
Clara memutuskan untuk pulang ke Singapura, tanpa mengatakan pada siapapun. Bondan dan Vero mencoba menghubungi ayahnya, namun tak pernah diangkat.
Tak lama berselang waktu, Sultan Amir, ayah Clara menghubungi dan mengatakan kalau putrinya baik-baik saja.
Hal ini membuat Vero dan Bondan lega, sekaligus merasa agak aneh. Melihat sifat Clara yang kekanakan dan seenaknya.
"Ya, ini aneh. Seharusnya dia mengadu dan membuat karangan bebas lagi" ucap Vero.
Bondan hanya diam, tapi hatinya juga merasa takut sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tak diinginkan.
"Mudah-mudahan saja semua baik-baik saja" ucap Bondan akhirnya, setelah diamnya.
###
Hari pernikahan.
Dini hari, Dila dan Rania terbangun. Sebelumnya mereka sudah bicara dan akan memberi kejutan sekaligus permainan untuk pengantin juga teman-teman mereka.
Dila mengusulkan untuk merias diri mereka dengan riasan yang sama. Mereka akan membuat sebuah permainan untuk pengantin dan teman-teman termasuk Bondan menebak yang mana Dila dan yang mana Rania.
Awalnya Rania tak setuju karena dia harus memotong rambutnya yang sudah dia rawat panjang beberapa tahun ini. Tapi Rania teringat dengan Yudi yang akan datang untuk memberi kejutan pada Dila. Akan seru jika keadaan berbalik, Yudi yang dikerjai dan kebingungan menentukan siapa diantara mereka yang merupakan Dila, pikirnya. Akhirnya mereka deal.
Pagi saat acara akad, di hotel besar di daerah perkotaan. Vero tampak gagah menggunakan baju pengantin khas Jawa. Dia duduk di depan sebuah meja di hadapan penghulu yang menjadi wali nikah, setelah mendapatkan pesan dari Yudi untuk menjadi walinya.
Arumi yang masih menunggu arahan dari EO, terlihat murung karena kakaknya belum bisa sampai tepat waktu. Tapi Nuri dan Fajri memberikan semangat padanya.
"Yang terpenting adalah dia akan datang. Cepat atau lambat, itu hanya ukuran waktu" ucap Fajri yang melihat kerut di keningnya tak hilang.
"Iya, jangan murung terus. Nanti aura pengantinnya hilang. Vero akan kecewa nanti" timpal Nuri.
__ADS_1
Arumi tersenyum, dia selalu seperti itu. Mudah merasa sedih juga mudah merasa ucapan orang yang menyemangati benar.
"Oh ya, kemana si kembar?" tanya Arumi.
Nuri dan Fajri mengintip ke luar dan mencari dengan matanya. Tapi tak menemukan mereka.
"Nggak ada, kemana ya?" ucap Nuri.
"Nggak biasanya mereka nggak ngasih kabar. Apa Vero nggak nyariin ya?" tanya Fajri.
Staf EO mempersilahkan Arumi untuk keluar dan didampingi Rania dan Dila. Namun dia bingung karena mereka belum juga terlihat. Namun saat mereka berdiri dan hendak melangkah, Rania dan Dila datang dalam penampilan yang sama.
Tak pelak Arumi, Nuri dan Fajri menganga menatap mereka berdua yang sangat cantik, terlebih sangat mirip. Fajri menunjuk mereka bergantian.
"Yang mana Dila dan yang mana Rania?" tanya Fajri.
Mereka berdua hanya tersenyum dan meraih tangan Arumi. Berjalan menuju Vero yang sudah berdiri menyambut. Ya, dia dan para tamu undangan pun sama-sama melongo menatap penampilan pengiring pengantin. Di sudut lain, Bondan menepuk jidat saat menatap mereka.
Akad dimulai, Dila sebenarnya menyimpan kekesalan di hatinya. Yudi mewakilkan perwaliannya sebagai kakak Arumi pada penghulu. Dia kira dia akan datang di acara spesial ini. Tapi dia berusaha menyembunyikan perasaannya agar permainan mereka berdua berhasil hingga akhir acara.
