
Dila mengedit beberapa foto yang menunjukkan Chef Yudi yang terlihat sangat tampan. Dia menatapnya dengan terpesona. Sesekali tersenyum merasa benar-benar malu sendiri memandangi wajah tampan Yudi.
Arumi melihatnya dari kejauhan. Dia merasa aneh dengan sikap Dila yang tersenyum-senyum sendiri. Dia penasaran dan menghampiri Dila, lalu melihat apa yang sedang dilakukannya.
Arumi mengangkat kedua alisnya, terkejut dengan apa yang dia lihat.
~Dia memandangi foto Yudi!~ ucap hatinya.
Dila mengubah raut wajahnya dan berpura-pura fokus saat tahu Arumi ada di belakangnya.
"Waahhh...kau mulai terpesona dengan Yudi? Maksudku Chef Yudi" ucap Arumi.
Dila salah tingkah dan hendak menjelaskan.
"Aku....bukan begitu Kak!" jawab Dila.
"Ya, jangan begitu. Jikalau pun kau begitu akan sulit" ucap Arumi.
Dila membulatkan matanya karena ucapan Arumi.
"Sulit? Maksudnya?" tanya Dila.
Arumi tersenyum mengejek nya.
"Ya...akan sulit, Yudi sudah sangat mencintai seseorang. Meskipun kamu mirip dia, kamu bisa lihat kan kalau dia sangat mampu membedakan orang yang dicintainya? Dia tak bereaksi saat melihat mu" jelas Arumi sambil duduk di dekat Dila.
Dila membulatkan matanya, dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Arumi. Namun saat mengingat kejadian itu, dia sedikit paham dan merasa mengerti mengapa tamu itu menganggapnya orang lain yang dikenalnya, lalu Yudi menariknya ke dapur.
Arumi menggigit bibirnya sendiri. Dia merasa salah karena sudah menceritakan sesuatu hal yang bukan hak nya untuk bicara.
Dila paham dengan Arumi yang tiba-tiba diam. Dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tak dipahaminya.
"Maaf, aku merasa kau benar-benar mirip dengannya. Sudah lama juga aku tak bertemu dengannya. Mungkin aku merasa rindu" ucap Arumi.
Dila tersenyum namun terlihat sangat tidak suka dengan pernyataan Arumi.
Arumi pun pergi tanpa bicara lagi. Dila menatapnya dari belakang. Matanya sinis dan terlihat tak menyukai situasi itu.
Dila kembali bekerja dan meneruskan mengupload semua foto ke sosial media.
###
Malam tiba, Vero baru datang dan langsung menanyakan perkembangan pekerjaan Dila.
"Hai Dila! Gimana, sudah selesai?" ucap Vero sambil menepuk bahu Dila.
Arumi menatap gerakan tangan Vero dan memiringkan bibirnya karena kesal.
Dila tersenyum senang di sapa bosnya. Dengan semangat dia menjelaskan apa yang sudah dan belum dia kerjakan.
Vero mendengarkan dan takjub dengan pekerjaannya. Sesekali juga memberikan pendapatnya untuk menambahkan kekurangan cara Dila bekerja.
Selesai bicara dengan Dila, Vero mencari-cari Arumi ke ruangannya, namun tak ada. Vero berjalan menuju dapur, suara tawa Arumi sudah terdengar, hatinya lega, bibirnya tersenyum.
Saat membuka pintu dia menatap Nuri yang duduk dekat Yudi.
"Waahh... pantas saja rame, ada penyusup!" ucap Vero menggoda Nuri.
__ADS_1
Nuri membelalakkan matanya terkejut disebut penyusup.
"Pak! Kok penyusup sih" keluhnya.
Arumi mundur perlahan memberi jalan agar Nuri bisa mendekat pada Vero. Namun Vero menarik lengannya dan menjadikan Arumi sebagai tameng agar Nuri tak mencubitnya.
Vero berlindung di belakang Arumi, dengan memeluknya. Yudi menatapnya dengan senang. Dia merasa bahwa Vero masih menjaga perasaan Arumi adiknya.
Arumi kebingungan dengan tingkah kedua orang ini. Dia jadi masuk pada lelucon Vero dan Nuri yang tak kunjung berakhir.
Yudi pergi ke luar dan melihat Dila masih menatap laptopnya. Dia menghampiri dan menyapanya.
"Kau belum makan dari tadi siang" sapa Yudi.
Dila membulatkan matanya, mencoba mengulang ucapan Yudi di pikirannya.
"Ah...ya, nanti saja!" jawab Dila.
Dila menerka perhatian yang diberikan Yudi hanyalah karena dia mirip dengan wanita yang dia sukai. Dia jadi diam tak banyak bicara seperti biasanya.
"Aku akan buatkan Carbonara kesukaan mu" ucap Yudi.
Dia hendak pergi, namun Dila melarangnya.
"Tidak usah! Aku akan makan saat mencari kosan nanti, lagi pula aku sudah selesai. Aku akan pergi" ucap Dila.
"Makan dulu sebelum pergi, tidak baik menolak rezeki!" ucap Yudi.
Dila berhenti dan mundur kemudian duduk kembali.
"Baiklah!" jawabnya.
Yudi mengangkat bahunya pertanda bahwa dia tidak mau. Lalu Arumi melihatnya hendak memasak, dia mengira ada tamu dan menggerakkan tangannya agar Vero diam.
"Sepertinya ada tamu" ucap Arumi.
Wajah Vero dekat dengan wajahnya. Arumi yang pendek menengadah pada wajah Vero. Dia pun tersenyum melihat wajah Arumi yang manis kemudian melepasnya.
