
Clara turun dari mobil, dengan sepatu hak tinggi. Bondan meminta supir parkir di tempat yang tak menghalangi orang lain masuk ke kedai itu. Kedai Rania memang sedikit sempit dan berada di lingkungan padat penduduk.
"Aku rasa sudah salah mengira pada catering ini. Huhfff, tapi karena kita sudah di sini jadi kita harus mencobanya" ucap Clara saat Bondan mendekat dan berdiri di sampingnya.
Bondan menatap dengan wajah riang. Dia bangga pada Rania yang mampu mendirikan catering setelah dua tahun tak bertemu.
~Dia sangat pandai, mandiri dan hebat, aku makin kagum padanya~ ucap hati Bondan.
Clara menatapnya sejenak kemudian beralih pada kedai yang di matanya hanya sebuah kedai yang tak layak bagi kalangannya.
"Tunggu, apa yang ada di benak mu saat pertama kali melihat kedai ini?" tanya Clara.
Dia memang suka bertanya tentang pendapat Bondan tentang tempat, bahan dan orang yang pertama kali dia lihat. Dia membuka semua pendapat dari sudut pandang Bondan.
"Aku kenal baik pemiliknya, dulu dia tidak memiliki ini, sekarang memiliki semua ini. Jadi pendapatku, luar biasa. Dibandingkan aku yang hanya mengikuti mu seharian. Tak ada pekerjaan lain" jawab Bondan.
Clara menyeringai.
"Kau ini mengungkapkan pendapat mu atau mengeluh?"
Clara berjalan lebih dulu, dia masuk ke kedai yang cukup ramai itu, meski ini sudah sore untuk makan siang. Dia menatap dekorasi dengan tema 'jadul'. Dua meja makan kotak berukuran besar di tengah ruangan dengan kursi yang cukup banyak. Tapi meja kotak berukuran kecil di dinding hanya di isi oleh dua kursi di setiap mejanya.
Dia menoleh ke sisi ruangan yang menyajikan jejeran piring dengan isi sajian berbagai makanan dari berbagai daerah. Clara tersenyum ke sisi bibirnya. Dia sedikit menertawakan jenis makanannya.
~Ya...kan ini cuma bukan karyawan. Jadi cukup baik lah~ ucap hatinya.
"Waahhhh banyak banget jenis makanannya. Enak nih, jadi laper lagi" seru Bondan.
Mata membulat saat Bondan bicara sambil memajukan tubuhnya ke hadapannya. Dia menatap pria sempurna dengan wajah yang sangat tampan terpesona pada makanan yang sederhana. Pipi Clara memerah, sangat terlihat karena kulitnya yang sangat putih.
"Bondan! Lama nggak ketemu!" sapa Nurdin.
Nurdin membuka lebar tangannya menyambut Bondan yang menghampirinya.
"Apa kabar Be?" tanya Bondan.
"Baik nak, wah...lama banget ya nggak ketemu"
"Iya Be, baru kali ini ada jalan ke sini" jawab Bondan sambil menggaruk kepalanya.
Nurdin mengangkat kedua alisnya, sudah paham dengan maksud Bondan yang sekarang punya alasan dan jalan takdir bisa ke kedai Rania.
"Ahhh...takdir ya!" Nurdin mengejeknya.
"Iya Be!" Bondan semakin tersipu malu.
Vera keluar setelah mendengar Nurdin menyebut nama Bondan. Seolah bertemu dengan kekasihnya sendiri, Vera menatap Bondan dengan tangis di sudut matanya.
"Ibu!" panggil Bondan pada Vera.
__ADS_1
Dia mendekati Vera yang tersenyum. Bondan memeluknya, Vera mengusap kepala dan wajahnya.
"Lama banget nggak ketemu, ibu kangen" ucap Vera.
"Apalagi aku Bu, kangen masakan ibu" ucap Bondan.
"Ini gara-gara Rania!" kesal Vera.
Bondan tersenyum menikmati momen reuni itu.
"Eeehmmm!" Clara berpura-pura batuk.
Bondan baru sadar dengan perantara takdirnya.
"Kenalkan ini bos saya, Clara namanya. Beliau ingin langsung datang kemari untuk mencicipi masakan ibu, jika rasanya enak, kami akan membuat kontrak dengan catering ibu untuk memasok makan siang dan malam pegawai pabrik kami" jelas Bondan.
Vera tersenyum senang bisa melihat wajah Bondan lagi. Terlebih dia sangat senang karena Bondan membawa senyum kebahagiaan bagi Rania.
"Bu!" Bondan memanggilnya.
Vera tak mendengarkan.
"Ayo...makan saja dulu. Nanti masalah kontrak Rania yang urus. Dia lagi pergi ke kantor klien memperpanjang kontrak" ucap Vera.