Vero mengucapkan ijab kabul dengan tegas dan lantang. Semua orang bersorak setelah para saksi mengatakan 'SAH'. Arumi mencium tangan Vero sebagai tanda dimulainya ketaatannya sebagai istri. Vero mencium kening Arumi sebagai tanda dimulai dirinya mengambil tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang akan melindungi dan menyayanginya.
Tak terasa air mata Vero menetes saat sesi acara sungkem yang memang sudah rencanakan di skip dari acara, tapi jadi dilakukan saat Bu Vera dan Pak Nurdin juga Bu Yuni bersedia menjadi orang tua mereka dan memberi restu.
Kedua insan yatim piatu itu menatap dalam pada mereka yang sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri itu. Angan mereka kemudian berandai kedua orang tua mereka lah yang duduk menyambut tangan mereka yang akan sungkem itu.
Mereka semua menangis, Dila yang sebenarnya tak terlalu melow pun terpaksa menangis saat Rania mulai mengusap air matanya. Susahnya mempertahankan permainannya sendiri, pikirnya.
Acara berlangsung khidmat. Arumi dan Vero kembali ke ruang rias setelah sesi foto akad nikah selesai. Mereka berganti pakaian untuk acara resepsi yang diadakan langsung di ruangan sebelah tempat akad dilaksanakan, untuk menghemat waktu.
__ADS_1
Dila dan Rania masih mempertahankan riasan mereka yaang fleksible, masih bisa dipertahankan untuk acara selanjutnya. Mereka yang sengaja berpencar membuat Bondan canggung untuk mendekat, takut salah mengajak bicara karena tak bisa membedakan mana Rania dan Dila.
Sementara Nuri dan Fajri mendekati satu persatu dari mereka yang hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman manis mereka. Nuri menepuk lengan mereka satu persatu dengan keras untuk melihat reaksi mereka. Namun mereka yang bertekad sungguh sangat menahan dan hanya tersenyum.
"Ahh....aku yakin yang ini Dila, dia menatapku dengan kesal saat aku memukulnya. Dila kan songong!" ucap Nuri memancing emosinya.
Tapi sayang reaksinya kembali menjadi tawa khas Rania. Nuri mengerutkan dahinya kembali bimbang dengan ucapannya.
Bondan yang awalnya hendak mendekati yang dianggap Nuri sebagai Rania, juga menjadi ragu saat menatap mereka berdua yang secara bersamaan bereaksi menatapnya. Dia menelan salivanya dan mundur kembali.
Dila dan Rania tersenyum puas, mereka sangat puas melihat reaksi teman-teman mereka juga reaksi Bondan. Tapi dalam hati Rania sebenarnya sangat tak tega melihat Bondan yang sangat takut salah merangkul.
###
Di bandara transit, Yudi sudah naik pesawat dan hendak terbang ke Jakarta. Dia sedang bersiap dengan kotak cincin yang dia tatap di tangannya. Rencana melamar Dila saat malam setelah resepsi akan dia lakukan sebentar lagi, dalam hitungan jam lagi.
Hatinya sudah tak sabar untuk bisa sampai di Jakarta lebih awal. Tapi dia hanya bisa bersabar untuk menunggu waktu. Waktu yang selama ini menjadi komprominya untuk bisa kembali bersama orang yang di sayangi.
###
Sebuah van hitam berhenti di depan hotel. Beberapa pria tegap keluar dari dalam van itu dan berjalan menuju resepsi acara pernikahan Vero dan Arumi.
Acara yang baru akan dimulai itu, terlihat mulai ramai tamu undangan. Para pria tegap itu memantau dan mencari-cari seseorang yang menjadi targetnya.
"Aku menemukannya, tapi rambutnya pendek. Arah jam 9 dari pintu masuk" ucapnya pada klip on yang dipasang di kerah bajunya.
Salah satu pria melihat Dila di dekat hiasan bunga dekat pelaminan.
"Bukan arah jam 9, bodoh! Itu arah jam 3" ucap temannya.
__ADS_1
Dia melihat Rania yang berdiri di dekat meja prasmanan yang berseberangan dengan tempat Dila berdiri.
Para pria itu menatap Rania dan Dila bergantian. Mereka kebingungan karena petunjuk foto yang mereka miliki adalah wanita dengan rambut panjang yang wajahnya memang sama dengan wanita yang mereka lihat. Tapi mereka harus memutuskan yang mana yang akan mereka culik.