
Pagi yang cerah di Melbourne. Bondan memandang mentari yang menyinari kamarnya. Bayangan Rania yang berciuman dan dipeluk Beni terlihat jelas di matanya. Rasa apa yang ada di hatinya. Cemburu, atau kah hanya tak rela Beni bisa begitu bahagia hanya mendapatkan wanita seperti Rania dalam hidupnya, hanya dengan berpura-pura sakit mental.
Dia juga merasa hal ini tak adil baginya yang selama ini selalu mengalah demi ibu dan adiknya. Bondan memejamkan matanya untuk mengusir pemikirannya yang merasa tak adil.
~masih ada cara lain agar mereka tak menikah, pasti ada cara lain~
Bondan berusaha meyakinkan dirinya. Tak berapa lama seseorang mengetuk pintu. Bondan berbalik dan menatap Dina yang masuk dengan pakaian santai, membawa kopi kesukaannya.
Dina terlihat cantik hari ini, Bondan bahkan tertegun menatapnya. Tapi Dina sedang dilanda rasa khawatir yang sangat besar terhadap Rania.
"Ini kopi mu kak!" ucap Dina.
Wajahnya yang cantik terlihat cemas. Dia hendak kembali keluar, namun Bondan menahannya.
"Ada apa?" tanya Bondan seolah paham dengan raut wajah itu.
Dina membulatkan matanya, semakin membuatnya terlihat cantik. Lentik matanya membuat siapapun akan langsung terpana padanya.
Dina tersenyum menyadari bahwa Bondan curiga dengan ekspresi wajahnya.
"Tidak! Aku hanya masih mengantuk" jawab Dina.
Bondan melepas tangannya, Dina melihat tangannya yang sedang dilepasnya. Bondan masih merasa kalau ada yang disembunyikan Dina. Dia kembali menarik Dina.
"Katakan!" pinta Bondan.
"Hmmm...ngga ada apa-apa kak!" ucap Dina meyakinkan.
Bondan mengerutkan dahinya, tanda tak percaya.
"Kalaupun ada, aku takkan bicara sebelum dia sendiri yang mengatakannya" gumam Dina.
Bondan melirik pada Dina yang sudah berdiri di pintu hendak keluar. Bondan berpikir, mungkin saja Dina sedang memikirkan sesuatu yang terjadi pada orang lain, bukan dirinya.
Dina bergegas pergi, saat turun tangga, dia melihat Beni memegang tangan Rania dan pergi keluar rumah. Dina berlari menyusulnya, namun sayang dia tak bisa menyusulnya.
Dina menghela nafas menatap mobil Beni melaju.
"Kemana mereka akan pergi?" gumam Dina.
"Kencan pagi hari" ucap Bondan yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
Dina terkejut dan menatap dengan matanya yang lentik. Bondan tersenyum, namun dalam hatinya ada rasa tak suka menatap kepergian mereka.
Di mobil, Beni memasang wajah yang sangat gembira. Dia hendak membawa Rania ke sebuah taman yang menurutnya sangat nyaman untuk di kunjungi. Sementara Rania masih diam memikirkan semua cerita yang dia dengar dari Vero semalam, lewat telpon.
Semalam.
"Hallo kak!" ucap Rania dengan nada suara yang canggung.
Sapaan "Kak" sebenarnya sudah dia gunakan semenjak mengenal Vero selepas lulus SMA. Vero yang dibicarakan teman-temannya merupakan pria yang selalu menatapnya di luar sekolah. Entah itu saat masuk atau pulang dari sekolah.
__ADS_1
Rania tak punya perasaan apapun selama itu, dia hanya fokus membantu ibunya untuk mendapatkan uang. Vero mencoba menawarkan beberapa pekerjaan yang senada dengan pekerjaannya.
Rania tak pernah tahu tujuan kebaikan yang Vero berikan, namun sekarang dia mengerti.
"Hai...gimana? Apa mereka ngelakuin sesuatu sama kamu?" tanya Vero khawatir.
