
Dila duduk termenung di sisi pantai. Saga menatapnya, ingat saat dia menghubungi Vero untuk mengabarkan bahwa Dila ada di sana. Namun Vero terlebih dahulu mengabarkan bahwa Rania sudah meninggal.
Dia yang terkejut mendengarkan kabar itu, juga karena keterbatasan jaringan, dia juga lupa memberitahu bahwa Dila, salah satu adik Vero ada bersamanya di sana. Dila yang juga tak menyangka Rania bisa tewas, merasa tak juga perlu mengatakan bahwa dirinya selamat dan hanya akan membawa kesedihan bagi mereka.
Kini dia menyesali apa yang terjadi. Dia menyesal telah begitu ceroboh membuka pintu pesawat dan membuat mereka jatuh. Dila merasa egois, bagaimana dia akan mengatakan bahwa dirinya sendiri selamat sementara Rania meninggal karena nya.
Saga mendekat, dia duduk di sisinya.
"Pulanglah, siapa tahu mereka sangat berharap juga kau masih hidup" ucap Saga.
"Aku nggak tahu harus ngomong apa sama mereka, kalau mereka tahu pesawat itu jatuh karena keegoisan aku, mereka akan membenci ku. Terutama kak Vero, karena dia sangat mencintai Rania melebihi diriku" ucap Dila.
"Tidak seperti itu, seorang kakak menyayangi adik-adiknya. Nggak ada yang lebih sedikit atau kurang sedikit" ucap Saga menenangkannya.
Dila menggosok kepalanya, dia juga ingin pulang. Tapi merasa takut untuk menghadapi mereka.
"Akan ada penjemputan bulan depan, entah itu untuk orang-orang yang hanya ingin sekedar barter di kota, atau orang yang ingin pulang ke luar pulau. Ikutlah bersama mereka, berkumpul kembali dengan keluarga mu. Kehadiran mu pasti sangat mereka rindukan" jelas Saga.
Dila menatap kosong ke arah laut yang begitu luas, tak ada kata yang keluar setelah itu. Mereka duduk di sana hingga hari mulai gelap.
Ayu melihatnya, dia mulai tak suka dengan kedekatan mereka.
~Pak petugas bilang hanya kenal biasa, tapi mereka deket banget~ ucap hati Ayu.
Ayu melangkah dengan perlahan menuju rumahnya. Saga dan Dila yang berjalan pulang melihatnya. Dila menyusul dan mengaitkan tangannya ke bahu bidan muda itu.
"Ayu,...kok nggak bilang mau jalan-jalan?" tanya Dila.
Ayu terkejut, tak menyangka Dila akan menghampirinya.
"Kebetulan lewat" jawab Ayu dengan suara kecilnya.
"Aku penasaran, gimana sih rasanya ngobatin orang-orang?" ucap Dila yang melepaskan tangannya kemudian berjalan mundur di depan Ayu.
"Mai jadi bidan di daerah pelosok, maksudnya?" ucap Ayu polos.
"Ih....ogah, cuma penasaran aja. Nanti kalau ada yang sakit aku ikut kamu ya?" tanya Dila saat berhenti di depan Ayu.
__ADS_1
"Emang kamu nggak akan pulang ke Jakarta?" tanya Ayu.
"Masih sebulan lagi. Teman ku yang di kota bilang angkutan yang membawa penumpang ke luar pulau adanya nanti sebulan lagi" ucap Saga dari belakang mereka.
Ayu menoleh, Dila mengangkat kedua alisnya, meminta persetujuan Ayu agar mau mengajaknya. Ayu menghela, dia tak bisa menolak, apalagi dengan alasan bahwa dia cemburu dengan kedekatan mereka.
"Baiklah, kalau begitu, tapi jangan ngeluh kalau yang manggil tengah malam. Karena kita tidak pernah tahu kapan musibah datang" ucap Ayu dengan menatap Dila sebagai musibah untuk perasaannya pada Saga.
"Oh..begitu ya?" Dila sedikit ragu dia bisa memaksa diri bangun tengah malam untuk membantu orang lain.
Dila masuk ke rumah Saga untuk membawa bajunya.
"Makasih ya!" ucap Saga pada Ayu.
Ayu melirik.
"Untuk satu bulan saja. Setelah itu dia pergi kan?" ucap Ayu tanpa menatap Saga.
