Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
28


__ADS_3

Rania menetesakan air mata saat melihat lukisan yang ditunjukkan Beni. Tangannya perlahan menyentuh wajah yang ada dalam lukisan itu.


~Jadi ini keluarga Dila. Dia cantik sekali, aku seperti pernah melihat mereka. Kapan ya!~ hati Rania berbisik pada dirinya sendiri.


"Cantik!" ucap Rania spontan saat menyentuh wajah ibu Dila dalam lukisan itu.


Beni tersenyum.


"Sebenarnya ada yang aneh dengan ku akhir-akhir ini" ucap Beni.


Rania masih diam di depan lukisannya.


"Semua memori tentang wajah kamu terlihat samar dalam ingatanku. Tapi aku mau buat kejutan untuk kamu yang sekarang mau nerima aku apa adanya. Jadi aku ambil salah satu foto kamu di ruang kerja momi. Lalu aku lukis" jelas Beni.


Rania membulatkan matanya, tanpa berbalik, dia mendengarkan semua ucapan Beni.


~Ruang kerja?~ dia mulai berpikir.


"Tidak apa-apa jika semua memori samar terlihat, yang penting kamu ada di sini sama aku" ucap Beni.


Tangannya meraih tangan Dila dan menariknya perlahan mendekat padanya. Rania perlahan mendekat dan duduk di ranjang di samping Beni.


Beni membelai rambutnya dan mengaitkannya di telinga Dila. Dia juga membelai pipi dan bibir.


Rania diam saja. Beni hendak mendekatkan wajah padanya.


"Kau tahu alasan Bondan membawa ku kemari?" tanya Rania tiba-tiba.


Beni terhenti dan memalingkan wajahnya dengan kesal karena Dila membahas Bondan saat dia hendak menciumnya.


Rania mengambil tangan Beni yang terlepas darinya.


"Dia mau mempertahankan sesuatu" lanjut Rania.


Beni menoleh dan menatap tangannya yang sangat tumben di genggam kemudian menatap wajah Dila.


"Maksud kamu?" tanya Beni dengan mengerutkan dahinya karena tak paham.


Rania menghela nafas.


"Dia sedang berusaha mempertahankan keutuhan rumah ini. Mempertahankan kalian agar tetap menjadi keluarganya" ucap Rania.


Beni mengalihkan pandangannya dan terdiam.


"Tapi Benk, semua itu ngga akan berhasil kalau cuma Bondan yang berusaha"


Beni menatapnya lagi.


"Iya, semua akan percuma jika yang lainnya tidak tahu tujuannya lalu hanya memikirkan kepentingan diri sendiri" lanjut Rania.


Beni melepaskan genggaman tangan Dila dan menatap ke arah lain dengan hendak bicara.

__ADS_1


"Aku dan kak Bondan bukan saudara kandung. Semenjak aku menjadi anak Ardiana Atmajaya aku selalu ditekan untuk selevel dengan Kak Bondan. Papi... maksudku Ardiana ngga pernah tahu kalau aku mau jadi diri aku sendiri bukan orang lain. Setiap hari, setiap kali selalu dibandingkan dengan dirinya. Aku stress sejak kecil. Kak Bondan selalu jadi pusat perhatian. Semua orang memujinya karena dia pintar. Lalu kemudian secara alami jika aku dan dia sedang ada di hadapan orang-orang, mereka semua membandingkan dengan diri ku yang di mata mereka bukan apa-apa" ucap Beni.


Rania membulatkan matanya, terkejut Beni begitu tenang saat menceritakan rasa sakitnya.


"Dan momi, juga sama. Dia mau aku bisa melebihi Kak Bondan. Kak Bondan selalu meraih tangan ku saat terjatuh. Menarik tangan ku untuk berjalan bersama saat orang-orang membandingkannya agar aku tak merasa sendiri. Tapi semakin dia baik semakin aku membencinya. Terlebih saat kamu terlihat sangat menyukainya dari kecil. Aku jadi sangat membencinya" lanjut Beni.


Rania diam tak mengomentari.


"Aku sangat puas dengan keputusan Ardiana menjodohkan kita berdua. Aku jadi bisa membuat Kak Bondan marah karena aku sering bersama mu. Tapi itu sama sekali ngga berpengaruh buatnya. Dia terlihat ikut bahagia dengan kebahagiaan ku. Seolah tak punya hati, terus belajar dan bekerja"


Ruangan itu hening sejenak, saat Beni diam.


"Aku selalu lihat momi berlaku kasar padanya. Tapi dia selalu menganggapnya ibu seperti ibu kandungnya. Aku semakin berpikir, apa dia benar-benar mati rasa? Kenapa dia bisa bertahan dengan perlakuan ibu dan terus menjadi anak baik baginya. Apa dia bodoh? Atau dia punya maksud lain?"


Beni meneteskan air mata mengingat perlakuan mominya pada Bondan yang menurutnya sangat tidak pantas dilakukan seorang ibu.


Dia mengusap air matanya dan berusaha menghentikannya.


Rania merasa berhasil membangun perasaan sayang Beni pada kakaknya. Dia diam saja tak melakukan sesuatu untuk menenangkannya. Hanya menatap dan mendengarkan Beni yang semakin merubah perasaannya karena ucapannya sendiri.


Beni menghela nafas dalam dan menatap Dila.


"Dulu...aku mau kamu tetap tinggal sama aku hanya untuk membuat Bondan cemburu, membuat momi berhenti meminta ku menjadi orang lain. Saat kamu memilih putus, aku kesal dan seolah ada yang berbisik padaku bahwa Bondan akan merasa puas dan tertawa dibelakangku. Lalu momi....dia...." Beni mulai panik dan terengah.


