Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
63


__ADS_3

Alarm ponsel Rania berbunyi di jam 04.30 pagi. Matanya langsung terbuka dan meraba, namun yang dia sentuh adalah dada bidangnya Bondan. Matanya membelalak dan tangannya menutup mulutnya yang menganga tak percaya. Posisi tidurnya berubah, dia tidur dalam pelukan Bondan menghadap dadanya. Tangan Bondan memeluk pinggangnya dan yang satunya menyangga kepalanya semalaman.


Bondan terbangun karena suara alarm ponsel Rania sangat mengganggunya. Dia meraba ke meja ranjang dan mematikan ponselnya, kemudian kembali memeluk Rania yang masih kebingungan harus berbuat apa untuk bisa lepas darinya.


Rania menunggu beberapa saat sampai Bondan tertidur kembali. Dia berusaha melepaskan pelukan Bondan dari pinggangnya dengan perlahan. Kemudian dia duduk dan beranjak dari ranjangnya.


"Mau kemana? Ini masih pagi sekali!" ucap Bondan.


Rania terdiam kemudian berbalik.


"Ada urusan di rumah sakit, temanku pulang pagi ini" jawab Rania.


Bondan duduk di ranjang dengan mata masih mengantuk.


"Aku antar!" Bondan menawarkan diri.


"Tidak. .tidak ...kau istirahat saja, banyak pekerjaan di kantor kan?" tolak Rania.


"Lalu....kau pergi dengan siapa?" tanya Bondan dengan mata yang berusaha terbuka.


"Taksi...seperti biasa" jawab Rania dengan mengangkat kedua alisnya.


"Baiklah, hubungi aku kalo kamu mau dijemput" ucap Bondan menggaruk pinggangnya kemudian langsung tidur lagi.


Rania menghela dan tersenyum melihat tingkah lucu Bondan yang sangat mengantuk. Dia berbalik dan melangkah kembali.


"Tunggu!" ucap Bondan lagi.


Rania menoleh dengan cepat karena terkejut.


"Ada apa?"


"Peluk aku sebentar"


Rania mengerutkan dahinya.


"Sebentar saja! Kau selalu pulang malam akhir-akhir ini, aku ngga mau nunggu sampe malem" ucap Bondan.


Rania menghela karena merasa tak perlu melakukan itu. Namun supaya Bondan tak banyak bertanya atau curiga, dia pun memeluknya. Bondan menahan pelukannya lebih lama.


"I love you!" bisik Bondan padanya.


Rania diam tak menjawab, Bondan bicara sekali lagi padanya.


"I love you!"


"Bondan....aku bisa kesiangan. Temanku bisa-bisa tidak ada yang mengantar pulang" ucap Rania.


Bondan melepas pelukannya, dia menatap wajah Rania yang kemudian berlalu pergi dari kamarnya. Dia mengingat kejadian semalam dan tersenyum, lalu kembali berbaring dan tidur.

__ADS_1


###


Rania buru-buru pergi dan langsung menuju rumah Vero. Di sana dia mendapat kabar yang cukup mengejutkan dari kakaknya.


"Ngga Bang, ngga bisa!" ucap Rania menolak.


"Ran, ini satu-satunya cara agar kita bisa mempertahankan Subagja Coorporation" ucap Vero.


Rania memejamkan matanya sejenak kemudian menghela, dia tak bisa menuruti keinginan kakaknya yang memintanya menjadi pengelola atau CEO dari Subagja Coorporation milik keluarganya.


Terutama dia tak bisa melukai Bondan, pria yang sangat dia cintai.


"Bondan pasti terluka saat mengetahui bahwa aku akan mengambil alih hampir dari semua yang dia miliki. Abang tahu, aku...."


Rania tak menyelesaikan ucapannya.


"Kamu cinta sama Bondan?" Vero melanjutkan.


"Vero bukan bagian dari Anita, dia adalah anak sahabat ayah kita, putra dari keluarga Atmajaya. Dia pasti bisa bangkit lagi setelah itu, kamu bisa bersamanya setelah semua urusan kita dengan Anita selesai" jelas Vero.


"Ngga semudah itu Bang! Beni...bagaimana dengan dia. Dia belum 100 persen stabil. Dia baru saja terluka karena Bondan meminta pertunangan kami diputuskan dan meminta aku menjadi calon istrinya sesuai wasiat Ardiana Atmajaya. Aku ngga tahu apa yang akan terjadi dengannya nanti. Bang....kedua pria ini sangat menyayangi ibunya, aku bahkan ngga bisa mengungkapkan bahwa ibunya adalah dalang dari perusakan dan pembakaran restoran Abang. Hati mereka bisa terluka!" Rania bersikeras dengan semua pemikirannya.


Vero tersenyum, tangannya menggenggam tangan Rania.


"Kamu mirip ibu, dia sangat peduli dengan semua orang. Abang bangga kamu bisa memikirkan perasaan orang lain sebelum diri kamu sendiri. Tapi....Abang cuma mau melindungi adik-adik Abang dari wanita jahat yang tak berperasaan. Abang ngga bisa ngasih perusahaan di tangan Dila karena dia masih labil. Cuma kamu yang bisa melakukannya. Bulan depan umur kalian 20 tahun kan? Abang sudah minta Om Wandy untuk membantu" jelas Vero.


