Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
159


__ADS_3

Pemakaman Rania.


Tanah merah menggunduk dengan taburan bunga berwarna warni, nisan bernamakan Rania Ramadhania bin Wirawan Subagja terpasang. Langkah orang-orang yang tadi memanjatkan doa untuknya sudah mulai menjauh dari pemakaman itu.


Tinggal seorang diri, Bondan yang masih duduk berjongkok di hadapan nisannya. Tangannya masih memegang nisan dan sesekali mengusapnya.


Kilas balik pertemuannya dengan Rania terbayang seketika itu juga. Bagaimana mereka bertemu, juga bagaimana mereka bisa bersama selama bertahun-tahun.


##


Wajah Rania yang pucat pasi masih teringat olehnya. Saat itu, setelah pemeriksaan, Rania terlihat sangat lelah. Kemudian dia tiba-tiba membahas tentang kebingungannya menentukan nama untuk anak-anaknya.


"Aku tahu mereka bukan anak-anak mu, tapi apakah kau punya ide bagus untuk nama mereka? Aku bingung, akhir-akhir ini kepala ku terasa sakit jika dipakai berpikir" ucap Rania saat Bondan membaringkannya di ranjang.


Bondan menatapnya sambil tersenyum, kemudian memasang wajah yang terlihat berpikir keras.


"Hmmm, apa ya?" Bondan bertanya pada diri sendiri sambil duduk di samping Rania.


Rania meraih lengannya kemudian menyandarkan kepalanya di dada Bondan.


"Bagaimana kalau Fachri dan Farhan, nama belakang mereka bisa diambil dari nama mu atau Yudi, untuk menghargainya sebagai ayah kandung"


"Fachri dan Farhan Ramadhan, itu bagus" ucap Rania tiba-tiba di sela pembicaraan Bondan.


"Apa Yudi takkan marah kita menentukan nama mereka tanpa persetujuannya?" tanya Bondan.


Rania diam saja, dia terlelap tidur. Bondan perlahan membaringkannya.


Keesokan harinya dia memastikan lagi keputusan Rania. Namum sayang, Rania seolah tak ingat dengan apa yang mereka bicarakan kemarin.


Rania meminta untuk pergi ke cafe yang dulu pernah dia kunjungi dengan memaksa seperti anak kecil. Bondan semakin merasa bahwa keadaan Rania semakin memburuk.


##


Tapi dia tak pernah menyangka, dia tak pernah diberi kesempatan untuk menjadikan Rania istrinya. Kini dia harus bersusah payah lagi menahan rindu pada Rania. Yang kini akan lebih sulit untuk bertemu dengan nya.


~Entah apa yang harus aku lakukan tanpa mu. Senyuman mu, sentuhan tangan mu, semua tentang mu masih jelas bisa ku lihat dan ku rasakan. Terimakasih Rania, cintaku, terimakasih sudah menjadi bagian paling manis dalam hidup ku. Terimakasih sudah memberikan kenangan yang sangat indah untuk ku kenang. I love you!~ ucap hati Bondan sambil memandang nisan Rania.

__ADS_1


Bondan meninggalkan makam Rania. Dengan langkah yang berat, dia pergi dengan semua kenangan dalam hati dan pikirannya.


###


Yudi kembali dari pemakaman lebih awal. Dia duduk di ruang tunggu ruang bayi. Matanya menatap ke arah pintu masuk dan melihat seorang suster keluar dari sana.


"Sus, bagaimana keadaan bayi-bayi Rania?" tanya Yudi yang langsung berdiri.


"Baik, mereka sangat kuat Pak!" jawab suster.


"Apa semua keperluannya sudah cukup?" tanya Yudi khawatir.


"Ya, sangat cukup. Pak Bondan sudah meminta kami menyediakannya. Beliau juga yang memilihkan susu formula untuk bayi Fachri dan Farhan" jelas suster.


"Fachri, Farhan?" Yudi memastikan apa yang dia dengar


"Iya Pak, Pak Bondan memberikan nama tersebut. Itu juga karena ibu bayi sudah meninggal, jadi mempermudah untuk memanggil dengan nama mereka sendiri" jelas suster.


"Oh, ya sudah. Terimakasih Sus!"


"Sama-sama Pak!"


