Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
54


__ADS_3

Dila berdiri dan menerima semua yang sudah dikatakan Vero.


"Tapi aku belum bisa bicara dengannya, jujur sejak awal aku sudah tidak suka padanya. Jadi untuk dia, tolong jangan paksa aku" ucap Dila pada Vero.


Vero menatap Rania yang berdiri menatap mereka, menunggu mereka mendekat. Rania sangat berharap Dila bisa datang dan memeluknya. Namun Dila pergi meninggalkan Vero dan sama sekali tak menatapnya.


Rania menunduk dan meneteskan air matanya. Teringat saat pertama kali dia datang ke Jakarta sepulang dari Australia. Dia menatap ibunya yang sedang berjualan di pasar sendirian. Sangat ingin memeluk dan bicara namun tak bisa. Dia juga berkunjung ke sekolah Aditya namun sulit untuk meluapkan kerinduannya. Momen yang sama, dia sangat ingin memeluk Dila. Namun sulit, situasinya sangat sulit untuk diceritakan.


Vero mendekat dan memegang tangan Rania kemudian mengusap air matanya.


"Dia belum mau bicara sama kamu, dia sedikit..."


"Ngga apa-apa Bang, aku paham" jawab Rania.


"Tadi kamu sengaja ke sini?" tanya Vero.


"Iya...aku mau lihat Abang, tadinya mau kirim pesan buat ketemuan di sini, tapi...."


"Ya....seharian Dila murung, jadi aku tanya. Dan kejadiannya seperti ini"


Rania memeluk Vero.


"Ya sudah, aku pamit. Orang rumah Ruby pasti nyariin aku" ucap Rania pamit.


Vero mengangguk dan membelai rambut Rania.


"Baiklah! Hati-hati, aku harus masuk dari sini" ucap Vero.


"Oke, bye Bang" pamit Rania.


Vero masuk dan dia terkejut karena Arumi berdiri di hadapannya. Vero terdiam menunduk, namun Arumi mendekat dan memeluknya.


"Aku baru paham alasan kamu overprotective sama mereka berdua" ucap Arumi.


Vero menghela kemudian mengerti bahwa Arumi mendengarnya.


"Berada di posisi kalian bertiga pasti sangat sulit, kamu harus jadi penengah juga pelindung bagi mereka berdua" lanjut Arumi.


Vero semakin erat memeluknya.


"Aku sangat beruntung karena memiliki mu" ucap Vero.


Arumi melepas pelukannya dan menatap wajah Vero yang matanya memerah karena telah menangis. Mereka berdua masuk dan bersikap biasa seolah tak terjadi apapun. Dila meminta agar Vero tak mengatakan apapun di depan yang lainnya terutama Yudi. Dila sendiri yang akan mengatakan pada Yudi di waktu yang dia inginkan.


###


Sampai di rumah Ruby, Rania mendapat pesan dari Dina untuk langsung masuk ke ruang kerja Bondan. Rania sedikit bingung namun langkah kakinya terus menuju ruang kerja di atas.


Dia membuka pintu perlahan setelah mengetuk pintu. Semua orang berdiri di sana. Anita duduk di sofa bersama Dina. Beni berdiri dekat jendela, kemudian Bondan duduk di kursinya. Rania menatap mereka bergantian tak tahu apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Dina hendak memberi kode namun, Beni berbalik dan mulai bicara.


"Kamu sudah datang!" ucap Beni.


"Ya...aku habis jalan-jalan tadi" ucap Rania.


Bondan masih diam tak menatapnya.


"Kak Bondan bilang kamu bukan Dila. Kamu adalah Rania dan dia bilang kamu adalah anak gadis yang fotonya diberikan untuknya sebelum dia meninggal. Ayah Ardi menjodohkan kalian"


Rania membulatkan matanya terkejut dengan semua perkataan Beni. Matanya beralih menatap Bondan yang masih belum menatapnya.


"Apa kamu ngga bilang kalo aku udah tahu lama tentang kamu bukan Dila, tapi Rania Ramadhania" lanjut Beni.


Rania semakin terkejut dan menganga menatap wajah Beni. Dia mengalihkan tatapannya pada Bondan yang meremas kertas di mejanya.


~Apa yang terjadi? Apa Bondan..?~ ucap hati Rania.


"Apa kamu juga udah tahu tentang bahwa sebenarnya kamu sama kak Bondan yang dijodohkan bukan kita?"


Rania menghela nafas dan hendak mendekat pada Beni untuk menjelaskan semua nya. Namun Beni mengangkat tangannya berisyarat agar Rania tetap pada posisinya.


"Dengar! Yang orang tahu, kalian berdua yang tunangan. Itu sudah terjadi, apa yang akan momi katakan sama mereka kalau pasangan tiba-tiba berubah?" ucap Anita.


Rania meliriknya. Dalam benak Rania, Anita hanya ingin menjodohkan dia dengan Beni hanya untuk harta. Dia sama sekali tak menanggapi semua perkataannya.


"Aku bisa jelaskan, kita bisa bicara di kamar mu" ucap Rania hendak menenangkan Beni.


