
Obrolan semakin dalam, Jason menanyakan perihal keluarga besar Subagja, Vero menjawab dengan riang. Dia mengerti arah pembicaraan Jason. Dia sangat senang karena Dila akan dilamar langsung oleh keluarga Marvin.
Tapi Dila menatap terus ke arah taman, dia melihat Yudi memasak. Dia juga baru mengerti orang yang dimaksud Jason adalah Yudi.
~Jadi kau akan pergi ke Italia? kau sudah memutuskan itu? apa kemarin saat penjaga swalayan bilang kau berdiri lama menatapku untuk bicara dengan ku tentang ini? iyakah?~
Marvin melihat Dila, dia mengalihkan pandangannya ke taman. Dia paham kenapa Dila begitu sedih. Dia juga mengerti ucapan ayahnya.
~Tapi mungkin ayah tidak tahu kalau Yudi adalah orang yang di sukai Dila~ ucap hati Marvin.
"Ayah, apa menu makanan hari ini?" Marvin mengalihkan pembicaraan.
Jason dan Vero menoleh dan menatap dengan heran, dia bicara sangat lantang mengagetkan semua orang.
"Kambing guling!" jawab Jason.
"Baiklah, ayo kita mulai. Sepertinya persiapannya sudah selesai!" ucap Marvin.
"Marvin pasti sudah lapar!" ucap Jessie sambil tersenyum.
Semua orang ikut tersenyum dan menyangka perkataan Jessie benar. Jason berdiri, diikuti oleh yang lainnya. Mereka semua berjalan keluar dan melihat Yudi di sana.
"Yudi!" seru Arumi keras.
Semua orang melihat dan menyapanya. Jason menatap dengan heran karen semua orang mengenalnya.
"Dia kakaknya calon istriku" ucap Vero.
Jason tersenyum ikut senang. Dia baru ingat pernah mengatakannya. Namun benar-benar tak sengaja mengundangnya.
"Aku bahkan lupa dia pernah mengatakan itu" ucap Jason.
Vero menatap Arumi yang memeluk kakaknya. Rania juga mendekat dan menjabat tangan Yudi. Dila hanya diam menunduk, sementara Marvin menatap Dila yang seolah menahan diri.
"Jadi kau yang akan ke Italia itu?" tanya Rania.
Arumi baru ingat, dia menatap kakaknya yang tersenyum pada semua orang. Tapi dia sangat tahu kalau hatinya sedang tak ingin tersenyum. Dia mungkin sudah tahu bahwa acara ini untuk mengumumkan kelanjutan hubungan Dila dan Marvin.
"Wah, kau selalu menunjukkan prestasi yang mengejutkan" ucap Vero.
Yudi hanya tersenyum dan mengangguk. Arumi menatapnya dengan penuh pertanyaan di benaknya. Yudi belum mengatakan apapun tentang kepergiannya ke Italia.
"Baguslah, berarti aku sudah membuat pesta yang sempurna" ucap Jason.
Semua menatap Jason dengan wajah senang. Tapi Marvin dan Dila sedang mengkhawatirkan sesuatu. Yudi hanya bisa melanjutkan pekerjaannya sambil ketar ketir mendengarkan ucapan Jason.
__ADS_1
"Aku mau mengumumkan sesuatu!" seru Jason.
Semua mata menatap Jason yang memeluk Jessie dan memandang Marvin dan Dila yang sama-sama menghindari pandangan mereka. Vero melihat ekspresi Dila yang kurang nyaman. Marvin juga, apalagi Yudi yang memang sengaja menyibukkan diri. Sementara Rania dan Arumi saling menatap, mereka tak mengerti apa yang terjadi.
"Jessie hamil!" ucap Jason dengan riang.
Marvin lega, Dila akhirnya tersenyum. Yudi melirik, Rania bertepuk tangan sedangkan Arumi dan Vero tersenyum.
"Ayaaaah! Aku sudah berumur 26 tahun dan akan punya adik bayi?" keluh Marvin.
Dia memeluk ayahnya, Jessie kemudian menatap Dila yang tersenyum juga memberikan ucapan selamat, disusul oleh yang lainnya. Vero sedikit curiga dengan semua ekspresi Marvin, Dila dan Yudi.
Acara makan berlanjut, mereka membicarakan bisnis dan lain hal. Rania ikut mendengarkan meski dia tak terlalu tertarik. Arumi bicara dengan Yudi secara berbisik-bisik.
"Kenapa nggak ngobrol soal pergi ke Italia?" tanya Arumi.
