
Jakarta
Ryan mengikuti Dila yang berdiri dan berjalan menuju taksi yang dia berhentikan. Dila yang telinganya dipasang earphone tak mendengar ataupun sadar bahwa dirinya diikuti.
Duduk di kursi belakang supir, Dila menatap jalanan seolah sedang mendapatkan obat kerinduannya pada Jakarta.
"Dua bulan di Amerika, serasa sudah meninggalkan mu bertahun-tahun" gumamnya.
Mata supir menatapnya saat di terdengar bergumam. Dila melihatnya lalu tersenyum. Supir taksi itu pun membalas dengan tersenyum.
~tapi.....kemana aku akan pergi? tante Anita sudah menghentikan pengiriman uangnya. Hmmm entah apa yang terjadi, apa si Beni bodoh itu benar-benar bunuh diri? sial! aku hanya punya sisa tabungan ku di rekening. Dan bodohnya aku, ujian ku gagal. Mati...mati kali ini kau Dila. Jika kau tidak cepat-cepat punya teman baru, kau akan mati sebagai gelandangan Dila~
Dila bicara pada dirinya dalam pikirannya.
~pertama-tama, aku akan menemui ayah dan ibu. sudah lama juga aku ngga berkunjung ke rumah mereka. aku akan beli banyak bunga untuk mereka~ ucap hatinya lagi.
Wajahnya ceria dan bersemangat.
###
Australia
Rania sedang membantu Beni memakai baju. Tangannya akan diperiksa hari ini di rumah sakit. Mata Beni menatap wajah Dila yang selama merawatnya sangat lembut dan telaten. Dia merasa sangat aneh karena berbanding terbalik dengan Dila yang dia kenal dulu.
~Dila yang dulu, suka terlambat bangun pagi, tak peduli orang di sekitarnya sudah makan atau tidak, mengabaikan pesan dari orang lain juga mudah bosan berada di rumah, tapi dia berbeda, dia lebih cantik jika diam begini. aku jadi ingin mencumbu bibirnya yang berwarna peach itu~ ucap hati Beni.
Beni dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada Dila. Dia mencoba membuat suasana romantis dengan memegang tangannya juga membelai rambut Dila yang sedikit menutupi wajahnya dari pandangannya.
Rania terdiam saat Beni menyentuh tangan dan sedikit menyentuh telinganya. Matanya terpejam sebentar lalu menghela nafas. Beni merasa Dila menyambut tindakannya dan hendak menciumnya.
Namun Rania menahan bibir dan wajah Beni dengan telapak tangannya. Dia mendorong wajah Beni hingga dia hampir terlempar ke ranjang. Beni memejamkan matanya dan menyadari perasaannya salah.
"Cepat! Jangan main-main! Dokter Brian terus menelpon ibu mu sejak tadi. Dia pasti akan ngomel lagi" ucap Rania sambil mengambil pakaian kotor Beni dan keluar dari kamar.
Beni menggigit bibirnya dan tersenyum.
"Aneh, dia berubah total. Menjadi penurut juga sulit untuk di sentuh. Tapi kenapa aku makin suka, aku makin ngga mau melepasnya" gumam Beni.
Beni keluar dari kamarnya, melihat Dila sudah berganti pakaian namun hanya memakai sneakers. Dia menatapnya dan mengerutkan dahinya.
Rania menepuk jidatnya dan kembali ke kamarnya mengganti dengan higheels. Barulah Beni tersenyum dan meminta tangan Dila untuk dikaitkan di lengannya. Namun Dila berjalan di depannya terburu-buru.
Beni menghela lagi.
"Kalau begini mending pas ada momi, kak Bondan atau Dina. Dia sangat perhatian jika ada mereka, tapi selalu begini kalau ngga ada!" gumam Beni mengeluh tentang sikap Dila.
Rania menyiapkan mobil dan melihat Beni sudah berjalan keluar. Dia membukakan pintu untuk Beni, pintu belakang. Beni terdiam dan menatapnya.
Rania ikut terdiam dan melihat tatapannya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rania heran.
"Kamu itu pacar ku atau pelayan sih? Hari ini kamu jadi supir aku gitu? aku duduk di belakang dan kamu duduk di depan?" keluh Beni.
Rania berdecak dan tersenyum menertawakan ucapan Beni.
"Kalau kamu di depan, nanti tangan kamu ga bisa diem, megang tangan aku lah, belai rambut aku lah, benerin rambut aku lah, atau sekedar menyandarkan kepala kamu di bahu aku. Hari ini aku yang nyetir jadi........" jelas Rania dengan membulatkan matanya seolah mengatakan kesimpulan dari matanya.
Beni terlihat sangat kesal. Dia masuk dan duduk di kursi depan dan melipat tangannya di dada.
"Aku ngga akan ganggu! Cepat jalan! Kita udah telat" ucapnya kesal.
Rania tersenyum kemudian berjalan ke kursi kemudi. Mereka pun berangkat ke rumah sakit. Benar saja, selama di perjalanan Beni tetap diam dan tetap melipat tangannya di dada.
Sampai di rumah sakit, Beni masuk ke ruang pemeriksaan. Dia diperiksa oleh dokter junior yang di perintah Dokter Brian. Lalu Rania di minta untuk bicara dengannya di ruang kerjanya.
Awalnya Rania mengira bahwa Dokter Brian akan cerewet lagi perihal perawatan Beni. Dengan susah payah Rania belajar fisioterapi untuk mempercepat kesembuhan Beni.
