Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
45


__ADS_3

Rania merapikan semua pakaian ke koper. Beberapa pakaian yang sangat nyaman untuknya. Kali ini dia berpikir untuk menjadi dirinya sendiri, karena Beni sudah tahu semuanya. Tak seperti yang dia banyangkan, saat Beni mengetahui semuanya, dia malah lebih bergantung pada kehadirannya.


Rania mengingat semua kenangan pahit dan manis di tempat itu. Ingat saat pertama kali bertemu dengan Beni dalam keadaan yang sangat buruk. Kini Beni berubah secara fisik, dia terlihat lebih segar dan bersemangat, meskipun tak tahu bagaimana keadaan hatinya, Rania percaya pada satu hal, pada dasarnya semua manusia itu baik.


Beberapa saat kemudian Bondan mengetuk pintu kamarnya yang memang sudah terbuka. Rania menatap dan berdiri karena terkejut. Meskipun Beni berubah, namun rasa cemburunya pada Bondan malah semakin besar. Rania takut jika dia melihat Bondan datang menemuinya.


Bondan melihat sikap Rania yang kini sangat menjaga perasaan Beni. Namun dia tak bisa menunggu lagi.


"Aku mau ngomong bentar!" ucap Bondan.


Bondan mengisyaratkan untuk ikut dengannya ke kamarnya di lantai atas. Rania bingung harus ikut atau tidak. Tapi hatinya mengatakan dia pun ingin bicara dengan Bondan, karena memang sudah cukup lama mereka hanya bertukar pandang saja.


Rania mengikutinya. Bondan membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Rania masuk. Rania masuk dan duduk di kursi berusaha bersikap biasa.


Bondan menatapnya dengan rasa rindu yang sangat besar. Rasanya ingin dia memeluk Rania seperti dulu saat dia memeluknya di kamar ini. Namun kini Rania memutuskan untuk menjaga hati Beni. Bondan hanya bisa menatapnya. Dia membuka lemari dan membawa sebuah kotak. Membawanya dan meletakkannya di meja di dekat Rania.


"Apa itu?" tanya Rania.


~kotak itu, mirip dengan kotak milik Anita di ruang kerjanya~ ucap hati Rania.


"Ini kotak masa kecilku, dalam keluarga ku semua orang dibuatkan kotak seperti ini untuk menyimpan kenangan masa kecilnya" jelas Bondan.


~semua orang!~ Rania ragu.


"Ini....surat dan beberapa foto yang ayah ku berikan untukku sebelum meninggal. Aku membukanya saat aku berumur 18 tahun. Dan benar, saat yang tepat untuk memahami isinya"


"Apa isi nya?" tanya Rania datar.


Bondan melihat Rania berusaha bersikap seperti seorang adik untuknya. Bondan tak suka dengan sikap itu.


"Isinya tentang gadis yang harusnya dijodohkan dengan ku" ucap Bondan.


Rania yang berusaha tak peduli dan hanya melihat-lihat meja Bondan jadi terdiam mendengar ucapan Bondan.


Bondan melihat Rania yang mulai serius mendengarkan. Dia duduk di ranjangnya dan menaruh kotak itu di sampingnya.


"Ayah bahkan mengirimkan fotonya yang masih berusia 4 tahun" ucap Bondan sambil menatap sebuah foto.


~foto Dila, dia menatap foto Dila. Ya...memang mereka seharusnya bersama. Aku akan berusaha menyatukan mereka di Jakarta~ ucap hati Rania dengan tekad yang bulat.


"Kau tahu? Aku baru buka ini lagi beberapa hari kemarin saat memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dan aku terkejut, aku bahkan baru sadar dengan apa yang aku lihat ini. Hal yang aku lewatkan"

__ADS_1


Mata Rania membulat, penasaran dengan apa yang baru Bondan sadari.


"Aku jadi percaya bahwa takdir itu ada. Takdir yang mempertemukan ku dengan dia dan juga akan mempersatukan ku dengannya lagi" ucap Bondan sambil tersenyum.


Rania semakin heran dan tak mengerti. Bondan tersenyum melihat wajah Rania yang tak paham. Dia berdiri dan mendekat kemudian meletakkan foto itu di depan Rania. Kemudian dia berjalan dan berhenti menghadap jendela dan menatap matahari cerah hari ini.


Mata Rania menatap foto gadis kecil itu. Matanya semakin membulat, dia benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah dia lihat. Gadis kecil dengan rambut panjang yang memakai gaun berwarna merah muda sedang memegang tangan yang tak asing baginya. Meskipun hanya sebagian tangan yang terlihat, namun dia sangat tahu kalau itu tangan ayahnya Heru.


Rania tertegun menatap Bondan di dekat jendela.


~Ayah Bondan memberikan ini? Berarti mereka....apa ini? Kenapa semakin rumit? sebenarnya apa yang mereka lakukan pada putra putri mereka?~ ucap hati Rania.


"Aku sadar dengan tanda yang ada di dada gadis itu, tanda yang tak pernah terlihat selama ini, tapi aku pernah melihatnya sekali" ucap Bondan sambil berbalik.


Rania memegang dadanya, paham dengan ucapan Bondan.


"Ya.....itu kamu! Foto gadis yang ayah berikan adalah kamu waktu kecil. Dan aku senang dengan kenyataan ini" ucap Bondan mendekat.


Rania berdiri dan menjauh darinya. Bondan heran, dia tak sangka Rania akan menjauh.


