
Dila masih belum ditemukan, Vero dan Arumi terus mencari. Vero kesal dengan Yudi yang tak mampu menjaga hatinya. Juga menyalahkan Dila yang tak mau melepas Yudi dan tetap bersikeras akan mendapatkan cintanya.
"Dimana dia sekarang?" tanya Vero.
"Yudi?" tanya Arumi.
"Ya!"
"Dia pergi setelah aku nelpon kamu buat nyari Dila" jawab Arumi.
Vero kembali fokus menyetir. Arumi sangat paham Vero kesal dan tak bisa memaafkan Yudi. Dia khawatir situasi ini akan mempengaruhi hubungannya. Meskipun dia tahu Vero sangat objektif, tapi perasaan itu selalu menghantuinya.
"Kau sering bicara dengannya, ingat-ingat dari seluruh pembicaraan kalian, apa dia pernah bicara tempat yang sangat dia inginkan untuk pulang?" tanya Vero.
Arumi berpikir, dia mencoba mengingat semuanya.
###
Rania pergi keluar dari kantor. Dia juga ikut mencari Dila. Namun yang tersirat di pikirannya adalah untuk mengunjungi makam kedua orang tua kandungnya. Rania tancap gas dan langsung pergi ke sana.
Sampai di sana, Rania berjalan perlahan mengingat saat dia pertama kemari setelah dia kembali dari Australia. Namun saat dia menatap ke arah makam kedua orang tuanya, dia melihat Dila.
Rania langsung mengirim pesan pada Vero dan Arumi. Dia bergegas mendekat dan memeluk Dila.
"Kamu kemana aja? Kak Vero khawatir, dia sama Arumi nyariin kamu!" ucap Rania sambil memeluknya.
Dila terkejut, dia meneteskan air mata mendengar ucapan Rania. Dia juga merasa bahwa dia sudah salah karena selalu menyalahkan Rania. Namun dia tetap menjaga jaraknya dan melepas pelukan Rania dengan perlahan.
"Aku baik-baik saja" ucap Dila datar.
"Kita pulang ke rumah Ruby, aku juga bakalan minta Kakak sama Arumi buat pindah biar rame" ucap Rania.
Tangan Rania memegang tangan Dila dan hendak menariknya, mengajaknya untuk pulang. Namun Dila masih diam tak bergerak.
"Hal apa yang ada di pikiranmu saat pertama kali kemari?"
Tiba-tiba Dila bertanya. Rania berhenti dan menatapnya. Tatapannya beralih ke makam kedua orang tuanya.
"Aku iri padamu" ucap Rania.
__ADS_1
Tangannya terlepas dari tangan Dila yang menatapnya heran dengan jawabannya.
"Aku hidup bersama orang lain, berpikir bahwa dia adalah ibu terburuk yang pernah ada. Yang tak pernah membelai ku sekalipun. Sedangkan kau, pasti ibu selalu memeluk dan membelai mu hingga saat terakhir kalian bertemu. Aku sangat haus akan kasih sayangnya, berharap pada satu wanita untuk bisa berubah menjadi sangat menyayangi ku. Dengan menatap kenyataan yang ada di hadapan ku, ternyata orang yang juga seharusnya menjadi tempatku berlindung dan bermanja justru telah berpulang" jelas Rania.
Dila mendengarkan sambil diam berdiri.
"Pulanglah bersamaku! Tidak ada Yudi, tidak ada Bondan. Hanya ada aku, kamu dan Kak Vero. Aku berjanji takkan ada lagi hal yang aku lakukan yang akan membuat mu kesal padaku" ucap Rania.
Dila menunduk, dia menangis. Rania memeluknya, mereka menangisi situasi yang sudah terjadi pada mereka.
Vero dan Arumi yang sudah datang berhenti berlari saat melihat mereka berdua berpelukan di depan makam ibunya. Arumi memegang tangan Vero, menangis haru melihat mereka akhirnya saling memeluk.
Vero tersenyum, dia sangat puas dengan Rania yang mampu menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Dila.
"Aku senang lihat kalian kayak gini!" seru Vero dari jauh.
Dila dan Rania terkejut, mereka melepaskan pelukan dan menatap Vero.
"Aku juga mau dipeluk" ucap Vero sambil membuka lebar tangannya.
Dila dan Rania tersenyum dan menyambut pelukan kakaknya. Arumi senang melihatnya, kemudian dia ditarik Rania untuk bergabung saling memeluk. Arumi memeluk mereka juga.