Namun saat dia melihat Bondan dan Dina yang sedang duduk di ruang Dokter Brian, dia menjadi sedikit aneh.
~Ada apa? Ko mereka di sini?~ tanya hatinya.
Bondan berdiri, Dokter Brian pergi keluar dengan Dina. Rania mengangkat alisnya seolah bertanya pada Bondan.
Bondan yang mengerti kebingungan Rania langsung memberikan ponsel miliknya pada Rania.
Wajah Rania berubah terlihat senang mendengar Babe Nurdin menelponnya, namun kembali sedih karena dia berada jauh darinya.
"Telpon lah, selama Beni dalam pemeriksaan. Di luar itu akan sulit bicara tentang pribadi mu" jelas Bondan.
Rania buru-buru mengetik nomor ponsel Bu Yuni dan menempelkan ponsel di telinganya. Dengan mata berkaca-kaca dia menunggu telponnya diangkat.
"Hallo!" jawab Bu Yuni.
Rania tersenyum dan menggigit bibirnya, sulit bicara setelah mendengar suara Bu Yuni yang dia rindukan. Suara yang setiap dia akan berangkat sekolah hingga kerja selalu menyapanya.
"Hallo!" sekali lagi Bu Yuni bicara.
Nurdin menatap Yuni yang sedang mengangkat telpon dan seperti tak ada jawaban. Dia berdiri dan mendekat, matanya berkaca-kaca. Yuni melihatnya.
"Ngga ada suaranya Bang!" ucap Yuni.
Nurdin mengambil ponselnya lalu bicara.
"Nia! Ini Nia ya?" ucap Nurdin dengan lembut.
Nurdin langsung mengetahui orang yang menelpon adalah Rania. Dia tak bisa bicara banyak pada Yuni yang selalu histeris jika mendengar dirinya menangis.
Rania menangis tak dapat bicara.
__ADS_1
"Kapan pulang sayang? Babe udah pulang, Babe pengen ketemu"
Nurdin menangis sambil bicara, Yuni ikut menangis menatapnya.
Rania masih diam tak bisa bicara. Dadanya terasa sesak mendengar suara orang yang sangat menyayanginya itu. Hanya tangis yang terurai, dia bahkan tak mampu untuk sekedar menyapanya.
Isak tangis Rania terdengar oleh Nurdin, dia semakin berurai air mata dan mengkhawatirkannya.
"Babe susul ya ke Ausi? Babe bakal cari uang buat ngembaliin uang yang udah diambil ibu lu. Ya nak ya!" bujuk Nurdin.
Rania berhenti menangis dan mengusap air matanya. Dia merasa takut Nurdin menyusul ke sana, dia langsung bicara dengan berusaha menahan tangisnya.
"Nia lagi kerja Be, ada kontrak yang harus Nia penuhi. Nia diajarin Babe buat jadi orang yang bertanggung jawab. Nia ngga bisa pulang sebelum selesai kontraknya" ucap Rania berbohong.
Nurdin memejamkan matanya saat mendengar suara gadis yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu. Dia sangat ingin memeluknya seperti saat pertama dia melihatnya dan menggendongnya dari tangan Heru. Dia menangis.
"Asal Nia baik-baik aja disana Babe dah seneng. Kalo Nia mau pulang cepet-cepet bilang Babe ya, nanti Babe susul ke sana, jemput Nia" jawabnya sambil menahan tangis.
"Nia baik-baik aja, doain aja supaya pekerjaan Nia cepet selesai. Nia juga kangen sama Babe sama enyak" ucap Rania.
Dia berusaha membuat Nurdin tenang dan tak terlalu mengkhawatirkannya. Tak lama kemudian Bondan membuka pintu dengan perlahan. Dia memberi kode bahwa pemeriksaan Beni akan segera selesai.
Rania mengusap air matanya dan mengakhiri percakapannya dengan Nurdin.
"Be, Nia kerja dulu ya. Nanti kalo bos Nia ngasih waktu lagi buat nelpon, Nia pasti nelpon Babe lagi" janji Rania pada Nurdin.
Tanpa mendengar jawaban dari Nurdin, Rania menutup telponnya. Nurdin meletakkan ponsel di meja dengan lemah. Yuni melihatnya dan benar-benar penasaran dengan apa yang dikatakan Rania.
"Apa katanya?" tanya Yuni.
"Dia bilang dia baik-baik aja!" ucap Nurdin.
Yuni mengusap bahu suaminya mencoba membuatnya lebih tenang.
"Berdoa aja Be, semoga Nia di sana dikasih kesehatan dan kerjaannya lancar" lanjut Yuni.
Nurdin mengangguk sambil menangis sesegukan. Yuni memeluk suaminya untuk lebih menenangkannya.
Rania bergegas merapikan wajahnya kembali dengan make up. Bondan menatapnya dengan rasa iba.
"Lihatnya jangan kayak gitu! Biasa aja!" ucap Rania sambil pergi ke arah ruang pemeriksaan.
Bondan menatapnya tak henti hingga Rania hilang dari pandangannya.
Dina menepuk bahu Bondan.
"Dah beres? Ada meeting malam ini, di restoran chinese" ucap Dina mengingatkan.
Bondan menatapnya dan mengangguk. Dia berjalan pelan diikuti Dina yang berjalan pelan juga sambil memeriksa ponselnya.
__ADS_1