.

__ADS_1


Bu Vera menepuk jidatnya. Mereka kembali tertawa.


__ADS_2