###
Bondan terkejut, jelas-jelas tadi pagi dia mengantar ibunya pergi dengan tiket pesawat di tangannya. Dia sangat khawatir namun juga bingung dengan sikap Anita.
Dia menghubungi Beni untuk memastikan.
"Hallo!" jawab Beni.
"Apa momy bilang sesuatu?" tanya Bondan.
"Aku sudah bilang, dia nggak ngehubungi aku setelah pindah" jawab Beni.
"Lalu kemana dia sekarang? Saga bilang, nggak ada nama Momy di penerbangan tadi pagi" tanya Bondan.
"Ya mana aku tahu, trus kamu kok sibuk nyariin dia? Seharusnya kamu nggak mau kan kalo dia tertangkap?"tanya Beni heran.
"Aku mau dia ada justru karena aku sangat yakin dia nggak bersalah. Aku akan membela dia apapun yang terjadi" jawab Bondan.
__ADS_1
"Dia kabur, berarti dia sadar dia salah" ucap Beni.
"Benk! Kok kamu ngomongnya gitu? Momy pasti ketakutan setelah tahu kalo si Ryan itu nuding dia, jadi dia pergi" ucap Bondan.
"Hmmm, darimana dia tahu. Kan kamu juga tahunya dari Saga. Pencarian momy juga nggak masuk koran atau Tv. Pikir deh, dia pergi karena dia tahu kalo setelah Ryan tertangkap, berarti dia yang bakalan ditangkap" jelas Beni mencoba membuka pola pikir Bondan.
Namun Bondan hanya kesal dan menutup telponnya dengan tiba-tiba. Dia menghela dan mencoba menahan amarahnya karena ucapan Beni.
Bondan memutuskan untuk ke kantor polisi dan bicara dengan Ryan untuk tak menuduh ibunya. Dia bergegas pergi.
Sampai di kantor polisi, Ryan keluar dan menatapnya sambil duduk di depannya.
"Ada apa?" tanya Ryan dengan malas.
"Tarik ucapan mu yang membawa nama ibuku, jika tidak aku tidak akan pernah mengampuni mu. Dia mungkin saja datang menemui Nuri, tapi dia takkan mungkin menyuruhmu melakukan semua yang dituduhkan padamu" ucap Bondan.
"Ibu siapa? Kau bahkan bukan anaknya" ucap Ryan.
"Tarik semua ucapan mu, hanya itu yang ku mau" ucap Bondan tak peduli dengan ucapan Ryan.
"Dia juga sangat brengsek, aku sudah katakan padanya untuk membiarkan Nuri mencegah kebakarannya, dia malah mencekiknya dan membiarkan dia terbakar api" ucap Ryan dengan wajah merah padam.
Mata Bondan membelalak, terkejut dengan ucapan Ryan.
"Dia tidak bisa menerima kalau aku mencintai Nuri, jadi dia datang ke rumah sakit dan menekan mentalnya sehingga dia berusaha untuk bunuh diri" lanjut Ryan.
Bondan semakin kesal, dia memejamkan matanya tak mau mendengar lagi.
"Cukup! Aku nggak mau dengar kamu terus menuduh ibuku" ucap Bondan yang masih menahan diri.
"Kamu juga nggak tahu kan, kalo dia yang nyuruh aku nyari tahu tentang Rania sejak dia kecil. Aku yang terus mengawasi Dila hingga dia ke Amerika dan mencoba segala cara agar dia kesulitan dan kembali pada Beni yang sedang dia buat gila" lanjut Ryan.
Bondan semakin mendapatkan kenyataan yang sangat pahit.
"Kemudian, dia menyalahkan kebodohan takdir pertemuan mu dengan Rania. Dan membawanya untuk menjadi Dila agar Beni sembuh"
Bondan tak kuasa mendengar dan menahan kekesalannya. Dia menarik baju Ryan hendak memukulnya. Namun tangannya bergetar karena lemas setelah mendengar semuanya.
"Dia meminta Rania tetap tinggal, setelah tahu kalau Rania lah kunci kekayaan keluarga Subagja, dia tetap melakukan pertunangannya bersama Beni. Meskipun tahu kisah asmara kalian"
__ADS_1
Bondan langsung mengingat saat Rania menangis di pelukannya dulu. Tangisan yang tak pernah dia mengerti. Yang ternyata, dia menangis karena tertekan oleh ancaman Ibunya.