~Mereka anak-anak ku, kenapa dia yang sibuk mempersiapkan keperluannya, juga memberikan nama. Seharusnya aku yang lebih berhak, aku ayah mereka bukan dia~ ucap hati Yudi.


Yudi membulatkan kepalan tangannya. Dia merasa kesal.


Beberapa saat yang lalu, Dila datang dan memperhatikan Yudi yang bertanya pada suster. Dila melihat Yudi tak senang dengan penjelasan suster.


Dila mendekat dengan langkah perlahan, ingin tahu apa yang digumamkan Yudi. Tapi Yudi hanya bicara dalam hatinya. Dila sangat yakin dirinya sedang merasa kesal.


"Bondan selangkah lebih maju darimu. Dia jelas sangat kompeten dalam berbagai hal. Juga dalam memperhatikan anak-anak dari wanita yang sangat dicintainya" ucap Dila.


Yudi menoleh, kemudian mendelik dan menghela dengan keras.


"Mereka anak-anak Rania, wanita yang baik. Banyak orang yang menyayanginya, apalagi anak-anaknya. Semua orang akan memprioritaskan kebahagiaan mereka diatas persaingan apapun. Iya kan, Aunty Dila?"


Dila tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Apa kau tidak tertarik untuk mengambil hak asuh mereka?" tanya Dila to the point.


Yudi menatap bayangan Dila dari kaca.


"Aku lajang, meskipun aku sangat ingin melakukannya dan memang semua itu hak ku. Tapi aku tidak bisa egois, aku tidak bisa mengurus mereka jika belum menikah dan layak secara hukum untuk merawat mereka"


Dila menatap wajah Yudi saat mengatakan semua itu. Dia terkagum, merasa bahwa Yudi sudah berubah lebih dewasa. Dila tersenyum kemudian menatap bayi kembar itu.


"Kau berubah, aku jadi lebih suka. Bagaimana kalau kita menikah? Hak asuh bisa kau dapat jika kita menikah bukan?" Dila memberi ide.


Yudi menundukkan pandangannya.


"Aku tidak mau menyiksa mu lagi dalam lingkaran ketidakpastian hati ku Dila"


Dila menatap Yudi karena ucapannya yang tak dia sangka.


"Aku tidak bisa memungkiri bahwa bayangan Rania masih selalu ada di mata ku saat melihat mu. Mungkin benar, sejak awal aku memang mencintainya"


Dila meneteskan air matanya.


"Aku akan selalu jadi ayah kandung bagi Fachri dan Farhan. Aku akan melakukan semua yang terbaik untuk mereka. Jadi, kau juga harus jadi aunty yang baik untuk mereka. Lakukan semua yang terbaik untuk mereka. Di atas perasaan mu untuk ku, di atas segalanya"


Yudi menatap Dila yang mengusap air matanya. Dia meraih tangan Dila dan menggenggamnya. Tangan yang lain mengusap air mata Dila di pipinya. Dila menyandarkan kepalanya di dada Yudi. Mereka berdua menatap ke arah ruang bayi dimana bayi Fachri dan Farhan sedang bergerak lucu.


###


Vero masih menangis menatap album foto mereka saat liburan di Amerika. Foto-foto yang diambil saat mereka makan bersama di restoran hingga saat terakhir Rania memakai kebaya pernikahannya. Vero mengusap wajahnya, kesedihannya semakin terasa, saat dia melihat betapa dia sangat kehilangan Rania.


Arumi mendekat dan memegang bahunya. Vero menoleh, dia tak bisa menahan lagi. Arumi memeluknya, Vero menangis dalam pelukannya.


"Kau harus kuat, bayi Fachri dan Farhan, mereka membutuhkan mu" ucap Arumi dalam tangisnya.


Vero mengusap air matanya, dia melepas pelukannya dan menggenggam tangan istrinya.


"Ya, kau benar. Kau dan bayi kita juga membutuhkan aku. Rania akan marah jika aku terus bersedih begini. Iya kan?" ucap Vero.


Arumi mengangguk. Vero menatap perut Arumi dan mengusapnya.

__ADS_1


"Maafin papa ya sayang, mulai sekarang papa nggak akan mengabaikan kamu sama mama mu lagi. Papa akan fokus pada kalian dan sepupu kembar mu. Kita akan bahagia, seperti keinginan aunty Rania" ucap Vero.


__ADS_2