Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
89


__ADS_3

Ramadhan berdiri setelah melihat kakaknya keluar dari ruangan itu. Dia langsung memeluknya, menghapus air matanya dan menguatkannya.


"Tidak apa-apa, kita akan keliling Jakarta nanti malam, ok!" ajak Ramadhan.


Rania tersenyum. Mereka keluar dari kantor polisi. Saga menyusul mereka.


"Terimakasih, sudah mau memberikan pernyataan mu. Itu pasti sangat sulit bagimu" ucap Saga.


Rania menunduk, pamit padanya. Saga hanya mengangguk dan berkedip untuk menjawabnya.


Rania naik motor Ramadhan, dia memeluknya sambil berbisik.


"Antar aku ke suatu tempat" ucapnya.


Ramadhan mengangguk, dia memutar stang gas dan melaju.


Bondan yang sedari tadi menunggunya di mobil, menatapnya. Dia melihat mata Rania sembab. Dia mengikuti mereka.


~Kau berhasil melakukannya Rania, kau terlihat tegar bersama keluargamu. Aku sangat ingin mendampingi mu di saat-saat seperti ini, tapi kenapa kau melarang ku?~ ucap hati Bondan di sepanjang jalan.


Sampai di pemakaman, Rania ingin mengunjungi makam Beni. Dia juga menyiapkan bunga sebelum ke kantor polisi.


"Dia pasti pria yang baik!" ucap Ramadhan.


"Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu?" tanya Rania sambil menaburkan bunga di atas makam Beni.


"Soalnya kakak mengunjunginya, aku percaya, sesiapa orang yang kau istimewakan, dia pasti baik" ucap Ramadhan.


"Dia jadi sahabat ku selama ini, selalu mendengarkan keluh kesah ku, meski keluhan ku selalu membuatnya kesal" ucap Rania sambil mengusap nisannya.


"Aku kira Kak Bondan yang seperti itu" ucap Ramadhan.


Rania diam, dia tak menjawab.


"Aku agak heran kakak menghindarinya, padahal dia selalu menunggu kakak di rumah sakit. Dia bahkan datang setelah bekerja dengan Kak Vero. Babe juga ngira dia pacar kakak" Ramadhan terus bicara.


Rania menatapnya dan memegang mulutnya untuk diam.


"Ih...cerewet banget. Emang pilot harus cerewet ya?" ucap Rania mengejeknya.


Bondan yang berpura-pura berziarah di dekat makam Beni, mendengarnya.


~Dia nggak jawab, apa dia menyerah? Apa ini akhir dari hubunganku dengannya?~


Rania berdiri dan mengajak Ramadhan untuk pulang.


"Ayo, aku sedikit pusing karena menangis tadi" ucap Rania.


"Mataharinya juga terik kak, apa nggak akan pusing pas naik motor nanti?" Ramadhan khawatir.


"Nggak akan, nanti kan ada anginnya kalo jalan" ucap Rania sambil sempoyongan.


Bondan tak tahan melihatnya.


"Ramadhan, kamu pulang aja. Biar Rania aku yang bawa" ucap Bondan.


Rania terkejut, dia tak sangka ada Bondan di sana. Bondan menggendong dan membawanya ke mobil. Ramadhan yang tahu Bondan sedari tadi mengikuti mereka, hanya tersenyum dan menyusul mereka.

__ADS_1


Rania berpegangan pada leher Bondan, dia menatap wajah Bondan dengan samar-samar akibat silaunya cahaya matahari. Nafasnya terengah, dia merasa pusing dan lemas.


"Kita ke rumah sakit saja" ucap Bondan khawatir.


Rania memegang tangannya yang memegang stir mobil.


"Aku mau pulang ke rumah ibu" ucap Rania.


Bondan menatapnya dengan kesal, dia tak memperdulikan permintaannya. Bondan membawanya ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, dokter malah memarahi Bondan.


"Aku sudah bilang, meskipun dia sudah bisa pulang, tapi dia masih harus banyak istirahat" teriaknya pada Bondan.


Bondan menunduk dan meminta maaf.


"Aneh mau orang yang disayangi cepat sehat tapi tak dibiarkan istirahat" ucap Dokter seraya pergi.


Bondan masih menunduk hingga Dokter itu pergi, dia juga masih mendengarkan ocehannya.


Rania mendengarnya, dia jadi merasa bersalah.


Suster datang dan memberikan resep obat.


"Pak, ini obat yang harus dibeli, pelengkap obat yang masih sisa kemarin sepulang dari sini. Ouh ya, bu Rania nya sudah boleh pulang" ucap suster.


Bondan menerima resep dan menghampiri Rania.


"Kau tunggu ya, aku akan beli resep obat ini dulu" ucap Bondan.


Rania diam saja, dia masih lemas.


"Astaga, panjang sekali antreannya?" keluhnya.


