Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
44


__ADS_3

Arumi berdiri dekat pintu ruangan Vero, menatap dua pria berbadan besar dan sangar, sedang mengamuk dan meminta jatah keamanan. Fajri berusaha bicara dan meminta mereka untuk tenang. Yudi dan kru lainnya sedang siap untuk melawan dengan peralatan dapur jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


Sementara Dila sedang berdiri di pintu keluar mencoba untuk lari dan mencari bantuan. Namun dua pria lagi masuk dan menahan Dila dan menyeret lengannya untuk masuk dan duduk di kursi.


Yudi hendak melawan karena melihat Dila diperlakukan kasar. Namun beberapa kru dapur menahannya untuk bersabar. Yudi pun menghela dan menatap Dila yang terlihat ketakutan.


"Mana bos kalian? kenapa tidak datang juga sedari tadi? sudahlah....kalian saja yang bayar...hanya 1 juta untuk kami sebagai upah keamanan di daerah ini. Jika tidak...."


"Apa? Jika tidak kenapa?" ucap Vero datang.


Kedua pria itu senyum mengejek pada Vero dan hendak menaruh tangannya di bahu Vero. Namun Vero menangkis nya kemudian menjauh darinya.


"Hai Bos besar, aku ketua keamanan di sini. Kau harus membayar ku sekarang 1 juta. Jika tidak...aku tidak bisa menjamin keamanan restoran ini saat malam" ucap salah satu pria itu.


Vero menyeringai menertawakan ucapan pria itu.


"Sejak kapan? Saat pertama aku membangun restoran ini, tak ada hal seperti ini. Kenapa tiba-tiba sekali kalian melakukan ini?"


"Hahahaha....kau meragukan ku? Kau tidak percaya dengan ucapan ku? Tanyakan pada semua pemilik toko di deretan dua blok ini. Semua tahu aku ketua keamanan di sini"


"Tentu saja aku tidak percaya, kalian lebih terlihat sebagai sekumpulan orang yang tak punya pekerjaan dan sedang memeras sebuah restoran dengan alasan keamanan" ucap Vero.


Pria itu sangat tersinggung dan marah, dia menarik kerah Vero dan hendak memukul. Arumi dan Dila juga kru wanita menjerit melihat Vero hendak di pukul. Namun dengan sekejap Vero menangkis dan berbalik memukul pria tegap itu.


Yudi dan kru pria lainnya mendekat dan hendak mengeroyok mereka. Namun Vero menahan mereka dan menawarkan topangan pada pria tegap yang jatuh karena dia pukul.


"Sebaiknya kalian pergi sebelum polisi datang. Aku sudah melaporkan ada keributan di sini" ucap Vero.


Pria itu menatap tajam pada Vero dan menangkis tangannya. Ketiga pria lainnya pergi setelah diisyaratkan untuk keluar oleh nya.


Arumi berlari memeluk Vero, khawatir dan merasa takut sekaligus lega karena mereka sudah pergi dari sana.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Vero.


Arumi melepas pelukannya dan menatap Vero.


"Aku takut sekali. Ku kira mereka hanya berdua, tapi setelah dua pria lainnya menyeret Dila aku semakin terkejut sekaligus takut"jawab Arumi.


Vero melihat khawatir ke arah Dila yang dilihatnya sedang dirangkul oleh Yudi.


"Kau pasti ketakutan" ucap Yudi.


Dengan lembut dia memeluk Dila dan mengusap rambutnya untuk menenangkannya.


Lalu Fajri membawakan minum untuk Dila.


"Minumlah dulu, tangan mu gemetar" ucap Fajri.


Yudi mengambil gelas nya dan membantu Dila minum. Vero menatapnya, ingin memeluk adiknya dan menenangkan nya, namun lebih tenang karena Yudi dan Fajri sudah melakukan sebagian tugas yang seharusnya dia lakukan.

__ADS_1


"Untung kau datang, kami sedikit bingung harus berbuat apa. Awalnya hendak memberikan saja uang untuk mereka, tapi aku sedikit ragu" ucap Fajri.


Vero menatapnya dengan aneh.


~Dia terlihat mencari alasan yang seolah benar-benar harus dia utarakan~


"Lain kali lakukan apa yang terbaik, sebelum terjadi hal tak diinginkan. Untung aku pergi tak terlalu jauh dan bisa sampai dengan cepat. Kau manager di sini, sudah kewajiban mu melakukannya bukan?" ucap Vero.


Yudi menatap Vero dengan heran, dia yang biasanya selalu ramah pada Fajri terlihat kesal mendengar alasan Fajri dan terdengar ketus. Vero menatap sekeliling dan menghela.


"Kalian bisa istirahat sebentar untuk menenangkan diri. Semoga saja hal ini tidak mempengaruhi datang nya pelanggan"


"Baik pak!" jawab beberapa dari mereka.


Yudi masih menemani Dila dan menenangkannya. Sementara Vero masuk ke ruangannya di susul Arumi. Kemudian Fajri masih terdiam berdiri menatap Vero.