Bondan tersenyum, dia sangat senang meski tak ada Rania. Hanya keyakinan dalam hatinya, ini semua jalannya untuk bisa kembali bersama Rania.
Bondan membawakan menu yang menurutnya enak. Namun Vera meminta Nurdin membawakan semua jenis makanan disajikan di piring kecil untuk dicicipi Clara.
Clara menatap semua makanannya. Namun dia hanya mengambil menu yang selalu tak enak dia makan di tempat lain, Capcay, ya, dia selalu makan Capcay yang kurang enak selama berkeliling.
Mata Clara berbinar saat memakannya, namun dia menahan diri dari respon yang terlalu berlebihan. Bondan menatapnya, dia juga melihat Bondan menunggu komentarnya. Tapi dia menjadi malu, pipinya memerah lagi.
Bondan memperhatikan pipinya, kemudian dia tersenyum dan berpikir Clara kepanasan. Clara semakin merasakan panas di wajahnya saat menatap senyuman Bondan.
"Enak, aku akan coba yang lain" ucap Clara gugup.
Bondan menatap Vera dan mengacungkan jempol.
Clara setuju dengan menjadikan Vera's Catering sebagai partnernya. Dia menjabat tangan Vera dengan senangnya.
Vera membuatkan sekotak makan malam untuk Clara dan Bondan. Clara menolak.
"Nggak usah. Aku nggak makan menu yang sama dalam sehari" ucap Clara.
"Buat aku aja Bu" Bondan mengambil dua kotak makanan.
Clara menatapnya, dia benar-benar cemburu pada Vera. Meskipun seorang paruh baya, namun selalu mendapatkan banyak senyuman dari Bondan sejak masuk ke kedai itu.
"Nanti saya minta Rania datang ke kantor buat tanda tangan kontrak" ucap Nurdin.
__ADS_1
Clara mengangguk, dia keluar setelah pamit dengan hanya tersenyum. Dia juga harus menyiapkan surat kontraknya. Bondan pamit dengan memeluk Vera dan Pak Nurdin.
Vera melambaikan tangan pada Bondan dengan senyumnya. Nurdin memperhatikannya.
"Seneng ya ketemu takdirnya Rania" sindir Nurdin.
Vera memukul Nurdin.
"Hiihhhh....dasar, nyindir terus. Aku tuh senengnya, Rania jadi kelihatan lebih ceria setelah ketemu dia" jawab Vera.
"Iya, beda. Nada suaranya juga beda" ucap Nurdin menambahkan.
Tak berapa lama, datang Rania dengan mobil box berisi bahan yang dia beli di pasar. Rania turun dengan mengernyitkan wajahnya.
"Kenapa sayang!" tanya Vera khawatir melihat tangan Rania mengeluarkan darah.
"Jatuh Bu!" jawab Vera.
Nurdin langsung memapah Rania ke dapur. Mereka duduk di meja yang biasa jadi tempat Vera duduk.
Semua orang panik karena lukanya cukup panjang meskipun tak dalam.
"Kenapa bisa sampai gini?" tanya Nurdin.
"Jatuh ke sisi dinding, tiba-tiba ada orang bawa karung isi barang rongsok nabrak teteh" jelas Wahyu yang selalu memanggilnya teteh.
"Cuma perih aja, nggak kenapa-kenapa kok Be!" jawab Rania tak ingin semuanya khawatir.
Vera membelai rambut putrinya yang terlihat kesakitan saat dibersihkan lukanya. Rania menyembunyikan wajahnya di perut ibunya menutupi ekspresi sakitnya.
"Kamu kecapean kali!" seru Yuni sambil membawa teh manis hangat untuknya.
"Iya, kamu terlalu banyak kerjaan. Jarang istirahat" tambah Nurdin.
"Kita tambah pegawai aja. Yang udah biasa kerja kita tempatin di kedai gantiin Babe Nurdin. Ntar Babe Nurdin yang urus semua pesanan dan belanjaan. Kamu fakus aja sama kontrak" usul Vera.
Rania hanya mengangguk namun dia berpikir dengan masalah kontrak.
"Emang ada kontrak baru Bu?" tanya Rania.
"Iya ada, tadi. Orangnya sih minta kamu yang ke kantornya. Tapi kalo kayak gini minta perwakilannya aja yang ke sini gimana?" tanya Vera.
"Gimana baiknya aja Bu. Takutnya mereka juga merasa permintaan kita berlebihan karena minta mereka yang ke sini" ucap Rania.
"Iya juga, beberapa orang kadang merasa tersinggung karena hal kecil" ucap Nurdin menambahkan.
"Ibu telpon dulu ya!" ucap Vera.
Dia keluar menelpon melalui telpon kedai. Clara langsung menyetujui, dia akan mengirim seseorang ke sana.
__ADS_1