
Rania masuk ke super market, membiarkan Hedi mencari bahan masakan yang dia mau. Sementara dia menelpon Vero menanyakan kabarnya yang kemarin menunggunya di dekat gedung.
Vero yang sedang bicara dengan polisi, tak memegang ponselnya, dia menitipkannya pada Arumi. Saat Rania menelpon, suara dan getarnya pun diabaikan Arumi. Rania semakin khawatir, namun berpikir bahwa mungkin saja kakaknya masih tidur.
Hedi menghampiri Rania.
"Saya sudah selesai, mba Dila mau kita kemana lagi?" tanya Hedi.
"Pulang! Tapi aku yang nyetir. Kita jalan-jalan dulu, keliling" jawab Rania.
Hedi manggut-manggut dengan senangnya. Dia juga ingin jalan-jalan setelah benar-benar lama tinggal di Australia.
Rania membawa Hedi mengelilingi tempat-tempat yang selalu dia kunjungi dulu. Rania juga berhenti sebentar di depan gang menuju rumahnya. Menunggu, berharap ibu Vera keluar sebentar. Namun dia berpikir kembali dan melajukan mobilnya.
Rania menjalankan mobil lebih lambat di dekat pasar dadakan, kemudian sampai di pul Bis. Dia kembali melajukan mobil hingga ingin melihat restoran milik kakaknya Vero. Sampai di depan restoran, mata Rania dan Hedi terbelalak.
Keadaan restoran kacau, Rania melihat satu persatu orang di sana sambil berusaha menghubungi Vero meskipun tidak diangkat. Dia semakin khawatir.
"Restoran siapa ini mba Dila? kok ancur gini?" tanya Hedi.
Rania menggelengkan kepalanya, dia melihat Dila keluar dari restoran ditemani Yudi. Mereka saling berpegangan tangan, Rania langsung mengerti hubungan antara mereka. Kemudian melihat Fajri dan Arumi keluar.
Tak lama kemudian beberapa polisi juga kakaknya keluar sambil bicara sesuatu. Dia tak bisa membuka kaca mobil untuk melambai pada kakaknya. Di sana ada Dila dan yang lainnya. Belum lagi Hedi masih terus bertanya mengapa dia berhenti di sana.
Dila melihat mobil di sebrang dengan mata yang tajam. Dia curiga dan merasa tak asing dengan mobil itu. Dia merasa pernah melihat mobil itu sebelumnya. Namun Yudi bertanya akan ekspresinya yang aneh.
"Ada apa?"
"Ah...tidak, hanya saja mobil itu, seolah sedang memantau keadaan restoran ini" jawab Dila sambil menunjuk.
Rania melihat gerakan tangan Dila yang menunjuk padanya. Dia lekas menjalankan mobilnya dan pergi.
Dila semakin curiga.
"Tuh kan, kenapa dia jadi langsung pergi waktu aku tunjuk" seru Dila.
Vero menatap mobil dengan plat yang tak asing baginya. Dia meminta ponselnya dari Arumi.
"Jangan-jangan orang dalam mobil itu yang merusak restoran kita" ucap Arumi.
"Bukan!" jawab Vero sambil kembali ke dalam setelah polisi pergi.
Dia melihat delapan kali panggilan tak terjawab dari Rania kemudian menghela karena Arumi tak menyadari panggilan itu.
Vero melihat keadaan sekitar, namun merasa tak ada tempat yang bisa lebih aman untuk bicara dengan Rania.
Sementara Rania telah sampai di rumah Ruby. Hedi terus bicara dan merasa kasian pada pemilik restoran itu. Rania mencubit bibirnya yang terus bicara.
"Kau ini berisik sekali!"
__ADS_1
Beni melihat pemandangan itu dan tersenyum.
"Makanya aku ngga mau dia dibawa kemari karena dia berisik" ucap Beni.
Rania memasukkan ponsel ke tasnya kemudian tersenyum pada Beni.
"Kau beli apa saja?" tanya Beni yang menghampiri dan merangkul lengannya.
"Keperluan sehari-hari saja, tadi kamu ngga pesen apa-apa kan?" jawab Rania.
"Bagaimana kalau malam ini kita nonton? Aku search di twenty one, ada film baru" ajak Beni.
