Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
116


__ADS_3

Marvin masuk, dia duduk di sofanya mengingat ucapan Dila yang berharap hanya Yudi yang ada di sisinya.


~Bagaimana ini? Aku sudah sangat mencintai mu Dila. Bagaimana aku bisa membiarkan mu kembali pada Yudi?~ Marvin bergumul sendiri di hatinya.


Marvin mendengar suara lift terbuka, dia keluar dan melihat. Dila pulang dan hendak masuk.


"Kau sudah pulang?" tanya Marvin.


Dila berbalik setelah mengusap tangisnya.


"Ya, aku nggak nyaman sama clubnya, jadi pulang" jawab Dila dengan senyumnya.


Marvin mendekat kemudian memeluknya dengan lembut.


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" tanya Dila.


"Ya, aku baik-baik saja, hanya sedang merasa sangat merindukan mu" ucap Marvin saat melepas pelukannya.


Dila tersenyum padanya, Marvin pun membalas senyumannya.


"Kau cantik saat tersenyum" ucap Marvin.


"Benarkah? Terimakasih, aku akan tidur" ucap Dila menunjuk ke rumahnya.


"Ya, istirahatlah, besok adalah hari yang sangat sibuk" ucap Marvin sambil mengusap pipi Dila.


"Kau juga istirahat, bye!" pamit Dila memeluknya lagi sebentar.


"Ok, bye!" jawab Marvin.


Dia menatap Dila yang masuk. Menghela nafas dan menahan sesak di dadanya.


Dila masuk ke kamar dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia mengingat wajah Yudi yang sama sekali tak menjawab semua pertanyaannya. Dila menyerah, dia hanya akan fokus pada orang yang sekarang ada di sampingnya, Marvin.


Dila menghapus make upnya dengan pembersih sambil memijat sekitar matanya yang terasa bengkak karena menangis tadi. Ponselnya menunjukkan notifikasi pesan dari Marvin.


[Ayah mengajak kita makan siang besok, kau mau makan dimana?] tanya Marvin.


[Dekat klinik saja, makanannya enak] jawab Dila.


[Ok, good night. I love you]


[Good nigth, i love you to]


Dila menaruh ponselnya dan tidur. Sementara Marvin mengerti, Dila sudah mengambil keputusan untuk tetap bersamanya karena Yudi yang hanya meminta maaf sebagai jawaban semua pertanyaannya.


Dia bertekad untuk membuat Dila bisa melupakan Yudi. Dia akan berusaha sekuat tenaga membuatnya bahagia.


###


Makan siang di dekat klinik bersama Jason, Dila melihat menu yang selalu bertambah menu baru. Dia selalu mencoba setiap menu baru di sana. Sementara Marvin dan Jason tetap memesan steak dan minuman yang sama.


Jason mengajak Dila membicarakan bisnis. Sementara Marvin hanya mendengarkan. Dia juga tak terlalu tertarik dengan bisnis. Dia juga tak begitu dekat dengan Jason. Mereka hanya bicara jika Jason membicarakan Dila atau sekedar mengajaknya makan bersama.


Dila memegang tangan Marvin saat mengobrol dengan Jason, hand manner itu dilakukannya agar membuat Marvin merasa tak sendiri atau merasa jadi 'kambing conge' diantara mereka.


Jason sangat senang Dila bisa selalu berbuat hal yang membuat Marvin merasa nyaman dengannya. Dia sangat berharap Dila bisa menjadi pasangan seumur hidupnya.


"Lalu, kapan kalian akan memutuskan untuk menikah?" tanya Jason.

__ADS_1


Marvin menatap Dila. Dia melepas tangan Dila dan menatap ayahnya.


"Dila masih belajar ayah" ucap Marvin.


Dila hanya diam dan menundukkan pandangannya. Dia menaruh kedua tangannya di pangkuannya.


"Banyak orang yang menikah saat kuliah, beberapa dari mereka menggendong bayi mereka saat wisuda. Itu tidak masalah" ucap Jason.


"Tidak, aku sangat menghargai keinginan Dila....."


"Dila bahkan belum mengatakan pendapatnya" ucap Jason.


Dila membulatkan matanya menonton pertengkaran kecil mereka.


"Aku?" tanya Dila belum siap bicara.


Jason mengangguk, Marvin menatapnya karena juga penasaran dengan jawaban yang akan Dila sampaikan.


"Hahahaha, ayolah. Pernikahan harus dipikirkan dengan matang bukan? Bukan hanya karena kami terlihat cocok dan saling mengerti. Pernikahan ruang lingkupnya jauh lebih rumit dari sebuah perusahaan. Lagi pula kakak-kakakku juga belum menikah. Aku tidak mungkin melangkahi mereka" Dila bicara panjang lebar dan mereka sangat jelas mendengarkan.


"Hahahahahaha.." Jason tertawa terbahak-bahak.


Marvin mendelik, dia tak suka melihat ayahnya tertawa begitu puas.


"Sekarang baru terlihat kalau kalian belum terlalu serius dalam hubungan ini. Ya sudahlah, Dila juga ada benarnya. Keluarga kita belum bertemu dan bicara dalam satu meja bukan? Tapi....aku harap kalian memikirkannya, ya" ucsp Jason.


