
Yudi duduk termenung di meja makan. Rania menyiapkan makanan untuknya.
"Ini sarapannya. Cobalah!" ucap Rania.
Yudi menatapnya.
~Jelas dia sangat berbeda dengan Dila. Meskipun kehilangan ingatan, kebiasaannya berbeda. Kenapa aku begitu yakin dia adalah Dila? Tidak, semua orang juga mengira dia adalah Dila. Ataukah kabar yang diberikan Sultan Ameer membuat semua orang menyangka yang ditinggalkan di jalan adalah Dila, dan yang dibawa ke pesawat adalah Rania. Tidak, biarkan saja seperti ini. Aku tidak mau kehilangan lagi, entah itu Dila atau Rania. Aku hanya mau hidup bersamanya~
Yudi mulai egois, dia tak akan mengatakan keraguannya pada siapapun.
"Kenapa nggak dimakan?" tanya Rania.
Yudi terbangun dari lamunannya.
"Ah...ya, aku lagi mikir, senang sekali kalau kita bener-bener udah resmi nikah" ucap Yudi sambil tersenyum.
Rania menatap makanannya. Dia berpikir tak tahu harus bahagia atau bagaimana. Dia sama sekali tak bisa mengingat apapun.
~Jika dia memang orang yang aku inginkan untuk menjadi pasangan hidupku, lantas kenapa rasanya datar mendengar dia begitu senang bersama ku?~ ucap hati Rania.
"Satu bulan lagi, semuanya akan menjadi kenyataan" ucap Yudi.
~Dia hanya akan jadi milikku~
Yudi tersenyum padanya, Rania hanya membalas dengan sedikit tersenyum. Dia masih ragu dengan dirinya sendiri. Semua orang bilang dia adalah Dila, saudari kembar Rania yang telah meninggal karena kecelakaan pesawat bersama Clara, otak dari penculik mereka.
Rania tak mengerti apa-apa, dia hanya ingin bangun, seolah ingin menyelematkan seseorang. Namun saat membuka mata, dia hanya melihat senyum di wajah Yudi yang seolah sangat bahagia melihatnya.
Rania memegang kepalanya yang sakit karena berusaha mengingat sesuatu. Yudi melihatnya, dia meletakkan sendok dan garpunya kemudian mengajaknya ke kamar untuk istirahat.
"Kau sering pusing, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Yudi sambil mencari obat untuknya.
"Apa kamu nggak akan marah kalau aku mengatakannya?" Rania malah balik bertanya.
Yudi berhenti mencari obat, dia berbalik menatapnya.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Yudi.
Rania menunduk sambil menggigit bibirnya.
"Aku merasa kalau ini tidak benar, bersamamu, mencium mu, melakukannya dengan mu. Semua ini seolah bukanlah aku. Aku merasa ada hal yang salah, tapi aku tak tahu itu apa. Semakin aku memikirkannya kepala ku semakin sakit" jelas Rania yang sudah tak tahan.
Yudi menelan salivanya, dia meraih tangannya.
"Dengarkan aku, kita sudah bersama, sebentar lagi kita akan menikah. Percayalah padaku, aku akan membuat mu bahagia. [Siapapun kamu] aku akan selalu mencintai mu, dan aku takkan pernah melepaskan mu" ucap Yudi dengan sedikit hendak menangis.
Rania merasa bersalah melihat Yudi yang jadi sedih. Dia memeluknya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud tidak mempercayai mu. Aku hanya ingin membagi perasaan ku dengan mu. Kau juga harus tahu apa yang aku rasakan bukan?" ucap Rania dalam pelukan Yudi.
~Astaga, dia benar-benar Rania, bukan Dila. Dila takkan merasa bersalah saat aku mengatakan hal itu. Dia hanya akan bertahan dengan marahnya. Tapi Rania, ini Rania, yang tak mau orang di sekitarnya merasa tak nyaman bersamanya~ ucap hati Yudi.
Yudi memejamkan matanya, dia sudah yakin sekarang bahwa orang yang sedang memeluknya itu adalah Rania bukan Dila. Tapi dia bertekad untuk menyembunyikannya dari semua orang.
###
Sambas.
Dila pamit pada Saga dengan memeluknya. Ayu menatapnya dengan sinis.
