Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
138


__ADS_3

"Pak, aku menemukan mayat" ucap seorang nelayan pada Saga yang sedang siap untuk tidur.


Saga menghela, beberapa bulan bertugas di pesisir pantai sangat membuat dia kesal. Banyak hal sepele yang membuat warga selalu melapor padanya.


Terakhir kali, seorang warga melapor bahwa hasil tangkapannya dicuri warga lain saat dia tidur. Padahal dia mabuk dan tak ingat bahwa dia tak pergi berlayar.


Saga keluar dari rumah kos nya. Dengan langkah yang berat, dia mengikuti nelayan yang sangat ketakutan dengan apa yang akan dia tunjukkan. Mereka berjalan cukup jauh, tempat yang mungkin jarang dilalui nelayan karena menyusuri pepohonan yang cukup lebat.


Langkah Saga mulai dipercepat, saat dia melihat tubuh manusia telentang di sisi pantai, sedikit tersapu ombak. Saga terengah, dia menatapnya dengan menelan saliva beberapa kali.


Rekan kerjanya sedang tidak ada bersamanya kali ini. Dia hanya sendiri, juga tak bisa melaporkan karena sinyal sedang buruk. Dia hanya menatap nelayan.


Saga mulai memeriksa, dia membalikkan tubuhnya dan memeriksa nadinya. Matanya membulat, denyut nadi nya masih terasa meski lemah.


"Pak, tolong panggil yang lain untuk bawa tandu. Dia masih hidup" ucap Saga.


Nelayan itu berlari, tak lama kemudian kembali dengan dua pria lain yang membawa tandu. Mereka membawanya ke kosan Saga.


"Berlari yang kencang, minta bidan Ayu untuk datang dan membantu. Katakan bawa semua peralatan kesehatannya" ucap Saga pada salah satu anak muda yang membantu.


Saga masih tak bisa melakukan apapun, dia tak paham dengan pertolongan pertama untuk orang tenggelam. Dia juga takut untuk menyentuhnya karena dia seorang wanita.


Saga merapikan rambutnya yang masih menghalangi wajahnya. Matanya membelalak saat dia memperhatikan dengan seksama wajah wanita itu.


"Dila!" ucap Saga.


"Pak petugas kenal?" tanya nelayan.


Saga menoleh dan menatap pria itu. Dia mengangguk tapi juga masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Dunia ini memang sempit, teman Pak petugas bisa terdampar di pesisir pantai ini" ucap pria itu.


Dia pergi meninggalkan Saga sendirian, Saga keluar dari kamarnya, menunggu bidan Ayu yang masih saja belum datang.


Saga hendak menghubungi Vero, dia mencari ponselnya. Namun beberapa saat dia memegang ponsel, dia menepuk jidatnya.


"Aku lupa, masih gangguan" gumamnya.


Kembali dia melihat Dila dari luar kamarnya.


~Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa terdampar di pesisir sini?~ tanya hati Saga.


Tak lama kemudian, bidan Ayu datang mengetuk pintu rumah Saga yang sudah terbuka. Saga yang terbangun dari lamunannya menoleh dan mengajak Ayu ke kamarnya.

__ADS_1


"Lihat, tubuhnya sangat dingin. Tapi dia masih hidup. Bantulah, dia wanita" ucap Saga.


Ayu menatap Saga, dia yang memang sejak awal kagum padanya semakin terpesona saat Saga tak berani melakukan apapun pada wanita.


"Baiklah, kau bisa keluar" ucap Ayu.


"Baju ku di lemari, pakai saja yang cukup untuknya" ucap Saga sambil menutup pintu.


Ayu membuka pakaian Dila dan menggantinya dengan pakaian Saga, sesuai perintah petugas idolanya. Setelah itu, dia memeriksa Dila.


Tak lama kemudian, Ayu keluar. Dia merapikan peralatannya.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Saga yang langsung mendekat.


Ayu menatapnya, dia diam sejenak, merasa Saga sangat perhatian pada wanita yang baru saja dia selamatkan.


"Aku rasa dia kelelahan berenang, dia demam dan mungkin sedikit lemah. Tapi dia sangat hebat, di cuaca yang buruk dia mampu bertahan. Kita bahkan tidak tahu dia datang dari mana" ucap Ayu.


Saga menatap Dila dari pintu, Ayu memperhatikannya.


"Apa tidak akan jadi masalah jika dia tinggal di rumah anda Pak?" tanya Ayu.


"Aku akan tidur di pos, aku akan minta Bu Uwi untuk menemaninya" ucap Saga.


Bu Uwi adalah pemilik kosan yang Saga sewa. Bu kos yang baik hati dan sangat perhatian pada Saga.


