Aku Bukan Dia

Aku Bukan Dia
90


__ADS_3

Enam bulan berlalu.


Vero memimpin sebuah rapat, dengan penuh tanggung jawab, kini dia yang menjadi direktur setelah dia mendapatkan pernyataan Rania yang mengejutkan baginya.


Saat itu Rania memegang tangannya yang masih selalu membelai memar yang ada di wajahnya.


"Kak, maafkan aku selama ini selalu berbohong" ucap Rania.


"Berbohong? Apa maksudmu?" tanya Vero terheran.


"Aku tidak senang saat kakak mengambil keputusan untukku menjadi Direktur utama Subagja Group. Selain itu membuat Bondan menjadi meragukan cintaku, aku juga tak menginginkan posisi itu" ucap Rania dengan nada kesal tapi bercanda.


Vero tersenyum dengan pengakuan Rania. Dia paham bahwa Rania memang sangat mencintai Bondan dan tak mau kehilangan dia. Vero membelai rambutnya.


"Jadi, ini tetang Bondan?" tanya Vero dengan nada candanya.


"Tidak juga Kak, mungkin aku sanggup melakukan semuanya sendiri, dengan membuktikan bisa menyelesaikan semua dengan baik, masalah pabrik, mall dan investor yang membahayakan perusahaan. Tapi, di sisi lain aku merasa kalau semua itu bukan diriku, bukan mimpiku" ucap Rania.


Vero menunggu. Rania menghela nafasnya.


"Itu bukan diriku, aku bukan dia yang Kakak harapkan bisa memimpin Subagja Group dengan semua keputusannya. Maafkan aku, aku tidak bisa meneruskan keinginan Kakak!" lanjut Rania.


Vero memeluknya dengan erat.


"Aku yang seharusnya meminta maaf, aku terlalu memaksakan kehendakku. Tanpa bertanya padamu. Maafkan Kakak!" ucap Vero.


"Soal perusahaan, aku dengar Bondan kembali" tanya Rania.


Vero melepas pelukannya dan tersenyum. Dia mengangguk.


"Kenapa Kakak nggak coba minta Dila jadi pimpinan di Mall? Dia pandai di bidang pemasaran. Mereka pasti jadi kolaborasi yang hebat di perusahaan. Dia juga pasti akan senang dapat perhatian dari Kakak" ucap Rania.


Vero memeluknya lagi.


"Jadi, semua ini tentang mereka yang kamu sayangi? Aku, Dila dan Bondan, begitu? Kau ini mengatur sekali. Apa kakak mu ini terlihat tidak bisa mengatur semua itu?" canda Vero.


Rania memeluk pinggang Vero dengan erat.


"Aku sayang kalian. Jangan terlalu fokus padaku yang sakit, aku baik-baik saja. Aku akan sembuh dengan cepat" ucap Rania.


Vero meneteskan air matanya, dia ingat saat Rania memberikan kesaksiannya sebagai korban.


~Banyak hal yang kau sembunyikan, terutama kepedihan mu. Ini sudah bukan hal yang aneh tentang dirimu~


Vero sangat ingat semua perkataan Rania. Dia menatap Bondan yang menjelaskan semua yang sudah dia kerjakan juga laporan bulanan. Semua orang tak bisa menyepelekan pekerjaan Bondan, dia sangat kompeten. Terbukti dari tahun-tahun mempertahankan Atmajaya Group dari kehancuran.


Meeting selesai, Vero mengajak Bondan untuk mengunjungi Mall dan melihat pekerjaan Dila. Bondan menolak dengan alasan yang kuat.


"Maafkan aku Kak, aku benar-benar harus ke pabrik hari ini" ucap Bondan sebagai alasan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Aku pergi sekarang" ucap Vero.


Bondan menatap kepergian Vero, kemudian melihat jam tangannya.


"Aku sudah terlambat!" ucapnya.


Dia pergi dengan terburu-buru, menancap gas agar cepat sampai. Sampai di tempat yang dia tuju, Bondan mengganti jasnya dengan jaket hoodie juga memakai topi.


Di sebuah taman, sedang ada acara. Orang-orang berkerumun dan menonton sebuah pertunjukkan musik. Bondan berjalan menuju sebuah stand makanan yang cukup ramai.


"Ayam bakar taliwangnya silahkan! Selamat menikmati!" seru Rania dari dalam stand menyodorkan pesanan pelanggannya.


Wajahnya riang, senyumnya manis dan bahagia. Dia melihat ke belakang dimana ibunya yang menjadi chefnya. Dibantu Ramadhan menjadi asistennya.


