Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
31


__ADS_3

Vero sampai di Melbourne, memandang langitnya yang cerah hari itu. Dia mengambil nafas dalam dan memasukkan tasnya ke bagasi taksi yang dia panggil.


Sampai di hotel, dia langsung chek in dan masuk ke kamar hotel kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.


##


Rania masih sibuk dengan permintaan Beni. Meski lebih ringan dari permintaan sebelum dia terapi, tetap saja membuatnya tak bisa bergerak dengan bebas.


Beni terus ingin dia berada di sampingnya, seperti anak kecil yang tak mau kehilangan mainannya. Terkadang Beni mengatakan sesuatu yang mengejutkan, kemudian dia melupakannya. Seperti tempo hari saat dia mengatakan bahwa perasaannya pada Dila tak pernah ada jika dia tak merasa dendam pada kakaknya. Sekarang dia berubah kembali menjadi possesif.


Bukan hal yang mengejutkan lagi bagi Rania jika Beni tiba-tiba berubah. Namun hal yang membuat Rania merasa lebih tenang adalah, Beni lebih tak kasar padanya.


Siang itu semua orang di rumah. Beni sedang melukis di ruang kerjanya. Anita sedang sibuk menelpon orang yang masih belum Rania tahu siapa. Dina sedang membantu Bondan menyelesaikan berkas yang menjadi PR hari kemarin. Sedang Rania sedang membuat teh untuk dirinya sendiri, setelah menyuruh Hedi mengantarkan teh untuk masing-masing dari mereka.


Dia meminum tehnya dan duduk di meja makan menghadap jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan indah. Matanya menatap dengan dalam. Pikirannya terfokus pada ucapan Anita yang meminta seseorang yang sering dia telpon untuk mengirim beberapa foto. Dia masih penasaran, siapa yang dia maksud, mengapa hatinya tak tenang mendengar semua ucapannya.


Hedi mengantarkan teh pada Bondan dan Dina yang masih berkerja. Bondan berpikir bahwa Rania sedang sendiri di dapur. Dia pergi.


"Aku mau ambil satu berkas lagi" ucapnya pada Dina.


Dina mengangguk dan mengerjakan sisa pekerjaannya sendiri. Bondan bergegas berjalan dengan cepat menuju dapur. Terlihat Rania sedang menikmati tehnya dan menatap keluar jendela.


Bondan melihat ke arah tangga dan kamar Beni. Dia berpura-pura mengambil gula batu untuk tehnya. Rania melihatnya, dia mulai duduk tak nyaman karena Bondan ada di sana.


Rania takut tiba-tiba Beni, Anita atau Dina datang dan menyangka mereka merencanakan pertemuan di dapur.


Bondan melihat Rania sedikit canggung atas kedatangannya. Mereka seperti buronan yang takut ketahuan oleh orang.


"Tunggu!" ucap Bondan.


Tangannya ingin menggapai tangan Rania yang posisinya jauh darinya. Dia duduk di hadapan Rania dan mengaduk tehnya.


"Apa kabar mu?" tanya Bondan.


Rania menatapnya.


Sesuatu yang aneh, mereka satu rumah, namun sulit bicara dengan akrab dan tak bisa saling menanyakan kabar masing-masing. Berusaha menjaga hati Beni, menjaga hati Dina juga menjaga tatapan jahat Anita.


"Baik, jauh lebih baik!" jawab Rania sambil tersenyum.


Kedua tangan Rania memeluk gelas tehnya, seolah canggung bicara dan duduk di hadapan Bondan. Lain dengan saat pertama kali bertemu. Rania bahkan sangat tidak suka dengan Bondan yang memaksanya dan menekannya dengan alasan ekonominya.

__ADS_1


Bondan tersenyum, dia melihat seluruh wajah Rania dengan tatapan dalam. Melihat wajahnya lebih segar, sendu di matanya masih ada namun lebih segar. Bibirnya merah, tak pucat lagi.


"Ya, terlihat dari senyum di wajahmu. Kau terlihat lebih baik" ucap Bondan.


Rania menundukkan pandangannya.


"Kau selalu membuktikan semua perkataan mu" ucap Bondan.


Rania tertegun mendengarnya.


"Beri aku kesempatan untuk membuktikan semua ucapan ku" pinta Bondan.


