Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
37


__ADS_3

Restoran sudah siap dengan segala menu dan semua pegawainya. Tamu pertama yang mengantri sejak jam makan siang di sambut oleh Fajri dan Arumi. Yudi sibuk di dapur bersama para kru dapur.


Saat menunggu menu pertama, Yudi terpikirkan dengan ketidakhadiran Dila di hari ini. Arumi mengatakan bahwa sejak dia bangun, Dila sudah tak ada. Meski koper dan barangnya masih ada di rumah mereka, namun Dila pergi tanpa pesan.


Yudi bergegas mencarinya dari pagi, dia melihat Dila naik taksi dan Yudi mengikutinya. Dila berhenti di pemakaman, Yudi membuntutinya.


Yudi melihat Dila menangis di depan makam orang tuanya. Dengan membicarakan semua yang terjadi padanya malam kemarin, Dila seolah bicara langsung dengan mereka. Yudi merasa sangat bersalah.


Yudi menatap tempat cuci piring, tempat dimana dia melakukan hal bodoh. Yudi merasa bersalah dengan apa yang terjadi semalam. Dia berencana akan meminta maaf pada Dila setelah selesai bekerja.


Arumi kesal, dia jadi harus bekerja lebih keras bersama Fajri. Pelanggan mulai datang karena semua unggahannya di sosial media.


"Meski berkat dia restoran ini ramai, tapi dia sangat tidak bertanggung jawab. Tak bekerja dan tak mengatakan apapun. Setidaknya dia menelpon kita" ucap Arumi pada Fajri yang membantunya.


Fajri hanya tersenyum, seperti biasanya, tak ada komentar dan jawaban.


"Dimana Dila?" tanya seorang pelanggan.


Fajri membulatkan matanya, terkejut dengan respon pelanggan yang justru menanyakan Dila bukan makanan atau yang lainnya.


"Dila belum datang, mungkin sebentar lagi" jawab Fajri.


"Waah...sayang sekali ya! Padahal aku kemari karena ingin bertemu dengannya. Dia cukup terkenal di sosial media loh!" lanjut pelanggan itu bicara memuji Dila.


Arumi terdiam, dia mengakui pengaruh Dila dalam pemasaran melalui sosial media. Dia pergi ke kantor dan berusaha menghubungi Dila. Namun tetap saja, Dila tak mengangkatnya.


"Dimana dia sekarang?" gumam Arumi dengan kesal.


Dua jam kemudian, Dila datang dengan riasannya yang serba berwarna peach. Beberapa orang menatapnya dan membicarakannya. Dia sangat terlihat cantik dan berbeda.


Arumi menatapnya dengan sinis. Fajri hanya tersenyum, kemudian bicara padanya.


"Darimana saja? Beberapa pelanggan menanyakan mu. Ini terlalu sore untuk datang bekerja" ucap Fajri.


"Maaf, aku menemui teman lama dan menerima jamuannya" jawab Dila acuh.


Arumi membiarkannya untuk saat ini, terlalu banyak orang untuk menariknya dan marah meski hanya dalam kantor.


Hari terasa cepat berlalu, restoran yang begitu ramai membuat semua orang sibuk hingga tak tahu waktu.


Fajri membalik tanda "BUKA" menjadi "TUTUP", hari sudah larut.


Semua orang dipanggil oleh Arumi untuk berkumpul di ruangan makan. Fajri berdiri di samping Arumi, Dila berdiri dekat kasir dengan gaya menyandarkan dirinya ke meja kasir. Yudi berdiri di pintu dapur dengan melipat tangannya di dada. Beberapa kru berbaris dengan urutan yang diminta Arumi.


Hari ini waktunya gajian, satu persatu dari mereka masuk setelah Arumi memintanya. Fajri membantu dengan memanggil mereka di pintu.


Semua orang sudah mendapatkan gaji, mereka pulang. Yang tersisa adalah Yudi, Fajri dan Dila, berkumpul di ruang kerja Vero.


"Hai, selamat malam!" sapa Vero dalam video call.


"Hai bro, bagaimana Melbourne?" tanya Yudi.


"Cuaca sedang dingin malam ini. Bagaimana dengan kalian? Semuanya lancar?" tanya Vero.


Semua orang tersenyum, kecuali Dila.

__ADS_1


"Ya semuanya lancar, restoran ramai bos. Aku rasa bulan depan kita akan melebihi target" ucap Fajri.


"Baguslah! Lalu kenapa dengan manager pemasaran kita? Wajahnya terlihat tak begitu ceria?" tanya Vero.


Dila menatapnya dan mengangkat kedua alisnya.


