
Dila sadar dalam beberapa hari setelah dia berkali-kali mendapatkan perawatan dari Bidan Ayu. Cuaca masih buruk, sinyal masih buruk. Bus yang biasa mengangkut warga yang hendak ke kota pun belum juga datang ke sana karena cuaca buruk.
Saga menatapnya dengan mengerutkan dahinya. Dia tersenyum saat Dila membuka matanya, dia seperti sedang menatap Rania yang baru bangun.
~Hufffhh, impian yang takkan pernah bisa tercapai~ ucap hati Saga.
"Akhirnya kamu sadar Dil!" ucap Saga.
Bidan Ayu melirik ke arah Saga yang sudah mengetahui nama korban itu.
"Anda kenal dia?" tanya Ayu.
Saga mengangguk. Dia membantu Dila bangun dan merapikan bantal untuk sandarannya.
"Ini dimana?" tanya Dila dengan suara berat karena mulutnya yang kering dan haus.
Saga mengambilkan minum dan membantunya. Ayu tak suka dengan pemandangan itu. Dia keluar dan meninggalkan mereka. Bu Uwi melihatnya dan bertanya.
"Dah sadar?" tanya Bu Uwi.
Ayu hanya mengangguk, kemudian pergi dengan tergesa. Bu Uwi menggelengkan kepalanya. Dia masuk dan melihat Saga senang mengusap wajah Dila dan mengerti kenapa Ayu begitu terlihat kesal. Bu Uwi pergi menyusulnya.
"Di pesisir Sambas, jauh dari perkotaan. Kamu ditemukan di sisi utara pantai dekat pepohonan. Kamu hebat, bisa bertahan berhari-hari di sana" jelas Saga.
"Kamu Saga ya, aku baru ingat nama kamu. Dari tadi mikir, ingat wajah tapi lupa nama" ucap Dila.
Saga tersenyum.
"Kamu dari mana? Kok bisa terdampar di sini?" tanya Saga.
Dila menceritakan seluruh kejadiannya. Ayu yang diajak masuk lagi oleh Bu Uwi, tak sengaja mendengarkannya di balik pintu. Saga juga mereka tercengang dengan cerita Dila.
"Jadi, pesawat jatuh itu karena ulah mu" ucap Saga.
"Jatuh?" tanya Dila.
"Ya, sepuluh hari yang lalu ada pesawat jatuh, tapi karena cuaca yang sangat buruk hingga hari ini pencarian masih tertunda. Kau selamat, tapi aku yakin yang lainnya pasti tak selamat" ucap Saga.
"Jadi kamu belum bisa ngabarin keluarga aku?" tanya Dila.
__ADS_1
"Belum, jaringan yang memang selalu sulit walaupun cuaca tak buruk, ditambah jalan menuju kota juga longsor. Masih sulit untuk keluar dari sini" jelas Saga dengan senyum bodohnya.
Dila mendelik, dia menatap kosong pada dinding kamar Saga.
"Apa Rania selamat? Aku tidak melihatnya di pesawat" gumam Dila.
"Rania?" tanya Saga.
"Iya, sebelum aku sadar dan berada di pesawat, kami berusaha mengecoh Clara dengan mengatakan bahwa aku adalah Rania. Ya, aku memberi ide untuk mengerjai teman-teman dengan dandan gaya yang sama. Rania memotong pendek rambutnya. Clara sulit menentukan siapa kami, untuk mengulur waktu, aku bikin dia bingung. Dia malah membawa kami dan aku dibius" jelas Dila.
"Permainan yang sia-sia, aku langsung tahu kau adalah Dila saat melihat wajah mu, bagaimana bisa mereka tak bisa mengenali kalian?" ucap Saga sedikit menertawakan.
"Aku sangat lelah, masih lemas. Keluarlah, aku mau istirahat" Dila mengusir Saga.
"Hei, kamu mengusir pemilik kamar!" seru Saga mengeluh.
"Kalau begitu tidurlah di sisi ku, sini!" ucap Dila menepuk sisi ranjang.
"Aiissshhhh, jelas, dari cara bicara saja kalian sangat berbeda" Saga berjalan menuju pintu.
"Jelas, kalau Rania pasti akan meminta keluar dari kamar ini karena tak mau merepotkan mu" Dila membalas keluhan Saga.
"Kalian dengar?" tanya Saga.