Sementara Rania memikirkan Bondan yang sudah susah payah melakukan semua untuknya. Dia mengingat semua kenangan bersama Bondan.


~aku harus bagaimana Bondan?~ ucap hati Rania.


Bondan masih mengantre, dia menatap ke depan, masih ada sepuluh orang lain yang ada di depannya.


Sementara itu, Ramadhan datang menemui Rania. Dia merasa ada kesempatan untuk pergi, dia mengajak Ramadhan pergi.


"Ayo, aku mau pulang!" ajak Rania sambil perlahan turun dari ranjang.


"Tapi, kak Bondan?" tanya Ramadhan.


"Cepetan!" ucap Rania.


Dia keluar dari pintu samping rumah sakit, jalan yang tak akan terlihat oleh Bondan. Dengan memaksakan diri, Rania berjalan dengan cepat dibantu Ramadhan.


Sampai di parkiran, Rania memakai helm dan naik ke motor. Dia memeluk Ramadhan dengan erat. Merekapun pergi.


Bondan selesai dengan antreannya, dia berjalan cepat ke ruang pemeriksaan, namun Rania sudah pergi. Dia mencari dan melihat ke ruangan lain. Tapi tetap tak ada. Dia menghubungi Ramadhan.


"Iya Kak! Kak Nia minta pulang cepet. Maaf nggak ngasih tahu kak Bondan dulu" ucap Ramadhan.


"Ouh, ok nggak apa-apa" jawab Bondan.

__ADS_1


Dia menghela, dia sangat kecewa, bahkan dalam keadaan seperti itu pun dia sangat ingin menghindarinya. Bondan pergi ke rumah Bu Vera.


Bondan menelpon Ramadhan setibanya di depan gang. Ramadhan langsung datang dengan berlari.


"Kak Bondan nggak masuk dulu?" tanya Ramadhan.


"Nggak, ini obat yang tadi aku beli. Bilang sama Rania, aku akan nunggu sampai dia mau ketemu sama aku, dan aku nggak akan pernah mengganggunya sampai saat dia mau bertemu" pinta Bondan.


"Tapi Kak!" Ramadhan enggan Bondan pergi.


"Ouh ya, bilang sama dia minum obatnya, ya!" ucap Bondan lagi.


Kali ini Bondan pergi tanpa menemui Rania. Dia memutuskan untuk memberinya ruang dan waktu. Akan sulit baginya untuk benar-benar menerima ketulusan Bondan jika dia masih punya perasaan bahwa dia tidak pantas.


Bondan melambaikan tangan pada Ramadhan. Dia pergi dengan setengah hatinya yang sudah dia tinggalkan untuk Rania.


Ramadhan kembali ke rumah, kemudian meletakkan obat di meja di kamar Rania. Dia menatap wajah Ramadhan yang lesu.


"Apa ini? Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Rania.


Ramadhan yang hendak mengambil air di teko yang sudah habis, berhenti namun tak berbalik.


"Obat, Kak Bondan yang kasih" ucapnya datar.


Rania diam menatap obatnya.


~Dia tidak masuk ke rumah?~ ucap hatinya.


Ramadhan masuk membawa tekonya. Dia melirik wajah Rania yang masih menatap obatnya.


"Dia bilang kakak harus minum obatnya dan sembuh" ucap Ramadhan sambil menuangkan air ke gelas.


Rania menatapnya dan menunggu pesan dari Bondan lagi. Ramadhan memberikan obat untuk dia minum sambil menatap dirinya yang menunggu.


"Kenapa? Kak Nia menunggu pesannya yang lain?" tanya Ramadhan.


Rania menghela, dia sadar terlalu egois.


"Aku tahu kak Nia nggak bermaksud bersikap egois. Tapi Kak, aku rasa dia benar-benar sangat tersiksa dengan sikap Kakak" ucapnya.


Rania tak menjawab, dia mengambil obat dan air minumnya dengan perlahan.


"Dia berhak dapet yang lebih baik dari Kakak" ucap Rania kemudian meminum obatnya.


"Tapi dia maunya Kak Nia!" tegas Ramadhan.


"Tapi kakak nggak bisa" jawab Rania.


"Ok, terserah Kakak. Satu lagi pesannya, dia bakal nunggu Kakak sampe bersedia nemui dia, dan selama nunggu itu, dia janji dia nggak akan pernah ganggu Kakak lagi" ucap Ramadhan.


Dia merapikan selimut kakaknya kemudian mengecup keningnya.


"Jangan banyak berpikir, kalopun dia nggak nunggu, aku bakalan cari laki-laki lain yang lebih baik darinya" ucap Ramadhan.


"Makasih!" jawab Rania.


"Aku di luar, kalo mau apa-apa panggil aja" pinta Ramadhan.

__ADS_1


Rania mengangguk


__ADS_2