"Apa kita ngga bisa fokus dulu di kasusnya Nuri, bukankah polisi lagi nyari Ryan?"


"Ryan disembunyikan dengan baik oleh Anita. Beberapa oknum di kepolisian membantunya agar tak terdeteksi. Gala bilang sulit untuk menyentuhnya"


"Astaga, sesulit itukah?" keluh Rania.


"Abang sudah berusaha dengan keras untuk ini. Abang cuma mau kamu bersiap"


Rania menatap Vero, dia merasa bahwa Vero sangat mempercayainya. Namun dirinya sendiri masih belum percaya bahwa semua ini bisa terjadi padanya. Lagi-lagi dia harus memilih antara cintanya atau keluarganya.


###


Rania pamit, dia memeluk Vero dan pergi keluar rumah. Namun dia berhenti saat melihat Yudi yang berdiri menatapnya di depan pagar, juga Arumi yang sedang menutup pintu pagar.


Arumi melihatnya dan tersenyum.


"Loh...udah mau pulang?" sapa Arumi.


"Iya....Rum, cuma mampir sebentar. Ini mau langsung ke rumah sakit lagi" jawab Rania.


Rania melewati Yudi yang masih menatapnya. Rania hanya tersenyum padanya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Aku antar!" Yudi menawarkan diri.

__ADS_1


Rania yang baru saja memeluk Arumi terkejut dengan tawaran Yudi. Arumi pun tak bisa menahan matanya yang membelalak karena tak menyangka Yudi akan menawarkan dirinya.


"Ngga usah, aku udah pesan taksi tadi" jawab Rania menolak.


"Iya... pakai taksi saja, mataharinya lagi panas. Pakai motor nanti kepanasan" ucap Arumi mendukung Rania.


Rania tersenyum pada Arumi, dia membuka pintu pagar dan tak menoleh lagi pada Yudi. Namun Yudi masih menatapnya.


Arumi berjalan masuk ke rumah Vero dan dengan sengaja menabrak Yudi agar melepas pandangannya dari Rania.


"Cepat masuk!" ajak Arumi sambil kesal pada kakaknya.


Yudi hendak masuk, namun saat kaki kanannya sudah masuk dia berpikir dan ingin menyusul Rania. Dia pun kembali keluar dan berteriak.


"Aku ada urusan mendadak, nanti aku kabari!" seru Yudi.


Arumi yang hendak mencium pipi Vero tak jadi melakukannya dan berlari mengejar kakaknya. Namun sayang Yudi yang tahu Rania sudah pergi dengan taksinya, langsung meluncur dengan motornya dan menghilang.


"Dasar pria labil itu!" ucap Arumi kesal.


Vero terkejut dengan tingkah Arumi, dia menatapnya dari pintu.


"Ada apa?" tanya Vero pada Arumi yang berjalan masuk.


"Tidak...dia janji akan memberiku lima ratus ribu untuk belanja mingguan" ucap Arumi berbohong.


Sebenarnya dia sangat khawatir Yudi mendekati Rania lagi dan melukai Dila. Saat Rania terluka, semua bisa kembali normal karena Rania tangguh. Kasusnya akan beda jika Dila yang terluka.


###


Sampai di rumah sakit, Yudi langsung mencari Rania ke ruang rawat Nuri. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat pinggang Rania dipeluk oleh pria yang waktu itu dia lihat bersamanya keluar dari tangga darurat.


Yudi menghela karena sudah berlari ke sana.


"Sayang....kita bisa minta dokter spesialis bedah untuk bantu Nuri mendapatkan kembali wajahnya. Aku punya banyak kenalan di Korea" ucap Bondan.


"Benarkah? Apa biayanya sangat mahal?" tanya Rania.


"Tidak....jangan pikirkan itu. Nuri harus sembuh secara fisik dan mental. Akan butuh banyak waktu untuk dia bisa pulih. Dia harus dirawat ditempat yang tepat" jelas Bondan.


"Aku takut...dia bisa saja masih trauma dengan kejadian ini" ucap Rania.


"Dengar....aku sudah bilang, serahkan semua sama aku, aku akan bantu semampuku. Dia kan sahabat kamu" ucap Bondan sambil membelai rambutnya.


Yudi mendengar dan melihat semuanya. Langkahnya mundur dan lemah, tangannya menopang tubuh ke dinding yang ada di dekatnya. Dia merasa langit runtuh mendengar pria itu menyebut Rania sebagai sayang. Pelukan dan belaiannya sangat mesra, kata-kata dan perlakuan yang ingin dia berikan pada Rania jauh-jauh hari.


Kini dia hanya bisa melihat semua itu dilakukan oleh orang lain dan Rania sangat terlihat senang menerimanya. Dia bahkan memeluk pria itu saat dia membelainya. Mata Yudi terpejam sesaat mengingat kedekatan mereka dulu.


~Semuanya sudah ngga berarti. Rania sudah melupakan ku, seharusnya aku menyadari itu dari sikap dinginnya. Seharusnya aku tak selalu mengharapkannya~ ucap hati Yudi.

__ADS_1


__ADS_2