Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
94


__ADS_3

"Iya, aku sudah gila. Sangat gila hingga mendengar kau mengatakan aku sudah punya pengganti membuatku ingin mati saja" jawab Bondan dengan kesal.


Rania terkejut dengan amarah Bondan yang sudah lama dia tak melihatnya.


"Satu tahun Rania, apa satu tahun belum cukup untuk menyiksa ku?" tanya Bondan dengan wajahnya yang memohon.


Rania memalingkan wajahnya, dia tak mau melihat wajah Bondan yang begitu memohon.


"Bahkan kamu nggak mau lihat aku" ucap Bondan saat melihat reaksinya.


Rania memejamkan matanya.


~Bukan, bukan itu maksudku~ ucap hatinya.


"Aku hanya bertanya apa kau sudah punya pengganti ku. Karena tadi ku lihat kau tersenyum menatap ponsel mu. Itu saja, kenapa kamu jadi marah dan membuatku merasa bersalah seperti ini" ucap Rania.


Dia berusaha membuat suasana seperti seorang teman yang bertanya hal pribadi. Namun Bondan merasa sudah benar-benar kesal dengannya. Dia menjalankan lagi mobilnya dengan cepat menuju Gang Duren.


Rania menelan ludah dan berpegangan. Dia takut dengan kecepatan tinggi. Tak berapa lama, mereka sampai di depan Gang Duren.


Suasana malam itu hening sekali, di jalanan sudah tak ada kendaraan. Orang-orang yang nongkrong seperti biasanya pun tak ada.


Rania turun dengan perlahan tanpa pamit. Bondan masih terdiam saat Rania keluar. Namun tak berapa lama, dia ikut keluar.


"Aku tersenyum senang melihat foto mu tadi, bukan siapa-siapa. Kalau kamu cemburu, aku senang. Tapi jika hanya memastikan bahwa aku bisa melupakan mu, kamu salah besar. Karena rasanya aku bisa mati jika aku melupakan mu" seru Bondan.


Rania berbalik.


"Ya nggak boleh gitu!" ucap Rania.


Bondan mendekat dan langsung memeluk pinggang Rania, kemudian menciumnya dengan lembut. Rania terkejut dan refleks memejamkan matanya.


"Kamu selalu khawatir tentang aku, cemburu dan merindukan ku, lalu kenapa tak langsung mengatakannya?" ucap Bondan setelah melepas bibirnya.

__ADS_1


Rania membuka matanya, tapi masih tak berani menatap mata Bondan. Dia mendorong dada Bondan perlahan. Namun Bondan memperat pelukannya.


Dia memberanikan diri menatap mata Bondan yang sangat dia rindukan. Mencoba mengendalikan diri menahan rasa ingin membalas ciumannya. Bondan melepas pelukannya perlahan.


"Tidak, bukan seperti ini yang aku mau. Aku, aku mau kita tak bertemu dulu, dan aku mau kita dipertemukan lagi oleh takdir" ucap Rania.


"Takdir?" tanya Bondan masih tak mengerti.


"Selama ini, kau bilang kau tidak akan menggangguku, tapi kau selalu datang dengan sembunyi-sembunyi. Aku tidak mau seperti itu, yang ku mau, kita jalani hidup kita masing-masing. Kau dengan pekerjaan mu dan aku dengan pekerjaanku. Jika suatu hari dengan tidak sengaja kita bertemu lagi, aku berjanji aku akan memulai lagi semuanya dengan mu. Aku takkan menghindari mu lagi" jelas Rania.


Bondan tersenyum, merasa sudah punya kesempatan untuk menjalin hubungan lagi dengannya.


"Tanpa bantuan Ramadhan!" tambah Rania karena melihat senyuman Bondan.


Wajah Bondan berubah kecewa, karena selama ini memang dia telah dibantu Ramadhan untuk selalu dekat dengannya.


"Jadi kamu tahu semuanya?" Bondan mempertegas.


Bondan menghela, Rania hanya mengangguk.


Rania menjadi sedikit marah juga takut hal itu terjadi, tapi dia terjebak permintaannya sendiri.


"Yaa, itulah takdir yang ku maksud!" ucapnya dengan sangat jelas terlihat kesal.