Dia berdiri dan pamit untuk kembali ke klinik. Dila hanya tersenyum, Marvin melihat senyuman Dila yang benar-benar terpaksa.


"Siapa yang mengajari mu tentang menutupi perasaan tak suka mu? Dia pasti sangat kecewa karena kau sangat payah melakukannya!" ucap Marvin.


Dila membulatkan matanya mendengar ucapan Marvin.


~Dia menebak atau memang tahu kalau aku tak suka dengan pertanyaan Jason?~ tanya hati Dila.


Dila membelikan sesuatu untuk Jason di perjalanan pulang mereka.


"Bawakan ini ke rumah Jason, harus hari ini karena makanan ini mudah basi" ucap Dila.


Dia mengemasi sekotak makanan ke kantong kertas.


"Kenapa harus aku?" tanya Marvin.


Dila menatapnya.


"Kau kan anaknya, kenapa bertanya lagi?" ucap Dila.


Dila melihat Marvin yang malas, dia memegang tangannya dan membujuk.


"Hanya sebentar saja, setelah itu pulang. Kita makan ini di rumah ku" ucap Dila.


Marvin menatap Dila, dia membelainya.


"Ok, aku pergi. Kau sudah janji untuk makan bersama, jadi jangan dihabiskan sendiri jika aku terlambat sedikit" ucap Marvin.


"Ok, Bos!" jawab Dila dengan memicingkan satu matanya


Marvin pergi, sedangkan Dila melanjutkan memilih barang untuk dia beli. Tak lama berbelanja, Dila hendak pulang kembali. Namun dia berpapasan dengan Yudi yang sedang turun dari motor hendak masuk ke mini market.


Yudi menatapnya dengan tangan merogoh saku celananya. Dila menghela dan tersenyum.

__ADS_1


"Baru selesai belanja?" tanya Yudi yang melihat Dila membawa dua kantung kertas belanjaan.


"Ya, aku sudah selesai, sekarang mau pulang" jawab Dila.


"Tunggu di depan sebentar, nanti aku antar" ucap Yudi.


"Tidak usah, hanya beberapa blok saja" ucap Dila menolak.


"Sebentar saja, aku hanya beli rokok" ucap Yudi.


Dia terdiam, dia berjalan keluar dengan langkah perlahan.


~Dia merokok lagi?~ ucap hati Dila.


Tak lama Yudi kembali dan naik ke motornya. Dia menyuruh Dila naik dan berpegangan. Dila menurut, dia naik dan memegang kantung belanjanya sekaligus memegang pinggang Yudi.


Sampai di apartemen, Yudi membantunya membawa kantung belanjanya hingga masuk ke rumahnya. Dia menaruhnya di meja.


Dila menawarkan segelas air untuknya. Yudi langsung meminumnya.


"Kau merokok lagi?" tanya Dila.


Yudi meneguk habis air minumnya.


"Ya, sesekali" jawab Yudi.


"Makanlah dulu!" ucap Dila menawarkan lagi.


"Tidak usah, aku harus bekerja. Oh ya, hubungan mu dengan Marvin, baik-baik saja kan?" tanya Yudi basa basi.


"Hubungannya baik, aku yang tak baik" gumam Dila.


"Hah?" tanya Yudi yang tak jelas mendengarnya.


"Menurutmu?" ucap Dila mendonga menatap wajah Yudi.


"Aku harap baik-baik saja" lain di mulut lain di hatinya.


Yudi berharap Marvin melepaskan Dila untuknya. Tapi dia juga tak bisa memakasakan lagi. Karena dia yang sudah menyatukan mereka.


"Kau tahu, aku sangat berharap basa basi mu ini bertentangan dengan apa yang kamu rasakan. Tapi semua percuma, yang kamu mau, aku cuma sama Marvin kan?" ucap Dila.


Yudi menatap wajah Dila. Dia sebenarnya stress saat kejadian malam itu. Tapi benar-benar takut melangkah maju untuk mengambil Dila untuk di sisinya.


"Ya, sebaiknya seperti ini saja" ucap Yudi.


Dila menghela dan memalingkan wajahnya.


"Aku pulang, bye!" pamit Yudi.


Dila menatap langkah Yudi menuju pintu. Dia tak tahan, kemudian mengejarnya dan memeluk Yudi dari belakang.


Yudi terhentak, dia terkejut Dila memeluknya. Dia menatap tangan Dila yang erat memeluk di perutnya.


"Katakan sekali saja kalau kamu mau aku sama kamu lagi. Aku akan cari cara untuk lepas dari Marvin" bisik Dila.


Yudi melepas tangan Dila kemudian berbalik. Dia memegang wajah Dila dan hendak menolaknya lagi. Namun di sangat merindukan Dila dan malah mencium bibir Dila.


Dila menerima ciuman Yudi dan menikmatinya. Tapi Yudi melepaskannya saat tersadar dia telah hilang kendali.

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku" ucap Yudi.


Dila menariknya dan menciumnya lagi. Yudi sudah tak bisa mengendalikan diri. Dia membiarkan dirinya dan Dila menikmati momen itu.


__ADS_2