Ayu dan Bu Uwi mengangguk. Kemudian secara bersamaan keluar dari kosan Saga.
"Nggak nyangka, gadis itu kuat dengan tubuh kecilnya" ucap Bu Uwi.
"Kelihatannya dia sering olahraga" ucap Ayu mendukung.
Saga menatap Ayu yang terlihat datar, tak seperti biasanya.
"Iya, Dila memang senang renang" ucap Saga.
"Kalian saling mengenal?" tanya Ayu.
"Iya, dunia ini memang selebar daun kelor, hehe" ucap Saga tersenyum bodoh.
"Takdir, ini takdir. Jauh-jauh dari Jakarta, karena sebuah kejadian, dia terdampar di pesisir tempat Pak petugas bertugas. Ini namanya takdir" ucap Bu Uwi.
__ADS_1
Saga terdiam, dia menatap ke arah kosannya. Ingat dengan cerita takdir yang akhirnya mempertemukan Rania dan Bondan lagi.
Ayu menatap ekspresi wajah Saga yang seolah teringat sesuatu dan berharap. Ayu merasa sedih melihatnya. Dia pamit untuk kembali ke rumah kosannya.
###
Yudi memanggil dokter karena Dila sadar. Matanya terbuka namun seolah kosong. Dokter datang untuk memeriksa. Yudi menghubungi Vero dan Arumi.
"Dia sudah pulih, kita akan fokus pada luka di kepala bekas jahitannya" ucap Dokter.
Yudi tersenyum senang.
"Aku akan konsultasi dengan psikolog setelah ini, kita harus memastikan tentang kejiwaan dan ingatannya"
"Lakukanlah yang terbaik, aku ingin dia cepat sembuh" ucap Yudi.
Dokter pergi, Yudi mendekat pada Dila yang masih diam meski matanya sudah meraba seluruh ruangan itu.
"Aku senang Dila, kamu akhirnya sadar. Aku nunggu lama di sini. Tapi aku yakin kamu akan cepat pulih dan aku janji, setelah semua ini berakhir, kita akan bersama selamanya"
Yudi mengusap tangan dan wajahnya. Namun dia hanya diam, seperti tak mendengarkannya. Tak lama kemudian, Vero dan Arumi datang. Vero masuk setelah Yudi keluar. Memberikan kesempatan pada Vero untuk melihat adiknya.
"Aku seneng kamu sudah sadar, cepet sembuh ya dek" ucap Vero sambil mengusap air matanya.
Dia tak bisa menyembunyikan perasaannya yang selalu ingat Rania. Vero melihat air mata menetes di pipi Dila. Dia mengusapnya, meski Dila sama sekali tak bicara apapun.
"Kita akan mengadakan acara penaburan bunga di pantai, sebagai tanda pelepasan Rania untuk selamanya. Jadi cepatlah sembuh" ucap Vero lagi.
Setelah Vero yang bicara hanya sedikit, Arumi masuk untuk melihat keadaannya. Dia hanya mengusap tangan Dila dan mengusap air matanya juga.
Semua orang menganggapnya Dila, karena kabar yang diberikan Sultan Ameer. Sasaran kemarahan Clara adalah Rania. Mereka menyimpulkan dia sudah mendapatkan Rania dan mencelakai Dila.
Rania telah mati di mata mereka, kesedihan terpancar dari mereka yang sangat menyayanginya. Terutama Vera dan Aditya. Mereka datang menjenguk Dila sekaligus untuk menatap wajah mereka yang sama. Sekedar melepas rindu.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, keadaan Rania yang mereka sebut Dila semakin membaik. Namun dia sama sekali tak mengatakan sepatah katapun kecuali saat sesi dokter psikologi datang.
"Dila jelas kehilangan semua ingatannya. Dia sama sekali tak mengenali dirinya, apalagi kalian. Jangan terlalu memaksanya. Pastikan dia nyaman, merasa aman dan tak tertekan. Mudah-mudahan dengan stimulus itu, dia cepat pulih secara psikis" ucap Dokter.
Semua orang merawat Dila, terutama Yudi. Dia tak pernah sekalipun meninggalkannya. Meskipun Dila hanya menatap dan menuruti semua permintaannya untuk sekedar menyuapinya atau mendengarkannya. Seperti orang asing, namun mulai terbiasa karena kesabaran Yudi. Terutama Yudi selalu membuatnya merasa aman bersamanya.
__ADS_1