"Aku sudah bukan orang sakit lagi Rania!" ucap Beni.


Rania mendekat dan meraih tangannya.


"Aku sudah bisa bekerja, aku bahkan sudah menyiapkan pernikahan impian kita. Dan semua orang berkomentar bahwa itu konsep yang sangat indah. Aku mampu menerima semuanya Rania. Katakan...katakan padaku kau tidak tahu kalau kalian lah yang dijodohkan" ucap Beni dengan emosional.


"Kita ke kamar mu, kita akan bicara di sana. Hmm!" ajak Rania.


"Dia sudah bilang dia mampu menerima semuanya. Katakan saja di sini, jelaskan padanya bahwa kamu masih di sisi nya hanya karena alasan kesehatannya" ucap Bondan sambil berdiri.


Anita dan Dina menghela, mereka terlihat sangat tidak suka momen ini.


"Abang! Kenapa sih? Abang bisa dapet wanita yang lebih cantik dan baik dari Rania. Udahlah relakan mereka menikah. Momi ngga punya muka lagi kalo kalian memutuskan hal lain" ucap Anita.


"Tapi aku cinta sama Rania mom!" jawab Bondan.


Rania menghela lagi sementara Dina menatapnya dan meneteskan air mata, perasaannya tak diperhatikan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Sudah cukup aku mengalah, Beni sekarang sudah lebih baik. Dia harus bisa menerima bahwa aku dan Rania yang sebenarnya dijodohkan. Dan kami saling mencintai" lanjut Bondan.


Beni melepas tangan Rania, dengan perlahan melangkah keluar dari ruangan itu. Rania menatap kesal pada Bondan. Dia hendak menyusulnya namun Bondan menahan tangannya.

__ADS_1


Anita dan Dina mengejar Beni untuk menenangkannya.


"Kenapa kamu ngelakuin ini?" tanya Rania dengan menahan kesalnya.


"Aku kesal karena dia terus mengatakan rencana pernikahan kalian" jawab Bondan.


Rania melepas tangan Bondan.


"Kamu bisa nahan kesabaran sejak kecil dan berkorban untuk Beni. Tapi ngga bisa nahan untuk waktu yang aku minta sama kamu?" ucap Rania.


"Kapan? kapan waktu yang tepat itu? kamu juga ngga bilang kalo momi sama Beni tahu kalo kamu itu Rania. Seharusnya aku yang marah" ucap Bondan.


Rania menahan emosinya dengan mengambil nafas dalam.


"Banyak yang kamu tidak ketahui. Sebaiknya pikirkan lagi tentang perjodohan ini. Aku takut kamu banyak kecewa dengan semua yang tidak kamu ketahui" ucap Rania.


Dia pergi menyusul Beni meninggalkan Bondan dengan banyak pertanyaan dalam benaknya tentang kalimat terakhirnya. Bondan terduduk merasa bahwa itu memang bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.


Sementara di bawah, Rania mengetuk pintu kamar Beni yang dikuncinya dari dalam.


"Beni....Ben....buka pintunya. Ini aku Rania! Please open the door. Please!"


Rania menangis, dia merasa kejadian ini seperti de javu. Terulang lagi, saat dimana pertama kali dia bertemu dengan Beni. Situasi yang sama.


"Aku mohon Ben, buka pintunya" ucap Rania dengan berderai air mata.


Dina dan Anita yang berada di belakangnya khawatir dengan keadaan Beni. Mereka takut Beni melakukan hal bodoh lagi.


Rania terus mengetuk pintu dan semakin putus asa. Hedi menghampiri dan menawarkan diri untuk mendobrak pintunya. Rania mundur dan menatapnya dengan penuh harap.


Namun suara kunci terdengar dan pintu pun terbuka. Beni berdiri dan kembali duduk ke ranjangnya. Hedi lega karena tak harus mendobrak. Rania dan Dina juga Anita masuk.


Anita duduk di sampingnya dan memeriksa keadaan Beni.


"Kamu ngga ngelakuin hal itu lagi kan?" tanya Anita dengan wajah khawatir menatapnya.


"Aku mau bicara sama Rania berdua" ucap Beni.


Anita menatap Dina dan mereka pun keluar.


Rania masih menangis, meski tahu Beni tak melakukan hal bodoh seperti bunuh diri lagi, namun dia tahu kalau Beni sangat terluka dengan kenyataan ini.


"Maafkan aku!" ucap Rania.


Beni menyuruhnya duduk di sampingnya. Dia membelai rambut Rania.


"Katakan padaku.....dengan jujur! Apa kamu cinta sama kak Bondan?" tanya Beni.


Rania menunduk, tak tahu harus menjawab apa. Dia mencintai Bondan dan juga mencintai cara Bondan mencintainya. Namun tak bisa begitu saja mengatakannya pada Beni.

__ADS_1


"Jadi karena itu kau selalu menahan diri bersama ku. Kau berusaha agar aku tak menyentuh mu. Karena kau mencintai orang lain, bukan aku"


Rania semakin tak bisa bicara lagi.


__ADS_2