
Vero mulai bekerja kembali, dia sudah mendengar keputusan Rania dari telpon Pak Nurdin. Dia akan menghargai keputusan Rania, juga akan memenuhi semua kebutuhannya selama mengandung.
Arumi yang kini seolah hanya menjadi pelengkap rumah Ruby. Hanya bisa dia membisu menatap sikap suaminya yang semakin dingin. Vero semakin menjauh, dan memutuskan untuk pisah kamar darinya.
Sementara itu Arumi menyembunyikan kehamilannya dari semua orang. Kini dia hanya bertahan di rumah itu untuk anak mereka.
Luput dari pandangan Vero, Arumi hanya beraktivitas di sekitar dapur, kamar dan taman. Dia menyiapkan makanan sebelum Vero bangun, dan kembali ke kamar saat Vero makan di dapur.
Dia tak ingin melihat sikap suaminya yang mencoba membuatnya sadar bahwa kehadirannya tak diinginkannya lagi. Vero pun tak pernah bertanya pada Bu Min tentang keadaan istrinya.
Arumi tak bisa berlama-lama marah pada kakaknya, saudara satu-satunya yang dia miliki. Dia meminta Yudi mengelola restaurant dan tak pergi kemana-mana. Meminta dan memohon padanya untuk tak menyia-nyiakan hidupnya lagi. Apalagi sekarang dia akan memiliki seorang anak. Arumi meminta agar dia bisa jadi contoh yang baik bagi anaknya.
Fajri dan Nuri yang awalnya kesal pada Yudi, akhirnya mengerti akan permintaan Arumi. Mereka juga akhirnya mau memahami posisi Yudi. Mereka bekerja, tanpa membahas masa lalu. Bekerja menata masa depan mereka masing-masing.
Sementara itu, Dila yang akhirnya menyerah, minta ampun pada kakaknya dan berjanji takkan pernah menemui Yudi yang katanya kini menjadi chef di restoran milik Arumi. Dia menyerah, Vero menekankan kewajiban Dila sebagai putri dari Subagja Coorporation. Yang harus bisa menangani semua perusahaan yang masih bertahan hingga kini.
Rumah besar itu terasa dingin, semakin dingin ditambah sikap kedua adik berkakak itu. Tak ada saling sapa lagi, tak ada pelukan sampai jumpa nanti malam lagi, yang biasanya menghiasi hari-hari mereka. Yang membuat mereka selalu bersemangat meski keadaan perusahaan sebenarnya masih dalan fase perkembangan kembali.
Kehangatan keluarga yang seharusnya kembali saat Dila kembali, tak terjadi. Mereka menjadi terpisah lebih jauh dibandingkan sebelum mereka tahu bahwa mereka adalah saudara kandung.
###
Dila menatap nisan kedua orang tuanya. Tak ada tangis lagi kali ini. Dia hanya berdiri menatap dengan menghela beberapa kali.
Semua kenangan pertemuan bersama Vero, Yudi dan teman-temannya, tamparan pertama yang dia layangkan pada Rania karena dia tak menyukainya, sekilas hadir menemaninya berdiri di area pemakaman umum itu.
__ADS_1
"Maaf Bu, Yah, kali ini aku sulit menceritakan kekesalan, keluhan, kesenangan dan semua yang terjadi pada diri ku hingga hari ini. Semuanya hanya akan berakhir di kata "aku yang salah" dan "kasihan Rania". Lalu aku akan merasa bahwa tak ada yang menyayangi ku selain kalian. Dan aku akan menangis lagi. Tapi aku masih beruntung bukan? Aku masih diberikan ingatan tentang kasih sayang kalian, memori tentang semua orang yang pernah mencintaiku dan aku cintai. Sementara Rania, dia bahkan hanya ingat bahwa dia selamat dari kecelakaan dan kini sedang mengandung anak, tanpa suami. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dia bertahan dari gunjingan orang tentangnya? Apa Adit melindunginya? Apa Bu Vera bisa menahan semua pembicaraan tentangnya? Bu, Yah, apa ini artinya aku sangat menyayanginya? Aku jadi memikirkan bagaimana dia bisa bertahan untuk semua ini. Keputusan yang dia ambil adalah keputusan Rania, dirinya sendiri, yang kuat dan mandiri juga tak mau membuat semua orang terlibat konflik lagi. Dia tak berubah meski kehilangan ingatannya. Ya, aku yang terlalu egois mengatakan dia jahat, aku terlalu takut kehilangan orang yang sama sekali tak berharga dan akhirnya kehilangan orang-orang lain yang sangat berharga. Apa yang harus aku lakukan Bu, Yah? Semua orang sekarang bersikap dingin, sedingin es. Jika aku jadi Dila, aku hanya akan diam dan acuh bukan? Tapi bagaimana jika aku jadi Rania? Apa yang akan Rania lakukan jika situasi nya menjadi seperti ini?"
