Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
66


__ADS_3

Rania berlari, Bondan berusaha menyamai langkahnya namun tak bisa. Dia berlari menuju ruang Nuri setelah mendengar bahwa polisi datang ke rumah sakit untuk meminta rekaman CCTV yang merekam kejadian semalam.


"Pelan-pelan sayang!" seru Bondan.


Sampai di pintu masuk, Rania berusaha mengendalikan nafasnya yang tersengal. Bondan ikut berhenti dan menatapnya yang mengatur nafas. Dia ikut mengaturnya. Rania membuka pintu perlahan, dia tersenyum sambil menghampiri Nuri yang duduk dan sedang makan siang.


"Kamu disini?" ucap Nuri.


Rania tersenyum mendengar suara Nuri mulai pulih. Nuri membalas senyumannya dan menepuk ranjang meminta Rania untuk duduk di dekatnya. Rania duduk dan memegang tangannya.


"Kamu ngga apa-apa kan?" tanya Rania khawatir.


"Ngga, cuma kaget aja. Untungnya Fajri dateng tepat waktu" ucap Nuri perlahan.


"Fajri! Siapa dia?" tanya Rania.


"Teman kita yang sering ikut Vero. Ouh iya kamu ngga terlalu banyak bicara sama dia dulu" jelas Nuri dengan suara pelan.


"Ya udah ngga usah maksain ngomong, yang penting kamu baik-baik aja" ucap Rania sambil mengelus punggung Nuri.


"Mana Bondan?" tanya Nuri sambil makan.


"Ada di luar!" jawab Rania santai.


"Kalian pulang aja, bentar lagi Vero ma Dila kesini, pasti bareng Yudi. Kamu bilang kan dia belum tahu apa-apa" Nuri memberi saran.


Rania terdiam, dia merasa sangat terbatas untuk bergerak karena kebenaran yang dia sembunyikan sendiri.


Rania mengangguk dengan berat hati, dia pergi setelah mencium kening Nuri. Bondan menatapnya dan berdiri dari kursi.


"Sudah?" tanya Bondan heran.


Rania mengangguk dan menatap Bondan.


"Kenapa? Dia baik-baik aja kan?" Bondan heran dengan sikap Rania yang diam.


"Kita pulang!" ucap Rania sambil berjalan melewatinya.


Bondan mengikutinya meski masih belum dapat jawaban yang dia inginkan.


Sampai di basemen, Rania berbalik secara tiba-tiba dan menabrak dada Bondan. Dia tersenyum merasa malu, sedangkan Bondan tersenyum merasa lucu dengan tabrakan kecil itu.


"Maaf!" ucap Rania.


"Ngga apa-apa, sering kamu tabrak juga ngga apa-apa" jawab Bondan.


Rania menatap wajah Bondan kemudian memeluknya. Bondan terkejut, ini kali pertama Rania memeluknya sendiri tanpa diminta atau dipaksa.


"Terimakasih!"


"Hmmm?"

__ADS_1


"Terimakasih udah mau bangun pagi-pagi buat buru-buru kesini, tapi malah balik lagi" jelas Rania.


Bondan tersenyum merasa senang, dia memeluk Rania lebih erat.


"Jadi...kalo aku mau dipeluk kamu duluan, aku harus ngelakuin hal-hal kecil kayak gini?" ucap Bondan menggodanya.


Rania memukul pelan pinggangnya sambil tersenyum. Namun hatinya berkata lain.


~Ngga Bondan, entah kenapa aku mau meluk kamu hari ini. Rasanya seolah tidak ada waktu lain lagi~


"Mau pelukan disini sampe siang?" gurau Bondan.


Rania melepas pelukannya dan mengeluh.


"Giliran aku yang peluk duluan kamu yang minta udahan"


Bondan menertawakan keluhan Rania. Dia mengaitkan tangannya ke bahu Rania sambil berjalan beriringan sampai mobil. Bondan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Rania masuk seolah dia seorang ratu. Rania tersenyum melihat tingkahnya.


Di perjalanan, Bondan teringat dengan janjinya yang akan menemui ibu Rania dan adiknya di rumah untuk membicarakan pernikahan.


"Oh ya, udah bilang sama ibu kan kalo aku akan ke sana?" tanya Bondan.


Rania terkejut, matanya membulat, dia menatap Bondan yang juga menatapnya sebentar kemudian fokus kembali ke jalanan.


"Ibu....lagi ngga di rumah, Babe Nurdin sama Bu Yuni ngajak dia ke Jawa, Aditya juga belum libur" jawab Rania berbohong.


Dia sama sekali belum menemui mereka semenjak kembali dari Australia. Dia hanya mampir dan duduk di mobil melihat ibunya keluar sesekali dan melihat Bu Yuni menyapanya atau mengantarkan makanan untuknya. Dia juga hanya melihat Aditya dari kejauhan setelah menyuruh orang untuk mengantarkan bingkisan untuknya atas nama orang lain.


"Wah....aku kira kita bisa cepat ngomong sama ibu Vera tentang rencana pernikahan kita" keluh Bondan.


"Ok!" jawab Bondan.


