Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
93


__ADS_3

Malam itu, setelah resepsi peenikahan, semua orang berkumpul. Kecuali para orang tua, seperti Bu Vera dan Bu Yuni juga Pak Nurdin pulang terlebih dahulu karena kecapean.


Saga menerobos dan mengambil kursi sendiri, dia jadi bagian dari mereka. Ramadhan tidak suka melihatnya, dia mendelik dan hendak menendang kursinya agar dia jatuh. Tapi Rania menyambutnya dengan senyuman, semua orang jadi ikut menyapanya.


"Aku mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Raniaku tersayang" ucap Nuri.


Dia menatap Rania dan mengedipkan matanya.


"Hei, aku yang membiayai semua ini kenapa cuma dia yang diberi ucapan?" protes Vero.


"Kalo Rania tidak memintanya apa kau akan mengeluarkan uang untukku?" ucap Nuri dengan mengeluh.


Semua orang tertawa.


"Ya tentu saja tidak akan, kamu cuma pekerja magang di restoran ku" jawab Vero mulai mengolok-oloknya.


"Huhhf, selalu seperti itu" keluh Nuri.


Saga tak mengerti dengan candaan mereka, dia celingak-celinguk dan hanya ikut tertawa. Lain hal dengan Bondan, dia sedang melihat foto-foto yang dikirimkan fotografer tadi padanya. Dia tersenyum dan merasa puas dengan hasilnya.


Rania larut dalam canda tawa yang dibuat dari pertengkaran lucu antara Vero dan Nuri. Dila memegang tangan Rania, dia menatapnya seolah bertanya. Dila mengangkat kedua alisnya menunjuk pada Bondan.


Rania melihatnya lalu mengangkat kedua alisnya seolah bertanya kenapa. Dila mendekat dan berbisik.


"Dia senyum-senyum melihat ponselnya, mungkin dia sudah mendapatkan pengganti mu" ucap Dila.


Rania membulatkan matanya, sudah lama dia menahan diri untuk tak memikirkan hal itu. Tapi melihat Bondan yang begitu terlihat senang, dia jadi berpikir dan merespon ucapan Dila.


Dila yang mengetahui bahwa Bondan melihat fotonya bersama Rania, sebenarnya hanya ingin membuat Rania cemburu, dan dia berhasil.


Rania penasaran apa yang membuat Bondan fokus sendiri dan terlihat senang.


~Bukankah bagus jika dia punya wanita lain, kenapa aku merasa risau begini?~ ucap hati Rania.


Dila berdiri dan memotong pertengkaran Vero dan Nuri.


"Stop! Jokes kalian sudah basi" ucap Dila.


Semua mata memandangnya. Termasuk Bondan, dia memperhatikan Dila berbicara. Rania melihatnya, dia berusaha mengendalikan diri untuk tak menunjukkan rasa ingin tahunya.


Bondan melirik pada Rania dengan kembali melihat foto mereka. Kemudian menutup ponselnya dan mendengarkan Dila bicara.

__ADS_1


"Hari ini, aku mau mengabarkan pada kalian bahwa aku lulus ujian penerimaan mahasiswa di Harvard Amerika dan akan terbang dua bulan lagi untuk belajar di sana" ucap Dila dengan senyum lebar yang ceria.


Bondan tersenyum senang melihatnya menjadi dirinya sendiri. Dia bangga Dila bisa lulus dan mengambil jurusan yang dia minati.


Saga, Ramadhan, Nuri dan Fajri bertepuk tangan dan merayakan keberhasilan Dila. Sedangkan Vero dan Rania juga Arumi menganga tak percaya.


Terlebih Rania, dia merasa akan kehilangan waktu untuk bersama lagi dengan Dila. Dia menunduk dan meremas tangannya di pangkuannya sendiri.


Dila mendekat melihat Rania murung.


"Kenapa? Kau iri aku akan ke Amerika untuk belajar? Bukankah kau juga punya mimpi? Kenapa tidak mewujudkannya sendiri? Apa bisa mu hanya mendukung orang lain?" ucap Dila mengejeknya dengan pelukan.


"Kau tahu kalo bukan itu alasannya" lirih Rania hendak menangis.


"Hei, bukankan bagus jika aku tidak disini. Mereka tidak akan pusing memilah antara kau dan aku. Mereka takkan salah bicara lagi" canda Dila.


"Jokes mu buruk" ucap Rania singkat sambil mengusap tangisnya.


