
Vero mengubah tempat pertemuan, dia menemui Nurdin di sebuah warung nasi tegal terkenal di daerah dekat rumah Nurdin. Dia membawa sebuah tas kertas kecil, hadiah untuk Pak Nurdin.
Nurdin datang dari arah rumahnya dan tersenyum setelah melihat Vero duduk di dalam warteg.
"Den! Wahh....Aden kok mau repot-repot ke sini?" sapa Nurdin.
Vero tersenyum, dia memeluk Nurdin dengan erat.
"Pak Nurdin, apa kabar?" tanya Vero.
"Baik Den! Aden sendiri?" Nurdin mengusap lengan Vero.
"Alhamdulillah baik Pak. Ayo Pak, kita makan! Aku sengaja ke sini, kangen makan sama bapak" ucap Vero.
Nurdin tersenyum, dia menurut dan memesan makanan pada pelayan yang menyiapkan dua piring untuk mereka.
Mereka makan dengan tanpa perbincangan. Seperti biasa Vero fokus dan menyegerakan makannya. Nurdin pun sama, kebiasaannya bekerja di luar negeri membuatnya jadi lebih cepat makan.
Vero buru-buru menanyakan hal yang sangat ingin dia tanyakan.
"Tempo hari Bapak ngirim pesan bahwa Rania nelpon Bapak. Sekarang gimana? dimana dia?" tanya Vero.
Nurdin sudah menduga bahwa Vero akan menanyakan tentang Rania. Dia tersenyum.
"Iya, ponsel saya rusak setelah saya marah sama ibu asuhnya Rania. Dibenerin cuma bisa nerima telpon aja, Den" jawab Nurdin.
Vero ingat dengan hadiah yang akan dia berikan, dia menyodorkan tas keras yang dibawanya.
"Oh ya, ini handphone baru untuk Bapak" ucap Vero.
"Ooh Den ...maksud saya bukan minta hp baru!" Nurdin menolak.
"Ga apa-apa Pak, mulai dari sekarang saya akan sangat butuh bantuan Bapak. Kedepannya saya akan selalu menelpon Bapak terkait Rania" jelas Vero.
Nurdin mengangguk.
"Makasih ya Den!" ucap Nurdin.
"Terus...soal Rania?" tanya Vero lagi.
Nurdin menghela.
"Dia bilang, dia di Melbourne Australia. Kerja ngurus orang sakit. Cuman...." Nurdin tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa Pak?" tanya Vero.
__ADS_1
"Saya minta maaf Den, saya juga baru tahu"
"Tentang apa?" Vero tak sabar.
"Rania ke Ausi karena ibu nya menerima uang 250juta sebagai imbalan untuk nya kerja di sana" ucap Nurdin pelan dan ragu.
"Apa?"
Mata Vero membulat karena terkejut juga marah.
"Rania terpaksa ikut karena takut pria itu menuntut ibunya untuk mengembalikan uang yang diambilnya. Karena uang itu sudah dipakai untuk masuk sekolah Adit" jelas Nurdin.
Vero tak menyangka, dia sampai habis kata-kata untuk mengomentari cerita Nurdin.
"Maaf Den, mungkin seharusnya saya ngga pergi ke Arab kemarin" sesal Nurdin.
"Mungkin juga seharusnya saya ga ngambil mutasi ke Bali tahun lalu" ucap Vero yang juga menyesali keadaan.
"Maafin saya Den, saya ngga bisa jaga adik Aden dengan baik!" ucap Nurdin.
Vero menghela, dia menatap jalanan yang ramai dengan mobil dan motor yang hilir mudik dengan tatapan kosong.
"Kemarin, adik saya yang satunya lagi datang ke restoran. Dia ngelamar kerja sama saya" ucap Vero.
Nurdin menatap nya dengan terkejut.
Nurdin menunduk, dia merasa sedih mendengar ucapan Vero. Dia mengusap punggung Vero dan mencoba memberikan semangat.
"Saya harap kalian bisa dipertemukan dalam situasi dan keadaan yang sangat menyenangkan. Sehingga pelukan kalian sangat erat dan membuat kalian takkan lepas lagi" ucap Nurdin.
###
14 tahun yang lalu.
Vero yang berusia 16 tahun, tak sengaja mendengar percakapan ayah dan ibunya tentang putri mereka kembaran Dila yang mereka titipkan pada Heru mandor bangunan saat membangun mall mereka.
Mereka menceritakan semuanya pada Vero saat mereka tahu Vero mendengarnya.
Sebuah perjanjian telah disepakati oleh Wirawan Subagja ayah Vero dengan Ardiana Atmajaya ayah Bondan, perjajian perjodohan antara Bondan dan anak yang akan lahir dari rahim Retno Subagja.
Awalnya Wira dan Retno sangat setuju dengan perjanjian itu, namun pernikahan Ardiana dan Anita berlangsung secara mendadak. Wira dan Retno yang tak menyukai Anita, hendak memutuskan perjodohan itu. Karena Anita mengatakan akan menjodohkan putranya dengan putri Subagja.
Mereka yang tahu sifat buruk Anita mencoba berbagai cara untuk menghindari perjodohan itu.
