
Bondan datang ke rumah Bu Vera. Adit menahannya di teras depan.
"Ku mohon Adit, aku benar-benar ingin bertemu Rania" ucap Bondan.
Adit hanya bisa menatapnya, ibunya sudah sangat marah dan memintanya untuk mencegah Bondan atau Yudi yang ingin datang menemui Rania.
"Aku saranin kak Bondan pulang dulu, tunggu sampai ibu udah nggak marah lagi, soalnya ibu bilang, kalo kalian maksa buat ngeganggu kak Rania. Ibu bakal bawa dia jauh dari Jakarta. Dan kalian nggak akan bisa menemukannya" jelas Adit setelah dia tak tega melihatnya putus asa.
"Tapi Dit, kenapa? Biar aku yang ngomong sama ibu, bilang sama ibu aku mau ngomong sebentar"
Bondan memaksa, dia ingin sekali meyakinkan bu Vera agar percaya padanya.
"Nggak Kak, sekarang kak Bondan pulang aja ya, nanti aku kabari apa-apa nya" Adit berjanji.
Karena hanya Bondan yang dia restui untuk jadi pasangan kakaknya, Rania.
"Janji ya kabari, aku sangat berharap bisa ketemu Rania lagi" ucap Bondan.
Diapun pergi.
###
Dila sudah rapi dan hendak keluar.
"Mau kemana kamu?" tanya Vero yang duduk di ruang tengah.
Dila diam dan menghela, tak menyangka kakaknya akan jadi over protectiv begini.
"Aku mau nemuin Yudi dan meyakinkan bahwa dia nggak usah mikirin Rania lagi. Kenapa? Nggak boleh"
Dila kesal dan mengatakannya dengan sengaja memancing emosi Vero. Namun Vero tak menjawab, dia berdiri dan mendekat pada Dila kemudian menariknya lagi ke kamar.
"Kaaakkk! Apa-apaan sih kak? Kak Vero udah kelewatan. Aku bukan tahanan kak, aku manusia bebas, aku mau kemana pun yang aku mau, aku punya hak..."
Dila terus bicara, tapi Vero tetap diam dan mengunci kamarnya. Arumi menatap sikap suaminya yang berubah drastis. Dia sangat sedih dan merasa tak sanggup jika harus begini terus.
Vero kembali duduk dan menelpon manager nya untuk membahas pekerjaan.
__ADS_1
"Ya, mungkin satu dua hari lagi, aku baru akan masuk dan menyelesaikan semuanya ke kantor" ucap Vero.
Arumi datang dan menaruh segelas teh hijau kesukaannya. Vero tak memperdulikannya. Arumi berdiri menunggu Vero bekerja. Dia berharap Vero menyuruhnya duduk atau sekedar menyapanya. Namun Vero sangat acuh, dia lebih dingin dari biasanya. Arumi pergi dan masuk ke kamarnya.
Vero masuk ke kamar dan hendak mandi, Arumi memberikan handuk. Tapi dia mengambil handuk lain yang ada di lemari. Arumi semakin merasa diacuhkan. Vero masuk ke kamar mandi dan Arumi hanya duduk di ranjang menunggunya.
Setelah selesai mandi, Vero berbaring dan langsung tidur tanpa memperdulikan istrinya. Arumi menangis, dia merasa semua ketakutannya menjadi kenyataan. Vero tak peduli lagi padanya karena kesalahan Yudi kakaknya.
###
Yudi datang ke rumah Rania secara diam-diam. Dia melihat Rania duduk di luar bersama Vera, membicarakan sesuatu. Sesekali Vera mengusap perut Rania dan bicara lalu tersenyum. Rania pun hanya tersenyum dan ikut bicara walaupun sedikit menjawab.
Yudi menghela, dia sangat ingin bicara pada mereka. Tapi keberaniannya hanya sebesar biji kacang hijau. Tak berani dan merasa malu dengan perbuatannya sendiri. Yudi pergi, dia memutuskan untuk ke bar dan minum-minum lagi untuk menghilangkan stressnya.
Kemudian dia kembali ke rumah Bu Vera dan berteriak-teriak memanggil nama Rania.
"RANIA...RANIA...!"
Yudi sempoyongan sambil terengah karena dia berjalan kaki dari bar hingga rumah Rania.
"Lepaaass, aku mau ketemu Rania. RANIAAAA!"
Tak lama kemudian Rania keluar ditemani Bu Vera. Dia menatap Yudi dengan penuh rasa kasihan. Tapi bu Vera menunjukkan rasa tak sukanya melihat Yudi, apalagi dia sedang mabuk.
"Rania....aku....mau menyentuh perut mu, sebentar saja! Sebentaaaar...saja!" ucap Yudi sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
Semua orang terkejut dengan keinginan Yudi. Mereka menatap Rania yang tak mengalihkan pandangannya dari wajah Yudi.
Rania melepaskan tangan ibunya perlahan, Bu Vera tak mau.
