Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
149


__ADS_3

Dila berdiri di depan rumah bu Vera dan menunggu orang keluar setelah dia mengetuk sebelumnya. Rania berjalan perlahan mendekati pintu, dia membuka perlahan dan menatap Dila. Mereka saling bertukar tatap selama beberapa menit, hingga Bu Vera datang karena Rania tak menjawabnya.


Bu Vera menatap dan menaruh kedua tangganya di pinggang, merasa tak nyaman Dila datang. Dila menundukkan tatapannya dan merasa tak enak juga, karena terakhir kali bertemu dengan mereka, dia menampar keras Rania tanpa memahami posisinya.


"Mau apa?" tanya Bu Vera ketus.


"Buu...!" Rania meminta ibunya menahan diri.


"Mau bicara sama Rania" ucap Dila pelan.


"Mau apa? Mau nyalahin dia lagi karena kamu nggak jadi nikah sama Yudi?" ucap Bu Vera seolah sudah sangat kesal dan kenal dengan sifat Dila.


"Saya mau minta Rania nikah sama Yudi, kasihan bayinya. Dia juga harus mendapatkan kasih sayang ayahnya" ucap Dila.


Rania menatap terkejut mendengar ucapan Dila. Bu Vera menghela dan menertawakan ucapan Dila. Mereka masih berdiri di ambang pintu, Dila belum dipersilahkan masuk.


"Jangan main-main nak, keputusan menikah atau tidak bukan karena kamu ngizinin atau tidak" ucap Bu Vera.


Rania menunduk, merasa ucapan Bu Vera mewakili perasaannya. Dila sedikit terkejut dengan respon Bu Vera yang tak dia duga. Dia mengira mereka akan senang dengan ide nya untuk menikahkan Rania dengan Yudi.


"Bukan begitu, aku..." Dila hendak menjelaskan.


"Udahlah, kamu nggak pernah paham apa maksud Rania dengan keputusannya. Baiknya kamu pulang dan tata hidup kamu sendiri, jangan ganggu kami" ucap Bu Vera.


"Buuu....!" Rania menahannya lagi.


"Apasih Nia, dari tadi nahan-nahan ibu terus!" Bu Vera jadi kesal pada Rania.


"Dila belum masuk dan duduk, ibu udah marah-marah sama dia" ucap Rania sambil menatap Dila dan mengulurkan tangannya untuk menerima tangan Dila untuk masuk.


Dila meraih tangan Rania sambil meneteskan air matanya. Merasa sangat bersalah terus menerus setelah selalu menyalahkan dia atas segala yang terjadi dalam hidupnya. Tapi Rania tetap menjadi saudari yang selalu menerima Dila dalam keadaan apapun.


Dila duduk diantar Rania supaya ibunya tak marah lagi. Bu Vera pergi ke dapur tak memperdulikannya, dia melanjutkan membuat makanan untuk Rania.


"Aku juga mau mengabarkan kalau Arumi juga hamil. Ku rasa usia kandungannya sama dengan mu" ucap Dila setelah Rania duduk.

__ADS_1


"Oh ya, syukurlah" jawab Rania.


Ekspresinya terlihat senang namun seolah sedang mengingat-ingat siapa itu Arumi.


"Istri dari kak Vero, kakak kita" ucap Dila sambil menyentuh tangannya.


Rania membulatkan matanya, dia berusaha terlihat mengingatnya. Dila mulai berpikir dengan ekspresi Rania yang masih terlihat bingung. Tapi tak berlama-lama, Dila menanyakan langsung maksud dan tujuannya datang kesana.


"Bagaimana, kamu mau kan menikah dengan Yudi?" tanya Dila berbisik, dengan mata yang mengawasi ke arah dapur.


Rania menatap tingkah Dila kemudian tersenyum.


"Aku hanya mau menikah dengan Bondan. Dia pernah berjanji untuk menikah dengan ku. Aku sedang menunggunya" ucap Rania.


Dila terkejut dengan ucapan Rania.


"Apa?" tanya Dila memastikan.


"Kamu mau minum apa?" tanya Rania yang seolah tak ingat dengan apa yang dia katakan barusan.


Dila mulai khawatir dengan tingkah Rania. Dia berdiri dan menghampirinya. Kemudian memeluknya dari belakang. Dila menangis di punggung Rania dengan tersedu. Rania sendiri hanya bisa diam dan tak bisa menahan air matanya yang juga menetes.


