Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
43


__ADS_3

Sebelum pergi, Beni menemui Vero di bandara. Vero terkejut dengan kedatangannya, senyuman Beni membuat Vero bertanya-tanya, apa yang dia inginkan darinya.


"Aku dengar dari Rania, bang Vero akan pulang lebih dulu" ucap Beni setelah memeluk Vero sebagai sapaan hangat.


"Ya, aku akan pastikan sesuatu di sana berjalan dengan lancar" jawab Vero.


"Ya, Dila harus tidak mengetahui semua sampai kami benar-benar telah menikah" ucap Beni.


Vero terkejut dengan semua yang diketahui Beni. Terlebih Beni lah alasan mengapa Rania menjadi Dila. Seharusnya justru semua ini disembunyikan darinya.


"Kau banyak tahu tentang semua ini, aku harap kau bisa menjaga Rania saat aku tak bersamanya" ucap Vero.


Beni tersenyum dan menunduk sebentar kemudian hendak membantu Vero membawa tasnya, namun Vero menolak dan membawa tasnya sendiri.


"Hati-hati bang!" ucap Beni.


Vero membuka matanya dan menatap ruang kerjanya. Ucapan Beni masih terdengar di telinganya. Merasa bahwa Rania tak sedang baik-baik saja jika dia meneruskan perjodohan ini.


Arumi melihat ekspresi wajah Vero dan bertanya.


"Kenapa? Kau terlihat khawatir"


Vero tersenyum dan melepas pelukannya.


"Proyek nya gagal?"


Vero masih diam.


"Tidak apa-apa, untuk restoran ini saja kita sudah kewalahan. Kita kerjakan saja satu persatu dulu, oke!"


Arumi mencoba menghiburnya dengan mengedipkan sebelah matanya. Vero tersenyum dan kembali menatap wajah Arumi.


"Terima kasih, aku sangat senang akhirnya bisa pulang. Oh ya, aku akan pergi sebentar. Aku akan kembali segera"


"Apa, pergi lagi?" keluh Arumi.


"Sebentar saja, hanya menemui teman lama" ucap Vero membujuk.


"Baiklah, jangan sampai kita tidak makan malam bersama, dan... hati-hati. Kau tahu kalau aku di sini menunggu mu" ucap Arumi sambil merapikan kerah baju Vero.


Vero tersenyum dan mengecup kening Arumi.


"Aku pergi!" pamit Vero.


Arumi mengantar Vero keluar, Fajri dan Dila melihat mereka dengan tatapan dan pemikiran masing-masing.


Vero pergi menggunakan taksi menuju sebuah firma hukum. Dia berhenti di depan kantor itu dan berusaha menghubungi seseorang.


"Hallo, ucle Wandy. Aku sudah di depan kantor mu" ucap Vero.


Vero masuk setelah menutup telponnya.

__ADS_1


Seorang pria paruh baya dengan stelan jas biru tua menyambut kedatangan Vero dan memeluknya.


"Kau datang?" tanya Wandy.


Seorang pengacara yang sejak awal karirnya sudah menjadi pengacara keluarga Subagja. Dipercaya karena sangat jujur dan bisa diandalkan secara pribadi sebagai teman ataupun secara profesional sebagai pengacara.


"Iya Om, ada yang perlu aku pastikan" ucap Vero.


"Duduklah!" pinta Wandy.


Wandy membuka sebuah berkas, sebelumnya Vero memang sudah menanyakan perihal yang dikatakannya sebagai sesuatu.


"Tentang wasiat dan perjodohan itu dua berkas yang berbeda" ucap Wandy.


Vero mendengarkan dengan seksama.


"Ini wasiat kedua orang tua mu, dibuat saat mereka mencari mu karena kamu pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan mereka"


Wandy menyodorkan sebuah map berisikan wasiat kedua orang tuanya. Vero masih diam karena mengingat semua kenangan bersama orang tuanya. Dia juga baru paham mengapa begitu sibuk mengurus Dila dan pekerjaan mereka dan sedikit mengabaikannya.


"Lalu ini, perjanjian perjodohan antara putri keluarga Subagja dengan putra dari keluarga Atmajaya, ditandatangani oleh Wirawan Subagja dan Ardiana Atmajaya dengan saksi Retno ibu mu juga Anita istri kedua Ardiana" jelas Wandy.


Vero melihat semuanya dengan seksama. Sesuatu yang dia ketahui dulu dan tak memperdulikannya sekarang dia baca dengan detil. Wandy menunggu dan memperhatikannya.


"Semua yang diberikan Wira untuk mu masih dikelola oleh orang-orang kepercayaannya. Wira tahu kau suka dengan kuliner, restoran itu dia kembangkan melalui manager kepercayaannya. Sesekali lihatlah dan datang ke rapat pemegang saham. Tapi belakangan, aku baru tahu kalau kamu membuka restoran sendiri"


Vero tersenyum.


"Iya Om, mencoba setelah mendapatkan banyak pengalaman, aku buka sendiri dengan bantuan banyak teman"


Vero tertunduk sedih.


