
Rania berdiri di depan pintu kantor polisi, didampingi Ramadhan yang berpakaian formal. Dia mengaitkan tangannya pada lengan Ramadhan yang selalu memegang tangannya.
"Ayo!" ajak Ramadhan.
Rania tersenyum dan melangkah mengikutinya.
Semua orang menuruti permintaan Rania. Meskipun sangat ingin melindungi adiknya, Vero tak bisa memaksakan keinginannya untuk Rania tetap tinggal di rumah Ruby.
Permintaannya untuk hanya pergi bersama Ramadhan saat memberikan pernyataan pun dia merelakannya. Bukan tanpa alasan, ada sesuatu yang Rania sembunyikan. Semua yang akan dikatakannya pun diminta untuk tak diberitahukan pada keluarganya.
Saga menerima hal itu, meskipun dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saga menunggu di ruangannya. Saat salah satu temannya memberi kode bahwa Rania datang, dia langsung merapikan diri dan bergegas menemuinya.
"Hai!" sapa Saga sambil tersipu karena tersandung.
"Wah, anda semangat sekali" Ramadhan berkomentar.
"Hehe, mari ke arah sini" ajak Saga.
Mereka pergi ke arah ruangan untuk Rania memberikan pernyataannya. Saga menggeser kursi untuk Rania. Ramadhan menatapnya dengan heran. Saga mengalihkan perhatian Ramadhan dengan memintanya untuk menunggu diluar.
Rania menunggu beberapa saat setelah Saga dan Ramadhan keluar. Sendirian di sebuah ruangan yang sudah dipasang kamera untuk merekam semua pernyataannya.
Rania menelan salivanya, hari ini dia harus menceritakan saat menyeramkan itu. Saat dimana dia sangat berharap ada suatu keajaiban yang menyelamatkannya seperti biasanya. Namun hingga akhir dia mengalami semua itu, tak ada kesempatan kedua.
Rania meremas kedua tangannya di pangkuannya. Saga melihat itu dibalik cermin dua arah. Kemudian seorang penyidik mengajaknya untuk masuk. Saga menolaknya, dia takut Rania malu untuk menceritakan semuanya di hadapannya.
Penyidik itu masuk dan duduk di depan Rania.
"Hai, aku Ramon. Kau sudah siap?" tanya Ramon.
"Iya, aku sudah siap" jawab Rania.
Rania mulai menceritakannya.
" Aku sedang mengendarai mobil menuju perumahan Harapan Indah. Aku mau ke rumah Bondan Atmajaya untuk memberikan dukungan moril baginya setelah aku tahu bahwa dia datang ke kantor polisi untuk menemui Ryan, orang yang mengatakan semua kejahatan ibunya, Anita Atmajaya. Karena dia meninggalkan mobilnya di sana. Saga yang mengatakannya"
__ADS_1
" Di perjalanan, sebuah mobil menghadang ku. Aku terkejut, aku mencoba untuk tenang dan hendak menghubungi kakak ku, Vero Wardhana Subagja. Namun karena mereka memecahkan kaca mobil, aku jadi tak sempat menghubunginya. Aku juga kehilangan ponselku."
" Para pria bertubuh besar itu menyeretku ke mobilnya, mereka mengikat tangan dan kakiku juga menutup mata dan menyumpal mulutku dengan sebuah gulungan kain"
"Saat berhenti, seorang pria mengatakan untuk aku langsung dibawa ke sebuah ruangan. Aku mengetahui itu sebuah ruangan karena mereka membuka dan menutup pintu dengan jelas"
"Aku dilempar dan terduduk, saat itu aku hanya mendengar suara orang yang aku tahu siapa dia meskipun penutup mataku belum terbuka. Dia berbisik dan mengatakan bahwa dia sangat senang karena dia akan melewati malam ini bersamaku"
Rania berhenti dan mengusap air matanya, dia meminum air dari botol yang diberikan Ramon padanya.
"Dia pasti sangat ketakutan" ucap Saga yang melihatnya dengan perasaan kasian.
Dia juga ingat saat dia memberitahu bahwa Bondan meninggalkan mobilnya.
Tiba-tiba datang Vero dan Dila juga Arumi. Mereka sudah mengatakan pada Saga untuk merahasiakan hal itu dari Rania. Mereka ingin tahu apa yang Rania sembunyikan.
"Apa aku terlambat?" tanya Vero.
"Kurasa tidak, dia baru mulai" jawab Saga.
Dia melihat Dila dengan tatapan mendalam, dia juga terlihat berpikir keras memikirkan rahasia yang Rania tidak ingin keluarganya ketahui.