Retno melahirkan di kampung halamannya di Jawa Timur. Dia melahirkan dua putri kembar diberi nama Dila dan Dira Aryani Subagja.
__ADS_1
Mereka sangat bahagia dengan kelahiran putri kembar mereka, namun di samping itu ada rasa khawatir yang membuat mereka takut.
Mereka takut jika Anita mengetahui, dia akan menjadi serakah dan menjodohkan kedua putri mereka dengan kedua putra Atmajaya.
Keadaan semakin buruk saat bayi Dila mendadak kritis dan lemah. Dokter mengatakan bahwa kesempatan hidup bayi Dila mungkin hanya bisa bertahan dalam hitungan bulan saja.
Retno dan Wira pasrah, namun membuat sebuah rencana. Wira sangat percaya pada temannya Heru yang saat itu hanya menjadi mandor bangunan. Dia merencanakan akan menitipkan bayi Dira agar tak tersentuh oleh Anita.
Mereka akan membawa bayi Dila yang sekarat ke Jakarta dan membiarkan bayi Dira hidup bersama Heru hingga mereka bisa menjemputnya kelak.
Namun sayang, sebuah kesalahan terjadi. Mereka salah membawa bayi, bayi Dira yang mereka bawa ke Jakarta dan bayi Dila yang dititipkan pada Heru.
Mereka menyadari itu saat setelah mereka memperkenalkan bayi Dira sebagai putri mereka yang lahir di Jawa Timur dan menyembunyikan fakta bahwa Retno melahirkan bayi kembar.
Waktu berjalan, bayi yang mereka namai Dila Aryani Subagja tumbuh sehat. Sementara Heru merawat bayi yang memang sakit-sakitan dan diberi nama Rania Ramadhania.
Rencana perjodohan masih berlanjut tanpa memberi tahu putra putri mereka. Vero pun terkejut mengetahuinya.
Tak berapa lama, dari saat mereka memberi tahu Vero tentang Rania, terjadi sebuah kecelakaan yang membuat Wira, Retno, Ardiana bahkan juga Heru meninggal dunia.
Vero melihat Rania saat itu, menangis terisak menatap mayat Heru yang dianggapnya ayah. Perlakuan tidak adil dari ibunya pun, dia menyaksikannya.
Vero menjadi sedih, dia pergi dari rumah dan tak memperdulikan rumah juga harta warisan keluarganya. Dia meninggalkan Dila dalam keadaan sedih. Dila yang manja dan sangat kekanakan tak bisa hidup sediri.
Dila sakit parah sepeninggal kedua orang tuanya dan juga Vero. Hingga dia lupa pernah punya Vero kakak laki-lakinya. Terlebih mereka memang tak terlalu dekat saat mereka kecil karena orang tua mereka terlalu memanjakan Dila dan tak menghiraukan Vero yang dianggapnya sudah lebih dewasa.
Dila kemudian di asuh oleh Anita dan di arahkan menjadi sesuai keinginan Anita.
Sejak umur 17 tahun, Vero selalu mengawasi Rania dan sering menemui nya. Berperan sebagai kakak, dia sering membantu Rania tanpa sepengetahuannya.
Hingga Vero dewasa dan mengarahkan Rania untuk bekerja di restoran bersamanya.
Suatu hari, pengacara pribadi Wirawan Subagja ayah Vero, yang bernama Wandy datang menemuinya. Dia memberi tahu tentang sebuah perjanjian antara Atmajaya dan Subagja group.
Vero lekas melindungi Rania. Dalam perjanjian, putra-putri kedua belah pihak akan di nikahkan pada usia 22 tahun usia perempuan. Selain dianggap sudah dewasa, usia itu cukup layak untuk menikah. Tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.
Vero menjaga agar Rania benar-benar tak tersentuh oleh Atmajaya Group. Hingga dia meminta Yudi tak melepasnya dari restoran.
Kini, Rania entah ada dimana. Vero kehilangan jejak Rania. Namun malah Dila yang kembali padanya.
Vero sangat menyesali perbuatan kedua orang tuanya. Ketakutan mereka pada Anita Atmajaya membuat mereka memisahkan kakak dari adik dan membuat mereka tak saling mengenal.
"Aku nggak paham cara pikir momi sama papi Pak, kenapa mereka malah misahin kami. Dulu, waktu mereka begitu sayang sama Dila sampai-sampai lupa sama aku anak laki-lakinya, aku sangat merasa sedih. Tapi setelah tahu mereka menitipkan Rania pada Pak Heru, rasanya tak aneh jika mereka mengacuhkan ku" ucap Vero pada Nurdin
Nurdin hanya diam, dia mengetahui semuanya dari Heru. Dia juga jadi sering bertemu Vero semenjak menjemput jenazah Heru di rumah sakit.
__ADS_1
Nurdin terkulai melihat ketiga saudara yang tidak saling mengenal ada dalam satu rumah sakit yang sama namun menangisi orang-orang yang berbeda.
Nurdin menghela mengingat masa kelam itu. Dia mencoba mencari nomor yang telah menghubunginya saat Rania menelpon tempo hari.