"Tapi Ver, kamu sudah lama ketemu adik kamu, lantas kenapa kamu ngga ngasih tahu tentang jati dirinya sedari dulu?"


"Ngga bisa Om, kasih sayangnya pada keluarga asuhnya sangat kuat, dia bahkan rela melakukan apapun buat mereka. Bahkan kemarin saat tahu mereka bukan siapa-siapa, dia malah semakin sayang karena mereka mau menerima dia sebagai anak meskipun tak sesempurna sebagai orang tua yang baik"


Wandy mengangkat alisnya, merasa kagum pada Rania hanya dengan mendengarkan cerita dari Vero.


"Lalu...bagaimana putri yang satunya? Aku sedikit bingung untuk menyebutkan nama mereka. Mereka tertukar saat akan dititipkan, bagaimana cara meluruskannya"


Vero tersenyum dan menyimpan berkasnya.


"Putri yang dititipkan tetap bernama Rania Ramadhania Subagja. Sedangkan yang bersama orang tuaku adalah Dila Aryani Subagja. Panggil dan tetapkan namanya. Dila...aku harus mencari momen yang tepat untuk mengatakan semua padanya" jelas Vero.


Wandy tersenyum mendengar keputusan Vero yang dianggapnya sangat dewasa.


"Ya, masa lalu adalah masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah masa depan kalian bertiga"


Saga membuka berkas perjodohan dan membahasnya.


"Perjodohan ini hanya bisa dilakukan saat putri keluarga Subagja berusia 22 tahun. Mereka baru berumur 20 tahun. Masih ada waktu untuk membatalkannya dengan menikahkan mereka dengan orang selain putra keluarga Atmajaya. Namun....konsekuensinya, kalian akan kehilangan setengah dari kekayaan kalian karena Anita sudah membuat perjanjian baru sebelum Ardiana meninggal dan mengatakan konsekuensi ini" jelas Wandy.

__ADS_1


"Aku dan Rania sepakat untuk membatalkannya di saat yang tepat. Kami tak peduli dengan semua harta itu. Namun kami belum mengatakan apapun pada Dila. Aku takut akan sulit membuatnya paham. Dia diasuh oleh Anita, perangainya berbeda. Meskipun aku tahu hatinya tak jahat"


"Tidak bisa seperti itu, hak kalian adalah milik kalian. Anita tak punya sedikit pun hak untuk memaksakan perjodohan ini, apalagi yang dijodohkan adalah anaknya. Jelas dia bukan putra keluarga Atmajaya"


"Ya itu benar Om, seharusnya seperti itu. Hanya saja, kita sedang berurusan dengan orang yang sangat serakah, berharap dia mengerti dengan semua ini, sama dengan seolah mengangkat sebuah gunung, berat dan sulit"


Tiba-tiba suara interkom mengganggu pembicaraan mereka. Wandy mengangkatnya.


"Ya!"


Mata Wandy menatap Vero dan berusaha untuk tidak terkejut dengan apa yang dikatakan sekertarisnya. Beberapa saat mendengarkan ucapan sekertarisnya.


"Baiklah, katakan padanya aku akan menemui nya setelah ini, sekitar 1 jam lagi" jawab Wandy.


Vero menatap Wandy dan menutup berkasnya.


"Kau ada janji?" tanya Vero.


Wandy mengangkat kedua alisnya.


"Tidak! Hanya saja....seorang teman lama ingin bertemu" jawab Wandy.


Vero berdiri.


"Baiklah Om, aku sudah selesai. Aku akan mengajak adikku Rania kemari saat dia sampai. Kita akan bicara lagi tentang ini" ucap Vero sambil pamit.


"Oh begitu! Baiklah!"


"Aku pergi, terima kasih ya Om!" pamit Vero.


Dia berjalan keluar, Wandy menatap seorang pria yang duduk di ruang tunggu yang hendak dilewati Vero. Wandy sangat khawatir Vero memperhatikannya dan mengenalinya. Namun karena Vero mendapat pesan di ponselnya, dia tak memperhatikan pria itu. Dia berjalan sembari memeriksa pesannya. Sementara tamu pria itu berdiri dan menatap Wandy kemudian menghampirinya.


"Halo Wandy apa kabar?" tanya Ryan.


Suara yang tak asing terdengar jelas oleh Vero. Suara itu pernah dia dengar, Vero berbalik. Namun Vero tak melihatnya, karena Wandy mempersilahkannya ke dalam.


Vero mengerutkan dahinya.


"Dimana aku pernah mendengarnya?" gumamnya mengingat.


Namun ponselnya berdering, Arumi menelpon.


"Vero! Cepat kemari!" ucap Arumi panik.


"Ada apa?" tanya Vero khawatir.


"Cepat!" pinta Arumi.


Vero berlari dan memanggil taksi. Beberapa suara pria berteriak keras terdengar di ponselnya. Arumi terdengar ketakutan, Vero semakin khawatir.


Taksi datang, Vero buru-buru masuk.

__ADS_1


"Restoran Spagethy Vero!" ucap Vero pada supir taksi.


"Baik Pak!" jawab supir taksi dan melajukan mobilnya.


__ADS_2