
Alarm ponsel berdering di jam 04.00 pagi. Dengan menutup telinganya, Dila mencari ponselnya yang hendak dia matikan. Namun melihat dengan mata yang masih berat untuk terbuka, ponselnya sama sekali tak berdering.
"Lalu..ponsel siapa yang berdering?" gumamnya.
Suara dering terdengar, namun getarnya seolah menggerakkan sebuah kotak. Dila berdiri dan mencari asal suara. Dengan mendahulukan kepalanya, Dila mendengar asal suara dari dalam loker. Mencoba membukanya namun tak bisa karena di kunci. Dia pun menghela, alarm itu akan berbunyi sampai beberapa menit kedepan. Dila duduk kembali di sofa dan mencoba memulihkan kesadarannya.
Sementara itu, di rumahnya, Yudi terperanjat bangun dari ranjangnya. Dia berpikir dan mengingat kejadian yang dia alami semalam.
"Rasanya seperti nyata, aku menyentuh pipinya dan mencium keningnya" ucapnya sambil menyentuh bibirnya sendiri.
Yudi langsung ke kamar mandi dan bersiap untuk ke restoran, untuk memastikannya.
Di perjalanan, dia mendapat telpon dari Nuri yang selama seminggu ini merasa kesal padanya karena mengundurkan diri secara mendadak. Dapur My Spagheti menjadi kacau karena pengunduran Rania dan Yudi.
"Ya!" jawab singkat Yudi.
"Hei...Chef Yudi yang menyebalkan, kali ini kau harus mengatakan alasan mu keluar dari dapur My Spagheti. Aku masih belum puas dengan jawaban yang tak jelas kemarin. Kebiasaan mabuk mu yang baru membuatku kesal mendengar jawabanmu!" Nuri terus bicara tanpa henti.
"Aku melihat Rania!" ucap Yudi.
Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan, Yudi malah mengatakan hal yang membuat Nuri terdiam selama beberapa detik.
"Apa kau sudah gila? Rania sedang di Australia dan masih bekerja di sana. Waahhh luar biasa sekali, pagi-pagi begini kau sudah mabuk"
Nuri mencoba menyadarkan Yudi yang dia sangka masih belum sadar dan menerima kepergian Rania. Atau menyadarkannya dari mabuk minuman.
"Ini semua salah mu sendiri, sudah ku bilang kan! katakan padanya kalau kau mencintainya dan ingin dia tetap tinggal. Tapi kau yang bodoh itu, malah menyemangatinya supaya menjadi sukses. Gila, sekarang kau gila sendiri karena penyesalan mu" Nuri nyerocos lagi.
"Datang lah ke restoran barunya Vero jika kau tak percaya, aku akan shareloc" jawab Yudi singkat.
Dia langsung menutup telpon Nuri dan mengirimkan lokasi restoran yang sudah ada dihadapannya.
Nuri geram dengan sikap Yudi yang semakin menyebalkan dan menutup ponselnya begitu saja.
Yudi membuka pintu depan dan langsung pergi ke ruang ganti. Arumi dan Vero yang ada di sana tak dihiraukannya. Dia membuka pintu dan melihat sofa di sana, kosong.
"Kemana dia?" tanyanya.
Yudi kembali keluar dan menunjuk ruang ganti.
Vero dan Arumi yang sedang bicara menjadi heran melihatnya. Vero melihat arah yang Yudi tunjuk. Arumi pun sama.
"Dia! Kamu panggil dia buat kerja di sini kan? Sekarang dimana dia?" tanya Yudi panik.
Arumi menatap Vero dengan rasa curiga.
"Siapa? Kamu rekrut orang tanpa mengatakannya padaku?" tanya Arumi.
Vero melongo, dia merasa tak melakukannya, namun ragu seolah mencari maksud dari perkataan Yudi.
"Kau mabuk?" tanya Vero.
Tatapan Arumi beralih pada Yudi, ya mereka tahu kebiasaan baru Yudi selama sebulan ini. Arumi mendelik dan tak menhiraukan ucapannya lalu kembali menatap laptopnya.
"Dia! Aku melihatnya tadi malam, Rania tidur di sofa. Aku membangunkannya tapi dia tak bangun lalu...."
__ADS_1
Yudi berhenti bicara, dia menyaring perkataannya dan tak mengatakan saat dia mencium keningnya.
Arumi dan Vero saling menatap. Mereka menertawakan kepanikan Yudi.
"Dia bukan Rania!" ucap Arumi.
Yudi terihat bingung dengan ucapan Arumi.
"Dia...."
Belum selesai Vero bicara, Dila datang dari dapur memperlihatkan hasil potretnya menggunakan ponselnya.
"Ini...ini aku ambil hanya dengan ponsel. Jika diambil menggunakan kamera profesional maka akan lebih baik hasilnya!" ucap Dila dengan semangat.
Yudi, Arumi dan Vero menatapnya. Vero meminta ponselnya, Arumi mendekat pada Vero untuk ikut melihat hasilnya. Sementara Yudi diam terpaku menatap wajah Rania dengan rambut yang pendek.
"Ok, ini sudah terlihat bagus. Nanti jika sudah ada perkembangan, kita beli kamera pro" ucap Vero.
Vero memberikan ponselnya pada Arumi untuk dia lihat lagi. Arumi mengangguk dan mengakui hasil potret Dila cukup bagus.
"Ok bagus! Jadi, apa lagi yang harus dipotret?" tanya Arumi.
"Masakannya!" jawab Dila dengan senyumnya.
Arumi dan Vero menatap Yudi yang masih terpaku tak bergerak di sana.
"Oh ya, aku sampai lupa. Perkenalkan, ini Dila Aryani Subagja, manager pemasaran baru kita" ucap Vero memperkenalkan Dila pada Yudi.
