Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
154


__ADS_3

Rania diperiksa kembali, kali ini pemeriksaan berlanjut lebih lama. Bondan, Vero dan Bu Vera menunggu dengan gelisah. Meskipun sikap Rania mulai stabil setelah Bondan kembali, tapi rasa takut masih menyelubung di hati mereka.


Dila menatap mereka bertiga, lalu terlintas dalam benaknya. Apa mereka akan bersikap sama jika dia yang ada di posisi mereka. Kemudian lamunannya buyar saat melihat Yudi ternyata juga menunggu Rania dari kejauhan.


~Astaga, aku bahkan masih merasa kesal jika dia memberikan perhatian lebih pada Rania daripada kepadaku~ keluh Dila pada dirinya sendiri.


Mata Dila mendelik, Vero melihatnya. Kemudian dia menatap ke arah Yudi. Vero berdiri dan menghampirinya.


"Kenapa kau di sini?" tanya Vero sambil memasukkan kedua tangganya ke saku jaket.


"Aku kebetulan lewat" Yudi memberi alasan.


Vero menyeringai.


"Dengar, pergilah, sebelum aku merasa kesal" ucap Vero sedikit berbisik.


Bondan melihat mereka, dia berdiri dan menghampiri mereka.


"Aku cuma mau tahu keadaan anakku. Kenapa kau melarangku, semua orang juga akan mengerti dan takkan melarang seorang ayah yang ingin mengetahui keadaan anaknya" Yudi kekeh.


Vero menarik kerah kemejanya. Bondan menahan tangan Vero.


"Hei, ini rumah sakit. Kendalikan diri kalian, jika Rania lihat, dia pasti sedih" ucap Bondan.


Yudi menatap Bondan dan menertawakan ucapannya.


"Mudah bagimu mengendalikan diri karena Rania memilih untuk di samping mu. Lain halnya dengan aku Bondan! Aku kehilangan semuanya" ucap Yudi menantang.


"Kau dengar, dia bahkan tidak berpikir, siapa yang menyebabkan kemalangan ini terjadi" ucap Vero menunjuk Yudi.


Yudi semakin kesal, dia hendak melawan Vero. Namun Dila datang dan menarik tangan Yudi keluar bersamanya. Vero hendak menyusul mereka karena tak mau Yudi kembali mencuri perhatian Dila.


"Kamu nggak akan nemenin Rania?" tanya Bondan.


Perkataan Bondan menghentikan langkahnya. Matanya menatap kepergian Dila dan Yudi. Vero ikut duduk bersama Bondan.


###


Yudi menghempas tangan Dila saat mereka masih diambang pintu keluar. Dila menatapnya, dia mengambil kembali tangan Yudi dan menariknya lagi ke parkiran mobil. Yudi tak bisa melawan lagi.


Sampai di dekat mobilnya, Dila menghempas tangan Yudi.


"Apa-apaan ini, kamu narik aku keluar gitu aja!" seru Yudi dengan kesalnya.


Dila menghela sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


"Bisa nggak sih kamu sedikit menahan diri?" tanya Dila.


"Dil, aku cuma diam berdiri di sana. Cuma mau dengar bagaimana keadaan kandungan Rania. Udah itu aku pasti pergi tanpa mengganggu kalian. Kakak kamu aja yang berlebihan dan seenaknya ngusir aku" Yudi meluapkan kekesalannya.


Dila berpikir ucapan Yudi ada benarnya. Vero memang berlebihan dan terlalu melindungi Rania. Tapi dia tetap harus membuat Yudi menjauh dari Vero.


"Pokoknya tunggu di sini! Nanti aku kasih tahu keadaannya" ucap Dila ikut kesal.


Dila berbalik dan hendak kembali masuk.


"Makasih Dil!" ucap Yudi melemah mendengar Dila mau memberitahukannya keadaan Rania dan kandungannya.


"Hmmm" jawab Dila singkat, kemudian berjalan menjauh darinya.


~Kamu sudah berubah menjadi lebih dewasa Dil, sementara aku? Vero pantas untuk berpikir tak mempercayakan Rania padaku, aku masih terus menggebu-gebu tanpa terkendali~ ucap hati Yudi.


###


Dila berjalan masuk ke rumah sakit, kemudian berhenti di lorong yang sepi. Tangannya meremas dadanya, matanya terpejam sedikit menangis. Tubuhnya bersandar pada tembok, dia mulai terduduk.


~Kenapa masih sakit? Rasanya masih sakit Yud~ ucap hati Dila.


###


Suster membawa Rania keluar dari ruang pemeriksaan. Bondan, Vero, Dila dan Bu Vera berdiri menyambutnya.


