
Rania merapikan blazer pemberian Vero sehari sebelumnya, dia menatap dirinya di cermin dan menghela nafas dalam.
~Inikah yang kau pilih?~ tanya hatinya pada dirinya sendiri.
Rania memeriksa ponselnya, dia menghubungi Dina yang katanya akan berangkat hari itu juga ke Amerika.
"Hallo!" jawab Dina.
"Kau sudah berangkat?" tanya Rania.
"Ya, aku sudah di bandara, sebentar lagi masuk pesawat" jawab Dina.
"Din!" ucap Rania.
"Ya!" jawab Dina singkat.
"Apa aku egois?" tanya Rania.
Dina terdiam dari langkahnya, menelan salivanya mendengar pertanyaan Rania setelah semua yang terjadi.
"Apa yang kamu pikirkan tentang diri kamu sendiri?" Dina balik bertanya.
"Aku bingung Din, di satu sisi kenyataan menginginkan aku mengikutinya, di sisi lain aku mau kembali ke kehidupan ku yang dulu " ucap Rania.
Dina membulatkan matanya mendengar akhirnya Rania bicara soal hati dan perasaannya.
"Aku sudah menyakiti semua orang dalam diam ku Din, bagaimana caranya mengembalikan mereka pada perasaan mereka seperti semula?" Rania semakin dalam bicara.
"Pikiran tentang dirimu, banyak hal yang kamu lewatkan selama tidak mengetahui jati diri kamu sendiri. Meski masa sebelumnya lebih baik dari sekarang, toh kebenaran pasti akan selalu terungkap. Aku tidak pernah membencimu Rania. Jika kamu memikirkan tentang orang-orang yang tersakiti atas kenyataan yang ada, maka percayalah, mereka jauh lebih memikirkan perasaan dan masa depanmu. Mereka atau aku sekalipun, akan memilih untuk menerima semuanya meski menyakitkan. Tegarlah seperti Rania yang biasanya, takdir yang akan menunjukkan jalan yang akhirnya baik untukmu" ucap Dina.
Rania menghela nafas dalam mendengar ucapan Dina. Dia paham, meski kenyataan bahwa Rania adalah pewaris Perusahaan Subagja, membuatnya menjauh dari Bondan dan masa-masa indah bersama keluarga Atmajaya, namun dia masih berusaha untuk tak membencinya.
"Terimakasih Din, untuk tak membenciku" ucap Rania.
"Ada kotak kecil di meja ku, tanyakan pada Siena. Itu hadiahku untukmu, gunakan sebaik-baiknya" ucap Dina.
"Apa itu?" tanya Rania penasaran.
"Lihat saja sendiri, jangan menangis saat melihatnya ya!" ucap Dina bercanda.
"Baiklah, terimakasih!" ucap Rania lagi.
__ADS_1
"Terus saja bicara terimakasih, sejak kita pertama bertemu, kamu sudah mengucapkan ribuan kata itu, apa nggak bosen?"
"Maaf!" jawab Rania.
"Astaga!"
"Dina!"
"Hahaha...Rania..Rania..kamu nggak berubah!"
Rania diam tak menjawab.
"Aku harus masuk pesawat" ucap Dina.
"Baiklah, hati-hati!" ucap Rania.
"Bye!" ucap Dina.
"Bye!" Rania menutup telponnya.
Dina menatap papan jadwal penerbangan yang sebenarnya masih satu jam lagi.
~Aku meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini Rania, aku kira kamu sudah cukup kuat, ternyata kamu masih rapuh dan banyak keraguan~ ucap hati Dina.
Langkahnya terhenti saat dia melihat Dila berdiri di depan jendela di ruangannya.
"Dila?" sapa Rania terkejut dan juga senang.
Namun berbeda dengan Dila, dia terlihat tak senang dan mendekat dengan marahnya.
"Plaaaakkkkk!"
Dila menampar Rania dengan keras hingga dia kehilangan keseimbangan. Rania memejamkan matanya karena merasakan panas di pipinya.
"Kamu puas sekarang?" ucap Dila.
Rania masih berusaha menatapnya.
"Kak Bondan, Beni, Kak Vero dan semua orang yang aku sayang kamu ambil dari aku. Sekarang perusahaan ayah dan ibu juga kamu ambil alih. Kamu bertingkah seperti pemilik, datang dan menyapa dengan manis. Ngaca dong, kamu itu nggak lebih dari gadis yang nggak berpendidikan yang sama sekali nggak pantes buat ada di sini" ucap Dila sambil mendorong Rania dengan menyentuh bahunya berkali-kali.