"Aku baik-baik saja" jawab Dila.


Yudi tertunduk malu mengingat kejadian semalam, dia kira Dila takkan masuk kerja hari ini. Meski datang terlambat, namun dia senang Dila datang dan bisa memisahkan antara pekerjaan dan masalah pribadi.


Vero tersenyum melihat adiknya yang berdandan sesuai dengan karakternya. Dia merasa beberapa hari lalu dia terlihat terpengaruh dan berusaha menyamai penampilan Rania, setelah mendengar cerita dari mereka.


"Baiklah, aku sudah transfer ke rekening kalian masing-masing untuk gaji bulan ini. Kecuali Dila ya, Arumi akan bicara dengan mu setelah ini. Aku berharap, restoran mendapat banyak pelanggan dan bisa mencapai target bahkan lebih seperti yang Fajri ucapkan. Terimakasih!"


Vero pamit dan menutup video call terlebih dahulu. Dila menatap Arumi yang sedari tadi sore memasang wajah kesal padanya. Sementara Arumi meminta yang lainnya keluar. Namun Yudi masih berdiri menatap Dila, dia tak mendengarkan ucapan Vero ataupun Arumi.


Arumi melihat tingkah kakaknya dan curiga telah terjadi sesuatu antara mereka.


"Hei..kau bisa pergi!" ucap Arumi.


Yudi tak bergeming. Arumi menghampiri nya kemudian menginjak kakinya. Yudi mengerang kesakitan dengan mengangkat kaki nya yang diinjak.


Dila tersenyum menertawakan tingkah lucu Yudi dan Arumi. Yudi melihatnya dan merasa bahwa Dila sepertinya sudah memaafkannya. Yudi keluar dengan perasaan tenang meski kakinya masih sedikit terasa sakit.


Arumi mengerutkan dahinya melihat cara mereka tersenyum.


~Apa kak Yudi suka sama Dila? Huhf please deh, masa suka sama cewek yang sama persis wajahnya!~


Arumi menghela nafas, dia berpikir akan merasa kesal jika Dila menjadi kakak iparnya seandainya Yudi berpindah hati padanya.


"Masih lebih baik Rania" gumam Arumi.


"Tidak! Aku hanya sedang membandingkan mu dengan orang yang wajahnya sama. Tapi ternyata....wajah sama belum tentu sifat dan kepribadian juga sama" ucap Arumi.


"Apa maksudnya?" tanya Dila dengan kesal.


"Rania selalu bekerja keras, entah itu sebagai waitress, pengatur acara atau bahkan hanya sebagai tukang cuci piring. Dia juga selalu mengatakan kemana dia pergi dan mengapa tidak bisa datang. Memberi tahu sebelum kami memulai dan meminta maaf sebelumnya. Tidak seperti mu" jelas Arumi.


Dila mulai kesal kembali, dia merasa tak adil dibandingkan dengan Rania yang kemampuannya jauh berbeda dengannya. Dia menatap wajah Arumi yang sedang mengambil amplop untuk diberikan padanya.


"Ini, beritahu Fajri nomor rekening mu. Supaya aku tidak perlu seperti ini lagi" ucap Arumi.


Dila berusaha menahan dan tetap menghargai Arumi, meski hatinya sangat kesal. Namun cara Arumi menyerahkan amplopnya membuat dirinya kesal dan melawan.


"Pertama, aku minta maaf karena tidak mengabari mu aku datang siang karena terjebak macet sepulang dari makam kedua orang tuaku. Kedua mungkin ya, aku memang seperti ini tidak menganggap formal hubungan kita karena aku menganggap mu sahabat sebab kalian memberiku tempat tinggal. Terakhir, aku bukan Rania, aku bukan dia yang level nya sangat jauh dari ku. Aku bukan dia yang menurut mu rajin dan aku bukan dia yang menurut mu sangat pengertian. Aku Dila Aryani Subagja, diri ku sendiri. Punya sifat yang jauh berbeda, aku bahkan tidak kenal dengan dirinya. Tolong jangan bandingkan diri ku dengan dia yang sama sekali tidak ada di sini" ucap Dila dengan merapatkan kedua telapaknya memohon.


Dila pergi tanpa pamit, dia keluar dengan kesal. Arumi terduduk, sadar bahwa caranya memberitahu kesalahan Dila yang tak mengatakan alasan terlambat, salah.


"Sekarang aku yang salah karena membandingkannya. Aku juga tidak suka jika Vero selalu memikirkan Rania, apalagi Dila yang wajahnya mirip. Dia pasti tak nyaman dibandingkan seperti itu" ucap Arumi pada dirinya sendiri.