"Lenganku sakit" ucap Dila.


Dengan manja Dila menyandarkan kepalanya di bahu Yudi. Fajri kesal mendengar dan melihat mereka dan pergi ke dapur.


Sementara Vero duduk dengan kesal di kursinya. Arumi yang baru masuk melihatnya.


"Kenapa kau jadi marah pada Fajri?" tanya Arumi.


"Apa aku terlihat marah?" tanya Vero.


Arumi mendekat dan memijat dahi Vero dengan lembut. Vero memejamkan mata dan memeluk pinggang nya.


"Sekarang sudah lebih baik?" tanya Arumi.


"Hmmm...nyaman sekali" ucap Vero.


"Jangan menyalahkan Fajri, dia sudah berusaha bicara pada mereka tadi. Dia juga mendapatkan bentakan kata-kata kasar dari mereka"


Vero berpikir dan merasa bahwa dirinya terlalu jelas menunjukkan kekecewaannya pada Fajri.


"Aku akan bicara padanya setelah kau memijat ku" ucap Vero.


Dia kembali memejamkan matanya dan lebih erat memeluk Arumi.


Di Melbourne.


Anita mendapat telpon dan tersenyum sambil menyentuh wajah Vero di foto yang ada di mejanya.


"Benarkah? Bagus, terimakasih" ucap Anita.


Dia memutuskan telpon dan menatap foto Rania dan Vero di hotel.


"Hufff....kasian sekali. Ini baru di mulai. Aku akan membuat satu persatu dari kalian menyerah dengan semua ini" ucap Anita sambil tersenyum.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Beni datang tanpa mengetuk pintu.


"Bersiaplah Mom, besok kita kembali ke Jakarta" ucap Beni.


Anita terkejut dan langsung menyembunyikan foto Vero dan Rania ke bawah meja. Beni melihat gerakan Anita yang membuatnya curiga. Namun dia hanya menatap dan tak mengatakan apapun.


"Secepat ini?" tanya Anita gugup.


"Iya!" jawab Beni singkat.


Beni berbalik hendak kembali.


"Kamu mau balas dendam sama momi ya?"


Ucapan Anita membuat langkah Beni terhenti. Beni menyeringai dan berbalik.


"Orang yang dalam hatinya tersimpan banyal dendam akan mengira semua orang akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dipikirkannya" ucap Beni.


Anita terlihat kesal dengan ucapan Beni, mencoba mengalihkan pandangannya dari mata putra nya yang selalu dia perlakukan kasar sejak kecil.


Beni masih memandang kegelagapan ibunya. Dia ingat semua perlakuan ibunha yang sangat tidak manusiawi padanya. Namun merasa sudah terobati dengan sikap manis nya selama menjadi bagian dari keluarga Atmajaya, meskipun dia tahu itu semua hanya sandiwara.


"Aku sudah merasa sangat bersyukur momi mau memperlakukan ku dengan baik beberapa tahun ini. Meskipun aku tahu itu semua hanya sandiwara" lanjut Beni.


Anita menajamkan pandangannya pada Beni.


"Takkan ada balas dendam dari seorang putra yang mendambakan kasih sayang ibunya"


Anita menghela mengejek ucapan Beni yang menurutnya terlalu melankolis.


"Aku akan terus berusaha mencari bagaimana caranya, meskipun aku tahu bahwa aku takkan mendapatkannya"


Beni pergi tanpa pamit. Anita hanya diam, kemudian mengembalikan foto Vero dan Rania ke kotak.


Ditatapnya wajah Ardiana yang ada dalam foto di mejanya.


~aku kira akan mudah menjadi istri mu, kau mempersulit keadaan dan membuat ku terpaksa menjadi seseorang bukan diriku~ ucap hati Anita.


Dia mengalihkan pandangannya agar tak terlalu mendalam menatap Ardiana, kemudian meraih ponselnya lalu menepon Ryan.


"Katakan padaku apa yang dikatakan Saga!" pinta Anita.


"Dia tak mau mengatakan semua nya padaku, dia hanya ingin bicara di depan semua anggota keluarga Atmajaya dan Subagja. Tapi....setelah aku mengatakan kesalahannya, dia menjadi ragu dan hanya ingin bicara dengan mu, kau tahu? Dia merubah keputusannya karena aku, kau harus mengirimkan imbalannya hari ini" ucap Ryan.


"Apa hanya uang yang ada dalam benak mu? Aku sudah tidak berarti karena hasrat mu sudah terlampiaskan pada gadis itu?" ucap Anita cemburu.


"Hahaha....sayangku...jangan marah, kau adalah ratuku, mana mungkin kau tergantikan. Jangan cemburu dengan seorang selir, kau tetap yang utama" ucap Ryan.


"Aku tidak melakukan apapun pada gadis itu, itu menandakan adanya perasaan mu padanya. Tapi tidak apa-apa, nanti...aku sendiri yang akan melakukannya" ucap Anita sambil meremas kertas di mejanya.

__ADS_1


__ADS_2