"Nggak bang, Nia baik-baik aja" jawab Rania dengan terbata.
Vero menghapus air matanya yang keluar karena merasa senang Rania memanggilnya Abang. Dia ingin sekali memeluk adiknya yang sama sekali tak kenal kasih sayang kedua orang tuanya.
"Apa yang bisa aku lakuin biar kamu bisa pulang?" tanya Vero.
"Ngga bisa, Rania masih punya kewajiban buat jaga Beni sampai dia bener-bener sehat dan bisa nerima kepergian Dila dengan lapang dada" jelas Rania.
"Jadi ini karena Dila?"
"Ngga juga, Dila malah ngga tau apa-apa kayaknya"
"Jadi?"
"Rania masih belum paham tentang jati diri Rania. Apa yang Rania ketahui dari sini, belum begitu jelas, Rania mau tahu lebih jelas dari kak Vero" pinta Rania.
"Seharusnya kita ketemu dan ngobrol langsung, bukan dengan telpon begini" ucap Vero
"Aku belum tahu kapan bisa ketemu, ini pun harus mencuri ponsel Bondan dan menyalin nomor kakak, ngomong pun nggak bisa keras" jelas Rania.
"Baiklah! Kita bertiga saudara, saat kalian lahir aku masih belum paham dengan semua yang terjadi. Ibu dan ayah membawa kita ke kampung halaman ibu di Surabaya. Kalian lahir, kami berbahagia, terutama ibu. Seingat ku, nama yang diberikan untuk kalian adalah Dila dan Dira Aryani Subagja. Beberapa hari setelah kelahiran mu, ibu dan ayah terlihat panik, entah apa kabar yang diberitahukan dokter saat itu. Kemudian kami pulang, tapi di perjalanan, ibu dan ayah memberikan mu pada seorang pria kurus tinggi. Dengan menangis, ibu menyerahkan mu, ayah pun sama. Aku tak begitu jelas mengingatnya karena setelah aku pulang, ibu memberitahuku bahwa dia hanya melahirkan satu putri. Dila yang bersama kami"
"Lalu? Darimana kakak tahu aku di asuh ayah Heru?" tanya Rania.
"Suatu malam saat aku sudah lebih dewasa, aku mendengar ayah dan ibu membicarakan mu. Aku jadi ingat dengan malam kau diserahkan, itu bukan mimpi. Aku jadi membenci mereka, hubungan ku dengan Dila semakin jauh, karena kami memang tak begitu dekat"
Rania menghela nafas dalam.
"Yang sebenarnya terjadi adalah, kau yang sebenarnya diberi nama Dila Aryani Subagja. Seharusnya kau yang dibawa pulang ke Jakarta karena kau mengidap penyakit saat itu. Ibu dan ayah merencanakan itu agar perjodohan tak terjadi karena ku dengar ibu calon suami mu sangat tamak. Takdir membuat ibu salah memberikan bayi, dia memberikan mu pada Pak Heru. Tapi takdir juga yang mengatur semuanya. Pak Heru...ayah mu...ayah kesayanganmu sangat mencintaimu. Dia mampu bernegosiasi dengan takdir. Kau sembuh dari sakit dan tumbuh menjadi gadis cantik yang kuat"
Buku kuduk Rania merinding mendengar kerasnya perjuangan ayah Heru untuknya. Tangisnya semakin bercucuran.
"Jadi...yang sekarang terjadi adalah....kau berada pada tempat mu, sebagai diri mu sendiri Dila Aryani Subagja" ucap Vero mengakhiri ceritanya.
Vero memejamkan matanya, semua yang terpikir darinya yang mengurutkan kisah hidup keluarganya sendiri, sudah dia utarakan pada seseorang yang tepat. Adik yang selama ini jauh darinya. Sekarang pun harus menceritakannya dari jauh. Vero menangisi keadaan mereka.