"Bukan! Ini untuk Dila" ucap Yudi.
Arumi dan Vero saling menatap dan Nuri ikut menatap Yudi dengan memeluk mereka berdua dari tengah.
"Waahhh....Chef Yudi apa sudah akan move on!" ucap Nuri.
Arumi dan Vero segera menutup mulut Nuri dengan kedua tangan mereka. Yudi melotot terdiam menatap Nuri. Dia mendekat dengan marah.
"Kau....pergi! sebelum aku menjadikan mu wajan untuk menggoreng ayam" ucap Yudi menunjuk Nuri dengan sutil panjangnya.
Nuri berlindung dibalik badan Vero dan Arumi. Vero tertawa dan memindahkan sutil yang mengarah pada mereka.
"Sudah cepat buatkan untuk kami sekalian!" pinta Vero.
"Kau juga belum makan kan?" ucap Arumi.
Yudi menghela nafas dan kembali memasak. Matanya mendelik pada Nuri yang kembali memunculkan wajahnya sambil tersenyum.
Vero, Arumi dan Nuri juga Dila dan Fajri menunggu masakan Yudi. Mereka berkumpul di meja dan membicarakan respon dari postingan pertama mereka.
__ADS_1
Banyak orang yang belum tahu tentang restoran milik Vero itu. Mereka jadi tahu dan ingin mencoba masakan yang terlihat sangat enak dari postingan mereka. Bantuan Dila dari sosial medianya juga membuat beberapa temannya penasaran ingin berkunjung.
"Yup, hari ini kita masih santai. Tapi prediksi manager pemasaran kita mengatakan bahwa besok kita akan sangat sibuk. Jadi mari kita makan bersama sebelum sibuk!" ucap Vero.
Semua orang tersenyum, Nuri menatap Dila dan membayangkan Rania ada di sini bersama mereka.
"Oh ya, abaikan penyusup itu!" ucap Vero kembali melontarkan candaan pada Nuri.
Nuri manyun, Dila menatap keakraban mereka semua. Lalu Nuri tiba-tiba bicara.
"Seandainya Rania ada di sini. Semuanya akan terasa lengkap" keluh Nuri.
Arumi yang terbawa perasaan ikut menghela merindukan Rania. Vero dan Fajri juga Dila membulatkan mata dengan perasaan mereka masing-masing.
Vero mencubit kecil kulit lengan Nuri sambil menatap Dila. Sedang Fajri membaca situasi yang canggung itu kemudian memutuskan untuk membantu Yudi membawa makanan, dia pun pergi ke dapur.
Dila menunjukkan raut wajah tak senang saat membicarakan Rania.
~aku tidak kenal siapa dia, tapi mendengar kehadiran ku dibadingkan dengannya, aku jadi merasa sangat kesal~ ucap hatinya.
Yudi dan Fajri membawa semua makanan mereka, Arumi dan Vero berdiri mengambil minuman yang ada di lemari es.
Mereka semua larut dalam sebuah perbincangan, yang akhirnya mengarah pada kenangan 2 tahun lalu, kenangan bersama Rania.
Semua orang memuji, merindukan dan berharap dia cepat kembali. Apalagi Yudi yang mulai mabuk, dia meracau dan mengatakan hal-hal yang dia sesali.
Dila menatap kesal pada mereka semua. Dia mulai tak bisa menerima pembicaraan tentang Rania dan Rania terus menerus. Nama itu mulai membuatnya muak. Terlebih saat Yudi mengatakan betapa manisnya dia saat tersenyum, ini dan itu.
Tiba-tiba Dila bangun dari tempat duduknya. Semua orang menatapnya terkejut. Dila menghela nafas.
"Aku mau ke toilet!" ucapnya kesal.
Semua orang tersenyum dan mengira Dila marah, namun kemudian lega saat Dila hanya mau ke toilet.
Vero menatap Dila hingga hilang masuk ke lorong kamar mandi. Dia tahu persis sifat Dila yang tak suka tak jadi primadona dalam sebuah kelompok. Tapi apa boleh buat, Rania jauh lebih baik darinya. Vero bahkan mengakui hal itu.
~Meskipun mereka berbeda sifat, mereka berdua tetap adik-adik ku. Aku akan menjaga mereka, dengan atau tanpa sepengetahuan mereka~ ucap hati Vero.
Fajri pamit pulang, begitu juga Nuri yang dengan sangat berterimakasih pada Vero yang masih menganggapnya teman.
"Terima kasih Bos. Kau benar-benar baik. Aku pulang!" ucap Nuri sambil memeluk Vero.
"Ya iya, pulanglah! Tidak ada yang mau kamu lebih lama tinggal di sini" ucap Vero.
Arumi menepuk lengannya karena dia tak berhenti melontarkan lelucon pada Nuri yang memang lucu.
Vero menatap Yudi yang mabuk dan terkulai di meja.
"Ckck, Yud. Kenapa mabuk, aku jadi repot hari ini" ucap Vero.
Arumi memasang wajah memohon agar dia mau membawa Yudi ke rumahnya.
"Aku mohon! Aku akan mengajak Dila menginap di rumah ku" ucap Arumi.
Vero tersenyum, dia mengusap rambut Arumi.
"Iya, baiklah!" jawab Vero.
__ADS_1
Dila dan Arumi membantu Yudi untuk naik ke motor Vero. Wajah Yudi terkulai ke bahu dan hampir mencium Dila. Dia terkejut dan hampir melepasnya, namun dia malah menatap wajah Yudi dan terpesona kembali.