"Makasih ya!" ucap Saga.


"Ini kan tugas saya Pak, kita ditugaskan di daerah pesisir ini ya untuk keadaan darurat begini. Meskipun kita nggak kenal, atau bukan warga sini, kita harus tetap membantu" jelas Ayu sambil tersenyum.


Ayu pergi setelah pamit. Saga menatap kepergian Bidan muda yang juga ditugaskan di sana sebelum dia datang. Perkenalan mereka berawal dari keadaan yang sama. Namun orang yang diobati Ayu adalah penjahat yang Saga tembak saat pengejarannya.


Tempat yang cukup jauh dari kota, membuat daerah pesisir itu sulit mendapatkan penanganan lebih. Ayu menjadi bidan yang harus serba bisa, bahkan menangani luka tembak.


Saga berjalan menuju rumah Bu Uwi yang dekat dari kosannya. Dia mengetuk perlahan takut mengganggunya.


"Bu..! Bu Uwi!" seru Saga.


Bu Uwi keluar dari rumahnya. Dengan menggosok mata untuk memulihkan penglihatannya dari tidurnya.


"Ada apa Pak? Malam-malam gini!" keluhnya.


"Hehe maaf Bu, saya nemu korban tenggelam. Masih belum sadar, tapi saya nggak bisa tidur serumah, karena korbannya perempuan" jelas Saga.

__ADS_1


"Ouhhh....ya udah, ibu pindah" ucapnya memahami situasi yang seolah sudah biasa terjadi.


"Terimakasih Bu!" ucap Saga.


"Iya!" jawab bu Uwi singkat.


Bu Uwi masuk ke kosan Saga kemudian menutupnya kembali. Sementara Saga pergi ke pos bergabung dengan warga yang kebagian ronda malam itu.


###


Yudi duduk di samping Dila, dia menggenggam tangannya yang masih memar dan terdapat banyak bekas luka.


Sesekali tangannya mengelus pipi Dila dan tersenyum. Dia sangat bersyukur karena Dila masih bisa dia sentuh dan tetap bersamanya.


Vero dan Arumi hanya menatap mereka melalui kaca pintu dari luar. Vero menghela, Arumi mengusap lengannya sebagai tanda dukungan moril atas semua yang terjadi.


Mereka pulang setelah lebih tenang mendengar ucapan Dokter yang mengatakan bahwa keadaan Dila jauh lebih baik dan menunjukkan kemajuan.


Sementara Bondan masih menatap foto dirinya dan Rania saat pernikahan Nuri. Dia terus menyesali apa yang terjadi. Clara melakukan semua itu karena dirinya. Yang membuat semua orang kehilangan orang yang paling mereka cintai.


Fajri yang baru datang hendak menemaninya malam itu, melihat Bondan yang sedang menaruh ponselnya di meja.


"Kau belum tidur?" tanya Fajri.


"Belum, tepatnya tidak bisa" jawab Bondan.


Fajri menaruh tasnya di bawah meja kemudian dia duduk di sisi Bondan.


"Apa kabarnya Baby Vania?" tanya Bondan sambil merapikan diri bersiap untuk tidur.


"Dia semakin menggemaskan, Nuri ternyata sangat pandai dalam segala hal, terutama mengurus bayi" jawab Fajri sambil tersenyum.


"Mulai besok kau tidak usah menemani ku, kasian Nuri dan Baby V, karena menunggu ku, family time kalian terganggu" ucap Bondan.


"Hei...kita sedang dalam situasi yang sangat jauh dari bayangan siapapun. Entah ujian apa ini, tapi aku hanya bisa mendukung mu dengan menemani mu seperti ini. Kau tahu, jika bisa, aku juga akan mencari korban pesawat jatuh itu ke Selat Karimata" ucap Fajri.


"Aku sudah meminta seseorang melakukannya" ucap Bondan.


Fajri terkejut mendengar ucapan Bondan.


"Seseorang?" tanya Fajri.


"Ya, dia teman yang cukup kaya dan baik, dia mau membantu ku setelah mendapat kabar dari ku. Dia juga sangat tahu hubungan ku dengan Rania. Jadi dia sangat bersemangat mencarinya" jelas Bondan.

__ADS_1


"Syukurlah, jadi sekarang cepatlah pulih, kita harus bisa mencarinya bersama" ucap Fajri.


Bondan tersenyum dan terlihat sangat bersemangat. Fajri merasa ironis, dia mengucapkan kata-kata yang menyemangati, dengan hati yang sebenarnya sangat kasihan pada Bondan yang tak bisa menerima kenyataan meninggalnya Rania.


__ADS_2