Yudi yang sedari tadi menunggu, melihat Dila keluar dengan kesal. Dia menyusul Dila yang mengambil tasnya di ruang ganti.


"Hai...." ucap Yudi.


Dila berhenti dan terdiam mendengar sapaan Yudi. Dia berbalik kemudian mengatakan semua kekesalannya.

__ADS_1


"Ada apa? Kau mau membandingkan aku dengan Rania lagi? Kau mau mengatakan bahwa yang kau lakukan semalam, ciuman, pelukan, semua itu hanya untuk Rania bukan untuk Dila. Kemudian nanti adik mu datang mengatakan bahwa aku tak sebaik Rania. Tak serajin Rania. Dan Rania yang masih lebih baik. Begitu?"


Mata Yudi membelalak mendengar Dila mengeluh dengan kesal. Yudi hendak memegang tangan Dila, namun dia menangkisnya.


Arumi yang mengikuti mereka mendengarnya di dekat pintu ruang ganti, dia terkejut karena Yudi melakukan hal yang lebih buruk darinya.


"Dengar....kalian boleh berpikir kalau aku sangat berbeda dengan Rania, orang yang kalian kenal. Tapi aku mohon, simpan semua pemikiran kalian hanya dalam pikiran kalian saja. Karena meskipun kalian bicara atau bersikukuh aku tak seperti dia, aku takkan menjadi dia. Aku bukan dia"


Yudi mencoba untuk menenangkannya, namun Dila masih kesal.


"Aku ya diriku sendiri. Dila, meski terlihat manja, aku bisa hidup sendiri. Aku bisa mandiri, kau lihat saja nanti. Aku akan pergi dari rumah kalian dan mencari kosan sendiri. Aku akan hidup mandiri"


Yudi melihat cara Dila yang bicara seperti anak kecil yang berusaha menunjukkan dirinya sudah dewasa. Dia tersenyum saat Dila menghapus airmatanya dengan lengannya.


"Sudah marahnya?" tanya Yudi dengan menghapus air matanya.


Dila menjadi diam kemudian duduk di kursi. Dia merasa lelah karena bicara sambil merasakan kesal di hatinya.


"Maaf! Aku minta maaf, entah itu untuk diri ku yang melakukan hal tak pantas semalam, ataupun untuk Arumi yang berkata-kata hal lain. Maafkan kami ya?" ucap Yudi.


Dia jongkok di hadapan Dila sambil memegang tangannya. Dila menatap matanya yang terlalu cantik untuk umumnya seorang pria.


"Sudah, aku akan bilang sama Arumi untuk tak melakukannya lagi. Sudah ya, jangan menangis" pinta Yudi.


Dia berdiri kemudian memeluk Dila, mengusap kepala Dila yang menempel di bahunya. Arumi melihatnya, dia mengangkat kedua alisnya merasa Yudi menyukai Dila.


"Ayo pulang!" ajak Yudi.


Arumi buru-buru pergi mendengar Yudi mengajaknya pulang.


"Ngga, aku mau nyari kosan dulu!" ucap Dila dengan manja.


"Nyari kosan malem-malem begini, mana ada? Ntar disangkanya mau macem-macem lagi" ucap Yudi sambil tersenyum.


Dila tetap diam.


"Udaah.. besok lagi, aku temenin nyarinya besok pagi!" bujuk Yudi.


Dila menyerah, Yudi menarik tangannya dan bersama keluar.


Fajri yang sedang bersiap memakai helm berhenti bergerak saat menatap Yudi memegang tangan Dila keluar dari ruang ganti. Begitu pun Arumi yang sedang memasang tas selendangnya. Mereka saling bertukar tatapan.


"Kalian pacaran?" tanya Arumi.


Dila melepas genggaman tangan Yudi.


"Tidak, tapi mungkin akan" ucap Yudi sambil memegang tangan Dila kembali.


Arumi membulatkan matanya, terkejut dengan ucapan kakaknya, begitupun Dila.


"Wah...kabar baik itu. Kapan traktirannya?" ucap Fajri memecah ketegangan antara Arumi dan Yudi yang saling menatap tajam.


"Nanti aku kabari, setelah Dila menerima ku" ucap Yudi.


Yudi dan Fajri saling tos, sementara Arumi mendelik.

__ADS_1


"Hei...kamu...ajak Dila pulang bersama mu. Ini ongkos taksinya. Jangan bicara yang aneh-aneh. Ingat!" ancam Yudi.


Arumi mengambil uang yang diberikan Yudi. Kemudian mengajak Dila.


__ADS_2