Sementara Bondan dan Bu Vera juga Dila masuk untuk mendengarkan penjelasan dokter.


"Ya, silahkan duduk. Aku tahu kalian pasti penasaran dengan apa yang terjadi" ucap Dokter.


Semua orang duduk dan sangat menunggu.


"Ini hasil USG nya. Selamat, Rania mengandung kembar putra" ucap Dokter.


Semua orang tersenyum, Dila merekam hasil USG nya.


"Namun, keadaan Rania semakin memburuk" lanjut Dokter.


Ucapannya membuat senyum mereka menghilang seketika.


"Maksudnya?" tanya Vero.


"Penyakit ini adalah penyakit bawaan sejak dia bayi. Kami mencocokkan rekam medis yang pernah anda beritahu pada kami sebelumnya. Fisiknya semakin lemah, apalagi dia harus menyalurkan seluruh nutrisi untuk kedua janinnya. Rania sangat berusaha dengan baik mengatur mental dan fisiknya agar kandungannya baik-baik saja" jelas Dokter.


Dia menunjukkan rekaman saat Rania diberikan terapi psikologis saat dia tertidur secara alami.

__ADS_1


Rania menunjukkan sikap berbeda-beda. Sebentar dia bersikap seperti anak kecil dan mengatakan sangat merindukan ayahnya Heru. Sebentar dia mengatakan bahwa dirinya harus sehat agar bayinya bisa selamat. Kemudian berubah menjadi sedih dan menangis mengatakan ketakutannya akan kejadian masa lalunya.


Vero tak tahan melihat rekaman itu, dia menunduk dan menangis. Dila memegang tangannya untuk memberi dukungan. Bu Vera pun terus mengusap air matanya.


"Dia sangat kuat, kalian hanya harus mendukungnya. Dan aku lihat dia sangat senang saat Bondan bersamanya" ucap Dokter.


Mereka semua menghapus air matanya dan bersiap keluar setelah dokter selesai menjelaskan.


Dokter memperhatikan mereka bertiga. Vero dan Bu Vera keluar untuk melihat Rania yang katanya menunggu di ruangan lain.


"Bisa aku bicara dengan mu?" ucap Marcel pada Dila.


Dila menatap dan mengangkat kedua alisnya seolah bertanya apa yang diinginkan dokter Marcel darinya, namun dia menurut dan kembali duduk.


"Ada apa?" tanya Dila.


"Aku lihat, dibandingkan yang lain, kau jauh lebih kuat. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting" ucap Marcel.


Dila merinding ketakutan, dia mengusap lengannya.


"Kau membuatku takut" ucap Dila.


Marcel menunjukkan lanjutan rekaman saat Rania mendapatkan pertanyaan dari Cintya. Dila menganga tak percaya, tangisnya mulai kembali pecah. Marvin menunduk ikut sedih melihat Dila, sebagai kembaran Rania harus melihat dan mendengar semua itu.


Dila keluar dari ruangan Marcel dengan terus mengusap air matanya agar tak terlihat oleh yang lainnya. Dia mengatur nafasnya kemudian berjalan menuju ruangan Rania.


Tapi Yudi yang menunggunya tak sabar dan masuk kembali tanpa terlihat oleh Vero, menarik lengannya dan mengajaknya ke tangga pintu darurat.


Dila menatap Yudi kemudian kembali menangis. Dia tak tahan, tak ada yang bisa diajaknya bicara. Dila memeluk Yudi dengan erat kemudian menangis tersedu di pelukannya.


Yudi heran dengan sikap Dila, tapi dia membiarkannya menangis beberapa saat. Sementara itu Yudi bersiap dengan semua kemungkinan yang terjadi.


Lama Dila menangis tanpa kata. Yudi mencoba bertanya dengan suara pelan.


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


Dila tersadar, dia berhenti menangis dan melepas pelukannya. Dengan mengusap air matanya, Dila menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku terlalu senang. Selamat, kau punya dua putra kembar" ucap Dila.


Yudi tersenyum lega, dia memeluk Dila dengan senangnya. Dila ingin menangis lagi, namun dia harus menahan semuanya, mengingat ucapan Marcel yang mengatakan bahwa dia harus bisa menjelaskan keadaan Rania secara perlahan pada yang lainnya.


"Makasih Dil!" Yudi menatap Dila dengan rasa iba.


"Selamat!" ucap Dila lagi.

__ADS_1


"Aku tahu ini nggak mudah bagi kamu, tapi terima kasih. Terima kasih sudah mau memberitahukannya padaku. Terima kasih!"


Dila hanya mengangguk, Yudi keluar dan meninggalkannya.


__ADS_2