"Hei Kak Bondan dan Pak polisi, kalian bisa kan jaga dia untukku? Bersaing dengan baik dalam merebut hatinya. Jangan membuatnya menangis seperti aku melakukan ini padanya. meninggalkannya lagi" ucap Dila menunjuk mereka.


"Dilaaaaa!" keluh Rania.


Vero mendekat dan memeluk mereka.


"Ouh, so sweet sekali!" seru Nuri sambil memeluk Ramadhan.


Fajri mengerutkan dahinya, dia cemburu karena Nuri malah memeluk Ramadhan.


"Hei, kamu mau merebut manten ku!" seru Fajri.


Semua orang tertawa. Bondan juga ikut tertawa melihat kekonyolan mereka. Tapi kali ini Saga menatap sinis pada Bondan dan seolah sedang berapi-api akan bersaing dengannya.


Sampai pada tengah malam, mereka akhirnya bubar. Fajri lebih dulu pergi ke hotel, hadiah dari Bondan untuk mereka, bulan madu selama satu minggu di hotel bintang lima.


Arumi dan Vero mengajak Rania pulang namun dia menolak dan lebih memilih pulang bersama Ramadhan. Rania melambaikan tangannya pada Vero dengan senyumannya.


Dila pulang sendiri karena dia membawa mobilnya. Dengan memeluk erat tubuh Rania, dia pamit dan mencium kening Rania.


"Aku sayang kamu!" ucap Dila.


Rania tersenyum.

__ADS_1


"Apalagi aku, aku sayang banget sama kamu" jawab Rania.


Sementara itu, Ramadhan mengajak ngobrol Saga dan meminta sarannya tentang sesuatu yang dia buat-buat untuk mengalihkan perhatiannya. Memberikan kesempatan pada Bondan untuk bicara dengan Rania.


Bondan berdiri dekat pintu menyandarkan diri, melipat kedua tangannya sambil melihat Dila pamit pada Rania.


Saat Rania berbalik mencari Ramadhan, dia terkejut karena Bondan menatapnya. Rania salah tingkah, dia hendak berbalik, namun mengingat Ramadhan masih di dalam dan dia tak bisa masuk karena ada Bondan.


Bondan tersenyum melihatnya, dia berjalan mendekatinya. Rania panik, dia semakin gugup saat melihat Bondan mendekat padanya. Kemudian Bondan bicara.


"Kamu nggak dikasih tahu sama Ramadhan kalau dia ada urusan sama Saga?" ujar Bondan.


Rania berhenti dan berpikir.


~Urusan? Kenapa dia nggak bilang? Tadi dia belum kelihatan keluar deh!~ ucap hati Rania.


"Dia tadi pergi lewat belakang, kan parkir motornya di belakang" tambah Bondan.


Rania masih diam tak menjawab bahkan tak berbalik.


"Aku antar!" ucap Bondan.


Tubuh Rania terperanjat, terkejut Bondan sudah ada di sampingnya.


"Tidak usah, aku naik taksi saja" tolak Rania.


"Sekali ini saja, izinkan aku mengantarmu. Sekali saja" mohon Bondan.


Rania melihat wajah Bondan yang menunduk memejamkan matanya.


~Apa dia benar-benar sudah mendapatkan pengganti ku? Mungkinkah dia ingin mengatakan hal itu saat di perjalanan nanti?~ tanya hati Rania.


Rania menyerah karena mengira dia akan menyampaikan perpisahannya.


"Baiklah!" ucap Rania.


Bondan tersenyum, dia langsung berlari menuju mobilnya dengan riang. Rania tersipu melihat dia begitu riang. Bondan datang dengan cepat, dia membukakan pintu mobil untuknya. Rania sedikit merasa senang dan menjadi ingat masa-masa bahagia bersama Bondan.


Di perjalanan, Rania teringat dengan ucapan Dila. Dia menatap ponsel Bondan yang diletakkan tepat di dekat tangannya.


"Oh ya, aku dengar kamu sudah punya pacar baru!" ucap Rania memulai obrolan.

__ADS_1


Bondan terkejut, dia menginjak rem mendadak dan membuat mobil berhenti. Rania terkejut, dia memukul lengan Bondan dengan keras. Melihat keadaan sekitar dan lega tak ada mobil lain yang lewat sehingga tak terjadi tabrakan.


"Kau sudah gila? Bagaimana jika ada mobil di belakang kita?" teriak Rania kesal.


__ADS_2