"Terima kasih ya, kau sudah baik dan mau bersabar untukku selama sebulan lebih ini" ucap Dila.
"Ya, seharusnya aku mendapatkan penghargaan atas semua ini bukan?" ucap Saga dengan bergaya.
Dila tersipu, dia melihat Ayu masih saja terlihat kesal. Dila menghampiri dan memeluknya.
"Makasih ya Bu bidan yang cantik" pelukan Dila erat saat memanggil Ayu dengan panggilan Bidan Cantik.
Ayu tersenyum dengan terpaksa pada Dila. Namun Dila kembali mendekat dan berbisik.
"Kayaknya Saga suka kamu" ucapnya.
__ADS_1
Mata Ayu membulat, kemudian menatap Saga yang juga sedang menatap mereka bicara. Saga mengangkat kedua alisnya, bertanya apa yang dikatakan Dila. Namun Ayu memalingkan pandangannya pada Dila lagi.
Dila melambaikan tangannya pada Ayu dan Saga. Dia masuk mobil yang akan membawanya ke kota untuk naik angkutan petugas berwajib yang sudah mendapat pesan dari Saga untuk membawanya pulang ke Jakarta.
###
Aditya mendapat telpon dari teman Saga untuk menjemput Dila di bandara. Yang sangat kebetulan hari itu dia sedang bertugas di sana. Mendengar semua kabar yang diberikan, Adit sangat senang. Dia sudah tenang karena Rania, kakaknya sudah pulih, meskipun orang di sekitarnya menganggapnya sebagai Dila.
Dia sedang menunggunya di dekat pintu masuk pesawat. Tak lama kemudian, seseorang yang ciri-cirinya sama dengan yang disebutkan teman Saga, datang dengan tas selempang kecil menggantung di sisi kanannya. Adit menahan langkahnya dan dia pun menatap Adit.
"Adit?" seru Dila.
Adit tersenyum, dia memeluk Dila dengan senangnya.
"Kak Dila!" Adit sangat senang.
Dila tersenyum, tanpa kata lagi, Adit mengajaknya masuk dan duduk di kursi VIP yang kosong. Dila menurut saja, mereka sangat ingin bicara dan saling menceritakan apa yang terjadi selama hampir tiga bulan Dila tinggal di sambas. Namun karena penerbangannya sudah hampir terlambat, mereka harus menundanya.
###
Bondan sedang berada di Australia untuk mengurus beberapa cabang yang sedang mengalami penurunan kinerja. Dia menjadi pria dingin yang hanya fokus pada pekerjaan. Semua berjalan semakin baik setelah dia memutuskan untuk fokus.
Vero lebih banyak memberikannya tugas ke luar kota atau ke luar negeri agar dia bisa melupakan Rania dan mencari suasana baru. Tapi sayangnya, semua tugas itu hanya membuatnya semakin dingin dan hanya menjadikan Rania sebagai satu-satunya untuknya.
Beberapa saat setelah dia meminum kopinya di sebuah cafe, telpon berdering tanda sebuah pesan telah dia terima. Bondan membacanya karena itu pesan dari Adit.
[Saga menemukan Dila, dia ada bersama ku sekarang, kami terbang dari Sambas menuju Jakarta. Pulanglah! Orang yang akan menikah dengan Yudi adalah Kak Rania]
Mata Bondan membelalak membaca pesan dari Adit. Dia senang, wanita yang dia sentuh saat di rumah sakit adalah Rania. Wanita yang menatapnya di balik tubuh Yudi adalah Rania. Wanita yang tersenyum saat dia memberikan ucapan selamat adalah Rania.
"Dila akan kembali, aku harus ke Jakarta memberi tahu Vero dan yang lainnya. Aku akan langsung mengatakannya, jika lewat telpondia takkan mengerti. Kalau bisa aku akan langsung menikahinya berbarengan dengan acara Yudi dan Dila menikah" gumam Bondan.
Dia bergegas pulang ke hotel dan menyiapkan kepulangannya. Menelpon seseorang untuk menyiapkan tiket pesawat ke Jakarta.
Pria dingin itu tersenyum sepanjang perjalanan menuju bandara. Hatinya sangat senang, dia akan mendapatkan cintanya kembali. Dia akan memeluknya lagi.
__ADS_1