"Belum, bukan nggak" jawab Yudi.
"Beberapa bulan lagi, apa maksudnya?" tanya Arumi lagi.
"Dua minggu lagi, bulan beberapa bulan" Yudi malah menambah kekhawatiran Arumi.
"Kaaak!" Arumi membelalakkan matanya pada Yudi.
Yudi mendorong Arumi untuk bergabung, Vero yang menoleh padanya langsung memeluk pinggangnya. Dila masih memperhatikan Yudi yang menghindari pandangannya pada Dila.
Yudi selesai masak, dia dan krunya membereskan semua peralatan dan memasukkannya ke dapur. Dila permisi pada Jessie untuk ke toilet dan Jessie mengantarnya.
Marvin pura-pura tak melihatnya meski dia tahu Dila akan menemui Yudi di dapur. Dia malah mengajak Vero dan ayahnya membicarakan bisnis juga tentang klinik.
Dila menghampiri Yudi yang sedang merapikan diri hendak pulang.
"Jadi keputusannya ke Italia?" tanya Dila.
Yudi terkejut dengan kedatangan Dila ke dapur.
"Ngapain kamu ke sini? Jason dan Marvin juga Vero bisa lihat dan..."
"Dan kenapa? Dan mereka bakal ngelarang aku ketemu kamu" Dila menyela.
"Dila, please! Mereka sedang bahagia!"
"Lantas? aku kesini cuma memastikan apa yang kamu pilih. kamu bilang kamu tahu cara kerja takdir dan jika kita dipertemukan lagi kamu janji kamu nggak akan menghindar. Kamu bohong, semua bulshit!" Dila kesal dan memukul dada Yudi.
Yudi menghela sambil melihat keadaan, salah satu krunya melihat. Yudi memberi kode untuk diam tak bicara apapun. Krunya pun pergi tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
"Kamu mau kabur lagi kan? Ternyata aku bener-bener tertipu sama ucapan manis kamu. Aku kira kamu mau perjuangin aku Yudi!" Dila mendorongnya.
Yudi tak bisa melawan, Dila tak memberinya kesempatan bicara.
"Kau bahkan tak punya keberanian bicara sama Kak Vero kalau kamu mau mempertahankan aku. Brengsek kamu Yudi, aku benci kamu!" Dila menangis sambil terus memukul dada Yudi.
"Sakit! Dada ku sakit kamu pukuli!" keluh Yudi.
Dila kecewa dengan Yudi, dia pergi ke toilet dan mengusap air matanya. Sementara Yudi hanya diam sembari mengusap dadanya. Dia tak bisa menjelaskan apapun pada Dila. Dia hanya menghela kemudian pamit pada Jason dan yang lainnya.
"Aku harus kembali ke restoran, aku pamit terlebih dahulu" ucap Yudi.
Marvin melihatnya dan bertanya-tanya kemana Dila.
~Yudi sudah pulang, lalu dimana Dila?~ ucap hatinya.
Beberapa menit Yudi pergi dan mungkin sudah cukup jauh dari sana, Dila keluar dengan tersenyum pada yang lainnya. Vero berdiri dan mengajak semuanya pulang.
"Baiklah Jason, terimakasih atas jamuannya. Sangat memuaskan!" ucap Vero.
"Kalian pergi terlalu cepat" keluh Jason.
"Kami harus mempersiapkan sesuatu untuk besok!" ucap Vero memberi alasan.
"Ouh ya, wisuda mu!" seru Jason pada Dila.
"Ya, wisuda ku" jawab Dila sambil tersenyum.
Marvin melihat mata Dila yang agak merah. Dia berpikir Dila sudah menangis dan berusaha untuk tetap tersenyum.
"Biar supir kami yang antar kalian!" ucap Jessie.
"Tidak Jessie. Aku yang antar, aku juga harus kembali ke klinik" ucap Marvin.
"Ouh baiklah. Semua orang sibuk. Bahkan Jason juga harus kembali ke klinik" keluh Jessie.
Jason memeluk istrinya dan mengusap punggungnya.
"Tidak sayang, aku akan tinggal" jawab Jason menghibur istrinya.
"Baiklah, kami pamit. Sampai jumpa lagi Jason, Jessie" pamit Vero.
"Bye!" jawab Jessie dan Jason setelah satu persatu dari mereka memeluknya.
Marvin membukakan pintu untuk Dila, namun Dila malah duduk di belakang bersama Rania dan Arumi. Vero melihatnya dan mengalah, diapun duduk di depan bersama Marvin.
__ADS_1