
Keesokan harinya, Rania sarapan setelah yang lainnya selesai. Dia mengunyah sandwich yang dibuatkan Hedi dengan menatap hampa ke sembarang arah.
~Yudi lihat aku!, apa dia cerita sama Arumi? Atau bahkan dia cerita sama Dila. Astaga...sampai kapan hidupku kayak gini. Takut bertemu dengan orang-orang tertentu~ ucap hati Rania.
Tiba-tiba Beni sudah ada di hadapannya, dia memberi kode pada Hedi untuk memberinya kopi.
"Kenapa?" tanya Beni.
Rania masih diam, dia belum sadar bahwa ada Beni di depannya.
"Hei...!" seru Beni lebih keras.
Hedi tersenyum melihat Beni berusaha membangunkan Rania dari lamunnya.
"Ah....iya ada apa?" Rania malah balik bertanya.
Beni tersenyum menertawakan wajah bodoh Rania yang menurutnya sangat lucu.
"Apa! Ada apa!" Rania marah tak suka ditertawakan tanpa alasan.
"Kamu kenapa? pagi-pagi udah ngelamun!" ucap Beni.
Rania memejamkan matanya karena mengerti bahwa Beni sudah memanggilnya berulang kali.
"Apa karena teman mu yang di rumah sakit? atau karena Kak Bondan?" tanya Beni penasaran.
"Tidak, Bondan tak pernah membuatku tak nyaman" jawab Rania.
Dia langsung terdiam dari mengunyah tersadar jawabannya membuat Beni menunduk.
"Kalo begitu karena Nuri? Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa bisa sampai terbakar begitu?"
Beni mencecar Rania dengan banyak pertanyaan tanpa emosi darinya sambil memutar cangkir kopi dan meminumnya sedikit-sedikit.
Rania menghela nafas, dia menghabiskan sisa makanan di mulutnya.
"Masih dalam penyelidikan, rekaman CCTV yang akan membantu melihat apa yang terjadi. Karena untuk mendapatkan kesaksian Nuri, membutuhkan waktu yang cukup lama" jelas Rania.
Beni hanya mengangguk.
"Kau tidak pergi ke kantor? Bondan sudah pergi sejak tadi" ucap Rania sambil menyimpan piring dekat Hedi.
"Nanti pukul 10, momi minta aku pergi jam 10" jawab Beni.
"Kenapa berbeda?" tanya Rania.
"Ngga tau pasti, tapi momi bilang kak Bondan pergi ke mall untuk inspeksi jam 10 nanti" jawab Beni.
Rania menatap wajah Beni yang tak menyiratkan rasa curiga pada ibunya meski meminta hal yang diluar kebiasaan.
__ADS_1
Rania masih berpikir bahwa Anita ada hubungannya dengan kebakaran di restoran Vero. Namun dia belum bisa membuktikannya. Jika dia langsung menanyakannya pada Anita, jawaban dan kekesalan yang sama akan dia dapatkan. Anita bahkan tak berekspresi sama sekali saat menjawabnya.
"Aku pergi!" ucap Rania.
"Kemana?" tanya Beni.
"Rumah sakit" jawab Rania.
"Bukannya Dila dan teman-teman mu yang lainnya suka ke sana? Kamu ngga bisa bebas dateng ke sana kan?"
"Kakak ku sudah kirim pesan, tidak ada siapapun di sana. Jadi aku ke sana" jawab Rania yakin.
"Aku antar?" Beni menawarkan diri.
"Ngga usah, aku akan sedikit lama di sana. Kamu bisa kesiangan datang ke kantor nanti"
Rania pergi, dia melambaikan tangannya pada Beni.
"Kamu dengar kan Hed! Kak Bondan ngga pernah bikin dia ngga nyaman. Beda sama aku, aku selalu bikin dia merasa canggung dan khawatir" ucap Beni.
Hedi hanya menatap nya, dia merasa bahwa Beni belum bisa melepas Rania.
~Bagaimana bisa mudah melepasnya? Mereka sudah sangat dekat~ ucap hati Hedi.
###
"Aku ingin mengadakan perubahan dalam kepemimpinan perusahaan kita kali ini" ucap Anita.
Semua manager dan pemegang saham yang datang mendengarkan. Beberapa dari mereka terlihat sedang berbisik.
"Bondan akan menyerahkan jabatannya untuk Beni sebentar lagi, maka dari itu aku akan mempersiapkannya dari sekarang" lanjut Anita.
"Beni? Bukannya dia baru bergabung beberapa bulan yang lalu? Lalu bukan kah dia akan menikah?" tanya salah satu pemegang saham.
"Dia takkan menikah, dia juga sudah siap sejak lama meskipun baru bergabung" ucap Anita.