"Meski masih berusia 19 tahun, tapi dia sudah banyak pengalaman di bidang sosial media. Kami akan mencoba peruntungan promosi lewat sosial media" jelas Arumi.
Yudi menatap dengan harap pada wajah Dila yang mirip dengan Rania. Berharap itu adalah Rania, cintanya. Namun Yudi langsung menyadarinya, menyadari kekecewaannya.
Dila menawarkan jabat tangan, namun Yudi kembali bersikap dingin.
"Oh ....ya!" jawabnya singkat.
Yudi tak menerima jabat tangan Dila. Dia langsung pergi ke ruang ganti. Dila menatapnya, Arumi tersenyum dan Vero kesal pada respon Yudi.
"Hei....!" seru Vero yang tak dipedulikan Yudi.
"Ahhh...apa dia tidak bisa sedikit lebih sopan!" keluh Vero.
"Sudahlah, kau mengerti kan kalau dia kecewa" ucap Arumi.
Dila mendengarkan ucapan Arumi dan Vero. Dia penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Ada apa? Kenapa kecewa?" tanya Dila.
"Tidak...tidak ada apa-apa" jawab Vero.
Vero mengedipkan satu matanya pada Arumi sembari tersenyum. Arumi mengangguk mengerti maksud Vero.
"Ya benar tidak apa-apa!" Arumi menegaskan.
Dila masih penasaran, namun dia tidak bisa memaksa. Hari ini hari pertamanya bekerja. Dia tak mau membuat kesan bahwa dia senang ikut campur dengan urusan orang lain.
__ADS_1
Dila diberikan kesempatan untuk membuat akun sosial media resmi restoran. Dia dibiarkan bekerja di kursi yang dekat jendela.
Di dapur, Arumi meminta Yudi dan kru dapur menyiapkan semua bahan masakan untuk setiap menu yang ada. Yudi diminta memakai seragam chef yang dibawanya agar terlihat rapi.
"Ok, aku mau minta kalian siapkan semua bahan untuk setiap menu yang ada. Juga memakai seragam Vero's Spagheti ini. Maaf terlambat, aku sudah menjanjikan pada kalian seragam ini semenjak resto dibuka, tapi karena satu dua hal, pihak konveksi baru memberikannya dua hari yang lalu. Jadi kalian bisa pakai untuk sesi foto hari ini" ucap Arumi.
Semua orang terdiam, mendengarkan juga bingung dengan apa yang dikatakan Arumi.
"Ayo....ganti pakaian!" seru Arumi sambil menepuk tangannya menyemangati.
Yudi mengambil pakaiannya di urutan terakhir setelah semua orang keluar berganti pakaian. Dapur sepi hanya ada dia dan Arumi. Dia membuka kemejanya di depan Arumi sambil menatapnya.
Arumi yang sudah tak aneh dengan tingkahnya, bersikap biasa saja melihat dada Yudi yang bidang juga perutnya yang sixpack dan memberikan seragam yang akan dia pakai.
"Banyak orang yang lebih memahami tentang pemasaran, kenapa harus gadis itu, yang mirip dengannya" ucap Yudi.
Arumi tersenyum mengejeknya.
"Hei...kau pikir ini drama tentang hidup mu, hingga semuanya harus berhubungan dengan perasaan mu, aishhh....yang benar saja Yud..Yud" ucap Arumi.
"Lalu?" tanya Yudi.
"Dia datang untuk makan lalu menawarkan diri untuk posisi itu" ucap Arumi.
Yudi melihat wajah Arumi yang menyembunyikan suatu perasaan darinya.
"Lalu kenapa dengan wajah mu itu?" tanya Yudi.
"Cara Vero memandangnya, sama dengan cara dia memandang Rania" ucap Arumi sambil menghela.
"Jadi dia juga menyadari kemiripan mereka?" tanya Yudi.
"Ya, kalian sama saja. Rania dan Rania. Dia sangat istimewa di hati kalian" keluh Arumi.
Yudi mengancingkan seragamnya, Arumi melipat pakaiannya tadi dan hendak menyimpannya di loker.
"Dia menganggap Rania sebagai adiknya. Dia sudah menyerahkan perasaan Rania padaku. Aku saja yang bodoh tak menjaganya dengan baik" ucap Yudi.
Langkah Arumi terhenti mendengar ucapannya.
"Tapi sikapnya berbeda setelah tahu kau melepasnya dan bertingkah bodoh belakangan ini. Seolah mencari tahu kemana dia dan bagaimana cara menghubunginya" ucap Arumi tanpa berbalik menyembunyikan bening di kelopak matanya.
"Tidak...dia tidak seperti itu!" elak Yudi.
Arumi kesal dan berbalik.
"Ya...dia begitu. Kau tidak tahu kan, berapa ratus kali sehari dia mencoba menghubungi nomor Rania!" ucap Arumi kesal.
Dia memberikan pakaian Yudi yang tidak jadi akan dia letakkan di loker.
"Simpan pakaian mu sendiri Kak!" ucap Arumi kesal.
Yudi terdiam dan memegang pakaiannya. Dia berjalan keluar dapur, berpapasan dengan beberapa anak buahnya yang selesai berganti pakaian.
Tiba dekat kantor Vero, pintu ruangannya terbuka. Vero terlihat sedang menghubungi seseorang namun seperti tak dijawab. Dia mencoba sekali lagi menghubungi namun tetap terlihat tak bisa.
__ADS_1
Yudi melihat ekspresi Vero yang kesal dan melempar ponselnya ke meja. Yudi sadar apa yang dikatakan Arumi benar. Vero mulai mencari Rania lagi.