Rania menghela perlahan dan merasa sudah lepas dari cemasnya kali ini. Berbohong lagi, dia harus menutupi semua kebohongannya dengan kebohongan yang baru.


###


Vero dan Arumi datang sedangkan Dila menyusul sendiri sambil memeriksa ponselnya yang menghubungi Yudi namun sama sekali tak ada jawaban.


Dila membuka pintu, dia menatap Vero, Arumi dan Nuri secara bergantian.


"Jadi....apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dila tanpa basa-basi.


"Iya....itu buronan polisi, sayangnya dia berhasil kabur. Dia masih berkeliaran di Jakarta, Nuri harus diberi perlindungan" ucap Arumi.


Tak lama kemudian, Fajri datang dengan buket kecil bunga di tangannya. Semua orang menatapnya heran, Fajri menelan ludah dan sesekali berkedip. Dia buru-buru menyembunyikan buket bunga itu ke punggungnya. Semua orang semakin mengerutkan dahinya.


Nuri menundukkan kepalanya, dia merasa apa yang dia pikirkan tentang Fajri benar adanya. Fajri berusaha mendekatinya.


Dila mendelik, dia sudah merasa muak dengan sikap manis seorang pria pada wanita. Dia keluar dengan kesal sambil menabrak lengan Fajri.


"Ada apa dengannya?" tanya Vero.

__ADS_1


Arumi menatap kepergian Dila, dia paham, Dila marah karena Yudi sulit dihubungi dua hari ini. Arumi menyusulnya dan duduk di sampingnya.


"Aku juga udah hubungi temen-temen yang lain, tapi kak Yudi ngga ada kabar" ucap Arumi.


Dila menatapnya kemudian menaruh ponsel di saku jaketnya. Dia menghela dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Apa ini ada hubungannya dengan Rania?" tanya Dila sambil menatap langit-langit rumah sakit.


Cahaya lampu terlihat sangat terang, Dila mengalihkan pandangannya ke depan. Arumi menyentuh dan memegang tangannya, kemudian berusaha memberikan semangat untuknya.


"Dia emang gitu, kadang kalo bosen ngilang sendiri, tapi...pasti balik lagi. Kamu mau nungguin dia kan, jadi...ngga usah mikir macem-macem"


Dila melihat wajah Arumi yang menawan saat bicara. Dia merasa nyaman bicara dengan Arumi, seperti sudah bukan teman lagi. Dila sudah nyaman dan menganggap Arumi sebagai kakaknya sendiri. Dila tak menjawab pertanyaan Arumi, dia hanya mengalihkan kepalanya ke bahu Arumi dan memeluk lengannya. Arumi tersenyum dan mengusap tangan yang mengait ke lengannya.


Sementara itu di ruangan Nuri, Vero melipat tangannya di dada dan menatap Fajri.


"Apa ini?" tanya Vero tegas.


Fajri mengigit bibirnya, belum mendapatkan ide apa yang harus dia katakan.


"Kamu ngejek Nuri?" ucap Vero.


Mata Fajri membulat, dia merasa apa yang dipikirkan Vero sangat tidak benar.


"Kamu deketin Nuri karena wajahnya sekarang rusak, nanti kamu ninggalin dia dengan alasan yang sama, gitu!" duga Vero.


"Ngga, aku suka Nuri sejak pertama ketemu. Tapi....dia deket sama pria itu, jadi aku......" jawab Fajri.


Nuri membulatkan matanya karena tak menyangka dengan pernyataan Fajri. Dia mengalihkan pandangannya saat Fajri menatapnya.


Vero tersenyum, dia sudah menduga Fajri akan terpancing dengan ucapannya.


"Bener....!"


"Iya bener....!" jawab Fajri yakin.


Vero tertawa terbahak menertawakan sikap gugup Fajri.


"Ok...ok...aku tahu banget kamu kayak gimana, tapi inget...Nuri udah aku anggap sebagai adik aku sendiri, jadi...kalo kamu ngecewain dia lihat aja, aku ngga akan tinggal diam. Paham!" ucap Vero mengingatkan.


Fajri menunduk dan tersenyum merasa lega karena Vero menyetujui perasaannya pada Nuri.


"Kalian ngga nanya aku?" ucap Nuri tiba-tiba.


Vero dan Fajri menatapnya.


"Aku....belum mau menerima perasaan apapun dari siapapun. Terlebih rasa suka, rasa kasihan pun aku tidak bisa menerimanya. Bisa kalian keluar!" ucap Nuri pelan dan datar.


Vero menganga terkejut dengan respon Nuri yang jauh berbeda dari Nuri yang ceria dan bersemangat. Fajri terlihat lemas mendengar ucapan Nuri. Namun dia berjalan ke meja dan menaruh buket bunganya di pot kecil. Nuri sama sekali tak menatapnya.


Mereka berdua keluar dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan Arumi dan Dila. Arumi menatap mereka dengan heran.

__ADS_1


"Loh...kok keluar?" tanya Arumi.


Vero memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya meminta Arumi tak bertanya dulu. Dila menegakkan tubuhnya di kursi dan hanya menatap ponselnya.


__ADS_2