Rania menggenggam tangannya lagi, namun Beni tetap panik. Kemudian Rania memeluknya, Beni menangis tersedu-sedu. Rania terkejut dengan apa yang terjadi.


~Apa yang terjadi pada mereka? Bondan begitu tegar dan rapi menyembunyikan rasa sakitnya. Sementara Beni begitu rapuh dan tak bisa menahannya~ ucap hatinya.


"Kau tahu, dia melakukannya sejak aku kecil. Aku sudah tidak tahan, aku mau pergi darinya. Aku sudah lelah!" ucap Beni menangis memohon padanya.


Akhirnya Beni terlelap di pangkuan Rania. Dia berusaha membuat Beni tidur dengan bantal dan membuatnya nyaman.


Rania keluar dari kamar Beni dan pergi ke kamarnya. Langkah Rania terhenti saat dia menatap tangga. Dia ingat ucapan Beni yang mengambil salah satu foto Dila dari ruang kerja ibunya.


Rania melirik ke kanan dan ke kiri melihat situasi yang terlihat sepi. Dia melangkah perlahan naik tangga menuju ruang kerja Anita.


Malam sudah larut, kamar semua orang yang dilewatinya tertutup rapat. Tak ada suara selain detak jam dinding besar yang ada di lantai atas, seolah mengikuti langkah Rania yang sangat hati-hati.


Rania melihat pintu ruang kerja Anita, lalu menatap bagian bawah pintu yang terlihat masih menyala lampunya.


~Anita masih di sini!~ ucap hatinya.


Rania panik dan bingung hendak bersembunyi dimana. Tapi dia berhenti bergerak saat Anita terdengar sedang bicara.


"Aku sudah dapat fotonya, tapi ada yang aneh. Aku mau kamu kirimkan foto orang-orang yang kini menjadi temannya" ucap Anita.


Dia diam sejenak, Rania tetap memasang telinganya agar tak melewatkan satu kata pun yang diucapkan Anita.


"Apa?"


Suara Anita terdengar terkejut, dia hampir berteriak namun menutup mulutnya agar tak terdengar terlalu kencang.

__ADS_1


Rania mengerutkan dahinya, dia sangat penasaran dengan apa yang Anita dengar dari telponnya.


"Wah...takdir memang selalu mengejutkan. Kirim foto mereka pada ku besok. Aku mau buat sesuatu pada mereka agar dia dijauhi" ucap Anita.


Rania mendengar ucapan itu sebagai penutup dari semua pembicaraannya dengan seseorang di ujung telpon itu. Dia bergegas mencari tempat bersembunyi.


Anita menutup telponnya dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, semuanya gelap. Dia melanjutkan langkahnya pergi menuju kamarnya.


Namun saat dia sudah membuka pintu, dia berhenti dan terdiam seolah sedang berpikir. Rania yang melihatnya dari tempatnya bersembunyi, terheran melihatnya terdiam.


~Kenapa dia tidak masuk, ayolah cepat masuk!~ ucap hati Rania menjadi panik.


"Aku harus sering mengawasi gadis itu, dia pintar, bisa saja dia merencanakan untuk kabur atau melawan ku" gumam Anita.


Anita menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan turun ke lantai bawah.


~Mau kemana dia?~ Rania semakin panik.


Anita turun tangga, Rania mengendap-endap mengikutinya.


Anita masuk ke kamar Beni dengan perlahan, kemudian menutupnya.


Rania bergegas berjalan dengan sandal di tangannya. Dia cepat-cepat masuk ke kamarnya. Namun sayang saat Rania baru saja masuk, Anita sudah keluar dari kamar Beni dan berjalan dengan cepat membuka pintu kamarnya.


Anita terkejut menatap Rania yang ada di hadapannya. Dia merasa canggung karena masuk tiba-tiba ke kamar Rania. Namun rasa curiga kembali membuatnya bertanya.


"Apa yang kau lakukan? Kau belum tidur?" tanya Anita.


Rania berpura-pura baru terbangun dengan membuka mata seolah sangat merasa ngantuk.


"Aku.....aku...mau melihat Beni sebentar, tadi kurasa dia melupakan obatnya. Anda sendiri sedang apa? Apa masuk ke dalam kamar orang lain adalah kebiasaan anda?" ucap Rania sambil menggosok matanya.


"Ini rumah ku, aku mau melakukan apapun itu adalah hak ku. Aku juga berhak tahu apa kau benar-benar dapat dipercaya atau tidak!" ucap Anita.


Rania menatapnya dan mengambil nafas dalam.


"Jika kau tidak bisa percaya pada orang lain, kau sendiri yang akan kelelahan karena akan melakukan segalanya sendiri" ucap Rania.


Anita berbalik dan hendak pergi.


"Orang yang kau ancam padaku akan disakiti adalah orang yang sangat aku sayangi. Dan satu lagi adalah orang sangat menyayangi mu" seru Rania.


Anita berhenti sejenak dari langkahnya.


"Aku akan tetap di sini, agar mereka berdua tetap hidup dan menjadi yang aku sayang dan menjadi orang yang menyayangimu" lanjut Rania.


Anita paham perkataan Rania. Dia tahu orang yang dimaksud dengan orang yang menyayanginya adalah Bondan. Tapi Anita tak berekspresi, dia berbalik dan menatap Rania.


"Bagus, kalau begitu aku memang tak salah mengancam mu dengan kedua orang itu" ucap Anita.


Rania terheran dan kesal mendengar ucapan Anita yang benar-benar mati perasaannya.

__ADS_1


"Astaga....dia benar-benar kejam" gumam Rania.


Anita pun pergi ke kamarnya.


__ADS_2