"Kenapa? Kamu ngga suka? Bukannya kita saling suka? Kamu pasti seneng kan, yang sebenarnya dijodohkan adalah aku dan kamu. Takdir yang bawa kamu ke sini meski alasannya sangat menjengkelkan" tanya Bondan sambil meraih tangan Rania.


Rania melepas pegangan Bondan.


Bondan semakin heran dengan sikap Rania.


"Rania dengar, kamu ngga usah peduli dengan Beni. Aku bakal nyari cara biar dia bisa melepas kamu dan relakan kamu dengan aku" ucap Bondan.


Dia lebih mendekat pada Rania dan memegang wajah Rania dengan kedua tangannya.


"Kali ini jangan mengorbankan perasaan kamu yang hanya untuk aku, aku akan berusaha melakukan yang terbaik supaya kita bisa bersama" ucap Bondan.


Rania menatapnya, dia memang memiliki rasa cinta untuk Bondan. Namun dia masih meragukan dirinya sendiri. Dia merasa dengan mengembangkan rasa cinta itu hanya akan melukai banyak orang. Dina, dia sangat mencintai Bondan. Beni yang sangat mencintainya dan Dila, wanita yang dianggapnya sebagai orang yang seharusnya berjodoh dengan Bondan.


Bondan menatap wajah Rania yang begitu dekat dengannya. Sangat dekat, setelah beberapa bulan ini bahkan sulit untuk menyentuh tangannya. Dia mendekatkan wajahnya dan mulai menyentuh bibir Rania dengan bibirnya.


Bondan ragu, takut Rania menolak ciumannya. Dia hanya menyentuh kemudian mundur kembali. Rania masih memejamkan matanya, Bondan merasa bahwa dia juga menyukainya, kemudian kembali mencium dan mencumbunya.


Rania larut dalam perasaannya, dia merasa sangat menyukai momen ini. Ada perasaan yang nyaman dan menyenangkan saat berada dalam pelukan Bondan.


Beberapa saat memadu rasa cinta dalam bentuk ciuman, Rania menahan dada Bondan dan menahan diri.

__ADS_1


"Aku tunangan adik mu! Kita ngga boleh kayak gini" ucap Rania.


Bondan tak peduli, dia masih ingin bersama Rania. Dia kembali menciumnya dan memeluk pinggang Rania dengan erat.


Rania tak bisa menolak lagi perasaannya, dia semakin nyaman bersama Bondan.


Di lantai bawah, Beni yang baru datang dari luar mencari Rania ke kamarnya.


"Kemana Rania? Pakaiannya belum selesai di kemas" gumam Beni.


Dia hendak mencarinya ke lantai atas, berpikir Anita memanggilnya dan mengancamnya kembali. Beni berjalan sedikit lebih cepat. Namun dia berhenti di dapur saat melihat Rania berdiri di dekat jendela sambil minum.


Beni mendekat dan sambil tersenyum dia mengejutkan Rania dengan langsung memeluknya dari belakang.


Rania terkejut, dia mengira orang yang memeluknya adalah Bondan yang masih ingin bersamanya. Dia berusaha melepasnya. Namun Beni mengecup bahu Rania dan membuat Rania memejamkan matanya.


"Aku kira Momi minta kamu ke ruang kerjanya lagi" bisik Beni di telinga nya.


Mata Rania membelalak, dia lega sekaligus tak menyangka bahwa yang memeluknya adalah Beni. Dia berbalik dan menatap Beni yang tersenyum manis padanya.


"Kau belum selesai merapikan koper mu"


"Aku tadi keluar sebentar, tapi tiba-tiba merasa haus, jadi ....aku kesini, minum"


"Ayo ke kamar ku, bantu aku rapikan baju ku" ajak Beni.


Rania ikut dengannya dan membantu merapikan semua pakaian yang akan di bawa Beni. Dengan penuh semangat Beni mengatakan semua yang ingin dia lakukan bersama Rania di Jakarta.


Rania hanya mendengarkan dan melipat pakaian. Hati dan pikirannya masih berada di kamar Bondan, mengingat semua ucapan Bondan tadi.


"Aku tidak menyangka itu adalah kamu, padahal kita bertemu karena aku nganggap kamu mirip Dila. Takdir memang punya cara sendiri untuk mempertemukan kita" ucap Bondan sambil memeluk Rania dari belakang di sofa di kamarnya.


Rania hanya diam, dia belum memberitahu Bondan tentang hubungannya dengan Dila juga Vero. Dia juga bahkan tak tahu bahwa Anita sangat terobsesi dengan kekayaan keluarga Subagja dan ingin menyingkirkan semua orang yang menghambat rencananya. Dia bahkan tidak tahu bahwa Beni sudah tahu bahwa dia bukan Dila melainkan Rania.


Beni menepuk bahu Rania yang disadarinya sedang melamun.


"Kenapa? Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Beni.


Rania menatapnya terkejut, kemudian mencari alasan untuk membuat Beni tak curiga, namun Beni menyimpulkan sendiri.


"Karena kamu akan bertemu ibu dan adik mu dalam keadaan menjadi Dila?" ucap Beni.

__ADS_1


Beni memegang tangan Rania dan meyakinkannya.


"Dengar...aku akan membuat situasinya membaik dan mengumumkan pada semua orang bahwa kau bukan Dila, melainkan Rania Ramadhania. Dan aku akan tetap menikah dengan mu" ucap Beni.


__ADS_2