"Nggak Nia, kamu nggak boleh deketin dia. Dia lagi mabuk sayang" ucap Bu Vera.
Rania menatap ibunya.
"Tapi kalau aku nggak kasih, dia bakalan bikin orang-orang terganggu bu" jawab Rania perlahan.
Bu Vera menghela nafas, dia tak bisa menyangkal bahwa mungkin perkataan Rania ada benarnya. Dia pun melepaskan namun memberi kode pada Nurdin agar menjaganya.
__ADS_1
Rania berjalan perlahan. Nurdin melepaskan Yudi perlahan. Yudi berjalan mendekat seperti Rania yang mulai mendekat padanya. Saat mereka berhadapan, Yudi menatap perut Rania yang sedang mengandung anaknya yang masih berumur 3 minggu. Yudi tersenyum kemudian perlahan mendekatkan tangannya.
Yudi menyentuh perut Rania. Dia mengusapnya kemudian menangis.
"Apa yang akan kau lakukan padanya? Apa kau akan merawatnya? Atau...."
"Aku tidak tahu" jawab Rania.
Yudi tak berani menatap matanya meski dia ingin menatap untuk menanyakan mengapa dia menjawab seperti itu.
"Kenapa?" tanya Yudi masih menunduk dan menatap perut Rania.
"Aku tidak bisa berpikir Yud, aku bahkan tak tahu harus berpikir apa. Mungkin kamu bisa ngasih tahu aku apa yang harus aku lakukan" ucap Rania.
Rania merasa Yudi masih menjadi satu-satunya orang yang bisa dia percaya setelah bangun dari kecelakaan itu. Dia bahkan tak bisa mendengar ucapan lain selain dari apa yang Yudi sampaikan. Seolah menjadi candu untuknya. Rania bahkan seperti kehilangan sesuatu yang menjadi kebiasaannya setelah terpisah dari Yudi.
"Beberapa bulan yang lalu kamu manggil aku Dila, sekarang dalam sehari kamu berubah jadi memanggil aku Rania. Dengan lantang dan histeris ingin menemui ku, Rania. Aku nggak ngerti Yud, aku bahkan nggak bisa mengingat apapun. Sakit Yud, aku bisa saja menyakiti orang sangat mencintaiku karena ketidakingatan ku. Apa yang harus aku lakukan? Dimana seharusnya aku tinggal? Siapa aku sebenarnya? Dila? Atau Rania?" Rania meneteskan air matanya.
Yudi ingin sekali menghapusnya, namun dia tak berani. Takut yang lainnya menahannya dan menariknya keluar dari sana sebelum selesai bicara.
"Maafkan aku, aku sudah melakukan semua ini padamu. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa, datang ke sini saja aku harus minum dulu untuk mengumpulkan keberanian ku. Tapi Rania, dengar, saat kita bersama, aku sudah tahu bahwa kamu adalah Rania, bukan Dila. Tapi aku tak mengatakannya pada semua orang. Aku takut kehilangan mu lagi, aku merasa akan mati jika aku harus melepaskan mu yang sudah ada di hadapan ku. Aku mencintai mu Rania"
Semua orang terkejut dengan pengakuan Yudi. Termasuk Bondan yang juga datang dan melihat momen itu. Mereka tak menyangka Yudi menyembunyikan identitas Rania hanya untuk kepentingannya sendiri.
Tiba-tiba Adit yang baru terbangun, langsung mendekati Rania dan hendak menarik tangannya untuk membawanya masuk ke rumah.
"Ayo kak, masuk. Jangan ngasih dia kesempatan buat bikin kakak bingung lagi" ucap Adit.
Tapi Rania diam tak bergerak. Yudi mundur sedikit untuk memberi ruang padanya jika dia ingin pergi. Mata Rania beralih pada Bondan yang berdiri tak jauh di belakang Nurdin.
Rania bisa melihat tangis yang keluar dari mata Bondan. Hatinya merasa sangat sakit, dia pun tak mengerti, mengapa setiap melihat wajah Bondan selalu merasakan hal itu. Rasanya ingin memeluk Bondan dan mengusap tangisnya. Namun raganya hanya bisa diam terpaku.
"Aku akan merawatnya sendiri bersama ibu dan adik ku. Tolong, jangan pernah kalian kembali dan membuat ku merasa sakit kepala dan sakit hati seperti ini lagi. Aku mohon"
Suara Rania pelan, tapi terasa seperti petir menyambar bagi Bondan. Dia menolak untuk menemuinya lagi. Harapannya untuk bisa bersamanya lagi menjadi asa yang kosong. Bondan berbalik dan melangkah pergi. Rania menatapnya sambil menangis, kemudian berbalik menggenggam tangan adiknya.
Yudi hanya bisa menangis menatap Rania yang berbalik meninggalkannya. Dia merasa ini seperti hukuman baginya, karena sudah melakukan kesalahan besar. Dan dia tak pantas mendapatkan maaf dari siapapun.
__ADS_1