Anita terlihat tak senang dengan respon mereka. Beberapa dari mereka memang tak bergitu percaya pada Anita yang hanya sebagai istri kedua, juga pada Beni yang hanya anak tiri.
Mereka jauh lebih berpihak pada Bondan yang merupakan anak kandung dari Ardiana Atmajaya. Bahkan Wandy Coltin salah satu pengacara perusahaan merupakan kepercayaan Wirawan Subagja. Dia sangat sulit untuk dipengaruhi oleh Anita untuk memihak padanya.
"Kalian keberatan dengan permintaan ku?" tanya Anita dengan wajah kesalnya.
Semua orang diam menatapnya, beberapa menunduk.
"Jadi kalian akan melupakan jasa ku yang sudah susah payah memulihkan Atmajaya group selama beberapa tahun ini?" tambah Anita mengingatkan mereka.
Wandy mendelikkan matanya, dia tak suka Anita mengingatkan nya dengan hal yang dia sangat sulit membuktikan bahwa Anita adalah dalang dibalik kecelakaan yang terjadi pada Ardiana dan Wirawan.
Beberapa orang saling menatap dan mengangguk mengakui usaha Anita memperbaiki Atmajaya yang sempat hampir bangkrut.
__ADS_1
"Aku cuma minta Beni memimpin Atmajaya Group setelah aku begitu berusaha dengan keras. Kalian harus mau membantuku, jika tidak....aku angkat tangan dengan semuanya. Kalian sendiri yang akan kelimpungan menangani masalah Atmajaya Group" ucap Anita mengancam beberapa diantara mereka yang pernah berhutang padanya.
"Cukup itu saja untuk hari ini, sebelum aku yang mengumumkan peralihan kepemimpinan jangan ada yang membicarakan hal ini di belakangku" pinta Anita.
Dia berdiri dan berjalan meninggalkan mereka, beberapa dari mereka ikut pergi, sebagian tetap duduk dan membicarakan keraguan nya.
Wandy pergi keluar dari kantor untuk kembali ke kantor hukum nya. Namun dia dicegat oleh Ryan dan Anita di parkiran mobil.
"Kalian mau apa?" tanya Wandy.
"Wandy...aku sudah bilang, jangan urusi keluarga Subagja, mengapa sangat sulit memberitahumu!" ucap Ryan.
"Wandy sayang, aku akan melipat gandakan tawaran ku. Kau bersedia kan?" tambah Anita.
Wandy menatap mereka bergantian, kemudian menatap Ryan dari wajah hingga kakinya.
"Pacar mu yang lucu itu, aku tidak melihatnya beberapa hari ini. Kemana dia?"
Wandy malah menanyakan Nuri pacar nya. Ryan menatap dengan kesal. Dia sadar Wandy tahu sesuatu tentang Nuri dan dirinya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kamu seharusnya tahu kemana kamu harus berpihak" ucap Anita.
"Tentu saja! Keluarga Subagja jauh lebih baik, dari segi kekayaan juga attitude nya. Jika saja Ardiana tidak mati kecelakaan, keluarga Atmajaya pun masih punya hal positif untuk dipertahankan. Aku masih bertahan pun karena Bondan punya sedikit sifat baik dari Ardiana" ucap Wandy.
"Dengar Wandy! Aku akan melakukannya jika kau bersikeras membantu keluarga Subagja untuk kembali" ancam Ryan.
"Apa itu? Kecelakaan mobil? Menekan mental salah satu dari mereka? Menekan secara verbal? Perusakan? Kebakaran?" Wandy menantang.
Ryan menertawakan semua ucapan Wandy yang sebenarnya sangat dia tahu. Anita dengan wajah yang kesal namun bisa tersenyum, mendekati Wandy.
"Aku akan membongkar semua tentang mu!" bisik Anita di dekat Wandy.
Wandy menatap dengan tenang. Dia mundur sedikit agar tak terlalu dekat dengan Anita.
"Lakukanlah! Aku sudah tidak peduli" ucap Wandy.
Dia membuka pintu mobil kemudian masuk dan pergi. Sementara Anita dan Ryan masih diam menatap kepergiannya.
"Dia tahu semuanya!" ucap Ryan.
"Tapi tak punya bukti!" sela Anita.
Ryan menatapnya dengan malas.
"Seharusnya aku tak melakukan itu pada Nuri" ucap Ryan menyesal.
"Ayolah! Sudah cukup bermain dengan anak kecil itu. Sudah ku bilang jangan main wanita. Alasan dia adalah informan mu, itu sangat tidak masuk akal" ucap Anita kesal.
Dia meninggalkan Ryan yang masih memikirkan Nuri.
__ADS_1