Rania masih diam, meskipun dia ingin, dia tak mampu bersikap kasar pada Dila.
__ADS_1
"Sejak pertama aku dengar kamu berpura-pura jadi aku, aku udah paham wanita kayak apa kamu ini. Kak Vero benar-benar salah udah ngasih kamu posisi ini. Dia pasti nyesel kalau semuanya udah berantakan" lanjut Dila.
Rania menghela nafas dalam untuk menjawab semua pernyataan Dila.
"Dila, maaf kalo aku.."
"Maaf? Semudah itu kamu bilang maaf!"
Dila tak memberikan Rania kesempatan untuk bicara.
"Kamu tahu? Aku kehilangan Bondan, Beni dan uang bulanan dari Anita semenjak kamu datang ke kehidupan aku. Sekarang, setelah tahu aku adalah adik Vero, dia juga lebih menyayangi kamu dibandingkan aku. Padahal aku jauh lebih sengsara dibandingkan kamu yang punya ibu asuh. Aku harus menderita hidup bersama Beni yang notabene sakit secara psikis, belum lagi diacuhkan oleh Bondan cinta pertamaku. Sekarang, Yudi, bahkan dia ngga peduli tentangku lagi setelah dia tahu kamu kembali. Kamu memang saudara kembar brengsek!"
Dila mendorong Rania hingga hendak jatuh, namun tangan Bondan menyangganya hingga tertahan dari jatuh. Rania menatap wajah Bondan yang sedang memandang Dila.
"Cukup! Ini kantor, jangan ada drama keluarga di sini. Sebaiknya kamu pulang, aku harus memberikan pimpinan baru ini training selama satu bulan" ucap Bondan datar dan meliriknya tanpa ekspresi.
Bondan memaksa Rania berdiri, dia memejamkan matanya karena sakit di genggamnya dengan kasar.
Dila kesal, dia pergi setelah merasa sifat aslinya ketahuan Bondan. Dia pergi meninggalkan ruangan dengan terburu-buru.
Bondan berjalan menuju meja dan menyiapkan beberapa berkas, sementara Rania masih berdiri kaku di dekat kursi.
"Aku akan menyiapkan berkas yang harus kamu pelajari, terlebih masalah terbesar dari perusahaan ini. Baca dulu sebelum meeting diadakan, jangan sampai kamu terdiam seperti orang bodoh saat mendengarkan mereka bicara" ucap Bondan.
Rania menatap Bondan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilannya berubah sedikit lebih sederhana, namun masih terlihat tampan.
~Lama tidak bertemu, satu minggu serasa satu tahun bagiku, aku sangat merindukanmu~ ucap hati Rania.
Dengan memendam rasa rindunya, Rania mendekat dan mengambil satu berkas yang Bondan taruh di atas meja. Dia membuka dan membacanya dengan seksama.
Bondan menatapnya, dia melihat Rania sangat berusaha dengan baik. Dia juga menghela, mengingat saat Dila menamparnya dan menuduhkan semua padanya. Namun dia hanya diam dan malah mengatakan kata maaf.
~Kamu ini sebenarnya manusia atau bukan? Kenapa hanya diam saat Dila melakukannya? Kenapa tidak melawan atau setidaknya menyangkal semua tuduhannya?~ ucap hati Bondan.
Dia melihat pipi Rania memerah, tanpa bicara, dia pergi ke pantry. Rania melihatnya dengan heran, dia mengira Bondan tak mau lama-lama berada dalam satu ruangan bersamanya. Dia menghela dan merasa sangat sedih.
Namun saat Bondan kembali dengan membawa serbet berisi es, dia menjadi senang dan merasa Bondan masih memperhatikannya.
"Ini, kompres di pipi anda, jangan sampai terlihat memar saat meeting nanti" ucap Bondan dengan menyodorkan serbetnya.
Rania mengambilnya dengan perlahan, Bondan menjadi canggung. Dia pergi keluar dari ruangan namun berhenti di ambang pintu.
__ADS_1
"Baca berkas map biru terlebih dahulu, meetingnya dua jam lagi" ucapnya mengingatkan.
Rania menatap punggungnya dengan tersenyum, dia kembali membaca dengan senyum diwajahnya. Dia mengompres pipinya dengan senang bahwa Bondan masih menyayanginya.