Saga merasa aneh dengan jawaban Ayu yang terdengar tak suka dengan kehadiran Dila.
"Aku juga maunya dia cepat pulang" ucap Saga.
~Apa ini? Dia terlihat senang dengan kehadirannya, tapi ucapannya berbanding terbalik~ ucap hati Ayu.
"Aku lebih senang dia kembali daripada di sini. Karena dia itu sangat manja, aku bisa repot kalau dia di sini terus" bisik Saga.
Ayu tersenyum merasa lega, dia akhirnya tahu apa yang dipikirkan Saga.
Dila keluar dengan membawa bajunya yang sudah dicuci bersih dengan dua pasang baju milik Saga. Ayu mengambilnya dan memberikannya pada Saga. Dila terheran dengan sikap Ayu.
"Aku punya banyak pakaian yang pasti pas di pakai oleh mu. Masa mau pakai baju Pak petugas terus" ucap Ayu.
Dila tersenyum mendengar perkataan Ayu. Dia senang mendapat teman baru yang memperhatikannya.
"Kami pamit, selamat malam Pak petugas" pamit Ayu.
"Malam bu bidan!" jawab Saga.
__ADS_1
Mereka pergi, namun pembicaraan mereka masih sayup terdengar.
"Rasanya aneh deh denger panggilan kalian" ucap Dila.
Ayu hanya tersenyum.
"Kalau kamu disebut Bu bidan, dia pak petugas, lalu aku? nona korban tenggelam?" Dila masih mengoceh.
Ayu tertawa terbahak-bahak. Saga tersenyum mendengar ucapan Dila dan tawa Ayu yang mulai terdengar menjauh. Dia menatap ke sekeliling tempat, kemudian merasakan kesepian lagi.
Saga masuk dan duduk di kasur. Dia mengambil kopernya yang dia simpan di bawah kasur. Saga membuka sebuah kotak berisi foto Rania bersamanya dalam dua tahun. Foto yang banyak dia ambil secara diam-diam juga yang sengaja dia ambil saat Rania tak siap. Saga menyentuh foto Rania dengan wajah yang manis.
~Cepat sekali kepergian mu, seandainya saja aku tidak pergi saat itu~ ucap hati Saga.
###
Sementara itu, di Jakarta.
Bondan menatap foto mereka dalam satu frame dengan latar kursi pengantin Nuri dan Fajri. Mereka terlihat sangat serasi meski Rania saat itu tak menyadari bahwa dirinya sedang berfoto dengan Bondan.
Bondan menyesali semua yang terjadi. Dia menyesal menerima tugas untuk menjadi Clara. Juga menyesal tak buru-buru menikahi Rania.
Kenangan bersama Rania muncul dan membuatnya semakin merindukan kekasih hatinya itu. Senyum dan tawa Rania terus terbayang.
Dia masih bisa merasakan bagaimana pelukan, sentuhan tangan dan saat bibir mereka saling bertautan. Bondan tak mungkin bisa melupakannya. Masa-masa bahagia bersama Rania. Sejak awal bertemu hingga akhirnya Rania mau kembali bersamanya setelah pertemuan kedua mereka di tempat yang sama.
Tak terasa air matanya kembali jatuh. Seorang pria yang biasanya mampu menyimpan air matanya dalam kondisi apapaun. Kini tak bisa menahannya lagi saat dia sangat merindukan Rania.
Tak berapa lama, suara ponselnya yang berdering, membangunkannya dari lamunan. Bondan meraih ponselnya dan melihat Vero menelponnya. Bondan mengangkat telponnya.
"Hallo!" sapa Bondan.
"Hallo Bondan, kami akan mengadakan acara doa malam untuk mendoakan mendiang Rania. Datanglah, kamis malam di minggu ini. Di rumah Ruby" ucap Vero.
Bondan terdiam, dia masih belum bisa menerima kepergian Rania. Tapi keluarganya sudah mengadakan acara doa untuk arwahnya. Hatinya sakit mendengar hal itu. Tapi dia bisa apa, dia tak bisa membuktikan Rania masih hidup. Jadi dia juga harus menerima kenyataan ini.
"Baiklah, aku akan datang" jawab Bondan setelah diam beberapa saat.
__ADS_1
Dia menutup telponnya, kemudian kembali menatap wajah Rania dalam foto.