Dila mengakhiri ucapannya dengan banyak pertanyaan yang akhirnya jawabannya dia dapat setelah lama berpikir sambil memandang nisan kedua orang tuanya. Dia pergi dari pemakaman itu, dan kembali bekerja di mall.
###
Bondan kini tinggal di Australia, dia memegang cabang yang dulu pernah jadi tempatnya mengembangkan bakatnya. Sendiri tanpa siapapun, namun bertahan dengan semua keadaan karena selalu mendapat kabar dari Adit tentang Rania yang kini perutnya sudah mulai terlihat membesar.
Bondan menatap foto Rania yang sedang menyiram tanaman, juga mengurus beberapa menu baru untuk kedainya.
[Dia masih bekerja?] tanya Bondan pada Adit
[Masih, kandungannya baru 4 bulan, dia bilang masih bisa beraktivitas hingga 4 bulan ke depan, sisa bulan terakhir dia baru akan fokus pada kandungannya, itu yang dia bilang] jelas Adit lewat pesan.
[Usia 4 bulan kehamilan, apa hadiah yang cocok untuknya?] tanya Bondan.
Adit yang masih berlibur dari tugasnya, berlari ke kedai dan bertanya pada kakaknya apa yang dia inginkan sekarang.
"Kak, kau mau aku belikan sesuatu? Barang, atau makanan?" tanya Adit bersemangat.
Rania menatapnya, dia tersenyum.
"Aku sedang tidak mau apa-apa, kenapa?" tanya Rania sambil mencatat bahan yang harus dibeli.
"Tidak kenapa-kenapa, aku hanya mau membelikan mu sesuatu, kak Nia lagi butuh apa? ayo pikirin!" paksa Adit.
__ADS_1
"Memang kamu punya uang? Kamu kan lagi ngumpulin uang buat beli rumah. Jangan macem-macem deh, fokus aja sama keperluan kamu" ucap Rania mengabaikannya.
Adit menghela, tapi dia tak menyerah.
"Adit sebut satu persatu, nanti kak Nia bilang stop pas ketemu yang ka Nia suka, Ok!"
Dia memulai tanpa persetujuan Rania yang hanya tersenyum.
"Kursi pijat, baju hamil, sendal nyaman untuk ibu hamil, susu ibu hamil, eehmmm.."
"Boneka, aku mau boneka. Boneka beruang seperti Bondan. Pasti lucu" ucap Rania sambil tersenyum.
Tiba-tiba Rania terdiam, tak menyadari apa yang sudah dia katakan. Matanya kosong menatap catatannya.
Bu Vera dan Pak Nurdin terkejut, tak ayal Adit pun terdiam saat mendengar ucapan Rania.
Bu Vera dan Adit saling menatap. Tapi mereka tak beraksi lagi, karena Rania seolah tak ingat dengan apa yang dia katakan barusan. Dia kembali ke dapur kedai untuk menyuruh Bu Yuni mencatat keperluan lainnya.
"Apa dia nggak sadar barusan ngomong apa?" ucap Pak Nurdin.
"Astaga, apa aku sudah salah melarang Bondan menemuinya?" Bu Vera menyesal.
"Bu, kak Bondan nggak pernah ninggalin kak Rania, dia yang sebenarnya bertanya apa yang dibutuhkan kakak, tapi lewat aku" jelas Adit.
Bu Vera semakin menyesalinya. Dia baru mendengar isi hati Rania kali ini. Itupun mungkin karena Rania sangat merindukan Bondan yang notabene hilang dari ingatannya.
__ADS_1
Adit mengabarkan apa yang Rania katakan, Bondan terdiam, dia memejamkan matanya sebentar kemudian tersenyum.
"Kau merindukan aku? Aku juga sangat merindukan mu. Aku akan datang Rania, di saat yang tepat, kau akan memeluk ku dengan erat saat kau melihat ku. Aku pastikan itu" gumamnya di meja kerjanya.