Rania berbalik dan hendak berjalan pulang. Bondan tersenyum, dia sudah paham Rania masih mencintainya dan masih sangat merindukannya. Hanya saja dia masih belum yakin pada dirinya sendiri. Bondan menerima hal itu.


"Tapi, lihat saja. Takdir pasti menginginkan aku dengan mu. Aku akan memaksa takdir. Kau dengar Rania. Hei...!" teriak Bondan sambil mundur.


Rania tak berbalik, dia hanya tersenyum mendengar Bondan mengatakannya.


~Jadi dia hanya ingin melihatku ketakutan kehilangannya, dasar!~ ucap hati Rania.


Rania masuk ke rumahnya. Bondan pergi dengan mobilnya. Hari ini hari terkahir mereka bertemu, mereka berpisah untuk waktu yang lama. Bondan fokus membantu Vero memajukan perusahaan. Dan Rania fokus membuka kedai bernama Kedai Bu Vera.

__ADS_1


Ramadhan protes pada kakaknya. Dia sudah susah payah membantu Bondan untuk dekat dengannya. Dia juga mengeluh pada Bondan karena menerima permintaan kakaknya yang tak masuk akal.


Kini mereka memilih untuk menjauh satu sama lain dan mengandalkan takdir untuk mempertemukan mereka. Ramadhan menepuk jidatnya.


***


Arumi kesal pada Vero yang mulai jarang menemuinya. Mendengar Rania yang mengambil keputusan itu, dia jadi ingin mengikuti idenya. Arumi mengirimkan pesan pada Vero untuk saling menjauh sementara waktu.


Vero terheran saat mendapatkan pesan dari Arumi. Dia curhat pada Bondan mengenai hal itu, Bondan hanya tertawa mendengarnya. Hal yang sama dilakukan para wanita itu, untuk menguji cinta pasangannya.


Vero berpikir kembali, dia akan lebih leluasa bekerja tanpa harus membagi waktu untuk menemui pacarnya. Dia menjadi senang dengan keputusan Arumi, dia menyetujuinya. Tapi sayang, Arumi bukannya senang, dia malah merasa Vero benar-benar sedang menghindarinya.


Arumi kesal, saat jam pulang dia melihat Fajri dan Nuri meluangkan waktu untuk kencan malam. Mereka selalu mesra setelah menikah. Arumi memasang wajah sedih, menyesali keputusannya.


Sementara itu, Vero dan Bondan semakin dekat. Mereka selalu hang-out sepulang kerja. Menikmati malam sebelum pulang yang bebas tanpa tekanan dari pacar.


Vero bersyukur telah terbebas dari sifat manjanya Arumi.


"Benarkah? Apa seperti itu kalian berpacaran?" tanya Bondan yang tak pernah mendapat sifat manja Rania.


"Ya, dia akan mengatakan kalau aku tak perhatian lagi padanya karena aku tak membawa coklat di hari jadi kita, atau hal manis lainnya yang harus aku lakukan. Huhhfff, menyebalkan pokoknya" ucap Vero.


Bondan hanya tersenyum.


"Tapi, sehari saja tak mendengar dia merengek rasanya ada hal yang hilang" keluh Vero.


Bondan tertawa terbahak-bahak. Dia menertawakan sikap labil bosnya. Vero merengut, dia menyesal menyetujui permintaan Arumi.


Bondan menatap langit malam itu, dia tersenyum mengingat wajah Rania yang menatap bibirnya setelah menciumnya. Dia sangat yakin bahwa Rania akan mengingat ciuman malam itu selama mereka tak bertemu.


Hal yang sama dilakukan Rania yang sedang duduk di terasnya. Dia menatap langit yang terang bertabur bintang. Tersenyum dan ingat saat terakhir Bondan menciumnya. Terngiang bahwa dia akan memaksa takdir mempertemukan mereka lagi. Hal manis yang alan selalu dia ingat. Yang akan memperteguh perasaannya hanya untuk Bondan.


Bagaimana selanjutnya kisah mereka?

__ADS_1


Episode berikutnya, kita akan menceritakan Dila yang memulai hidup barunya di Amerika. Apa dia akan mendapatkan cinta di sana?


__ADS_2