Rania tersenyum, dia menertawakan takdirnya sendiri. Betapa segala sesuatu sudah diatur secara baik oleh Sang Pencipta.
Di mobil, Rania menatap jalanan yang penuh dengan pepohonan. Menatap indahnya dunia ini, dunia yang baru dia masuki. Dunia yang ternyata memang seharusnya menjadi dunianya selama ini.
Beni memberhentikan mobilnya. Rania menatapnya.
"Sudah sampai?" tanya Rania.
"Ya, ayo turun" ajak Beni.
__ADS_1
Dia memutari mobil kemudian membukakan pintu untuk Rania. Dia pun keluar dan menyambut tangan Beni yang meminta genggaman tangannya.
Rania menatap sebuah danau kecil di sana. Matanya terpana menatap keindahan pemandangan itu. Beni tersenyum menatap wajah Rania yang terpana.
"Kau suka?"
"Ya...sangat. Ini indah sekali!" jawab Rania.
Beni melepaskan tangan Rania yang berjalan maju, membiarkannya menikmati pemandangan ini. Kemudian dia berjalan mengikutinya dan berdiri di dekatnya. Dengan memeluk bahu Rania, Beni mengatakan isi hatinya.
"Ini tidak indah!"
Rania heran mendengarnya, dia menatap Beni.
"Kenapa? Versi indah setiap orang berbeda?" tanya Rania.
"Ada yang jauh lebih indah, pemandangan ini masih kalah dengannya" ucap Beni lagi.
"Dimana? Kenapa kita tidak kesana saja?" ucap Rania.
"Kita tidak usah pergi kemana-mana!"
"Ah...ayolah, jangan berbelit-belit. Kau mau mengatakan aku lebih indah? Dila Aryani Subagja jauh lebih cantik dan indah di mata mu" ucap Rania.
Rania tertawa merasa sudah menghancurkan momen Beni menggombalinya. Namun Beni hanya tersenyum menatap tawanya yang untuk pertama kali terasa lebih lepas.
"Tidak...!" ucap Beni.
Rania berhenti tertawa dan mengangkat kedua alisnya.
"Lalu apa?" tanya Rania.
"Rania yang ada di hadapan ku yang sangat cantik. Pribadinya, wajahnya, kesabarannya juga pengertiannya. Aku jatuh cinta pada mu. Rania Ramadhania!" ucap Beni.
Rania terdiam, dia terkejut Beni mengetahui bahwa dirinya bukan Dila tapi Rania.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Rania tergagap.
"Aku sudah merasa ada yang aneh semenjak kita tinggal bersama. Dila tak pernah tersenyum setelah aku kasar padanya. Dia selalu pergi dan marah hingga berhari-hari. Dila tak pernah memelukku saat menangis mengingat perlakuan ibu ku. Dia selalu pergi dan tak mau tahu. Dila tak pernah menolak ciuman ku, dia selalu agresif dan menikmatinya" ucap Beni.
Rania menunduk, dia telah melakukan semua hal yang berbanding terbalik dengan sifat Dila. Tangannya gemetar, takut Beni menjadi kasar lagi atau marah padanya.
Beni menggenggam tangannya yang gemetar.
"Tapi semakin hari, aku semakin nyaman dan menyukai wanita yang bertahan di sampingku ini, meskipun entah alasan apa yang membuatnya bertahan"
Rania menatapnya, Beni mendekat dan memeluknya.
"Aku tidak mau tahu alasannya, tapi cari lah alasan agar selamanya kau bisa bersama ku" bisiknya di pelukan Rania.
Pelukan lembut itu membuat Rania merasa sangat dihargai olehnya. Beni sudah berubah, dia semakin bisa mengendalikan diri. Dia yang biasanya selalu memeluk dengan penuh hasrat dan tak peduli jika orang yang dia peluk merasa sesak atau tidak. Kali ini dia seolah membiarkan Rania tak membalas peluknya. Membuat Rania nyaman dalam pelukannya.
__ADS_1