" Aku tahu itu Davin, karena kami memang pernah bekerja bersama di restoran My Spaghety selama dua tahun. Dia sering datang dan tiba-tiba berdiri di sampingku saat aku bekerja, lalu berbisik"
" Dia melepas penutup mataku dan mengatakan bahwa dia sangat merasa kesal padaku. Dahulu dia sangat berharap bahwa aku akan menerima perasaannya. Namun karena dia tahu saya menyukai orang lain dia jadi mencoba menghapus perasaannya. Tapi alasannya bukan itu, dia merasa kesal karena beberapa bulan lalu dia bertemu denganku di sebuah diskotik"
Vero dan Arumi mengerutkan dahinya merasa tak percaya bahwa Rania ke diskotik. Saga melihat reaksi mereka, kemudian melihat reaksi Dila yang membelalakan matanya.
"Dia bilang aku mempermalukannya dengan mengatakan bahwa dia sok kenal padaku. Dan mendorongnya hingga dia terjatuh di hadapan semua orang di sana. Kemudian dia melihatku pergi bersama Yudi dan melakukan hal itu di mobil. Dia mengutuk ku karena aku bersikap berbeda saat bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu"
"Jadi ini dendam atas kejadian itu?" tanya Ramon.
"Wanita itu bukan aku. Aku bukan dia, yang mempermalukannya di diskotik. Karena aku tidak pernah ke sana. Lagipula aku tidak pernah punya hubungan apapun dengan Yudi, dia hanya chef di tempat kerjaku dulu"
"Lalu siapa yang dia maksud?" tanya Ramon lagi.
__ADS_1
Vero dan Arumi menatap Dila dengan kesal. Dila hanya menatap Rania dengan mata yang meneteskan air mata karena tak menyangka hal itu alasan dia diperkosa.
Saga baru paham dengan maksud Rania tentang hal yang tak ingin keluarganya ketahui. Dia mengangguk mengerti.
"Dia saudari kembarku, dan aku bersyukur hal tak menimpa dirinya"
"Lalu?" tanya Ramon.
"Davin memukulku saat aku menangis dan menggelengkan kepala karena aku berusaha mengatakan bahwa orang itu bukan aku. Dia terus mengatakan kesal padaku karena melakukan hal itu di sebuah mobil di parkiran. Kemudian dia menendangku hingga penyumpal mulutku terpental"
Rania berhenti lagi sejenak, dia mengusap air matanya yang terus jatuh tak tertahan.
Vero lemas terduduk di lantai mendengar semua itu. Arumi mencoba menenangkannya. Sementara Dila merasa sesak dan bersalah karena sebenarnya dialah yang menjadi alasan kejadian ini terjadi.
"Aku memohon padanya dengan mulutku yang terasa berbau darah. Tapi dia tetap merobek bajuku. Aku sudah mengatakan bahwa wanita yang melakukan itu padanya bukan aku. Aku bukan dia, aku bukan dia. Tapi....dia tak mendengar, dia tetap membuka handuknya dan melakukannya padaku"
Tangis Rania pecah. Ramon memegang tangannya untuk memberikan dukungan moril padanya.
Vero mendengar tangisannya, dia ingin sekali memeluknya. Namun dia menahannya agar bisa mendengar semua dan tak membuat Rania menyembunyikan sesuatu lagi.
Saga meneteskan air mata saat mendengar Rania mengatakan kalimat terakhir. Dia mengusap air matanya dan kembali menatap Rania yang masih menangis.
"Maafkan aku karena harus bertanya ini, tapi berapa kali dia melakukannya padamu?" tanya Ramon setelah tangis Rania mulai mereda.
"Aku tidak ingat, karena setelah dia melakukan itu, aku membenturkan kepalaku ke tembok. Aku putus asa dan ingin mengakhiri masa-masa itu" ucap Rania tergagap.
"Apa kau berhasil dan tidak sadarkan diri?" tanya Ramon.
"Tidak....aku tidak berhasil" Rania menangis lagi.
Ramon menghela nafas, dia sendiri tak sanggup mengajukan pertanyaan lagi pada Rania.
"Aku masih ingat rasa jijik itu. Aku masih mengingatnya hingga sekarang" ucap Rania sambil menghapus air matanya.
Dia terlihat mengatur nafasnya dan bertekad untuk tak menangis lagi.
__ADS_1
Ramon menutup berkasnya, dia sudah mencatat semuanya. Rekaman ini akan diberikan di persidangan. Rania memohon untuk tak hadir dan mereka sudah mengaturnya.
"Baiklah Rania, terimakasih karena sudah menguatkan dirimu untuk mengingat semua dan menceritakannya. Aku harap kau bisa membuka lembaran baru dalam hidupmu. Aku permisi, Saga akan menjemput mu" ucap Ramon.