Bondan menghela nafas dalam menatapnya. Dia ikut senang melihat senyum itu kembali dalam waktu cepat. Tak terasa antrean menyusut dan sekarang gilirannya memesan.


"Silahkan, mau pesan apa?" tanya Rania.


"Ayam geprek satu, nasinya sedikit saja" pesan Bondan dengan tergagap.


"Ok, ayam geprek, dadanya ya, nasi sedikit" ulang Rania sambil memberikan catatan pada Ramadhan.


"Silahkan geser!" pinta Rania padanya.


Bondan mempertahankan diri untuk menunduk agar penyamarannya tak ketahuan. Namun saat hendak memberikan pesanannya. Ramadhan berseru.


Rania heran dan menatap Bondan, dia mengira Bondan sebagai teman Ramadhan. Diapun mengangguk.


"Ouh, teman Ramadhan ya! Maaf ya, hari liburnya dipakai bantu aku, kapan-kapan aku nggak akan ganggu dia supaya kalian bisa hang-out" ucap Rania sambil menepuk lengannya.


Bondan hanya mengangguk, kemudian dia pergi mencari meja yang dekat dan bisa menatap Rania tanpa ketahuan.


Rania melihat tingkahnya yang memilih tempat duduk.


"Wah, dia pemilih juga ya soal tempat!" ucap Rania.


Ramadhan yang sudah siap dengan pesanan Bondan, menepuk bahu Kakaknya.


"Yap, benar sekali. Dan Kakak tahu, seleranya soal wanita juga sangat bagus loh!" ucap Ramadhan.


"Wah masa! Jadi penasaran siapa yang dia taksir" ucap Rania.


Ramadhan tersenyum dan pergi mengantarkan pesanan Bondan.


"Silahkan pesanannya Kakak ipar!" seru Ramadhan.


Bondan mengangkat sedikit topinya dan menatap Ramandhan.


"Ssstthh....nanti Rania dengar" ucap Bondan perlahan.

__ADS_1


Ramadhan tertawa.


"Katanya nggak akan ganggu, tapi nggak pernah lepas mengawasi Kak Nia" ucap Ramadhan mengejeknya.


Bondan menggaruk kepalanya merasa bodoh.


"Huhfff, bagaimana ya, sulit untuk sehari saja tidak melihatnya" ucap Bondan.


"Kak Bondan bucin juga ya!" ucap Ramadhan.


"Semua pria yang jatuh cinta sama kakak kamu pasti bucin" puji Bondan.


Dia hendak menyantap makanannya, tiba-tiba Rania datang dengan membawakan handsanitizer untuknya.


"Kak!" teriak Ramadhan.


Dia terkejut Rania tiba-tiba datang, khawatir penyamaran Bondan ketahuan.


"Apa? Kenapa harus teriak? Aku tidak tuli!" jawab Rania.


Bondan menutupi wajahnya dengan topi.


"Dia mau makan kan, aku lihat dia tidak membersihkan tangannya dulu jadi ku bawakan ini" unjuk Rania.


"Mana tangan mu?" pinta Rania.


Bondan menengadahkan kedua tangannya, bersiap untuk diberi semprotan.


Rania terdiam menatap kedua tangan itu, dugaannya benar. Rania tahu tangan siapa itu. Dia menyemprotkan dengan perlahan, kemudian kembali ke standnya.


Ramadhan menyusulnya setelah dia menepuk bahu Bondan karena lega Rania pergi. Rania bicara dengan ibunya.


"Bahannya sudah habis, apa mau diambil lagi di rumah?" tanya Bu Vera.


"Tidak, ibu sudah cape. Hari ini kita pulang saja. Lagipula acara di taman ini kan masih lima hari lagi. Kita harus hemat tenaga" ucap Rania sambil memeluk ibunya.


Bu Vera tersenyum, dia mengusap kepala Rania.


"Ibu senang dengan situasi ini" ucap Bu Vera.


"Aku tidak!" jawab Ramadhan.


Rania dan Bu Vera menatapnya.


"Aku jadi sering diabaikan oleh ibu, perhatian ibu hanya tertuju pada Kak Rania" rengek Ramadhan.


"Ih, dasar anak ini!" ucap Bu Vera sambil memukul lengan Ramadhan.


Bondan sangat senang melihat keakraban merek dari kejauahan. Meskipun sebenarnya di sangat ingin ikut bergabung dengan kebahagiaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2