"Maafkan aku, aku mohon, jangan seperti ini. Kau menakutiku, kau membuatku berpikir kalau kau sedang tidak baik-baik saja" ucap Dila.


Bu Vera yang keluar dari dapur langsung memeluk tangannya menatap pemandangan itu. Ucapan Dila seolah mewakili perasaannya selama dia tinggal dengan Rania setelah dia dibawa ke rumahnya.


Rania memang tersenyum, beraktifitas dan melakukan semua kebiasaannya. Tapi sesekali dia mengatakan sesuatu yang aneh dan hanya mengulang. Dan hanya ada satu nama yang selalu dia sebut, yaitu Bondan.


###


Rania berdiri menyiram tanaman yang dia rawat beberapa minggu ini. Dila dan Bu Vera menatapnya dari dalam rumah. Dila menghapus air matanya mendengar semua cerita Bu Vera.


"Makanya aku marah saat kau kemari, aku nggak mau kamu bikin dia berubah menjadi sedih. Tapi, dia terlihat tak terpengaruh sama sekali. Dia seolah tak ingat apapun" ucap Bu Vera mengusap air matanya dengan bajunya.


"Aku akan mengajak dia periksa ke dokter. Ibu harus setuju, ini demi kebaikan Rania. Supaya bisa ditangani secara psikologis. Bukannya mau menyebut dia gila, aku hanya takut semua yang terjadi sudah membuat psikisnya terluka dalam. Pertolongan psikolog sangat dibutuhkan Bu" Dila mencoba meyakinkan.

__ADS_1


Bu Vera menatap Rania dengan mata sembabnya. Tak bisa dia sangkal, perkataan Dila bisa saja benar. Semua kejadian yang dialami Rania, mungkin saja sebenarnya membuat dirinya sangat terluka, namun tekadnya untuk tak menunjukkan kesedihannya membuatnya tetap terlihat tegar.


Bu Vera mengangguk menyetujui saran Dila. Mereka menghampiri Rania yang asik menyirami tanaman.


"Aku pamit, nanti kita jalan-jalan kalau aku sudah libur" ucap Dila sambil memeluknya.


Rania tersenyum dan mengangguk.


"Aku sayang sama kamu"


"Apalagi aku, saayaaanng banget sama kamu" ucap Rania spontan.


Bu Vera menatap Dila yang juga menatapnya. Rania kembali menyiram tanamannya. Dila semakin yakin bahwa Rania mulai terbiasa dan teringat kembali memori yang hilang.


Dila mencium punggung tangan Bu Vera, dia pamit pulang. Langkahnya diantar oleh tatapan penuh harap Bu Vera, yang berharap dia akan membantu Rania mendapatkan kebahagiaannya.


Rania masuk ke rumah lalu ke kamarnya. Dia berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke kedai. Bu Vera menatapnya dengan heran.


"Mau kemana sayang?" tanya bu Vera khawatir.


"Ke warung bu, babe pasti sibuk, Nia mau bantuin" ucap Rania sambil mengaitkan tas selempangnya di bahu.


"Ya sudah, hati-hati!" ucap Bu Vera.


"Ibu ini, kan cuma ke depan sedikit, jalan paling belasan langkah. Kok bilang hati-hatinya kayak yang mau pergi jauh" ucap Rania.


"Ya hati-hati dong sayang, kan kamu lagi hamil. Jangan terlalu banyak kerja, jangan terlalu cape" jelas Bu Vera sambil mengusap perut Rania.


Rania menatap perutnya yang mulai menonjol, sangat terlihat dan dia pun merasa begah. Dia menghela nafas, kemudian menaruh tas selempangnya. Bu Vera memperhatikan tingkahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Bu Vera.


"Aku...ngerasa begah bu, aku nggak jadi pergi, aku mau tiduran aja di kamar ya bu" ucap Rania mengeluh seolah ada yang terasa sakit.


Bu Vera terheran, dia menghela keras. Semakin hati semakin khawatir saja dengan tingkah Rania. Namun perasaannya sedikit lega karena Dila sudah mengetahuinya. Dia berharap saudari kembar putrinya itu bisa menyelesaikan kekhawatirannya ini.

__ADS_1


__ADS_2