Rania bingung, dia merasa tak bisa menolak ajakan Beni. Sebelumnya dia sudah mengacuhkannya, kini dia akan curiga jika terus ditolak.
"Baiklah, tapi jangan pulang terlalu malam!" pinta Rania.
"Kau ini, pulang malam di Jakarta itu umum" keluh Beni.
"Tidak untukku!" jawab Rania.
Rania berjalan meninggalkan Beni menuju kamarnya. Beni tak menyusul karena hendak membeli tiket masuk ke bioskop. Rania buru-buru menutup pintu dan menghubungi Vero. Kali ini Vero langsung mengangkatnya.
Dia mengangkat telpon di hadapan semua orang. Mereka semua menatap Vero yang terlihat panik meskipun sudah mengangkatnya. Karena benar-benar belum waktunya mereka mengetahui keberadaan Rania, Vero akhirnya mengambil helmnya dan pergi sambil menerima telpon dari Rania.
"Ya...!" jawab Vero.
"Apa yang terjadi? Aku tadi lihat restoran abang rusak parah" tanya Rania.
Semua mata tertuju pada Vero yang bicara di atas motor. Arumi mendekat dan menahan kepergiannya dan mengangkat kedua alisnya seolah bertanya siapa yang menghubunginya.
Vero terdiam tak bisa menjawabnya.
"Bang! Kenapa diam?" tanya Rania heran.
"Teman! yang aku temui di Ausi" ucap Vero sambil tersenyum.
Rania mendengar ucapannya dan mengerti bahwa ada orang lain di sana. Dia menutup telponnya tanpa bicara.
"Siapa? Siapa yang melakukannya? Apa Anita?" gumam Rania.
Rania membuka pintu kamarnya dan terkejut karena Dina sudah ada di sana hendak mengetuk pintu.
"Kamu ngagetin!" ucap Dina datar.
"Kamu yang ngagetin!" jawab Rania.
"Aku baru mau ngetuk!" balas Dina.
Dina masuk begitu saja ke kamar Rania, kemudian duduk di ranjang.
__ADS_1
"Beni ngajak double date" ucap Dina sambil meraba ranjang Rania.
Rania mengangkat kedua alisnya, kemudian memejamkan matanya sebentar mendengar kata double date.
"Lakukan saja! Aku benar-benar sedang ada masalah dan ngga bisa ngurus hal lain" ucap Rania hendak pergi.
"Mau kemana? Aku harus bilang apa sama Bondan?" tanya Dina.
Rania terdiam dan menggaruk kepalanya berpikir.
"Katakan saja ada film baru, dia suka film kan?" ucap Rania simple.
"Kalo ngga mau?"
"Ya ngga usah pergi!"
"Trus ntar Beni gimana kalo ngga pergi?"
"Dina!" Rania menghela.
Dina berdiri dan mengangguk.
"Oke, mudah-mudahan Bondan mau"
Dina pergi, Rania bergegas menuju kamar Anita.
Rania mengetuk dan meminta izin untuk masuk. Anita yang sedang santai mempersilahkan.
"Masuk!"
Rania masuk dan langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Anda yang melakukannya?"
Anita mengangkat wajahnya menatap Rania yang berdiri di hadapannya.
"Apa maksud kamu?" ucap Anita sambil melanjutkan mengusapkan body lotion ke tangannya.
"Restoran kakak ku, Anda yang merusaknya? Kenapa?" Rania menjawab sekaligus bertanya kembali dengan wajahnya yang sangat sedih.
Anita tersenyum mendengar parau suara Rania yang hampir menangis.
"Rania...keluarga Subagja itu lebih kaya dari Atmajaya, mereka memiliki kolega bahkan musuh yang jauh lebih banyak dari kami. Bukan cuma aku yang mau kalian hancur"
Jawab Anita sambil berdiri melipat kedua tangannya di bawah dada.
"Anda berbohong, hanya Anda yang tau kakak ku memiliki restoran itu" ucap Rania kekeh.
"Hmmm...Rania..Rania...aku sedang tidak mood untuk melakukan apapun pada kalian. Percayalah! Jikalaupun aku akan melakukan sesuatu, aku pasti akan memberitahukan mu sebelumnya" ucap Anita dengan nada mengejek.
__ADS_1
Rania pergi dengan hati kesal, dia tak percaya dengan ucapannya dan merasa bahwa ini semua memang ulahnya.