Rania menatap wajah Bondan. Berpikir apa yang harus dia katakan dengan apa yang Bondan minta.


Dia ingat saat Bondan memeluknya dengan erat. Mengusap rambutnya dan membiarkan dirinya bersandar beberapa saat di dadanya. Ucapan Bondan begitu lembut terdengar di telinganya. Bisikannya masih terasa, membuat Rania menunduk dan memejamkan matanya sejenak.


"Sekali saja, berikan aku kesempatan itu" ucap Bondan sekali lagi.


Rania masih terdiam, dia tak bisa menjawab permintaan Bondan. Rencananya masih fokus pada Anita ibunya. Dia masih harus mengetahui apa maksud Anita mengancamnya untuk tetap tinggal. Namun tak bisa mengatakannya pada Bondan karena dia salah satu orang yang diancamkan.


Bondan berdiri melihat Beni dari kejauhan datang menuju arah mereka.


"Aku harap kita bisa bicara lagi nanti. Aku akan mengirim pesan" ucap Bondan sambil kembali pergi ke arah dapur.


~pasti ada orang lain di belakang!~ ucap hati Rania.


Kemudian secara tiba-tiba Beni memanggilnya.


"Sayang!"


Mata Rania membulat, tubuhnya berbalik pada Beni yang berjalan ke arahnya. Rania tersenyum dan berpikir untuk mencari alasan mengapa Bondan ada di sana.


"Momi bilang, hari ini kita fitting baju buat acara pertunangan kita akhir pekan ini" ucap Beni saat sampai di kursi dekat Rania.


Rania masih gugup, dia tak berani menoleh ke arah dapur. Matanya hanya menatap Beni yang tak melihat ke arah lain selain cangkir milik Rania.


"Kau masih minum?" tanya Beni yang kemudian menatapnya.


Pertanyaan Beni membuat Rania terbangun dari diamnya.


"Ah...ya, masih, bahkan baru mulai" ucap Rania gugup.

__ADS_1


Beni mengusap rambutnya dan tersenyum.


"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Beni.


Rania menatapnya dan mengangkat kedua alisnya berisyarat tanya apa yang dia inginkan.


"Aku mau segelas lagi!" ucap Beni.


Mata Rania semakin membulat, dia mengangguk perlahan seolah tak yakin kemudian tersenyum dan berbalik.


~Dia tidak ada? Kemana dia?~ tanya hatinya.


Bondan tak ada di sana. Rania yang sedari tadi cemas Beni akan marah karena mereka berada dalam satu ruangan, langsung merasa lega sekaligus bertanya kemana Bondan pergi.


Namun dengan cepat, dia menyiapkan kembali teh hijau yang diminta Beni.


"Kau tahu, akan ada banyak orang penting yang datang nanti. Jangan gugup ya, beberapa orang dari Jakarta juga ada" ucap Beni.


Rania melirik mendengar kata Jakarta. Hatinya merindukan kota itu. Kenangan tentang berjuang hidup di sana.


"Kau merindukan Jakarta?" tanya Beni.


Rania berbalik membawa cangkir tehnya dan berjalan mendekat.


"Tidak! Aku suka di sini" jawab Rania.


Bertentangan dengan hatinya, dia mengatakan hal yang selalu tak sesuai dengan isi hatinya.


Beni meminum tehnya dan tersenyum mendengar jawaban Rania. Tangannya memegang tangan Rania dan menatap wajahnya.


"Aku suka Dila yang sekarang, selalu berkata dan bersikap sesuai dengan keinginanku. Aku suka itu" ucap Beni.


Rania hendak tersenyum namun merasa terlalu menyetujui ucapan Beni. Dia memalingkan wajahnya dan melepas tangan Beni.


"Aku akan bersiap, kau bisa tinggalkan cangkirnya di washtafel kan? Supaya memudahkan pekerjaan Hedi" pinta Rania.


Beni terkejut dengan ucapan Dila yang dianggapnya sangat lain dari Dila yang dia kenal.


"Hmmm..." jawab Beni.


Rania pergi ke kamarnya. Namun Beni masih terdiam berpikir tentang sikap dan perilaku Dila yang berbeda dengan Dila yang dia kenal dulu.

__ADS_1


~Bagaimana caranya kau bisa berubah begitu drastis? Apa yang membuatmu berubah?~ ucap hati Beni.


__ADS_2